
"Zie, aku langsung ke perpustakaan ya? Nanti saat makan siang aku akan menghubungimu" Ujar Risha sambil berlalu pergi meninggalkan Kenzie
"Sebenarnya dia minta izin atau hanya memberitahuku saja? Untuk apa dia bertanya kalau langsung pergi tanpa menunggu jawaban dariku?" Gumam Kenzie sambil terus menatap Risha yang kini sudah semakin jauh darinya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dengan dahi mengernyit bingung
***
Setelah tiba diperpustakaan, Risha langsung mencari buku-buku yang akan dia baca untuk hari ini. Dia terus berkeliling perpustakaan untuk mencari buku yang dia mau. Sudah ada 3 buku tebal ditangannya, namun Risha masih kekurangan buku lain dan kembali mencari lagi
"Kenapa tidak ada ya? Harusnya bukunya ada disini" Gumam Risha mencari buku yang dia perlukan
"Kamu tidak berat membawa buku tebal begini?" Risha pun menoleh setelah seorang pria mengambil buku yang ada di tangannya
"Pak Panji? Tidak apa pak. Saya bisa membawanya sendiri. Lagipula saya hanya tinggal mencari 1 buku lagi yang harus saya baca" Risha menjawab dengan senyum ceria diwajahnya dan tidak membiarkan Panji mengambil bukunya
"Kamu itu sangat menyukai buku ya? 3 buku ini saja belum kamu baca dan kamu masih mencari buku lainnya lagi?" Panji yang biasanya serius kini tersenyum lembut saat dia bertanya pada Risha
"Ya, mau bagaimana lagi pak, saya dikelilingi oleh orang-orang tidak normal di dunia dengan IQ diatas rata-rata. Jika saya tidak berusaha kerasa mengejar mereka, maka saya bisa tertinggal jauh oleh mereka. Mereka bisa sampai bulan lebih dulu daripada saya" Ujar Risha dengan senyum ceria hingga membuat Panji terpesona oleh senyum cerianya
"Pak, pak! Halo ..." Risha melambaikan tangan berkali-kali didepan wajah Panji karena dia sama sekali tidak bereaksi
"Ah, maafkan aku. Sini bukunya, biar saya bawakan ke meja disana. Meskipun hanya membawa 3 buku, tapi ini semua tebal, tanganmu bisa pegal nanti. Kamu bisa mencari buku yang kamu perlukan. Dan aku akan tunggu disana dengan buku-buku milikmu inj" Ujar Panji sambil meraih buku ditangan Risha
"Ya sudah kalau begitu. Terimakasih banyak pak Panji yang tampan" Risha bicara dengan senyum ceria dan nada bercanda
"Hehe, ini cara kamu merayu jika menginginkan sesuatu ya?" Panji menunjukkan senyum terpaksa dengan nada bicara yang datar.
"Ya lumayan. Dengan begini sudah bisa dipastikan kalau sepupu saya yang kembar itu, Kenzo dan Kenzie bisa melakukan apa saja yang saya minta" Jawab Risha lagi dengan senyum ceria
"Ya sudah, saya tunggu kamu disana" Panji pun beranjak pergi dari hadapan Risha dengan buku-buku ditangannya setelah mendapat anggukan kepala dari Risha. Sedangkan Risha kembali mencari buku lain yang dia butuhkan
Diluar kampus, Arumi baru saja tiba dan memarkirkan mobilnya di area parkir. Dia turun dengan anggun dari mobil mewahnya. Postur tubuh tinggi dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai dan setelan kemeja dan celana katun bahan membuat dia terlihat dewasa dan elegan. Arumi menoleh kesana kemari melihat sekeliling kampus
"Permisi, apa kamu melihat pak Panji?" Tanya Arumi kepada salah satu mahasiswi yang melintas dihadapannya
__ADS_1
"Oh, biasanya pak Panji ada di perustakaan" Jawab mahasiswi tersebut singkat
"Ehm ... perpustakaannya berada disebelah mana ya?" Tanya Arumi lagi dengan wajah bingung
"Itu ada disebelah sana. Nona bisa berjalan lurus kesana setelah itu belok kiri. Nanti tidak jauh dari sana ada perpustakaan. Kalau tidak, anda bisa tanyakan lagi pada orang yang ada disana" Mahasiswi itu menerangkan dengan sangat tenang
"Baiklah. Terimakasih" Jawab Arumi tersenyum lembut pada mahasiswi itu. Diapun mulai melangkahkan kaki menuju arah yang diberitahukan oleh mahasiswi itu.
