Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Berakhirnya Hubungan Panji Dan Arumi


__ADS_3

"Panji, apa benar kamu sudah menemui pak Tegar dan membicarakan mengenai pembatalanpertunanganmu?" Tanya sang ibu dengan sangat hati-hati


"Iya mah, Aku tidak ingin terjerat dengan hubungan yang begitu rumit dengan Arumi. Apa kalian tahu kalau Arumi datang ke kampus dan marah-marah pada mahasiswiku? padahal kami sedang membahas makalah diperpustakaan" Panji menjelaskan pada  kedua orang tuanya


"Apa? Arumi marah-marah di depan mahasiswimu?" Sang ayahpun mulai menanggapi apa yang dikatakan Panji


"Benar pah. Kaian tahu kalau aku sangat menyukai profesiku sebagai dosen. Aku tidak bisa melepaskan ini begitu saja" Ujar Panji dengan raut wajah penuh sesal


"Kami mengerti, tapi kamu kan bisa memulai bisnis sambil mengajar?" Ayah Panji berusaha menberi jalan tengah untuk masalah putranya


"Aku belum berpikiran kesana pah. Sekarang ini aku masih sibuk mengajar dan juga mengisi seminar-seminar. Aku tidak tahu jika suatu hari nanti"


"Baiklah, lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa pak Tegar setuju untuk membatalkan pertunanganmu dengan Arumi?"


"Entahlah, sepertinya pak Tegar tidak setuju"


Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba terdegar suara bel berbunyi.


Ting nong ting nong


Ibu Panji pun langsung berdiri untuk membukakan pintu


"Kalian lanjutkan saja. Biar mama yang buka pintunya" Ujarnya sambil beranjak pergi


"Eh, anda disini?" Ibu Panji menyapa dengan lembut disertai senyum manis dibibirnya


"Apa Panji ada dirumah?" Pak Tegar langsung menanyakan Panji begitu ibu Panji membuka pintu


"Ada. Silahkan masuk dulu pak" Ibu Panji dengan sangat sopan mempersilakan pak Tegar masuk


"Silahkan duduk! Biar saya panggilkan Panji"

__ADS_1


"Terimakasih" Pak Tegar pun duduk dan ibu Panji langsung pergi ke belakang untuk memanggil Panji dan juga menyajikan minuman


"Panji, ada pak Tegar ingin menemuimu" Ujar Ibu Panji dengan lembut


"Iya mah, aku akan kesana. Pah, aku temui pak Tegar dulu"


"Ya bicarakan baik-baik" Ayah Panji menganggukkan kepala dan menjawab Panji dengan sikap yang tenang


"Pak Tegar? ada apa pak?" Panji menyapa saat dia menghampiri pak Tegar kemudian duduk di sofa didepannya


"Kamu pasti tahu apa tujuanku datang kesini. Panji, apa kamu tidak bisa mempertimbangkan lagi mengenai pertunanganmu dengan Arumi? Dia itu sangat mencintaimu, mungkin karena itu sikapnya jadi sangat berlebihan. Kamu bisa menasehatinya pelan-pelan nanti" Pak Tegar bicara dengan tenang dan lembut agar Panji bisa mengerti apa yang dia inginkan


Panji menundukkan kepala, dia tidak tahu harus mengatakan apa agar pak Tegar bisa mengerti dengan apa yang dia inginkan


"Mungkin, anda tahu betul bagaimana sifat Arumi. Kami saling mengenal bukan 1 atau 2 tahun. Pak Tegar juga tahu sendiri kalau sejak saya masih kuliah pembicaraan mengenai pertunangan ini sudah sering dibahas. Aku sudah berusaha menumbuhkan rasa cinta pada Arumi. Setidaknya kami berusaha mencari kecocokan dan saling pengertian agar yang namanya hubungan harmonis setelah pernikahan itu bisa terjalin. Tapi tidak pernah ada kecocokan antara kami.


Anda tahu sendiri kalau kami lebih sering berdebat dan memiliki pemahaman yang berbeda. Saya menyukai profesi saya sebagai dosen, sedangkan putri anda tidak menyukainya. Dia selalu bilang kalau saya akan dikelilingi oleh para gadis nantinya. Bukankah masuk perusahaan juga akan dikelilingi para gadis yang jadi rekan kerja saya nantinya? Jadi apa Bedanya?" Panji dengan tenang memberikan pemahaman pada pak Tegar agar dia mengerti kalau hubungannya dengan Arumi memang tidak mungkin bisa terjalin


"Saya mengerti betul bagaimana sikap manjanya Arumi. Dan mungkin karena selama ini semua prioritas saya hanya dia, jadi dia tidak ingin jika perhatian untuknya terbagi pada orang lain" Pak Tegar menanggapi Panji dengan wajah sedih


Pak Tegar tidak dapat mengatakan apa-apa lagi pada Panji karena Panji sudah bersikeras dengan pendiriannya untuk memutuskan pertunangan ini. Dia pun menundukkan kepala dengan wjaah penuh sesal.


