
"Dasar anak kurang ajar. Bisa-bisanya mereka mengabaikanku begitu atmosfer diantara mereka membaik. Harusnya kan mereka berterimakasih padaku, kalau bukan karena aku, sudah pasti hubungan diantara mereka tidak akan mencair seperti itu. Terlebih lagi setelah Safira kehilangan ingatannya. Mana mungkin dia mau dengan mudah menerima gunung es yang jelas-jelas tidak dia ingat sama sekali, huh!" Cheva terus menggerutu kesal setelah Kenzo menutup telepon darinya begitu saja
"Ada apa? Kenapa kamu marah-marah seperti itu?" Lian bertanya dengan sikap yang tenang setelah melihat istrinya terus saja menggerutu. Dia menarik tangan sang istri agar duduk disampingnya.
"Itu, Kenzo. Aku menghubunginya dan berbicara dengannya dan juga Safira. Aku sadar awalnya mereka terlihat canggung, mungkin karena Safira tidak mengingat apapun setelah operasi, tapi setelah aku bicara dengan mereka sepertinya suasana diantara mereka mulai mencair" Cheva menjelaskan pada Lian mengenai apa yang membuatnya kesal
"Sudahlah. Jangan marah-marah lagi. Mungkin karena hubungan mereka baru saja mencair, jadi Zo ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Safira. Kamu yang harusnya mengerti tentang putramu sendiri" Lian dengan sikapnya yang tenang berusaha menenangkan sang istri
"Ya, mungkin kak Lian benar. Tapi tetap saja aku merasa kesal karena mereka mengabaikan aku" Cheva kembali bicara sambil mengerucutkan bibirnya
"Sebaiknya kamu istirahat. Besok kita masih harus pergi ke kantor" Lian pun membujuk sang istri agar dia tidak marah lagi
"Ya, baiklah" Cheva pun menuruti apa yang dikatakan Lian
***
Kenzie sedang makan siang dengan Meisya di salah satu restoran sekitar kantor. Namun mereka makan ditempat mewah agar tidak ada rekan kantor yang mereka temui.
"Kak, aku dengar om Berly menemuimu"
Meisya bertanya dengan sikap yang tenang disela waktunya mengunyah makan siang
"Berly? Siapa dia?" Kenzie sama sekali tidak mengingat ayahnya Marina. Dia bertanya dengan wajah heran sambil menikmati makanannya
"Itu ayahnya Marina. Aku dengar gosip dikantor kalau dia datang dan marah-marah padamu" Meisya kembali mengingatkan Zie mengenai Berly
"Oh, ayah dari si gadis gila itu?" Iya, dia datang menmuiku. Dia memintaku untuk mengeluarkan anak gadisnya dari rumah sakit jiwa. Katanya jika aku tidak mengeluarkannya, dia akan membuatku menyesal. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi aku sudah meminta asistenku untuk mengawasinya. Kamu tidak perlu khawatir mengenai itu" Zie bicara dengan lembut dan sopan disertai senyum manis dibibirnya
"Asisten? Kak Zie sudah punya asisten? Sepertinya kakak tidak pernah menceritakannya padaku? Yang aku tahu kakak hanya punya sekertaris yang sombong itu" Meisya mengernyitkan dahi karena Kenzie tidak menceritakan padanya mengenai Noey
__ADS_1
"Apa aku belum cerita padamu ya?Aku meminta bantuan Zo mencarikan asisten untukku, lalu dia merekomendasikan temannya yang juga pandai dalam masalah IT. Hanya saja ..."
"Hanya saja apa?" Meisya terlihat penasaran saat Kenzie menggantungkan kalimatnya
"Hanya saja dia itu sama dinginnya seperti Kenzo. Aku heran bagaimana dia punya teman-teman dengan karakter yang sama? Kamu tahu sendiri bagaimana Rendra, sekarang Noey pun punya karakter yang sama. Apa sikap dingin Zo menular pada temannya ya? Hmn... "
Meisya sudah berusaha menahan tawanya mendengar apa yang dikatakan Zie, namun tetap saja itu tidak berhasil. Meisya tetap saja tertawa
"Hahaha... aku kira kenapa ternyata karena dia pendiam. hahaha... dan lagi mana ada sikap dingin bisa menular. Kakak pikir itu sebuah penyakit?" Meisya tidak bisa menahan tawanya sampai dia menitikan air mata
"Sepertinya kamu sangat senang menertawakanku?" Kenzie bertanya dengan nada yang sedikit mengejek
"Maafkan aku. Habisnya kakak bicara macam-macam. Mana ada sikap kak Zo menular begitu saja pada orang lain" Meisya bicara sambil tertawa menjelaskannya pada Zie disertai gelengan kepala
"Habisnya semua teman Zo sama-sama dingin. Bagaimana kalau mereka bersama ya? Apa mereka saling diam dan tidak bicara?" Kenzie terlihat bingung dan membayangkan Zo, Rendra dan Noey saat bersama.
