
Keesokan harinya Kenzo dan Rendra bersiap untuk pergi ke pabrik milik pak Rudi untuk membicarakan masalah pinjaman ke bank sebelumnya.
"Kamu yakin akan datang sendiri kesana?" Tanya Rendra pada Kenzo yang sedang bersiap-siap
"Kita tidak bisa membiarkan dia menunggu terlalu lama. Menurutmu, hadiah apa yang harus kita berikan pada orang itu?" Kenzo bertanya dengan seringai dingin dibibirnya
"Bukannya kamu ingin dia menerima perawatan di psikiater?" Rendra memicingkan mata bingung dengan pertanyaan Kenzo
"Apa aku memang harus menjebloskannya ke rumah sakit jiwa? Hemn ... bagaimana kalau kita buat saja dia yang merawat orang gila itu?" Gumam Kenzo dengan senyum yang terlihat sinis
"Wah wah wah ... kamu sungguh mneyeramkan!" Rendra menggelengkan kepala berkali-kali setelah melihat senyum Kenzo
"Terimakasih" Kenzo menanggapinya dengan senyum seakan Rendra sedang memujinya.
"Sudahlah, tidak perlu banyak bicara. Kita berangkat sekarang!" Ujar Rendra yang sudah malas meladeni Kenzo
Mereka pun berangkat menuju pabrik milik pak Rudi. Disana Pak Rudi sedang berbincang dengan Surya
"Surya, apa persiapan kita sudah selesai? Hari ini orang itu akan datang. Katanya dia yang bisa memastikan kita mendapatkan persetujuan pinjaman itu. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, dan aku juga tidak tahu syarat apa yang dia minta dari kita" Pak Rudi bicara dengan nada yang terlihat khawatir. Dia takut jika saja tidak mampu menuruti syarat yang diminta maka pabriknya tidak akan bisa beroperasi dan semua yang dia bangun selama ini akan sia-sia.
"Anda tidak perlu khawatir pak. Semua akan baik-baik saja dan saya akan menemani anda saat menemui orang itu!" Ujar Surya menenangkan pak Rudi
Tak berselang lama, Kenzo dan Rendra tiba di pabrik tas pak Rudi. Mereka berdua berpakaian rapih dengan setelan pakaian yang sedikit formal. Karena wajah tampan mereka tentu saja mereka jadi pusat perhatian
"Aku mulai kesal dengan pemandangan seperti ini" Ujar Kenzo yang melihat karyawan pabrik menatap kearah mereka
"Sepertinya kita masih belum terbiasa dengan pemandangan seperti ini" Rendra menanggapi dengan sikap yang sama-sama narsis namun tetap tenang
"Mungkin kamu tidak, tapi aku sudah biasa" Jawab Kenzo dengan acuh tak acuh
"Sudahlah. Hentikan dulu sikapmu yang narsis itu. Tanyakan dimana ruangan pak Rudi!" Ujar Rendra yang semakin kesal
"Permisi. Kami memiliki janji dengan pak Rudi" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang pada resepsionis
__ADS_1
Kedua resepsionis itu terpana menatap Kenzo dan Rendra yang berdiri tepat dihadapan mereka . Kenzo dan Rendra pun saling menatap satu sama lain kemudian mengangguk sebagai isyarat untuk menegur resepsionis
"Permisi... halo.... "Rendra melambaikan tangan dihadapan resepsionis cantik agar dia tersadar
"Ah maafkan kami. Kami tidak bermaksud untuk tidak sopan" Ujar salah satu resepsionis dengan sikap canggung
"Baiklah, tolong beritahu pak Rudi kalau kami sudah datang!" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang tenang tanpa ada ekspresi diwajahnya
"Baik baik tolong tunggu sebentar!" Resepsionis itupun menghubungi Pak Rudi untuk menyampaikan pesan kalau tamunya sudah datang
"Baik pak, akan saya antarkan keruangan bapak" Resepsionis itu langsung menutup teleponnya setelah bicara dan beralih bicara pada Kenzo juga Rendra yang ada dihadapannya
"Pak Rudi sudah menunggu anda berdua diruangannya. Mari saya antarkan!" Kenzo dan Rendra menganggukkan kepala serempak kemudian mengikuti langkah resepsionis yang akan mengantarkan mereka keruang pak Rudi
"Sepertinya mereka memang sangat menantikan kita?" Tanya Rendra dengan penuh percaya diri
"Tentu saja. Jika tidak, maka pabrik mereka tidak akan bisa beroperasi" Kenzo menjawab dengan senyum bangga dibibirnya
"Ini ruangannya pak"
"Pak, tamu anda sudah tiba disini" Kata gadis petugas resepsionis memberitahu pak Rudi
"Persilakan mereka masuk!" Ujar Pak Rudi yang sedang tegang
