Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Trik Murahan


__ADS_3

Risha terdiam menatap sebuah cincin yang ada ditangannya.


"Ini ...?" Dia tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya menatap Rendra dengan tatapan penuh tanya


"Aku sengaja menyiapkan ini untukmu. Ini bukan cincin pertunangan, aku hanya ingin kamu selalu ingat padaku. Dengan begini, meskipun jarak kita jauh, tapi aku selalu ada disampingmu" Rendra bicara dengan lembut sambil memakaikan cincin itu di jari manis Risha


"Cantik, tapi cincin ini masih kalah cantik denganmu" Rendra menatap cincin yang sudah terpasang dijari Risha kemudian menciumnya penuh cinta.


"Aku ... ada apa denganmu hari ini? Kamu terlihat sangat aneh dan entah kenapa air mataku ini selalu ingin keluar setiap kamu melakukan itu ... terimakasih banyak"


Risha berkata dengan linangan air mata yang tertahan dipelupuk  matanya. Lagi-lagi dia terharu dengan apa yang telah dilakukan Rendra. Risha menatap cincin berlian yang ada dijarinya dengan rasa kagum. Cincin itu terlihat sederhana, hanya ada satu permata dibagian tengahnya, namun itu justru terlihat cantik dan juga elegan


"Ren, kenapa kamu baru melakukan ini padaku sekarang? Kamu tidak tahu kalau ini jusru membuatku merasa berat hati untuk meninggalkanmu? Selama disini, aku selalu makan denganmu, pulang kerja denganmu, bagaimana aku akan melalui hariku disana? Tidak ada kamu yang selalu menemaniku, berdebat denganku dan perhatian padaku ... bagaimana ini ... air mataku terus saja mengalir ... hiks ... hiks... "


Risha bicra disela isak tangisnya karena akan berpisah dari Rendra. Memang bukan berpisah jauh ataupun tidak akan bertemu lagi, tapi pasti ada sesuatu yang asing nantinya


"Sha, memang ini berat, tapi aku tidak bisa menahanmu. Kamu juga memiliki tanggung jawab pada keluargamu. Perusahaan itu adalah milik keluarga, jika kamu tidak mengambil alih itu, maka siapa yang akan mengambil alihnya? Aku tahu kalau keluargamu memang tidak masalah untuk memegang kendai dua atau tiga perusahaan, tapi apa kamu tidak kasihan pada mereka. Jika kamu tetap disini maka akan lebih lama lagi waktumu untuk beradaptasi dengan perusahaanmu sendiri. Kamu tidak akan bisa langsung mengambil alih perusahaan. Butuh kerja keras dari awal untuk membangun kepercayaan semua orang padamu"


Rendra menjelaskan dengan tenang mengenai alasannya tidak menahan Risha untuk tetap bekerja dengannya lebih lama lagi


"Aku tahu itu, tapi ... rasanya berat bagiku meninggalkanmu sendiri disini" Risha kembali bicara dengan air mata yang masih tak ingin berhenti


"Begini saja, kamu bekerja keras untuk mengambil kepercayaan para petinggi perusahaan disana dan aku akan bekerja keras untuk kesembuhanku disini, bagaimana? Saat kita bertemu lagi, kita pasti sudah memiliki perkembangan yang positif"


Rendra terus membujuk Risha agar menerima hubungan jarak jauh mereka


"Ehm … baiklah" Risha pun setuju dan menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tipis, meskipun masih ada sisa air mata disana.


"Kalau begitu, kita mulai makan sekarang. Nanti makanannya keburu dingin" Rendra dan Risha pun kembali menikmati makan malam mereka yang tertunda


***


Kenzie mulai beraktifitas dengan normal sebagai seorang direktur. Namun hari ini ada masalah yang terjadi hingga semua orang sangat sibuk.


"Pak Kenzie, harga saham kita hari ini mengalami penurunan. Harganya terus turun sejak tadi malam"


Deby melaporkan pada Kenzie mengenai keadaan perusahaan


"Saham kita turun? Sudah diselidiki apa penyebabnya?"

__ADS_1


Kenzie memang sedikit terkejut tapi dia tetap bersikap tenang menanggapi apa yang dikatakan sekertarisnya


"Itu ... sebenarnya ... Ada gosip yang beredar kalau anda... Tidak memiliki hati sama sekali" Deby terlihat ragu-ragu saat dia hendak mengatakan apa yang terjadi di sosial media


"Gosip apa? Tidak punya hati? Aku?" Kenzie memicingkan mata dengan dahi mengernyit mendengar apa yang dikatakan sekertarisnya.


