Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kakak Beradik Itu Memang Pantas Berakhir Dibalik Jeruji Besi


__ADS_3

Adnan dan keluarganya akhirnya pergi kerumah orang tua Sani. Mereka terpaksa datang kesana karena tidak ada tempat tujuan lain.


"Hasna, kenapa kamu diam saja? Kamu tidak perlu merasa terbebani karena ini juga rumah kakek dan nenekmu" Ibu Sani berusaha menenangkan cucu perempuannya yang terus murung sejak kedatangannya


"Aku tidak papa nek" Jawab Hasna singkat dan hanya menatap dengan sinis pada sang ayah


Tok tok tok


Ibu sani menoleh ke arah pintu setelah mendengar suara ketukan


"Ada yang mengetuk pintu. Nenek akan bukakan dulu" Sambungnya kemudian beranjak pergi menuju pintu


Ceklek


"Permisi, kami sedang mencari pak Andan Surendra. Apa beliau ada disini?" Terlihat beberapa orang polisi berdiri dari balik pintu ketika nenek Hasna membuka pintu


"Oh kebetulan menantuku memang ada disini. Tapi, ada apa ya? Kenapa bapak-bapak mencari menantu saya?"Tanya nenek Hasna yang terlihat bingung


"Bisa tolonga panggilkan beliau" Polisi tidak menjawab pertanyaan ibu Sani dan kembali menanyakan Adnan


"Sebentar, biar saya panggilkan" Jawab ibu Sani yang langsung berbalik masuk kedalam rumah untuk memanggil menantunya


"Adnan, ada beberapa polisi yang mencarimu. Mereka menunggu diluar. Ujar sang ibu mertua pda Adnan "Sebenarnya ada apa? Kenapa polisi mencarimu?" Sambungnya lagi setelah Adnan dan Sani saling menatap satu sama lain.


"Ada apa polisi mencariku? Tidak mungkin mereka menangkapku, karena supir truk dan temannya telah ditangkap tas kelalaian mengemudi" Pikir Adnan yang mulai berjalan keluar


"Saya juga tidak tahu bu. Lebih baik kita temui mereka dan tanyakan langsung saja" Sani menggandeng sang ibu lalu mengikuti Adnan yang telah berjalan keluar lebih dulu


"Selamat siang pak. Ada apa ya?" Adnan terlihat tenang dan bertanya dengan sopan.


"Kami membawa surat penangkapan anda dari kepolisian atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap mendiang pak Galen, pak Rey dan juga bu Lea" Jawab polisi sambil menunjukkan surat penangkapan itu pada Andan


"Brigadir, bawa dia!" Sambungnya memberi perintah pada bawahannya untuk membawa Adnan


"Tidak mungkin pak! Saya tidak melakukan itu! Lagipula supir truk yang menyebabkan kecelakaan itu telah ditangkap. Lepaskan saya! Saya tidak bersalah!" Andan terus meronta saat polisi membawanya menuju mobil


"Anda bisa memberikan penjelasan dikantor polisi" Polisi sama sekali tidak mempedulikan Adnan dan tetap menggiringnya ke dalam mobil polisi

__ADS_1


"Papa! papa! Pak lepaskan papa saya"


"Lepaskan suami saya pak, dia tidak bersalah" Sani, Hasna dan Rama mengejar sang ayah yang digiring ke dalam mobil.


"Papa!papa!" Namun polisi tetap membawanya pergi


***


Astria dibawa oleh suaminya ke sebuah rumah sederhana yang dia beli dengan uangnya sendiri sebelum menikah


"Ma, mulai sekarang kita akan tinggal disini. Meskipun ini tidak semegah rumah orang tuamu, tapi aku membelinya dengan uangku sendiri. Jadi kita tidak oerlu khawatir masalah tempat tinggal"


Astria memperhatikan rumah lama yang terletak disebuah perumahan sederhana. Rumah ini sangat terbengkalai karena tidak pernah ditinggali setelah mereka menikah. Banyak debu dan sarang laba-laba yang menutupi setiap bagian rumah ini.


"Aku akan membereskan rumah ini, jadi kamu tidak perlu khawatir. Setelah dibersihkan pasti akan terlihat nyaman" Suamu Astria menenangkan sang istri yang hanya diam dan sesekali tersenyum tipis menanggapi ucapannya


Tok tok tok


"Biar aku saja yang buka" Astria berinisiatif membuka pintu karena sang suami akan mulai bersih-bersih


Ceklek


"Iya, saya sendiri. Ada apa ya?"


