
Meisya sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Kenzie sampai dia mengerem mendadak mobilnya
"Kamu ingin membunuhku dihari pertama kita resmi jadi kekasih sungguhan?" Tanya Kenzie sambil menatap meisya dengan tatapan heran namun suaranya lembut
"Apa ... maksudnya?" Meisya tidak menjawab candaan Kenzie, dia malah bertanya maksud dari ucapan Kenzie sebelumnya
"Bukannya sudah jelas? Aku tidak mau lagi pura-pura pacaran denganmu. Aku ingin kita pacaran sungguhan" Kenzie mengatakannya dengan senyum lembut seakan tidak memiliki kesalahan apapun.
"Saya tidak mengatakan kalau saya bersedia jadi pacar bapak" Meisya menjawab dengan sikap yang dingin dan nada yang kesal
"Aku juga tidak bertanya padamu. Aku hanya mengatakan kalau kita putus sebagai pacar palsu dan sekarang, kita mulai jadi pacar sungguhan" Ujar Kenzie dengan senyum lembut dan alis yang diangkat secara bersamaan
"Aku tidak setuju!" Meisya langsung membantah ucapan Kenzie
"Aku tidak minta pendapatmu" Kenzie menjawab dengan acuh tak acuh namun ada senyum juga dibibirnya. Dia kembali menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam dan dia juga sesekali memijat pelipisnya
"Apa anda masih merasa pusing?" Nada bicara Meisya yang tadi terdengar kesal, kini kembali lembut
"Tidak apa. Sebaiknya cepat kendarai mobilnya. Aku ingin segera istirahat" Jawab Kenzie dengan mata yang masih terpejam
"Bagaimana ini ...? Jika dia dihotel dan tengah malam demamnya kembali naik, siapa yang akan mengurusnya?" Pikir Meisya yang mulai menjalankan lagi mobilnya
"Baiklah, sebaiknya aku tidak pergi ke hotel. Bawa kerumah papa saja" Akhirnya Meisya memutuskan membawa Kenzie kerumah papanya
"Eh, kenapa kita putar arah? Bukannya tadi sudah dekat hotel?" Tanya Kenzie yang terlihat bingung sambil menoleh kesana kemari
"Ini kan ...?"
"Jalan kerumahku. Aku tidak bisa membiarkan kamu menginap dihotel saat sedang sakit, tapi aku juga tidak mungkin membawamu ketempat tinggalku disini, karena aku tinggal sendiri. Jadi sebaiknya aku membawamu kerumah papa, disana ada banyak orang dan juga pembantu yang bisa merawatmu" Meisya menjelaskan tanpa menatap Kenzie, dia terus saja berkonsentrasi pada jalanan
"Owh ... jadi pacarku sedang mengkhawatirkanku? Baiklah, aku tidak akan menolak niat baikmu" Kenzie menanggapi dengan nada menggoda Meisya
"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada bapak saat malam hari nanti. Bisa saja demam bapak kembali naik saat tengah malam"
"Tidak perlu malu. Bagaimanapun juga sekarang kita adalah pasangan kekasih. Tidak ada salahnya untukmu memberikan perhatian padaku kan?"
"Terserah. Aku tidak ingin berdebat dengan bapak"
"Mau kamu menentangku atau apapun, kamu tetaplah kekasihku" Meisya hanya diam dan tidak bisa menjawab apapun lagi
***
__ADS_1
Saat ini Rendra sedang menunggu Risha diparkiran mobil. Dia sengaja turun lebih dulu agar bisa melihat Risha saat dia pulang. Karena Risha masih mengabaikannya di telepon
"Kenapa dia belum turun juga? Apa dia sudah pulang? Tidak mungkin kan, karena sejak tadi aku sudah menunggu disini" Gumam Rendra sambil terus menoleh kesana kamari mencari Risha
Tak lama terlihat Risha turun bersama rekan-rekan kerjanya. Rendra terus memperhatikannya dari dalam mobilnya
"Apa sebaiknya aku turun dan membawa Risha pergi? Tapi jika begitu ... semua orang akan tahu kalau kami dekat dan Risha tidak akan menyukainya" Rendra kembali bingung melihat Risha. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan tidak mengganggu Risha
"Itukan ... mobilnya Rendra" Risha berkata dalam hati ketika dia melihat mobil Rendra melintas didepannya
"Apa dia menungguku? Kenapa dia tidak mendekatiku?" Pikir Risha setelah melihat mobil Rendra menjauh
"Sampai jumpa Risha"
"Eh ya, sampai jumpa" Risha yang sebelumnya termenung memikirkan Rendra tersadar ketika rekan satu kantornya berpamitan karena berbeda arah
"Apa … Rendra menungguku? Jadi dia tidak menghampiriku karena ada mereka disini? Ya sudahlah biarkan saja. Nanti dia pasti menghubungiku" Risha pun melanjutkan langkahnya menuju apartemennya
***
Rendra baru saja tiba dirumah. Dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa
"Apa aku harus tanya pada Kenzo? Ah tidak, dia pasti akan terus mengejekku. Biarkan sajalah, mungkin Risha masih butuh waktu" Ujar Rendra yang masih kebingungan membujuk Risha
"Ngomong-ngomong … katanya sebentar lagi akan ada pesta keluarga. Rasanya malas sekali pergi kesana, tapi jika tidak … mereka akan jadikan aku bahan ejekan. Jika aku datang kesana juga pasti mereka akan memandang rendah padaku. Terlebih lagi mereka adalah saudara kak Bastian. Tentu saja mereka tidak menyukaiku. Apalagi kalau mereka tahu aku memegang kunci rahasia mereka. Pasti mereka akan melakukan segaka cara untuk melenyapkanku. Sudah saatnya untukku melawan mereka. Apa kak Bastian tidak tahu kalau orang-orang yang dia bilang keluarga adalah parasit di perusahaan dia sendiri?"
