
Kenzie kembali ke kantornya setelah urusannya selesai. Dia memejamkan mata begitu duduk di kursinya
"Dia ini pacarku, dan kami satu kantor"
"Haah bisa-bisanya aku terjebak dengan urusannya? Semoga ini benar-benar tidak merepotkan"
Saat Kenzie memikirkan situasi yang terjadi padanya saat berada diluar kantor. Disebuah rumah besar yang terletak dikawasan perumahan elit, terdapat kediaman Wilandra. Kelurga terpandang yang bergerak dibidang konstruksi. Sudah banyak gedung yang dia bangun, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Seorang pria paruh baya sedang duduk dengan beberapa dokumen ditangannya. Dia adalah kepala keluarga dirumah besar itu, sekaligus ayah dari Meisya, Arseno Wilandra
"Tuan, kami tidak berhasil membawa nona pulang. Dia tetap bersikeras untuk tinggal disana. Terlebih lagi, nona sudah punya pacar"
Pria yang sedang memegang dokumen itu langsung diam dan meremas ujung dokumen dengan kencang
"Apa katamu? Dia punya pacar?" Tanya pria itu dengan sorot mata yang tajam dan nada bicara yang dingin
"Benar tuan. Saya juga bertemu dengan pemuda itu. Katanya mereka satu kantor" Pak Har menjelaskan dengan sopan
"Bagaimana dia? Apa pekerjaannya? Dari keluarga mana dia berasal?" Pria itu bertanya dengan sikap yang dingin. Dia terlihat gagah dan berwibawa
"Dia pandai bela diri. Dia seorang manajer produksi di kantor tempat non Meisya bekerja. Dan yang saya tahu, dia dari keluarga sederhana, tapi saya tidak dapat menemukan informasi apapun mengenai keluarganya" Har menjelaskan semua yang dia ketahui mengenai Kenzie
"Aku harus menemuinya sekarang juga" Arseno hendak berdiri dan meninggalkan pekerjaannya namun terhenti karena ucapan Har
"Maaf tuan, tapi pekerjaan tuan masih banyak dan hari ini kita tidak bisa pergi karena nona pasti akan marah. Akan lebih baik kita pergi lain waktu. Saya juga sudah meminta non Meisya untuk pulang bersama pacarnya dan makan malam bersama anda" Pak Har mengatakan dengan senyum lembut
"Tidak mungkin dia mau mendengarkanmu dan pulang begitu saja" Ujar pak Arseno dengan raut wajah dingin
"Tapi tuan, bagaimana anda akan meminta non Meisya pulang jika anda bersikeras ingin menjodohkan dia? Non Meisya akan semakin sulit untuk ditemui" Ujar Har mengingatkan majikannya
"Aku tidak benar-benar ingin menjodohkan dia. Aku hanya tidak ingin dia berhubungan dengan pria sembarangan saja. Lagipula siapa yang rela anak gadisnya yang sudah lama tidak pulang, malah dibawa pergi oleh pria lain hanya karena status suami? Aku tidak ingin membayangkan itu untuk sekarang" Pak Arseno menjawab dengan mata tertutup sambil memegang kepala
__ADS_1
"Tapi tuan jika anda melakukan itu, anda malah semakin membuat nona Meisya menjauh" Har berusaha mengingatkan pak Arseno kalau cara yang digunakan salah
"Aku tidak bisa menarik kata-kataku. Lebih baik kamu cari tahu tentang pemuda yang katanya pacarnya. Aku juga ingin menemui Meisya" Ujar pak Arseno dengan sikapnya yang tegas
"Baik tuan. Saya akan cari tahu mengenai pemuda itu dan saya juga akan mencari cara agar nona mau menemui tuan" Har bicara dengan sopan pada Pak Arseno
"Ya, kamu boleh pergi"
"Baik. tuan permisi" Har pun beranjak pergi dari hadapan Arseno
"Meisya, Meisya. Apa kamu tidak merindukan papamu ini?" Arseno menggelengkan kepala sambil menatap foto Meisya yang ada di mejanya
***
Setelah bertemu dengan Risha sebelumnya, Bastian kembali ke kantor Rendra
"Untuk apa lagi kakak kemari? Bukankah tidak ada lagi yang harus kita bahas?" Rendra bertanya tanpa menatap Bastian
"Sepertinya aku juga sudah bilang kalau tidak ada yang perlu diperbaiki. Kakak, kita sudah lama seperti ini, jadi biarkan saja tetap seperti ini" Jawab Rendra dengan sikapnya yang dingin
