
"Nenek, kenapa nenek memintaku datang kemari? Apa terjadi sesuatu?" Kenzo berjalan mendekati Jingga dan duduk dosebelahnya
"Apa kesibukanmu sekarang?" Ji langsung bertanya pada Kenzo tanpa basa basi
"Aku sedang menyelesaikan sebuah softwere yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi di negara ini. Ada apa?" Kenzo menjawab degan sikap tenang, tapi setelah itu dia dibuat semakin penasaran dengan apa yang Ji inginkan darinnya
"Masuk perusahaan nenek. Kamu bisa mulai sebagai bagian maintenance di JB Companies" Ji menjawab dengan tenang sambil menyeruput kopi miliknya
"Apa? Maintenance? Kenapa aku harus jadi maintenance disana? Memangnya tidak ada yang bisa mempebaiki mesin dann juga komputer?" Kenzo bertanya dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam
"Daripada kamu bekerja dirumah sendirian, lebih baik masuk perusahaan nenek saja. Kamu juga bisa mempelajari manajemen perusahaan secara langsung" Jawab Ji dengan sikap yang tenang
"Kenzie mulai bekerja diperusahaan sebagai manajer produksi, kenapa aku sebagai maintenance? Aku ini sarjana dengan 2 gelar yaitu S.M dan S.Kom, mana mungkin hanya jadi maintanance? Dan aku juga bukan tukang reparasi barang" Kenzo terlihat kesal dengan apa yang disarankan Jingga
"Itu normal untuk Kenzie karena dia mudah untuk bersosialisasi dan menyelidiki sikap seseorang secara langsung dan orang lain tidak akan menyadarinya. Sedangkan kamu, kamu hanya bisa diam dan tidak bicara apapun. Jika kamu terus berada di depan komputer, nenek khawatir kamu malah akan mengacaukan perusahaan nenek, jadi akan lebih baik kamu mulai mengawasi perusahaan dengan menjadi maintenance terebih dahulu. Kamu bisa memahami kinerja dan sikap pekerja lain sambil mempelajarinya secara langsung. Kamu kan bisa membetulkan komputer atau apapun itu?" Kenzo terdiam mendengarkan Ji yang bicara sambil tersenyum padanya
"Ini tidak masuk akal. Aku hanya ingin memiliki banyak waktu luang dan bisa bekerja sesuai dengan keinginanku. Aku ingin waktu kerjaku fleksibel" Kenzo bicara dengan tenang dan wajah datar
"Kenzo, tidak ada pekerjaan yang memiliki waktu bebas seperti itu. Meskipun kamu jadi pemimpin perusahaan, kamu tetap memiliki tanggung jawab untuk mengelola perusahaanmu dengan baik, dan kamu juga tidak bisa seenaknya melakukan apapun yang kamu mau. Apa kamu mengerti?" Ji menasehati Kenzo dengan senyum tipis dibibirnya
"Ya nek. Aku mengerti. Aku akan masuk perusahaan nenek. Aku akan mulai pada hari senin depan " Kenzo menjawab dengan wajah datar
"Eu eu eu. Kamu akan mulai bekerja besok!" Ji menggelengkan kepala dengan satu jari yang digerakkan ke kanan dan ke kiri
"Apa?! Besok?!" Kenzo sangat terkejut sampai matanya membelalak
"Ya, besok. Nenek mengatur kamu untuk memiliki waktu kerja yang bebas dan tidak terikat. Harusnya kamu berterimakasih pada nenek" Ujar Ji dengan senyum bangga
"Apanya yang bebas? Tetap saja aku harus berada diperusahaan dari pagi sampai sore dan jika ada kerusakan, aku harus bersedia melakukan pekerjaan kapanpun itu" Kenzo mengeluh dengan wajah kesal
"Berhenti mengeluh. Kamu harus mulai dari bawah, lagipula tidak akan ada yang merasa aneh juga, karena sebelumnya kamu hanya waitress biasa" Ji tersenyum menggoda Kenzo penuh kepuasan
"Cih, menyebalkan!" Kenzo berdecih kesal dengan keputusan Ji
"Ada kamu Zo" Ed baru saja turun untuk sarapan dan pergi ke kantor dengan Ji
__ADS_1
"Nenek memintaku datang pagi-pagi, karena itu aku sudah ada disini" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
"Owh... queen, apa kamu sudah siap? Kita harus berangkat sekarang!"
