
Belum hilang rasa terkejut kakek dan nenek Safira setelah mendengar kalau cucu mereka sakit parah sampai kehilangan ingatannya. Lagi-lagi mereka dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan Kenzo.
"Kamu bilang apa?" Tanya pak Dimaz yang masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzo dan berusaha memastikannya.
"Aku ingin menikahi Safira secepatnya" Zo bicara dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin
"Bukannya kamu bilang dia kehilangan ingatannya? Bagaimana bisa kamu ingin menikah dengannya dalam keadaan seperti ini? Apa kamu tidak bisa menunggu sampai dia ingat kembali semuanya?" Pak Dimaz bicara dengan sikap yang dingin dan tegas
"Aku sudah katakan pada Safira sebelumnya kalau aku akan membuat banyak kenangan indah yang baru bersamanya. Dengan menikah, kami akan memiliki lebih banyak waktu bersama dan membuat semuanya indah. Aku tidak bisa menunggu ingatan Safira yang tak pasti itu akan kembali atau tidak. Lagipula, ini sudah kami bahas sebelum dia melakukan operasi. Dan aku benar-benar akan melakukannya" Kenzo kembali menjelaskan dengan sikap yang tenang
"Tapi nak Zo, menikah itu bukan perkara yang mudah. Apalagi Fira tidak ingat padamu. Bagaimana mungkin dia masih memiliki perasaan yang sama padamu? Yang dia rasakan sekarang itu mungkin hanyalah kebingungan semata" Bu Galuh pun ikut bicara. Dia berusaha meyakinkan Kenzo untuk memeprtimbangkan kembali apa yang akan dia lakukan
Kenzo terdiam sesaat sebelum dia bicara
"Sebelumnya aku minta maaf. Tapi aku ingin bertanya. Aku tahu bagaimana safira sebelum dia melakukan operasi dan kehilangan ingatannya. Apa karena dia operasi dan hilang ingatan, itu akan membuat Safira juga kehilangan hatinya dan merubah sifatnya? Aku rasa tidak. Safira tetaplah Safira, dia hanya kehilangan ingatan saja dan tidak ada hal lain darinya yang berubah"
Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan tegas. Pak Dimaz dan bu Galuh tidak bisa berkata apa-apa lagi padanya, sedangkan Safira masih terpana pada Kenzo karena apa yang dia katakan untuk meyakinkan kakek dan neneknya.
"Berhenti menatapku seperti itu. Bola matamu hampir melompat padaku" Kenzo berbisik pada Safira sambil menunggu jawaban dari kakek neneknya
"Aku baru tahu kalau kamu ternyata pandai bermain kata" Safira pun bicara dengan sedikit berbisik pada Kenzo dengan senyum lembut dibibirnya
"Karena kamu tidak memilki ingatan tentangku, maka kamu akan lebih tahu setelah kira menghabiskan lebih banyak waktu bersama nantinya" Kenzo bicara degan senyum senyum tipis disertai kedipan sebelah mata yang menggoda Safira
"Ehem ehem ... Fira, karena ini menyangkut masa depanmu, kami juga ingin mendengar pendapat darimu. Apa kamu yakin mau menikah dengan nak Kenzo? Apa tidak sebaiknya kalian lebih saling mengenal lagi? Kakek tidak ingin ada penyesalan diantara kalian nantinya" Pak Dimaz bicara dengan sangat lembut pada Safira
"Kakek, jika membicarakan masalah penyesalan ... aku pun sudah merasa menyesal sekarang ini" Kenzo kembali menyela dan tidak membiarkan Safira menjawab
Safira dan juga kakek neneknya menatap Kenzo dengan tatapan curiga
"Kamu menyesal? Jika kamu menyesal, kenapa kamu melamar Fira?!" Kini terlihat jelas kalau pak Dimaz kecewa pada Kenzo karena mengira kalau dia hanya main-main
"Aku menyesal karena tidak menikahinya sebelum dia melakukan operasi. Jika kami menikah lebih dulu, mungkin kakek dan nenek tidak akan meragukan keputusanku saat ini" Kenzo bicara sikap yang tenang dan senyum penuh percaya diri
"Haah ... kamu memang sama seperti nenekmu, keras kepala" Pak Dimas menghela napas pasrah kerana sikap Kenzo yang sama seperti Ji
__ADS_1
"Jadi, itu artinya ... kakek merestui pernikahan saya dan Fira?" Kenzo kembali bertaya pada pak Dimaz untuk mematikan jawabannya
"Ya, aku merestui kalian berdua, tapi dengan satu syarat" Pak Dimaz mengangkat satu jarinya saat dia bicara
"Apa itu?" Tanya Kenzi dingin
"Kamu harus membahagiakan cucuku. Jika kamu membuatnya menangis, maka aku akan memisahkan kalian berdua bagaimanapun caranya"
