
Cheva dan Lian sedang berbincang bersama sebelum mereka tidur
"Hubby, apa Zo menghubungimu? Kenapa dia tidak menghubungiku sama sekali ya?" Cheva bertanya dengan wajah yang ditekuk sedih
"Tidak, Zo tidak menghubungiku. Mana mungkin anak kurang ajar itu mau berinisiatif menghubungiku sendiri. Saat tinggal bersama kita saja bisa menghitung dengan jari kapan dia bicara. Pasti akan terjadi hujan badai jika memang dia benar-benar menghubungiku duluan" Nada bicara Lian sangat tenang, namun terdengar seperti mengejek hingga Cheva tersenyum
"Apa maksud kak Lian? Masa iya sampai segitunya?" Tanya Cheva sambil tersenyum manis
"Ya memang benar kan? Anak itu memang tidak banyak bicara. Yang dia lakukan hanya main game, laptop dan membaca buku. Apa lagi?" Lian bersikap acuh tak acuh saat membicarakan putranya yang kaku dan diam
"benar juga sih. Apa dia menghubungi Kenzie dan Risha ya? aku akan tanya mereka" Cheva langsung beranjak dari tempat tidur dan berniat pergi ke kamar Kenzie
"Mau kemana?" Lian menarik sebelah tangan Cheva dan menahannya pergi
"Aku mau ke kamar Kenzie" Jawab Cheva bingung
"Lihat jam berapa sekarang!" Cheva langsung menoleh ke dinding dan melihat jam kalau sekarang sudah lewat jam 10 malam
"Ah ternyata sekarang sudah sangat malam" Wajah Cheva langsung ditekuk kecewa setelah melihat jam
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat. Besok kita masih harus pergi ke kantor" Lian bicara dengan sangat lembut lalu membantu Cheva berbaring di sebelahnya
"Iya" Cheva menganggukkan kepala dan menuruti apa yang dikatakan Lian
Keesokan harinya saat sedang berkumpul untuk sarapan, Cheva langsung bertanya pada Kenzie dan Risha begitu mereka akan duduk di kursi mereka masing-masing
"Kenzie, Risha, apa Kenzo menghubungi kalian?" Kenzie dan Risha yang baru akan duduk terdiam sesaat lalu saling menoleh setelah mendengar pertanyaan Cheva
"Kami masih saling menghubungi. Iya kan Sha?" Kenzie meminta Risha untuk menguatkan ucapannya
"Benar. Kemarin dia menghubungi kami begitu datang. Bukannya dia juga menghubungi tante?" Risha bertanya balik pada Cheva karena tidak mungkin kalau Kenzo tidak menghubungi ibunya yang sangat cerewet begitu dia tiba. Bisa-bisa Kenzo langsung disuruh pulang jika tidak menghubungi Cheva
"Kalau waktu itu memang benar. Kenzo memang menghubungi tante saat baru saja tiba. Tapi selain waktu itu dia belum menghubungi lagi" Jawab Cheva dengan tenang
"Mami, Kenzo baru beberapa hari pindah ke negara F, kenapa mami panik begitu? Seperti Kenzo tidak menghubungi mami selama setahun saja" Zie bicara dengan senyum ceria sambil mengejek Cheva
"Tetap aja mami khawatir. Bagaimana bisa dia tidak menghubungi mami lagi setelah itu" Jawab Cheva dengan nada manja
" Tante, kenapa tante tidak sekalian saja minta seseorang untuk jadi mata-mata dan mengawasi Kenzo?" Niat Risha adalah untuk menyindir Cheva tapi justru Cheva menanggapinya dengan serius
__ADS_1
"Wah, kamu benar juga. Kita bisa meminta seseorang untuk mengawasi Kenzo"
Risha dan Kenzie sangat terkejut dengan respon yang diberikan oleh Cheva
"Hah? Tante serius? Kenzo kan sudah besar" Risha bertanya dengan heran kepada Cheva
"Tante serius. Tante akan membayar seseorang untuk mengawasi Kenzo" Ujar Cheva dengan wajah serius
"Sudahlah. Jangan lakukan itu. Biarkan Kenzo mencari jati dirinya sendiri. Dia ingin membuktikan kepada kita kalau dia bisa hidup mandiri. Lagipula dia sudah bilang kalau nanti dia akan kembali lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir" Lian dengan sikap tenangnya bicara pada Cheva
"Tapi kak Lian... "
"Sudah, biarkan saja Kenzo dengan tenang kuliah disana. Setelah lulus juga pasti kembali"
"Hemn… baiklah" Akhirnya Cheva mengalah dan tidak mengatakan apa-apa lagi pada Lian. Kenzie dan Risha hanya tersenyum satu sama lain
"Pih, mih, kami berangkat dulu ya. Ada kelas pagi" Ujar Kenzie pada Lian dan Cheva
"Kamu tunggu aku di mobil saja Zie, aku mau pamit dulu pada orang tuaku"
"Ya sudah, cepat ya!"
