
"Kak Zie, bisakah kita bertemu sebentar? Kakak pasti sudah dengar dari papa kalau aku akan melanjutkan sekolah diluar negeri. Anggap saja ini salam perpisahan kita sebelum aku pergi"
Kenzie terdiam membaca pesan singkat yang dikirim Meisya padanya. Dia hanya menatap ponselnya tanpa mengirimkan balasan.
“Bertemu? Apa lagi yang harus dibicarakan?” pikir Kenzie mempertimbangkan pesan yang dikirim Meisya padanya.
Setelah cukup lama, Kenzie pun mengirimkan balasan yang singkat pada Meisya dan bersedia untuk bertemu.
“Baiklah. Kirimkan aku lokasinya. Aku akan menemuimu disana”
“Ya, aku akan menunggu Kak Zie direstoran tempat biasa kita makan siang. Lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor Kak ZIe, jadi kurasa itu tidak masalah”
“Baiklah, sampai jumpa”
Kenzie membelas setiap pesan Meisya dengan jawaban singkat. Dia tidak menuliskan kalimat basa-basi ataupun berusaha memperpanjang percakapan mereka.
“Noey, aku akan keluar untuk makan siang. Jika ada hal penting kamu bisa langsung menghubungiku”
“Eh? Sudah berubah pikiran? Tadi tidak ingin makan siang?” Noey terlihat menatap Kenzie dengan heran.
“ Aku akan menemui Meisya sebentar”. Kenzie bicara sambil mengenakan jas yang dia letakkan diatas gantungan baju tersedia. Diapun meraih ponsel yang diletakkan diatas meja.
“Menemui Meisya? Baiklah. Kamu bisa percayakan padaku”
Kenzie langsung berbalik pergi meninggalkan Noey dengan raut wajah murung. Tidak ada rasa senang sama sekali yang terlihat dari wajahnya, padahal dia akan menemui orang yang dia cintai.
“Pergi keluar negeri? Ya mungkin ini memang keputusan yang lebih baik untuk kita semua” pikir Kenzie selama dalam perjalanan. Dia terus memikirkan apa yang harus dia lakukan saat bersama dengan Meisya nanti. Namun
dia sama sekali tidak memikirkan untuk kembali menjalin hubungan dengan Meisya.
Tak berapa lama, Kenzie tiba direstoran yang dimaksud Meisya. Dia berjalan masuk dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa. Kenzie menyapu setiap sudut restoran begitu dia masuk kedalam. Tatapannya terkunci pada
seorang gadis yang duduk di salah satu kursi dekat jendela.
Meisya yang melihat kedatangan Kenzie langsung melambaikan tangan disertai senyum dibibirnya. Kenzie pun langsung berjalan menghampirinya.
__ADS_1
“Maaf membuatmu menunggu” ujar Kenzie sambil menarik kursi yang ada dihadapan Meisya.
“Tidak papa. Aku juga belum lama tiba disini. Kak Zie mau pesan apa? Apa perlu aku pesankan makanan yang biasa kakak pesan?” Meisya bersikap lembut dan perhatian pada Kenzie, namun Kenzie menanggapinya dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.
“Tidak perlu. Setelah ini, aku masih ada rapat yang harus aku hadiri”. jawab Kenzie dengan sikap yang dingin.
“Begitu ya? Sepertinya … dalam beberapa waktu kita tidak bertemu, Kak Zie sudah banyak berubah?” Meisya tersenyum ketir sambil menatap Kenzie yang bersikap dingin padanya.
Kenzie tersenyum sinis menatap Meisya dengan tatapan mendelik
“Benarkah? Mungkin ada beberapa faktor yang memang bisa merubah seseorang. Entah itu faktor internal atau eksternal. Menurutmu … apa yang bisa merubahku?”.
Kenzie bertanya dengan sikap yang dingin. Dia menatap Meisya dengan senyum sinis dibibirnya.
“Kak Zie, aku minta maaf. Aku sama sekali tidak tahu kalau papa akan mengajukan syarat yang tidak masuk akal seperti itu. Tapi, bukannya papa juga sudah minta maaf pada kak Zie, dan papa bilang kalau dia sudah
tidak meminta syarat seperti itu lagi pada kak Zie. Papa sudah setuju degan hubungan kita. Jadi … itu artinya kita bisa kembali bersama, kan?”.
Meskipun Meisya sudah memantapkan hati untuk pergi keluar negeri, tapi dia masih ingin mendengar jawaban langsung dari Kenzie dengan harapan kalau pemuda yang dia cintai itu akan berubah pikiran dan mau kembali bersama dengannya.
Kenzie terdiam dan menatap Meisya dengan tatapan yang dingin.
