
"Sha, kenapa kamu diam saja? Apa ada masalah? Apa masalah dengan Lusi terakhir kali itu mengganggu pikiranmu?" Kenzie terlihat khawatir karena beberapa hari ini Risha terus murung dan tidak banyak bicara
"Tidak papa. Aku hanya memikirkan sesuatu saja" Jawab Risha dengan sikap yang tenang
"Kamu serius tidak ada apa-apa?" Kenzie menatao Risha dengan tatapan khawatir
"Iya, kamu tidak perlu khawatir begitu. Kalau ada masalah, pasti aku cerita padamu" Risha berusaha menenangkan Kenzie dengan senyum manis yang terlihat dipaksakan
"Ya sudah, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi jika ada sesuatu kamu bisa bicarakan padaku"
"Iya, aku mengerti" Jawab Risha disertai anggukan kepala dan senyum tipis
Meskipun Kenzie mengatakan untuk bercerita padanya, namun Risha justru menghubungi Kenzo pada malam harinya
Tuut tuut tuut
Saat ini Kenzo sedang bersama dengan Rendra setelah selesai dari restoran
"Ada apa. Sha?" Kenzo langsung menerima telepon dari Risha meskipun dia sedang berbincang dengan Rendra
"Zo, kamu sudah mau tidur belum?" Kenzo mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Risha, kemudian melihat jam
"Ada apa denganmu? Biasanya kamu tidak menanyakan hal seperti itu meskipun menghubungiku di tengah malam sekalipun, dan ini baru jam 10 malam. Kamu tahu kalau aku baru saja kembali dari restoran dan menyiapkan pekerjaanku sendiri jam segini" Kenzo menjelaskan dengan sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh
"Aku sedang bingung dan merasa jenuh" Risha menghubungi Kenzo sambil menatap kilauan bintang dari balkon kamarnya.
"Bingung? Jenuh? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Kenzo pun semakin bingung mendengar ucapan Risha
"Sekarang aku mengerti kenapa kamu ingin keluar dari rumah dan hidup mandiri. Rasanya hidup ini membosankan. Aku juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Aku ingin hidup mandiri dan berdiri diatas kakiku sendiri" Risha kini duduk di kursi dengan segelas coklat panas ditangannya
"Kamu? Hidup mandiri? Apa ada masalah dengan skripsimu? Bukankah saat ini kalian juga sedang menyusun skripsi? Kamu juga mengambil jalur cepat kan?"
Kenzo terdengar khawatir meskipun sikap dan nada bicaranya dingin pada Risha. Rendra yang berada disana pun terlihat bingung ketika mendengar sedikit percakapan Kenzo dan Risha
"Iya, aku dan Kenzie mengambil jalur cepat. Kami tidak akan kalah darimu!" Risha menanggapi dengan sangat yakin
"Lalu ada masalah apa sampai kamu ingin hidup sendiri?" Tanya Kenzo lagi dengan sikap yang tegas
"Aku hanya … ingin memiliki pengalaman sebelum memegang kendali perusahaan keluarga kita. Setidaknya aku harus banyak belajar mengenai praktek di dunia bisnis. Karena secara teori kita sudah banyak belajar" Risha menerangkan sambil memandangi langit malam
__ADS_1
"Aku mengerti. Kamu akan mulai dari mana? Tidak mungkin untuk pindah kuliah saat ini karena kamu tinggal menyusun skripsi saja" Tanya Kenzo lagi dengan sikap yang serius
"Ehm … mungkin sambil menyusun skripsi aku akan mencari pekerjaan sepertimu, karena saat itu tidak perlu terlalu sering datang ke kampus" Risha menanggapi setelah memikirkannya sesaat
"Apapun yang kamu ambil, aku pasti mendukungmu. Kamu tahu bagaimana yang baik dan tidak. Kuharap kamu tidak mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Kamu harus memikirkannya baik-baik" Kenzo menasehati dengan tenang
"Ya, aku mengerti. Hoam … aku mulai ngantuk. Aku akan tidur dulu. Terimakasih sudah mendengarkanku" Ujar Risha sebelum mengakhiri panggilan teleponnya dengan Kenzo.
"Hmn, tidak masalah. Selamat malam" Kenzo pun mengakhiri teleponnya dengan Risha
"Apa yang terjadi dengan sepupumu?" Tanya Rendra setelah melihat Kenzo menutup teleponnya
"Katanya dia ingin hidup sendiri dan belajar mandiri" Kenzo menjawab dengan sikap tenang dan dingin
"Apa? Risha? Hidup sendiri?" Rendra terlihat tidak percaya mendengar apa yang dikatakan Kenzo
"Ya, seperti itulah kenyataannya" Kenzo menjawab dengan acuh tak acuh sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan
"Agak sedikit tidak bisa dipercaya, tapi semoga dia bisa mengambil keputusan yang terbaik" Ujar Rendra dengan lembut
"Eh, bukannya dia dengan dosen itu?"