Sementara Kenzie menunggu di mobil
"Fin, dimana mami dan papi?" Tanya Risha pada adiknya yang baru keluar kamar
"Tentu saja masih dikamarnya. Bukannya kakak tadi sudah berangkat?" Tanya Dhefin heran karena sebelumnya dia mendengar Risha sarapan lebih dulu
"Aku mau berangkat, tapi belum menemui mami dan papi" Risha menjawab Dhefin sambil berlalu pergi
"Mami, papi. Aku berangkat ke kampus sekarang ya. Kenzie sudah menungguku di luar" Teriak Risha dari luar kamar Diaz
"Ya, hati-hati Sha. Eh, memangnya kamu sudah sarapan?" Tanya Tania yang mendengar teriakan Risha
"Sudah mih. Aku pergi dulu, Kenzie sudah menungguku di depan
"Fin, mau aku antar pake mobil Kenzie?" Risha menawarkan pada Dhefin
"Tidak perlu. Supirku sudah menunggu di depan " Jawab Dhefin yang sedang memakai sepatu
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Aku pergi duluan. Sampai jumpa"
"Kakak!"
"Hahaha" Risha yang usil memukul topi Dhefin saat dia melewatinya hingga sang adik berteriak kesal
"Sha, cepat kita berangkat! Kenapa kamu lama sekali?!" Tanya Kenzie begitu melihat Risha berjalan keluat dari rumah
"Iya, iya. Ayo berangkat sekarang!" Ujar Risha yang bergegas masuk ke mobil sebelum Kenzie bicara panjang lebar
"Sha, sepetinya kamu harus menjaga jarak dari pak Panji. Aku dengar dari kalangan mahasiswi kalau hubunganmu dengan pak Panji sudah terlalu dekat" Kenzie bicara sambil berkonsentrasi pada jalanan
"Apa salahnya jika aku dan dia semakin dekat? Lagipula, aku dan pak Panji hanya dekat untuk membahas makalah saja. Kami sama sekali tidak ada hubungan pribadi" Risha menjelaskan dengan sikap yang tenang dan acuh yak acuh
"Syukurlah kalau begitu. Lagipula aku tidak ingin punya saudara sepupu yang usianya jauh diatasku" Ujar Kenzie dengan senyum menggoda Risha
"Apa maksudmu? Dia hanya sekitar 7 atau 8 tahun lebih tua dari usia kita sekarang" Risha tidak percaya dengan apa yang dikatakan Diaz
"Sama saja. dia tetap lebih tua daripada aku" Jawab Kenzie sinis
"Iya, iya. Sudah perhatikan saja jalannya" Risha mengalihkan pembicaraan agar Kenzie tidak membahas Panji lagi
"Ya. Ini sudah aku perhatikan jalannya" Jawab Kenzie dengan nada kesal
***
Kediaman Arumi
"Arumi, apa kamu sudah bersiap pergi ke kantor?" Tanya sang ayah yang melihat anaknya telah berdandan dengan cantik
"Iya, tapi aku akan pergi menemui Panji dulu pah. Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengannya" Arumi menjawab dengan senyum manis
"Jadi kamu akan pergi ke kampusnya Panji?" Tanya sang ayah yang sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar
"Iya pah. Aku akan menemui dia. Sudah cukup lama kami tidak bertemu dan ada cukup banyak hal yang perlu kami berdua bicarakan" Arumi menerangkan dengan sikap tenang
"Baguslah, tapi kamu harus bisa menahan emosimu. Terlebih di kampus Panji. Dia itu seorang dosen, Kamu harus bisa menjaga citra yang dimilikinya
"Iya pah. Aku mengerti. Aku akan datang kesana dan memberikan kejutan untuknya" Sang ayah hanya menganggukkan kepala disertai senyum di bibirnya
__ADS_1