"Ren, sekarang kita hanya berdua di dunia ini. Kita tidak memiliki saudara lain, jadi apa salahnya memperbaiki hubungan ini?" Bastian bersikeras dengan keinginannya untuk bisa bersama Rendra
"Tapi aku masih tidak nyaman saat bersama denganmu. Melihatmu didepanku, seperti melihat mendiang ibumu" Sorot mata Rendra terlihat tajam saat menatap Bastian
"Ibuku juga sudah meninggal. Harus bagaimana aku menjelaskan padamu. Kamu menyalahkanku karena mirip dengan ibuku, apa aku juga harus membencimu karena jadi penyebab meninggalnya ibuku?" Bastian bicara dengan sikap yang tenang meskipun terdengar kalau dia cukup kesal
"Apa itu lebih baik? Silahkan saja, toh aku tidak akan menyangkalnya. Memang aku yang menyebabkan ibumu meninggal, karena sudah 2 kali aku berada diambang kematian yang disebabkan oleh ibumu. Pertama saat kecelakaan mobil yang menimpaku dan ibuku yang menyebabkan nyawa ibuku melayang, kedua saat aku mengalami kecelakaan tunggal yang direncanakan oleh ibumu, dan kematian ibumu adalah rencana ketiganya untuk membuatku celaka" Rendra bicara dengan sikap yang tenang namun tegas. Bastian hanya bisa menundukkan kepala mendengar ucapan Rendra
"Aku tidak pernah menyalahkanmu. Itu adalah karma yang dibuat oleh ibuku sendiri karena ketamakannya. Jika ada yang perlu disalahkan, maka itu adalah aku. Ibuku melakukan itu semua agar aku tidak kehilangan semua hakku sebagai pewaris keluarga Dirga"
"Pewaris? Apa aku dan ibuku pernah meributkan masalah warisan? Ibuku wanita yang pendiam. Dia selalu menghormati ibumu, dia melakukan apapun yang diminta ibumu agar bisa saling dekat" Kenzie memberikan jeda pada ucapannya. Setelah itu dia menarik napas kasar
__ADS_1
"Haah sudahlah, ini percuma saja untuk dibahas, toh ibumu juga sudah mati. Tidak penting lagi untuk kita perebutkan masalah ini" Rendra bicara dengan sikap acuh tak acuh
"Aku mau keluar, kita akhiri saja percakapan sampai disini" Ujar Rendra sambil beranjak pergi meninggalkan Bastian
Ceklek
Betapa terkejutnya Rendra saat dia membuka pintu kantornya
"Sejak kapan kamu berdiri disini?" Tanya Rendra dengan sikap yang dingin
"Hiks... hiks... aku... mendengar semuanya"Risha memjawab disela isak tangisnya
"Apa yang kamu dengar?" Rendra memicingkan mata mendengar jawaban Risha
"Aku … aku… bagaimana kamu melewati hari-harimu?" Risha menatap Rendra dengan linangan air mata dan bertanya disela isak tangisnya
"Jangan bicara disini. Temani aku keluar!" Rendra langsung menggenggam sebelah tangan Risha dan membawanya keluar dari kantor. Mereka tidak mempedulikan tatapan semua orang yang tertuju ke arah mereka berdua
"Apa sekarang kamu sudah lebih tenang?" Tanya Rendra pada Risha setelah mereka tiba di restoran dan Risha telah berhenti menangis.
"Iya" Risha menjawab disertai anggukan kepala tanpa berani menatap Rendra langsung
"Apa semua yang aku dengar itu fakta mengenai masa lalumu? Apa … Kenzo juga tahu hal ini?" Risha terlihat ragu-ragu saat bertanya pada Rendra
"Ya karena itu aku memilih keluar dari rumah dan memutuskan kuliah diluar negeri. Kenzo … tentu dia tahu semua masa laluku, karena dia yang menyelamatkanku. Jika tidak ada dia, maka aku sudah mati dalam kecelakaan itu" Rendra tersenyum tipis saat dia menceritakan masa lalunya
Tiba-tiba Risha meraih tangan Rendra dan menggenggamnya. Dia juga tersenyum lembut padanya. Mereka pun saling menatap satu sama lain
"Kamu sudah bekerja keras, sekarang semuanya sudah baik-baik saja. Tidak ada lagi yang perlu kamu khawatirkan" Ujar Risha memberikan semangat
"Sekarang aku tidak khawatir lagi, karena selain aku memiliki Kenzo sebagai sahabatku, ada kamu juga disisiku"
__ADS_1