"Dia tidak pantas untuk Risha. Meskipun dia cerdas, tapi dia tidak tegas. Dia hanya akan ditekan oleh kalangan sekitar kita saja. Kamu tahu sendiri bagaimana kerasnya orang-orang dari kalangan kita"
Rendra menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi Kenzo
"Kamu benar, jika saja dia tegas meskipun berasal dari kalangan biasa … pasti dia bisa beradaptasi dengan baik" Ujar Rendra dengan penuh pertimbangan
"Sudahlah ini sudah malam. Aku mau istirahat. Selamat malam" Rendra pun beranjak pergi meninggalkan Kenzo sendiri di ruang tengah setelah mendapatkan anggukan kepala darinya
***
Keesokan harinya
"Papi, mami, semuanya ... ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian" Dikediaman utama Kusuma, semua orang sedang berkumpul setelah makan bersama . Risha yang sejak tadi terlihat diam saja kini mulai membuka suara
"Ada apa Sha? Sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Diaz dengan lembut pada sang putri
"Iya, Sha. Sejak beberapa hari ini kamu terlihat aneh. Apa terjadi sesuatu? Tapi sepertinya tidak ada apa-apa dikampus" Kenzie menimpali karena melihat keanehan dengan sikap Risha
__ADS_1
"Sebenarnya, aku ingin hidup mandiri seperti Zo" Semua terdiam dan menatap Risha dengan tatapan heran
"Kenapa kamu ingin hidup mandiri?" Tanya Diaz dengan tatapan penuh tanya
"Hanya saja … aku ingin belajar bisnis dari bawah. Aku ingin punya pengalaman sebelum nantinya memegang kendali perusahaan keluarga kita. Selama ini aku sudah banyak belajar mengenai teori dan aku ingin memiliki pengalaman sebelum jadi pemimpin. Akan lebih baik jika aku bisa mendapatkan pengakuan dengan kemampuanku sendiri" Risha terlihat ragu-ragu saat mengutarakan keinginannya
"Itu bagus, Sha. Tante setuju, dengan begitu kamu bisa tahu bagaimana cara mengambil sikap. Kamu bisa mengerti bagaimana cara menghadapi bawahanmu" Cheva menanggapi dengan senyum cerianya
"Mami juga setuju. Setidaknya kamu memiliki pengalaman baru" Tania menimpali Cheva dengan senyum lembut
"Yaah kau bagaimana lagi jika kalian berdua sudah setuju. Aku tidak akan mungkin bisa menolak, jika aku berani menolak maka sudah pasti aku akan diterkam singa betina" Diaz menjawab dengan sikap yang tenang dan mata mendelik menatap Cheva
"Kenapa aku harus menerkam kak Diaz? Kak Tania juga bisa saja menerkammu jika kamu menolak" Cheva menjawab dengan nada kesal
"Tania itu tidak kasar sepertimu. Dia hanya akan bicara dengan lembut sambil menyuarakan pendapatnya. Berbeda denganmu, kamu bisa saja memukulku dengan sanakmu atau mungkin mencakar wajah tampanku" Ujar Diaz dengan senyum bangga
"Cih, dirumah kita ini ada banyak cermin, jangan sampai kakak lupa untuk berkaca diri. Kakak ini sudah tua!" Cheva bicara dengan nada mencibir
"Meskipun aku sudah tua. Tapi aku masih tetap gagah dan tampan"
Kenzie terdiam meskipun ibu dan omnya sedang berdebat. Dia menatap Risha dengan tatapan heran
"Sha, kapan kamu mengambil keputusan itu?" Tanya Kenzie dengan wajah serius
"Aku sudah memikirkannya cukup lama, tapi baru memantapkannya semalam. Tidak perlu cemas begitu. Aku tetap akan berada di negara ini. Meskipun mungkin tidak dikota ini" Risha menenangkan Kenzie dengan senyum manis dibibirnya
"Aku tidak papa. Sekarang kita harus lebih fokus dengan skripsi kita. Agar bisa cepat selesai" Ujar Kenzie yang kembali dengan senyum manisnya
"Ya, kamu benar" Risha menganggukkan kepala dengan semangat
"Lalu Zie, apa yang akan kamu lakukan setelah kuliah?" Kamu akan bantu mami kan?" Tanya Cheva pada Kenzie
"Ya, tapi aku tidak ingin satu perusahaan dengan mami. Aku ingin masuk perusahaan cabang saja dan sebagai direktur biasa sesuai ijazahku. Jangan sampai ada yang tahu aku anak mami" Ujar Kenzie dengan nada mengancam
Cheva tersenyum menanggapi Kenzie
"Itu perkara mudah. Yang penting kamu mau masuk perusahaan kita. Jika kalian bertiga lepas tanggung jawab begitu saja, maka kita akan kehilangan potensi besar dengan pemimpin perusahaan. Tapi mami sekarang penasaran, apa yang sedang dilakukan Kenzo? Apa dia masih terus jadi waitress?" Tanya Cheva bingung
"Itu hanya sampingan. Dia sudah memiliki kontrak kerjasama dengan perusahaan dibidang IT. Namanya sudah mulai dikenal tapi dia belum menampakkan wajahnya"
__ADS_1
"Apa?!"