Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Pangeran Dari Kutub Selatan


__ADS_3

"Bagaimana ini? Aku benar-benar menabraknya. Bagaimana jika dia benar-benar mati?" Arumi dengan paniknya terus berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya


"Tapi itu bagus kan? Dengan begitu tidak ada lagi yang akan mengganggu hubunganku dengan Panji. Lagipula tidak akan ada yang tahu kalau aku yang menabraknya. Aku tidak boleh menggunakan mobil itu lagi. Aku harus minta papa untuk membelikanku mobil baru" Ujar Arumi yang menemukan jalan keluar menurutnya. Diapun keluar dari kamarnya dan bergegas pergi ke resort menggunakan taksi untuk menemui pak Tegar


Tak lama kemudian dia tiba di resort


"Papaku ada dimana?" Tanya Arumi pada salah seorang karyawan resort


"Pak Tegar sedang ada di restoran" Jawab karyawan itu dengan sopan


"Baiklah. Terimakasih" Arumi pun kembali melangkahkan kaki menuju restoran. Disana terlihat sag ayah sedang memeriksa setiap sudut restoran


"Papa" Arumi memanggil pak Tegar dan mengejutkannya


"Arumi? Kenapa kamu ada disini?" Tanya pak Tegar yang terkejut karena Arumi sangat jarang datang ke resort


"Pah, aku ingin membeli mobil baru" Arumi langsung mengatakan keinginannya pada sang ayah tanpa basa basi dengan nada bicaranya yang manja


"Mobil baru? mobil yang sekarang kamu pakai saja itu masih baru. Belum sampai 1 tahun kamu menggunakan mobil itu" Jawab Pak Tegar dengan dahi mengernyit heran


"Aku tidak mau lagi pakai mobil yang sekarang. Aku ingin ganti model yang lain. Ada mobil keluaran baru yang warna juga fiturnya bagus pah" Arumi merayu pak Tegar dengan manja sambil memegangi tangan sang ayah


"Sepertinya Arumi sudah tidak memikirkan Panji? Tapi itu bagus. Ku kira akan butuh waktu lama untuknya menyendiri" Pikir pak Tegar saat melihat sikap manja Arumi


"Baiklah, kamu bisa menjual mobil yang sekarang dan membeli mobil yang baru" Pak Tegar setuju untuk memberikan apa yang diminta Arumi. Dia tidak tahu kalau Arumi baru saja menabrak orang menggunakan mobilnya yang sekarang


***


Kenzo, Kenzie dan juga Rendra baru saja keluar dari kamar Risha dan akan pergi ke lokasi kejadian untuk mencari petunjuk yang menabraknya


"Zie, sebaiknya kamu tunggu disini saja. Tanganmu terluka, aku tidak mau kalau nanti kamu malah merepotkanku" Daripada memberi perhatian secara langsung Zo lebih terbiasa berkata dengan sikap yang dingin dan menyebalkan

__ADS_1


"Aku akan ikut denganmu, setidaknya aku bisa sedikit membantu karena tahu cici-ciri mobil itu" Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah


"Tapi Zo, siapa orang ini? Kenapa dia terus saja melihat kita seperti itu?" Kenzie menanyakan mengenai Rendra yang terus menatap kearahnya dan Kenzo secara bergantian


"Abaikan saja orang ini" Kenzo menjawab dengan sikap yang sinis dan terus melangkah


"Aku benar-benar takjub melihat kalian berdua. Kalian kembar identik dengan sifat yang benar-benar berbeda. Seperti bumi dan langit, yang satu hangat dan ramah, yang satu lagi dingin dan menyebalkan" Rendra bicara dengan sikap yang tenang meskipun Kenzo terus menatapnya dengan tatapan sinis


"Karena dia tidak mengenalkan aku padamu, jadi aku akan mengenalkan diriku sendiri. Namaku Rendra, aku senior Kenzo saat SMA sekaligus temannya" Rendra mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat dengan Kenzie namun karena tangan kanan Kenzie terluka, jadi dia mengulurkan tangan kirinya


"Kamu? Temannya Zo? Jadi kamu punya teman Zo?" Kenzie terlihat sangat terkejut karena selama ini yang dia tahu Kenzo sama sekali tidak suka bergaul dengan orang lain. Apalagi saat SMA Kenzo sedang senang-senangnya dengan game, jadi dia selalu menghabiskan waktu dengan konsol game, ponsel ataupun laptop miliknya


"Jangan dengarkan omong kosongnya. Aku tidak punya teman seperti dia" Kenzo menanggapi dengan sikapnya yang sinis