"Benar, katanya saat berada dipesta anda menindas seorang gadis. Anda juga tanpa perasaan memasukkannya ke rumah sakit jiwa"


Deby menjawab Kenzie dengan ragu-ragu, lalu ia memberikan ponsel ditangannya agar Kenzie melihat sendiri apa yang beredar di sosial media


"Ini... Ckk, trik murahan, tidak perlu pikirkan ini. Aku akan selesaikan masalah ini" Kenzie mencibir setelah melihat apa yang tertulis dalam postingan itu


"Tapi pak, masalahnya ... Dewan direksi meminta rapat dadakan untuk membahas masalah ini"


"Wah mereka gerak cepat sekali. Sepertinya mereka memang suka membuat keributan" Kenzie bicara dengan tenang dan senyum tipis dibibirnya


"Lalu... Apa yang akan anda lakukan pak?" Deby bertanya dengan sikap yang tenang


"Tentu saja kita akan menghadiri rapatnya. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan"


Kenzie pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang rapat diikuti Deby yang berjalan dibelakangnya.


Saat dalam perjalanan menuju ruang rapat, ponsel Zie berbunyi, itu adalah tanda kalau ada sebuah pesan masuk dalam ponselnya.


Kenzie pun merogoh ponsel di saku celananya dan membuka ponselnya. Ternyata Meisya yang mengirimkannya pesan singkat


"Katanya ada masalah diperusahaan, apa kak Zie baik-baik saja?" Tulis Meisya dalam pesan singkatnya


Kenzie tersenyum saat membaca isi pesan dari Meisya dan mulai menulis balasan


"Hanya masalah kecil, tapi beberapa orang dengan sengaja menyiramkan minyak untuk membakarku. Mereka tidak tahu kalau api yang mereka buat bisa membakar diri mereka sendiri"


"Apa kak Zie sudah punya rencana untuk mengatasi masalah ini?" Meisya kembali mengirim pesan pada Kenzie


"Biarkan saja mereka tertawa dulu. Pada akhirnya mereka yang akan menangis" Balas Kenzie dengan sedikit senyum saat dia menulisnya


"Kita sudah sampai pak" Ujar Deby mengingatkan pada Kenzie saat mereka sudah tiba diruang meeting


"Aku terlalu serius, sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai diruang meeting"

__ADS_1


Kenzie pun kembali menulis pesan yang terakhir pada Meisya


"Sayang, aku sudah berada diruang rapat. Nanti kita akan bicarakan lagi masalah ini. Sampai jumpa"


"Ayo kita masuk!"


"Baik" Deby menganggukkan kepala setuju kemudian membukakan pintu untuk Kenzie


"Maaf sepertinya saya terlambat. Kalian semua sangat tepat waktu ya?" Kenzie langsung menyapa dengan senyum manis dan nada yang ramah begitu dia masuk ke ruang meeting.


"Tentu saja kami tepat waktu, kita sedang dalam masalah besar sekarang" Aldo menanggapi Kenzie dengan nada bicara yang sinis


"Masalah serius? Ini hanya pengaruh gosip murahan saja" Kenzie tetap tenang menghadapi sindiran Aldo


"Tetap saja saham kita terpengaruh dengan gosip itu. Apa anda bisa mengembalikan harga saham kita agar stabil seperti semula?" Aldo terus menekan Kenzie agar dia bisa menyelesaikan masalah itu secepatnya


"Cari saja sumber masalahnya, kurasa kalian bisa memikirkan sendiri siapa orang dibalik rencana ini"


Kenzie berusaha menyudutkan anggota dewan untuk mencari tahu reaksi mereka. Pandangannya menyapu ke semua anggota dewan yang hadir dalam rapat.


"A-apa maksudmu?" Aldo terlihat gugup menanggapi perkataan Kenzie


"Anda kepanasan pak? Kenapa anda berkeringat seperti itu? Padahal diruang ini ada AC"


Kenzie dengan sikapnya yang tenang berusaha menyudutkan pak Aldo


"Saya tidak papa"


Pak aldo tiba-tiba panik dan mulai berkeringat dingin. Dia menatap pada rekan yang ada didepannya sambil menghapus keringatnya.


"Karena sepertinya pak Aldo sedang tidak enak badan, sebaiknya kita akhiri saja rapat hari ini. Saya akan kembali mengadakan rapat setelah harga saham kembali stabil. Dan pada saat itu, saya juga akan menemukan orang yang harus bertanggung jawab atas masalah ini. Kalian semua tidak perlu khawatir karena saya adalah orang yang selalu menepati janji. Jadi saya pasti akan membawa orang itu ke hadapan kalian"


Kenzie bicara dengan tenang namun sorot matanya terlihat lebih serius dari biasanya. Aldo dan rekannya pun saling menatap satu sama lain dengan raut wajah khawatir seakan mereka saling bicara satu sama lain


"Bagaimana ini?"


"Tidak perlu khawatir. Bersikap seperti biasa saja"


"Kalau begitu sampai jumpa" Kenzie langsung beranjak dari tempatnya dan meninggalkan ruang rapat dengan senyum tipis mencibir dan mata mendelik pada para anggota rapat

__ADS_1


"Selamat, aku yakin kalian tidak akan bisa tidur nyenyak"


__ADS_2