Rendra bergumam sambil menatap langit-langit rumahnya dengan tatapan kosong
"Haah sudahlah. Aku hanya perlu waspada. Beruntung sebelumnya Kenzo telah memberikan data mengenai orang-orang yang harus aku waspadai disini. Jika aku tidak memiliki dia sebagai sahabatku, entahlah apa yang akan terjadi padaku"
***
"Mami, sampai kapan kalian akan berada disini?" Tanya Kenzo pada Cheva. Mereka kini berada dirumah Safira dan menemaninya
"Mungkin lusa. Lagipula besok kan akhir pekan, tidak masalah bagi kami untuk berada disini lebih lama lagi" Cheva menjawab dengan kedua alis diangkat bersamaan dan senyum percaya diri
"Haah... perusahaan mami dan papi bisa kacau jika terlalu lama ditinggalkan" Kenzo masih berusaha mengusir orang tuanya pulang
"Tenang saja. Papi punya Rei dan Zay yang mengelola perusahaan dan galeri papi" Lian pun menyombongkan kedua orang kepercayaannya
"Ya, terserah kalian berdua saja" Kenzo pun menghela napas kasar karena tidak berhasil membuat kedua orang tuanya pulang
__ADS_1
"Om, tante, kalian bisa menempati kamar sebelah sana. Tadi Tiara sudah membersihkannya" Safira bicara dengan lembut dan sopan pada Cheva dan Lian
"Baiklah terimkasih. Kamu harus langsung istirahat. Zo, jaga dia baik-baik" Cheva bicara dengan lembut pada Safira, kemudian dia beralih bicara pada Kenzo dengan nada mengancam
"Mami pikir apa yang akan aku lakukan? Tidak mungkin aku melakukan hal yang macam-macam padanya" Kenzo menjawab dengan sikap yang dingin
"Baguslah kalau begitu. Mami percaya padamu" Cheva dan Lian pun beranjak ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka
Kenzo membantu Safira untuk beristirahat ditempat tidurnya
"Kenapa kamu bersikap seperti itu pada orang tuamu?" Safira bertanya dengan penuh tanya
"Kenapa? Memang begitu caraku berinteraksi dengan mereka" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang acuh tak acuh
"Kamu tidak bisa bersikap lembut pada mereka?" Tanya Safira dengan sesekali menggelengkan kepala
"Entahlah. Sepertinya aku tidak bisa merubah sifatku" Jawab Kenzo dengan senyum tipis
"Pantas saja tante Cheva mengatakan kamu dingin seperti pangeran es. Ternyata memang karena sikapmu ini ya?" Safira tersenyum tipis dengan sedikit mencibir
"Berhenti menertawakanku. Sekarang berbaring dan kamu harus banyak istirahat" Kenzo membantu Safira berbaring ditempat tidurnya
"Lalu kamu …" Safira tidak melanjutkan ucapannya pada Kenzo karena dia sudah mengerti
"Aku akan disini menunggumu. Jadi kamu cukup pejamkan matamu dan istirahat tanpa mengkhawatirkan apapun" Ujar Kenzo sambil menyelimuti Safira
"Baiklah. Terimakasih karena selalu menemaniku. Samenjak aku mengenalmu, aku tidak pernah merasa sendiri, karena kamu selalu menemaniku" Ujar Safira dengan senyum yang lembut
"Kenapa akhir-akhir ini kamu bersikap aneh ya? Seperti kamu akan meninggalkan aku saja" Kenzo memicingkan mata menatap heran pada Safira
"Mana mungkin? Aku tidak berniat melepaskanmu sama sekali" Safira langsung menjawab dengan senyum yakin
"Benarkah? Lalu kenapa sejak kemarin kamu mengatakan seolah-olah kamu akan pergi?"
"Apa maksudnya itu?" Kini Safira yang menatap Kenzo dengan tatapan heran
"Ya, hanya … aneh saja. Kemarin kamu bilang meskipun kita jauh tapi hatimu akan selalu dekat denganku dan sekarang kamu bilang kamu bersyukur karena bisa mengenalku. Apa itu bukan aneh namanya?"
"Entahlah, mungkin … aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku agar kamu mengetahuinya, jadi kamu harus selalu mengingatnya, kamu tidak boleh sampai melupakannya"
"Ya baiklah. Aku akan selalu mengingatnya. Meskipun! itu terasa aneh"
__ADS_1