"Baik pak. Silahkan masuk!" Ujar resepsionis yang mengantar mereka setelah meminta izin pada pak Rudi. Dia juga membukakan pintu untuk Kenzo dan Rendra
"Terimakasih" Kenzo dan Rendra pun masuk keruangan pak Rudi
"Selamat siang pak Rudi" Sapa Rendra dengan sikap yang tenang
"Sebenarnya anda berdua ini siapa? Apa maksud kalian dengan mengatakan kalau keputusan bank untuk masalah pengajuan pinjaman itu ada ditangan kalian?" Tanya pak Rudi yang langsung bertanya tanpa basa basi, bahkan tanpa mempersilakan Kenzo dan Rendra duduk terlebih dahulu
"Anda sangat tidak sopan. Anda ingin kami bicara sambil berdiri?" Rendra bertanya dengan sikap yang dingin dan senyum mencibir
__ADS_1
"Ma-maafkan saya. silahkan duduk dulu!" Pak Rudi bicara sambil mengulurkan sebelah tangan sebagai isyarat kalau dia mempersilakan Kenzo dan Rendra duduk
"Terimakasih" Rendra dan Kenzo pun duduk dengan tenang dihadapan pak Rudi dan Surya
"Sebenarnya kalian siapa? Apa kita saling kenal sebelumnya?" Tanya pak Rudi setelah dia cukup tenang
"Kita memang tidak saling kenal sebelumnya. Tapi saya sangat mengenal putri anda" Ujar Kenzo dengan sikapmya yang tenang
"Ilana?Kalian kenal Ilana?" Ujar pak Rudi dengan raut wajah bingung
"Saya punya penawaran menarik untuk anda"Kenzo tidak menjawab pertanyaan pak Rudi melainkan mengajukan penawaran lain pada pak Rudi
"Penawaran apa maksudmu?" Tanya Pak Rudi dengan wajah penasaran
"Aku ingin anakmu menerima perawatan dirumah sakit jiwa! Jangan biarkan dia berada disekitarku! Aku tidak ingin melihat anakmu lagi!" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin
"Rumah sakit jiwa? Kamu pikir anakku gila?! Dia itu tidak gila sama sekali!" Pak Rudi yang kesal sampai berdiri dari duduknya saat menanggapi apa yang dikatakan Kenzo
"Mengikutiku saat bekerja, mengatakan pada orang lain kalau aku penipu, mengatakan pada semua orang kalau aku bisa membunuh siapa saja, apa itu tidak termasuk gila?! Dia juga mengatakan pada semua temannya di negara A kalau saudaraku itu psiko. Apa itu tidak gila?! Lalu apa namanya? Psiko? Gangguan jiwa? Gangguan mental? Atau penguntit? Penghasut? Menurut anda, Ilana masuk kategori yang mana? Saya bisa dengan mudah memasukkan dia ke penjara atau rumah sakit jiwa" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dengan senyum mencibir diwajah tampannya
"Aku berbaik hati karena memberikan tawaran yang bagus untukmu, mengingat kamu adalah ayah yang baik untuknya. Tapi itu terserah pada anda mau menerima tawaran saya atau tidak. Kami hanya ingin mengatakan itu. Saat saya keluar dari sini, maka tawaran saya berakhir. Ayo pergi!" Kenzo dan Rendra pun beranjak pergi dari ruang pak Rudi
"Tunggu! Baik, saya setuju. Saya akan membawa Ilana ke psikiater untuk konsultasi" Ujar pak Rudi setelah Kenzo hendak keluar dari ruangannya
"Pilihan yang bagus. Setelah anda membawa Ilana ke psikiater, maka jaminan bank itu akan disetujui" Kenzo berbalik dan tersenyum pada pak Rudi kemudian kembali melangkahkan kaki keluar dari ruangannya
"Kamu melepaskannya begitu saja?" Tanya Rendra yang melihat Kenzo tidak melakukan apapun pada ayah Ilana
"Tentu saja tidak. Dengarkan ini!" Kenzo memberikan sebelah earphone yang terhubung dengan penyadap yang sebelumnya dia letakkan di samping meja ruang pak Rudi saat dia berada didalam sana
"Surya, orang itu sudah gila. Tapi kita membutuhkan persetujuannya untuk pinjaman kita. Jadi aku akan terima syaratnya dan menyingkirkan mereka berdua dengan hati-hati setelah pinjaman kita disetujui" Ujar Rudi pada Surya setelah Kenzo dan Rendra keluar
"Kukira orang itu baik dan polos. Ternyata dia licik juga! Kamu sengaja menargetkan ayahnya juga? Jadi apa yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Kita ikuti permainannya dan jebloskan mereka ke penjara. Aku kira ini akan jadi hadiah bagus untuk Ilana, gadis pengganggu itu!" Ujar Kenzo dengan senyum licik dibibirnya