"Siapa mah?" Suami Astria ikut keluar setelah beberapa lama


"Kami kemari membawa surat penangkapan untuk Bu Astria Surendra, atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap mendiang pak Galen, pak Rey dan bu Lea" Polisi bicara sambil menunjukkan surat penangkapannya


"Apa? Itu tidak mungkin pak. Istri saya tidak mungkin membunuh adiknya sendiri" Suami Astria terlihat terkejut dan tak percaya. Namun Astria hanya diam saja


"Anda harus ikut kami" Dua orang polwan memegangi tangan Astria yang telah diborgol dan menggiringnya ke dalam mobil polisi


"Tapi pak. Mah! Mah!" Astria tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap sang suami dengan linangan air mata penuh sesal


***


Dikediaman Kusuma, setelah Lian, Cheva, Diaz dan Radit kembali dari rumah Surendra

__ADS_1


"Kak Lian, apa terjadi sesuatu? Kenapa kakak terus tersenyum misterius seperti itu?" Cheva sangat penasaran dengan ekspresi wajah Lian yang sejak tadi terus tersenyum


"Aku hanya membayangkan bagaimana wajah Adnan dan Astria saat di gelandang menuju kantor polisi ya?" Lian bicara dengan sikap yang tenang.


Cheva, Diaz dan Radit menoleh pada Lian secara bersamaan


"Jadi kamu benar-benar membuat laporan agar mereka masuk penjara?" Tanya mereka serempak dengan mata membelalak


"Aku tidak melaporkan mereka. Hanya saja aku mengirimkan laporan tentang semua kecurigaan kita dan juga hasil penyelidikan kita yang mengarah pada mereka berdua" Lian menjawab dengan senyum tipis dibibirnya


"Dua jempol untuk kak Lian" Ujar Radit dengan mata menatap tak percaya


"Kakak beradik itu memang pantas berakhir dibalik jeruji besi"


***


Kenzie dan Risha pergi ke sekolah seperti biasa. Mereka berbincang mengenai Ilana selama perjalanan.


"Sha, sepertinya kemarin aku dan Zo sudah keterlaluan sekali ya pada Ilana? Semalaman aku terus berpikir mengenai sikap yang harusnya aku tunjukkan padanya. Jadi aku akan minta maaf padanya" Kenzie terlihat sedang bingung dan sedikit menyesali sikapnya pada Lana kemarin, jadi dia berniat untuk minta maaf. Tapi sayangnya Lana tidak ketakutan ataupun jera dengan sikapnya yang menyebalkan. Justru dia kembali membuat masalah lain untuk menyulitkan Kenzie dan Risha.


"Hei, lihatlah pasangan penindas kita baru saja tiba. Sebaiknya jangan dekat-dekat dengan mereka. Kalau tidak nyawa kalian bisa melayang" Seorang murid yang berdiri disamping Lana tiba-tiba bicara dengan nada yang tinggi seakan dia memberikan pengumuman. Lana yang berdiri disebelahnya hanya menunjukkan senyum menyeringai


"Aku ralat lagi perkataanku tadi. seharusnya bukan penjaga gerbang yang aku tembak, tapi harusnya kakinya saja yang aku tembak" Kenzie yang awalnya merasa terbebani dengan sikapnya sendiri, kini terlihat mulai tenang dan tidak merasa bersalah lagi


"Kamu benar. Harusnya tembak saja kakinya" Risha pun menanggapi dengan kesal


Kini satu sekolah menjaga jarak dengan Risha dan Kenzie. Mereka juga menyebut Kenzie dan Risha sebagai tukang tindas


"Ah rasanya ingin ku ajak mereka semua berkelahi" Gumam Risha yang melihat tatapan mencibir dari semua teman sekolahnya


"Tapi, jika dipikir-pikir lagi, ini ada baiknya juga untuk kita Sha" ujar Kenzie yang kini justru tersenyum pada Risha


"Ada baiknya apa? Kamu tidak lihat tatapan mereka pada kita? mereka menatap kita dengan tatapan yang sangat merendahkan. Rasanya ingin ku congkel saja mata mereka satu persatu" Risha menggerutu kesal dengan tatapan semua orang yang disebabkan oleh ucapan Ilana tentang mereka


"Sekarang kita tidak perlu lagi merasa terbebani dengan sikap mereka. Kita juga tidak perlu lagi merasa tidak enak atau apalah itu" Kenzie menjelaskan dengan senyum lembut pada Risha


"Kamu benar Zie. kita tidak perlu lagi menanggapi mereka. Apa kita harus berterima kasih pada Lana?" Risha pun tersenyum ceria menanggapi Kenzie

__ADS_1


"Tidak usah. Yang jelas kita terbebas dari gadis menyebalkan itu dan juga gangguan yang lainnya"


"Yeayy"


__ADS_2