Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Meninggalnya Lea


__ADS_3

Semua orang terkejut hingga mereka berteriak dengan serempak begitu melihat Lea jatuh pingsan di atas makam Galen


"Lea! Lea!"


"Kita harus kembali kerumah sakit sekarang juga!" Leo yang posisisnya lebih dekat dengan Lea langsung menggendongnya dan meminta mereka untuk kembali kerumah sakit secepatnya.


"Lea bertahanlah sayang. Kamu harus baik-baik saja"Vio terus menangis sambil memeluk Lea yang ada di pangkuannya selama perjalanan mereka kembali kerumah sakit


"Cepat sedikit kak. Kita harus segera tiba dirumah sakit" Vio bicara pada Leo agar mengendarai mobil dengan cepat


"Iya kita sudah cepat. Sebentar lagi kita akan sampai" Leo menjawab dengan panik sambil sesekali melihat ke belakang melalui kaca spion


Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Lian dengan cepat membantu menurunkan Lea dan memindahkannya ke tempat tidur dorong untuk di bawa ke ruang IGD


"Suster. Cepat tolong anak saya!" Teriak Leo pada perawat yang berjaga


"Baik pak. Panggil dokter dan siapkan ruang IGD" Perawat itu memberi instruksi pada rekannya sambil mendorong Lea menuju tuang IGD


Yudha, dan lainnya pun mengikuti suster menuju ruang IGD


"Kak, bagaimana ini? Aku takut jika sesuatu terjadi pada Lea. hiks... hiks... hiks... " Vio meluapkan kesedihannya dalam pelukan Leo


"Tenanglah. Kita berdoa saja untuk keselamatan Lea"


Vio menganggukan kepala dalam dekapan Leo


"Kak Lian, apa kamu memikirkan apa yang sedang aku pikirkan?" Cheva berbisik ditelinga Lian dengan nada bicaranya yang tenang dan manja


"Sepertinya aku tahu. Apa kamu memikirkan Adnan dan Astria?" Lian memicingkan mata bertanya pada sang istri


"Ya, kurasa ini dilakukan dengan sengaja oleh mereka. Jangan-jangan?" Lian dan Cheva saling menatap satu sama lain kemudian segera berlari dari ruang IGD


"Hei kalian mau pergi kemana?" Yudha bertanya pada Cheva dan Lian begitu melihat mereka berlari. Namun Lian dan Cheva sama sekali tidak menanggapi dan tetap berlari


***


Diruang bayi Adnan dan Astria sedang memperhatikan bayi Lea dan Galen dari kaca jendela. Mereka terus memperhatikan box bayi yang bernamakan 'putra bu Lea dan pak Galen'


"Lihat kak. Itu bayi Galen tapi sepertinya mereka masih belum memberikan nama padanya"


Astria menunjuk box bayi Lea dan bicara dengan nada yang tenang pada Adnan


"Kita tidak mungkin membawanya hari ini. Mereka akan curiga karena kita tadi bertemi dengan Cheva dan suaminya"


"Kakak benar. Kita harus menunggu sampai besok atau lusa hingga kondisinya kembali tenang. Aku ingin lihat dulu apa yang akan terjadi pada Lea setelah tahu kalau Galensudah mati"


Astria tersenyum sinis membayangkan kondisi Lea


"Jangan senang dulu. Tadi kita melihat Lea sangat tenang. Kita harus lihat dulu perkembangan keadaannya sampai dia tidak bisa menjadi ahli waris Galen"


Adnan pun tersenyun sinia menjawab ucapan sang adik


"Kita harus pergi sekarang, sebelum ada yang melihat kita disini"

__ADS_1


"Ya, ayo"


Astria dan Adnan pun berbalik dan pergi meninggalkan bayi Lea. Sesekali dia masih menoleh ke dalam ruang bayi


"Tunggu kami ya bayi tampan. Kami akan menjemputmu dan menjadikanmu pewaris keluarga Surendra tanpa campur tangan ibumu"


Astria bicara sendiri dengan senyum lembut dan pandangan mengarah pada bayi Lea


"Itu mereka!"