"Baiklah, sepertinya saya sudah tidak bisa membujukmu dengan cara apapun. Saya menghormati keputusanmu, karena saya juga menginginkan kebahagiaan putri saya. Meskipun Arumi sangat ingin bersama denganmu, tapi jika kamu tidak mencintainya, maka belum tentu juga dia akan bahagia nantinya" Pak Tegar bicara dengan senyum ketir mengingat bahwa putrinya sangat mencintai Panji


"Terimakasih karena anda mau menerima keputusan saya. Saya tidak akan pernah lupa jasa anda pada keluarga saya, tapi jika harus membalasnya dengan cara menikahi Arumi … saya tidak bisa melakukannya. Jadi saya pasti akan mencari cara lain untuk membalas budi pada anda" Panji tersenyum lembut dengan penuh hormat pada Pak Tegar. Dia merasa lega karena pak Tegar bisa berbesar hati menerima keputusannya untuk membatalkan pertunangan dengan putrinya


"Kalau begitu saya permisi. Maaf sudah mengganggu waktumu dan semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan bersama orang kamu cintai" Pak Tegar berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Panji


"Terimakasih pak. Saya harap bapak juga selalu sehat dan Arumi bisa menemukan laki-laki yang memang pantas dengannya dan bisa membuatnya bahagia" Panji menerima uluran tangan pak Tegar dan saling berjabat tangan dengan senyum tersungging di bibir mereka.


"Terimakasih. Sampai jumpa, Panji"

__ADS_1


"Iya pak. Hati-hati di jalan"


Pak Tegar pun beranjak pergi dari hadapan Panji dan berjalan keluar meninggalkan rumah sederhana itu


"Apa semuanya sudah selesai? Apa pak Tegar mau menerima keputusanmu untuk berpisah dengan Arumi?" Orang tua Panji sedang menunggu kabar baik dari putranya. Mereka terlihat sangat penasaran sampai-sampai langsung menghampiri panji begitu pak Tegar pergi


"Ya, pak Tegar mau mengerti dan menerima keputusanku berpisah dengan Arumi. Kuharap ini jadi keputusan terbaik untuk kami berdua dan kami bisa menemukan kebahagiaan kami masing-masing" Panji tersenyum lega setelah menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya


"Syukurlah kalau begitu. Kamu juga senang mendengar semuanya selesai dengan damai" orang tua Panji pun menghela napas lega setelah mendengar kalau masalah putranya sudah selesai


***


Pak Rudi datang ke negara F untuk melihat pabrik tas miliknya dan juga menemui putrinya, Ilana. Dia baru saja tiba di bandara setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam melalui pesawat terbang.


"Papa!" Teriak Ilana yang menunggu sang ayah di pintu kedatangan bandara sambil melambaikan tangannya dengan senyum ceria


"Halo, Ilana. Bagaimana kabarmu?" Pak Rudi bertanya dengan senyum tipis di bibirnya kemudian memeluk Ilana


"Aku baik pah. Bagaimana kabar papa?" Ilana balik bertanya dengan senyum ceria di bibirnya dan berjalan dalam rangkulan sang ayah


"Papa juga baik-baik saja. Apa kuliahmu lancar?"


"Tentu saja pah. Semuanya baik-baik saja. Berapa lama papa akan berada disini?" Ilana terlihat sangat ceria saat dia berbicara dengan sang ayah


"Mungkin agak lama. Papa harus mengawasi produksi tas terbaru disini. Apalagi sekarang menggunakan designer baru dan juga bahan baku kulit binatang yang sebelumnya belum pernah kita gunakan" Pak Rudi sedikit menjelaskan mengenai tujuan dia berkunjung ke negara F


"Jadi aku bisa lebih lama bersama papa dong?" Tanya Ilana dengan senyum ceria


"Tentu saja. Kita bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama" Ujar pak Rudi membenarkan


"Kita langsung pulang kerumah pah?" Tanya Ilana ketika mereka tiba di parkiran dan akan naik ke dalam mobil Ilana

__ADS_1


"Kita ke pabrik dulu setelah itu kita cari makan baru kita pulang"


"Ya sudah"


__ADS_2