"Itu bukan hal yang sulit, karena aku tidak akan pernah membuat safira menitikan air mata. Dia akan jadi istri paling bahagia didunia ini" Kenzo bicara dengan penuh rasa percaya diri
"Aku akan pegang kata-katamu itu!" Pak Dimas bicara dengan nada mengancam
"Baik. Aku akan segera menghubungi keluargaku yang ada di negara A untuk memberitahu kabar gembira ini. Tapi mungkin kami tidak akan mengadakan resepsi besar saat ini. Kami hanya akan meresmikan hubungan kami dulu saja. Untuk pestanya mungkin nanti setelah semua keadaan lebih baik. Kakek mengerti kan maksudku?" Kenzo memicingkan mata saat bertanya pada pak Dimaz
"Aku mengerti. Nenekmu pernah menceritakan itu padaku" Pak Dimaz tersenyum dan menyetujui apa yang dikatakan oleh Kenzo
"Terimakasih karena kakek mau mengerti situami kami"
"Sudahlah tidak perlu bahas ini dulu. Sebaiknya kita makan siang bersama"
Kenzo dan Safira akhirnya makan siang bersama kakek dan nenek Safira
***
Risha sedang menghubungi Rendra disela waktu kerjanya
"Ada apa dengan wajahmu? Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat begitu? Apa terjadi sesuatu?" Rendra bertanya pada Risha setelah melihat dia terus menekuk wajah cantiknya
"Aku membuat masalah baru" Risha mengeluh dengan nada manja sambil menghela napas
"Masalah apa?" Rendra menanggapi dengan sikap yang tenang
"Aku menantang direktur yang lebih senior untuk menerima sebuah taruhan"
"Taruhan? Taruhan apa?" Renda memicingkan mata penasaran dengan apa yang dimaksud Risha
__ADS_1
"Iya, aku bertaruh untuk mendapatkan investor baru untuk sebuah film yang akan segera diproduksi. Siapa diantara kami yang mendapatkan investor lebih dulu, maka dia yang akan menang"
"Apa hadiahnya?" Tanya Rendra yang semakin penasaran dengan taruhan Risha
"Jika aku yang menang, maka dia harus membersihkan namaku bahwa aku bukan gadis simpanan dan juga dia harus menghapus fotoku dan juga papi. Tapi jika aku kalah, dia bisa meminta apapun dariku" Risha menjelaskan mengenai apa yang menjadi sumber masalahnya
"Maksudmu?" Rendra menanggapi dengan sikap yang dingin dengan dahi berkerut
"Dia yang menyebarkan gosip bahwa aku simpanan papi dengan foto kami yang sedang makan siang menjadi penguatnya"
"Berani sekali dia. Siapa namanya?" Rendra menunjukkan seringai licik dibibirnya
"Apa kamu mau membantuku?" Risha bertanya dengan senyum menggoda
"Bantuan apa yang kamu butuhkan? Apa aku harus membereskannya? Itu bukan masalah untukku" Rendra bertanya degan sikap yang santai dan terkesan acuh tak acuh
"Tidak tidak. Biar aku saja. Tapi aku ingin kamu jadi investor untuk filmku itu. Kamu mau kan?" Risha bertanya dengan tatapan berbinar-binar
"Tergantung keuntungan apa yang aku dapatkan" Rendra tersenyum dengan sikap yang acuh tak acuh
"Ternyata kamu itu perhitungan ya?" Ujar Risha dengan mata mendelik sinis
"Mau bagaimana lagi. Aku ini seorang pebisnis, jika kamu meminta aku menjadi investor, maka itu adalah urusan bisnis dan aku membutuhkan keuntungan. Ini kerjasama diluar hubungan asmara kita berdua" Rendra tersenyum tipis dengan kedua alis diangkat bersamaan
"Aku baru tahu ternyata Rendra Adelio Dirga juga seorang pebisnis yang licik"
"Bukan licik. Aku hanya memperhitungkan keuntungan yang akan aku dapatkan saja" Rendra menanggapi dengan senyum yang manis
"Entahlah, yang jelas jika kamu tidak bisa menjadi investor untukku, maka kenalkan aku dengan rekan bisnismu yang kemungkinan bersedia untuk jadi investorku" Risha bicara dengan nada sedikit mengancam
"Jika ada aku kenapa harus cari yang lain?" Rendra terus saja menggoda Risha
"Rendra, aku serius. Sebenarnya aku bisa mencari investor sendiri. Hanya saat ini waktunya terbatas. Dia hanya memberi waktu hampir 2 bulan saja"
"Kalau begitu, siapkan propsalnya. Aku ingin tahu bagaimana perencanaan yang kamu miliki" Kini Rendra kembali pada sikap dingin dan seriusnya
__ADS_1
"Siap bos. Aku akan segera menyusun proposalnya. Aku tidak akan membuatmu kecewa"