"Lalu kamu anggap aku apa selama ini? Hanya pelarianmu saja? Habis manis sepah dibuang, begitu? Aku tahu kalau kamu menyebalkan, tapi aku baru tahu kalau kamu benar-benar jahat" Rendra terus bicara namun Kenzo tetap diam dan mengabaikannya


"Aku mendukungmu untuk jadi teman saudara kembarku yang kaku ini. Mungkin dengan begitu dia bisa sedikit lunak" Kenzie bicara pada Rendra dengan senyumnya yang ramah sambil menggoda Kenzo


"Kalian berdua sudah gila? Ingin mati ya?!" Ujar Kenzo dengan sorot mata yang tajam dan nada bicara yang dingin


"Eh, tapi tunggu. Kamu sudah tahu kalau Kenzo itu ...?" Kenzie baru mengingat mengenai reaksi Rendra yang biasa saja setelah melihat keluarganya berkumpul di dalam rumah sakit


"Ya, tentu saja sudah lama aku tahu kalau dia berasal dari keluarga bangsawan. Karena itu aku memanggilnya pangeran dari kutub selatan" Rendra menjawab sambil mendelik pada Kenzo


"Bagaimana kamu bisa tahu? Selama ini tidak pernah ada yang tahu identitas kami yang sebenarnya. Sepertinya kamu bukan orang sembarangan karena bisa tahu siapa kami sebenarnya?" Rendra hanya tersenyum menanggapi ucapan Kenzie, Kenzo pun tidak menunjukkan reaksi apa-apa setelah mendengar percakapan mereka


"Yang jelas, aku berhutang nyawa padanya, jadi aku juga pasti rela mengorbankan nyawaku untuknya"


"Wow, jika aku jadi seorang gadis, pasti aku sudah tersentuh dengan apa yang kamu katakan" Kenzie menanggapi ucapan Rendra dengan sikapnya yang tenang dan ramah


"Sayangnya aku bukan seorang gadis, jadi aku merinding mendengar ucapannya" Jawab Kenzo dengan dingin dan sorot matanya yang tajam

__ADS_1


"Mana kunci mobilmu, Zie? Kita tidak mungkin pergi dengan terus berjalan kaki, kan?" Kenzo mengulurkan sebelah tangannya dan meminta kunci mobil Kenzie


"Ah, aku lupa. Tadi aku kemari menggunakan ambulance, jadi mobilku masih terparkir di depan kampus" Kenzo kembali memelototinya


"Haah, kalau begitu kita pakai taksi saja" Ujar Kenzo sambil berjalan meninggalkan Kenzie dan Rendra


"Sikapnya benar-benar buruk" Gumam Rendra yang dibalas anggukan kepala oleh Kenzie


"Setuju"


"Kalian berdua, cepat jalan!" Teriak Kenzo yang melihat Kenzie dan Rendra masih diam dan tak bergerak di belakangnya. Rendra dan Kenzie pun mengikuti Kenzo dengan langkah yang cepat hingga mereka kembali jalan beriringan


Tak berapa lama mereka tiba di depan kempus, tempat terjadinya tabrakan Risha


"Tapi Zo, ini sudah malam. Bagaimana kita bisa menyelidikinya? Sebaiknya kita tanya pada polisi yang menangani kasus ini. Mereka pasti sudah mulai penyelidikan tadi siang" Ujar Kenzie yang terlihat bingung


"Dia benar Zo, ini sudah terlalu gelap untuk menyelidikinya sekarang" Rendra membenarkan pernyataan Kenzie


"Sebentar, aku hanya perlu melihat letak CCTV di sekitar sini saja. Setelah itu kita bisa pulang" Jawba Kenzo sambil menoleh kesana kemari untuk melihat CCTV bagian mana saja yang mengarah ke tempat kejadian


"Ayo pulang. Kamu juga pulang kerumahmu!" Kenzo mengajak Zie pulang dan meminta Rendra pulang kerumahnya sendiri


"Aku akan ikut dengan kalian. Zo, sudah aku bilang kan kalau aku ini pengangguran dan butuh pekerjaan?"


"Di negara F kamu memang pengangguran dan tidak punya tempat tinggal, tapi lain halnya dengan disini"


"Tidak. Pokonya aku akan ikut dengan kalian" Rendra bersikeras dengan apa yang dia katakan


"Terserah!" Kenzo menanggapinya dengan sinis dan beranjak pergi


"Terimakasih" Jawab Rendra lagi dengan senyumnya yang manis

__ADS_1


__ADS_2