Meisya menggelengkan kepala dengan wajah bingung menanggapi pertanyaan Kenzie.
“Apa yang papa katakan pada Kak Zie?” meisya mencengkeram roknya menunggu jawaban Kenzie dengan gugup.
Kenzie tersenyum tipis sambil melambaikan tangan memanggil waitress.
“Hanya ucapan orang tua yang tidak ingin kehilangan anaknya. Aku mengerti jika ayahmu sangat menyayangimu, tapi untuk mengatur semua kehidupanmu setelah menjadi istriku nanti … aku rasa aku tidak bisa menerima itu”. Kenzie bicara dengan sikap dingin namun dia tersenyum tipis saat bicara pada waitress.
“Se-sebenarnya apa yang papa katakan?” Meisya semakin mencengkeram erat roknya menunggu jawahan Kenzie. Dia terlihat sangat gugup dan panik, sementara Kenzie terlihat sangat tenang dan bersikap seakan acuh tak acuh
“Bukan apa-apa. Papamu bilang kalau kamu akan melanjutkan belajar diluar negeri, kapan kamu akan berangkat?”. Kenzie mengaihkan
pembicaraan mereka dengan menanyakan keberangkatan Meisya.
__ADS_1
“Aku sudah merencanakan pergi dalam minggu ini. Saat ini aku masih mempersiapkan apa yang kurang”
Kenzie menganggukkan kepala berkali-kali dengan jari yang mengetuk meja. Suasana diantara mereka berdua tiba-tiba terasa canggung. Mereka saling terdiam untuk waktu yang cukup lama.
“Oh ya, beberapa hari lagi Risha dan Rendra akan menikah. Tolong sampaikan ucapan selamatku pada mereka. Sepertinya aku tidak bisa menghadiri pernikahannya karena bertepatan dengan jadwal keberangkatanku”
Kenzie mendengarkan dengan sikap yang tenang. Dia pun menganggukkan kepala disertai senyum menanggapi ucapan Meisya, namun tanpa Meisya sadari, Kenzie mengepal tangannya erat dibawah meja.
"Ya, aku akan sampaikan pada Risha dan Rendra nanti. Kuharap kami bisa menggapai apa yang sedang kamu kejar disana. Kuharap kamu menemukan kebahagiaanmu".
Air mata Meisya tak tertahan mendengar kata-kata Kenzie. Dia menundukkan kepala untuk menyembunyikan air matanya yang mulai jatuh. Tangannya mengepal erat menahan kepedihan yang terasa dihatinya.
"Kak Zie, apa tidak ada kesempatan? Apa hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi? Kita berdua saling mencintai, kenapa tidak membuang sedikit keegoisan kita untuk membangun kembali semuanya?"
Meisya bicara disela isak tangisnya. Dia menggenggam sebelah tangan Kenzie yang ada diatas meja dengan sangat erat, berusaha membujuk Kenzie untuk memperbaiki hubungan mereka.
Perlahan Kenzie melepas tangan Meisya dengan raut wajah sedih yang juga dia tunjukkan.
"Maafkan aku Sya. Aku tidak bisa lagi melakukan itu. Kuharap kamu mengerti dan menerima keputusanku ini. Ini yang terbaik untuk kita. Aku yakin pasti ada laki-laki lain yang lebih baik dariku dan bisa membuatmu bahagia".
Air mata Meisya semakin deras mengalir membasahi pipinya. Kepalanya semakin tertunduk mendengar penolakan Kenzie. Diapun menghapus air matanya.
"Haah... ya, aku tahu. Mungkin memang sudah tidak bisa lagi. Aku berharap yang terbaik juga untuk Kak Zie. Kuharap Kak Zie bisa menemukan gadis yang bisa menerima Kak Zie apa adanya. Aku harap Kak Zie selalu bahagia" ujar Meisya yang berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum.
"Ya, terimakasih".
Karena tidak ingin lagi berlama-lama, Kenzie langsung melihat jam tangannya dan beralasan agar bisa pergi meninggalkan Meisya.
"Maaf, Sya. Aku tidak bisa lama-lama. Aku masih ada rapat, jadi aku akan pergi lebih dulu".
"Oh, ya baiklah. Selamat tinggal, Kak".
Meisya berusaha tersenyum meski terpaksa dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Zie.
"Ya, selamat tinggal".
__ADS_1
Kenzie langsung berbalik pergi meninggalkan Meisya yang masih terus menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, Sya. Aku tidak ingin melanjutkan hubungan yang sia-sia. Jadi, selamat tinggal" gumam Kenzie tanpa menoleh kearah Meisya sedikitpun