"Tentu. Zo kamu harus bersiap dan besok nenek tunggu diperusahaan nenek" Ji dan Ed melangkah pergi meninggalkan Kenzo sendiri
"Jika itu mami, aku pasti sudah membantah. Tapi apa aku harus ikuti apa kata nenek? Hah ... menyebalkan!" Kenzo menggerutu dan beranjak pergi dari rumah Ji
***
"Risha, ini adalah meja kerjamu. Disana atasanmu, bu Kia. Jika ada yang tidak kamu mengerti kamu bisa tanya pada rekan kerjamu" Salah satu bagian HRD mengantarkan Risha ke ruangannya. Risha ditempatkan dibagian keuangan.
"Baik pak. Terimakasih" Ujar Risha dengan sikap yang sopan
"Kalau begitu saya tinggal ya. Saya harus kembali keruangan saya" Ujar orang itu dan mulai beranjak pergi meninggalkan Risha sendiri di meja kerjanya.
Semua orang mulai menatap Risha penasaran. Tentu tatapan mereka sangat jelas mempertanyakan hubungannya dengan Rendra
"Harusnya tadi aku pura-pura tidak kenal Rendra saja" Pikir Risha melihat tatapan semua orang padanya
"Hai, aku Risha. Semoga bisa bekerja sama dengan baik kedepannya" Risha tersenyum tipis menerima uluran tangan Elisa. Namun ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan
"Kenapa senyumnya seperti itu?" Pikir Risha melihat senyum Elisa yang terlihat seperti mencibir
"Hai Risha, aku Ana"
"Aku Lia"
Satu persatu rekan kerjanya mulai mendekati Risha dan memperkenalkan diri mereka masing-masing
"Sudah-sudah kembali ketempat kerja kalian" Bu Kia mulai mendekat dan membubarkan kerumunan orang yang mengelilingi Risha.
"Risha, kita semua karyawan disini. Saya disini atasan kamu, saya harap kamu tidak memanfaatkan koneksi yang kamu miliki" Bu Kia bicara dengan sikap yang tegas dan dingin
"Keneksi? Saya tidak memiliki koneksi disini. Tapi saya mengerti apa yang ibu maksud" Awalnya Risha merasa bingung namun setelah itu dia mengiyakan apa yang dikatakan atasannya
__ADS_1
"Bagus kalau kamu mengerti. Mulai pelajari pekerjaanmu. Ini bacalah dokumen-dokumen ini!" Dahi Risha mengenyit melihat tumpukan dokumen diatas meja kerjanya
"Saya harus pelajari semua dokumen ini?" Tanya Risha memastikan
"Benar. Pelajari ini semua" Kia langsung pergi setelah memberikan tumpukan dokumen pada Risha
"Hah, sepertinya hari-hariku sebagai karyawan disini tidak akan mudah" Gumam Risha menatap tumpukan dokumen dihadapannya. Risha pun mulai membaca dokumen itu satu persatu hingga tibalah waktu makan siang
"Sha, sudah waktunya makan siang. Ayo kita makan siang bersama!" Elisa mendekati Risha dengan beberapa rekan lainnya
"Ah, iya"
Risha pun langsung meletakkan dokumennya dan mulai berdiri mengikuti mereka menuju kantin kantor. Namun begitu dia keluar dari ruangannya, dia dikejutkan dengan Rendra yang juga baru keluar dan akan makan siang. Semua orang menatap kagum pada Rendra yang tampan.
"Oh iya Risha, kamu mengenal pak Rendra?" Tanya Salah satu rekannya. Kini semua menatap Risha dengan tatapan penasaran
"Ehm... "
Tring
"Maaf ada pesan masuk. Sebentar ya" Risha yang bingung tertolong dengan suara pesan singkat ponselnya
"Aku menunggu direstoran seberang kantor untuk makan siang bersama. Kamu harus jelaskan kenapa bisa ada diperusahaanku!" Tulis Rendra dalam pesan singkatnya
"Ya, aku nanti kesana"
Risha membalas dengan cepat kemudian kembali mengejar rekannya yang telah berjalan lebih dulu
"Maaf semuanya, aku tidak bisa makan dengan kalian. Aku harus menemui seorang teman. Maaf ya, sampai jumpa" Ujar Risha pada rekan kantornya kemudian melangkah dengan cepat menuju restoran yang Rendra maksud
Risha pun tiba direstoran yang dimaksud Rendra. Dia menoleh kesana kemari, terlihatlah seorang pemuda yang duduk sendiri dan menjadi pusat perhatian para gadis. Risha pun berjalan mendekat kearahnya
"Sepertinya kemanapun kamu pergi tetap saja jadi pusat perhatian" kata Risha begitu dia mendekati Rendra dan langsung duduk dihadapannya
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa menyembunyikan wajahku" Rendra menanggapi dengan wajah datar sambil membaca daftar menu
__ADS_1
"Hah? Kamu ini benar-benar 11 12 dengan Kenzo ya!" Ujar Risha dengan menggelengkan kepala dan dahi berkerut