Lian dan Cheva melihat Astria dan Adnan berjalan menjauh dari ruang bayi. Mereka lalu masuk keruang bayi untuk memastikan keadaan Lathan


"Syukurlah mereka tidak melakukan apapun lada Lathan" Ujar Cheva sambil menggendong Lathan untuk memastikan keadaannya


"Kita tidak boleh lengah. Aku yakin kalau mereka merencanakan sesuatu. Kita harus mulai bergerak sebelum mereka"


Lian bicara dengan lembut dan penuh perhatian


"apa kakak punya rencana untuk membuat mereka mengakui kesalahan mereka?"


Cheva memicingkan mata bertanya pada sang suami


"Sejak kapan kita harus membuat mereka mengaku? Kita sudah tahu kalau itu ulah mereka. Jadi Apalagi yang harus kota pastikan?"


"Kak Lian benar. kita tidak perlu memastikan apapun lagi. Cukup kita mulai langkah pertama kita yaitu memhuat mereka takut karena apa yang telah mereka lakukan"


"Kamu memang pintar sayang" Lian melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Cheva dan bicara dengan senyum lembut dibibirnya


"Apa masalahnya? Biar semua orang tahu kalau kamu istriku" Lian terus saja menggoda Cheva


"Kurasa semua orang sudah tahu kalau kita ini suami istri. Siapa di negara ini yang tidak mengenal kita, huh?" Cheva dengan nada bicaranya yang manja membalas godaan sang suami


"Kalau begitu tidak ada alasan lagi untukmu menghalangiku menunjukkan rasa sayangku"


Lian terus saja menggoda Cheva dengan bisikan cintanya


"Ah, kak Lian. Lihatlah semua orang jadi memperhatikan kita" Cheva menoleh ke sekelilingnya dan benar-benar semua orang memperhatikan mereka sambil berbisik dan tersenyum


"Aku tidak peduli, tapi kalau kamu peduli... sebaiknya kita pulang saja sekarang" Lian masih terus saja berusaha menggoda Cheva


"Tidak mau. Aku harus tahu dulu keadaan Lea" Cheva menolak dengan tegas ajakan Lian


"Ah benar. Karena hanya ada kamu, aku jadi lupa dengan yang lain"


"Hah? Apa kakak bilang barusan? Sejak kapan kak Lian pandai menggombal?"


Cheva tersenyum heran melihat Lian bicara gombal padanya


"Kamana saja kamu? Tapi aku tidak gombal, aku jujur kalau hanya ada kamu di hatiku"


"Aah sudah-sudah. Aku tidak bisa lagi mendengar gombalan kak Lian"


Cheva yang mukanya telah berubah merah seperti tomat langsung menutup mulut Lian dengan kedua tangannya namun bukannya diam Lian justru memegang tangan Cheva dan menciumnya

__ADS_1


Cup


"Aah kak Lian"


Cheva yang semakin malu akhirnya meninggalkan Lian dan berjalan kembali ke ruang IGD. Lian berjalan mengikuti Cheva di belakangnya dengan senyum yang tak pernah hilang.


***


Ruang IGD


Tut, tut, tut


"Dok, denyut jantung pasien tidak stabil. Nadinya pun semakin lemah"


Tuuuuuuut


"Detak jantungnya berhenti dok!" Ujar asisten dokter yang membantu menangani Lea dengan nada panik


"Siapkan AED (automated external defibrillator) Sekarang! Cepat!"


"Baik!"


Suster pun dengan cepat menyiapkan alat kejut jantung yang diminta dokter


"Atur dalam 200 joule!"


"Baik"


Dokter menyiapkan alatnya sebelum memulai penanganan dan suster mengatur aliran listrik yang diperlukan , setelah dirasa pengaturan alisan listriknya cukup dokter pun meletakkan alat itu di dada Lea untuk memberikan kejutan pada jantungnya


"Ready, shut!


Ready, shut!


Tingkatkan lagi!"


"Baik!"


"Ready, shut!"


Tuuuuuuttt


Dokter dan suster menyerah setelah mereka berkali-kali mencoba membuat jantung Lea kembali berdetak namun tidak berhasil


"Pasien tidak dapat diselamatkan. Umumkan waktu kematiannya"


Dokter bicara pada para perawat kemudian dia beranjak keluar dari ruang IGD


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" Leo dan Vio langsung mendekat begitu melihat dokter keluar dari ruang IGD


"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi nyawa pasien tidak dapat diselamatkan"


"Tidakkkk!"

__ADS_1


__ADS_2