"Hmn … karena mereka sangat menyukai game, bisa jadi mereka jarang bicara dan selalu main game jika sedang bersama" Meisya mengungkapkan pendapatnya mengenai pertemanan Zo, Rendra dan Noey
***
Perusahaan Sanjaya tengah dihebohkan dengan foto kebersamaan Diaz dan Risha. Gosip antara mereka begitu cepat menyebar dari mulut ke mulut.
"Lihatlah foto ini. Ini pak Diaz dan bu Risha kan? Itu … wakil direktur yang baru saja direkrut oleh perusahaan ini" Beberapa karyawan sedang membicarakan Risha dan Diaz yang sedang makan bersama
"Pantas saja dia bisa langsung jadi wakil direktur, ternyata caranya seperti ini"
"Aku tidak menyangka kalau dia menggunakan ara seperti ini. Padahal dia masih sangat muda"
"Jangan seperti itu. Justru muda dan cantik adalah senjata yang dia gunakan untuk merayu pria. Jika kamu tidak memiliki 2 hal penting ini, maka kamu tidak akan bisa naik ke posisi yang lebih tinggi"
__ADS_1
"Hust, jangan bicara sembarangan. Mungkin saja mereka memiliki hubungan keluarga atau mungkin kerabat?"
"Mana mungkin. Keluarga Kusuma jelas orang yang paling dikenal, jika itu kerabatnya pasti semua orang sudah tahu"
"itu masih tidak pasti. Bahkan kita tidak tahu siapa anak dari pak Dia dan bu Cheva. Mereka tidak mempublikasikan anak-anak mereka, bisa jadi bu Risha adalah salah satu anak dari pak Diaz atau bu Cheva"
"Benar juga. Mereka selalu menutup rapat identitas mengenai putra putrinya sebelum dianggap pantas menduduki sebuah jabatan diperusahaan. Bisa jadi bu Risha salah satunya"
Kini para karyawan itu saling berdebat mengenai hubungan antara Diaz dan Risha. Mereka memiliki asumsi sendiri mengenai hubungan atasannya itu
"Sudahlah lupakan itu. Lebih baik kita mulai bekerja lagi saja sekarang" Mereka membubarkan diri sendiri dan kembali pada pekerjaannya masing-masing
Lama kelamaan gosip itu sampai juga ke telinga Risha. Dia menggerutu kesal karena gosip yeng beredar luas tentangnya
"Apa-apaan ini?! bisa-bisanya gosip tentangku beredar luas seperti ini?! Mereka tidak punya pekerjaan sendiri selain membicarakan orang lain?!"
Risha bicara sambil memukul meja kerjanya. Dia terlihat sangat kesal dan marah setelah mendengar gosip yang beredar dan juga melihat foto dia dan sang ayah yang sedang makan disebuah restoran
"Anda harus tenang. Bisa jadi mereka memang menginginkan anda marah karena gosip itu. Jadi anda harus menyelidikinya baik-baik"
"Kamu benar Na, kita harus menyelidikinya baik-baik dan mencari tahu siapa yang menyebarkan gosip murahan seperti ini. Kita juga harus tahu apa motif dibalik beredarnya gosip murahan ini. Apa kamu mencurigai seseorang Na?"
"Saya tidak bisa menebak sembarangan orang, jadi akan lebih baik mulai mencari tahu gerak gerik dari seseorang disekitar anda atau pak Diaz yang akan diuntungkan dari beredarnya gosip ini"
Risha pun mulai tenang setelah asistennya mengeluarkan pendapat. Gadis itu adalah Diana, dia adalah gadis yang disiapkan oleh Diaz untuk membantu pekerjaannya
"Kamu benar. Kalau begitu bisakah kamu menyelidiki para petinggi perusahaan ini lebih dulu? Kurasa mereka orang pertama yang harus dicurigai tentang beredarnya gosip ini"
"Baik bu. Akan saya lakukan"
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Hai reader semua. Sorry ya upnya ga jelas, wifi aku lagi gangguan jadi agak susah buat up 🙏🙏