Para mahasiswa yanv ada disana terus memperhatikan Arumi yang cantik
"Siapa itu? dosen baru atau mahasiswi pascasarjana disini ya?"
"Entahlah, aku juga baru pertama kali melihatnya. Tapi, sepertinya tidak ada informasi kalau akan ada dosen baru dikampus kita"
"Lalu itu siapa?" Mereka saling berbincang membicarakan Arumi yang kini semakin jauh dari pandangan mereka
Tak berselang lama Arumi pun tiba di perpustakaan. Dia kembali menoleh kesana kemari mencari panji namun tak dilihatnya
"Permisi. Apa kalian melihat pak Panji?" Tanya Arumi pada mahasiswa yang hendak keluar dari perpustakaan
"Terimakasih" Arumi pun kembali melangkahkan kakinya
"Harusnya bagian ini tuh disini"
"Tidak pak, pemetaan mengenai manajemen itu harusnya dibagian sini"
"Aku ini sudah bergelar doktor, jadi aku lebih tahu dari kamu mengenai makalah"
"Tapi tetap saja pak, jika penjelasannya dilakukan didepan rasanya itu tidak sesuai. Lebih baik dibagian ketiga saja"
Panji dan Risha sedang berdebat mengenai makalah yang akan dibuat Risha. Mereka terlihat sangat akrab dan begitu santai. Seakan tidak ada jarak diantara mereka.
Arumi yang sebelumnya monoleh kesana kemari kini langsung menatap punggung sang kekasih yang lebar. Panji terlihat menikmati perdebatannya dengan Risha hingga sesekali dia tersenyum.
__ADS_1
"Apa ini? Kamu tersenyum lepas bersama seorang anak kecil. Sedangkan saat denganku kamu hanya akan menunjukkan wajah kaku dengan sikap yang dingin" Pikir Arumi saat menatap Panji dan Risha yangg begitu akrab.
" Nona, bukannya anda yang tadi mencari pak Panji? Itu pak Panji ada disana!" Ujar mahasiswa yang sebelumnya bertemu dengan Arumi di depan perpustakaan
"Iya, saya sudah melihatnya. Terimakasih" Arumi pun mendekati Panji dan berdiri tepat dibelakangnya
"Sepertinya kamu sangat sibuk dengan makalahmu sampai tidak punya waktu untuk menghubungiku barang sebentar saja"
Wajah Panji yang sebelumnya tersenyum ceria dengan Risha seketika langsung diam mendengar suara Arumi dibelakangnya. Diapun langsung menoleh pada Arumi
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Panji dengan sikap yang sinis dan dingin, sangat berbeda dengan sikapnya saat bersama dengan Risha tadi. Risha yang memang tidak tahu apa-apa hanya diam dan fokus pada bukunya tanpa ingin ikut campur
"Tentu saja menemui tunanganku. Apa lagi?" Jawab Arumi dengan mata mendelik pada Risha yang diam saja dan tidak mempedulikan dia
"Kita bicara ditempat lain" Jawab Panji sambil menarik tangan Arumi
"Lepaskan aku!" Arumi menarik tangannya yang digenggam oleh Panji kemudian mendekati Risha
"Hei kamu, anak kecil. Berani-beraninya kamu menggoda calon suamiku?!" Teriak Arumi kesal
"Arumi!" Panji pun ikut berteriak pada Arumi
"Kenapa? Memang benar kan kita ini bertunangan?" Tanya Arumi pada Panji dengan dengan sikap sinis
"Kamu!"
"Nanti saja kita bicaranya. Sekarang aku ingin bicara dengan mahasiswi mu yang pandai ini" Arumi mengabaikan perkataan Panji dan kembali bertanya pada Risha
Risha yang sejak tadi diam kini menatap Arumi dengan tatapan tegas
"Saya tidak peduli anda ini temannya atau tunangannya. Saya dan pak Panji hanya membicarakan masalah makalah saja. Selebihnya saya tidak akan ikut campur dengan urusan kalian berdua. Silahkan bicarakan baik-baik" Risha menjawab dengan sikap acuh tak acuh
"Oh tentu, lagipula usia kalian sepertinya terpaut cukup jauh. Jadi kamu tidak pantas bersanding dengannya" Arumi bicara dengan nada mencibir
__ADS_1
"Saya tidak tertarik membahas masalah ini. Silahkan kalian lanjutkan saja berdua" Ujar Risha sambil membereskan barang-barang miliknya
"Kamu!" Arumi yang kesal mulai mengangkat sebelah tangannya