
Keesokan harinya semua anggota dewan telah berkumpul diruang rapat untuk membahas masalah turunnya harga saham Dirga Electronik. Mereka sudah tidak sabar untuk menanyakan pada Fredi perihal tindakan yang akan dia ambil umtuk.
"Selamat pagi semuanya.. Maaf saya terlambat" Semua menoleh ketika mendengar suara Bastian yang berjalan masuk di ikuti Fredi dan Alan yang berjalan dibelakangnya
"Aku tahu tujuan diadakan rapat ini adalah untuk membicarakan masalah harga saham kita yang mengalami penurunan drastis. Tapi kalian jangan khawatir, aku sedang berusaha untuk menstabilkan kembali harga saham seperti semula" Fredi bicara dengan sangat tenang dan penuh kesombongan. Dia sangat yakin dengan apa yang dia kataan.
"Bagaimana cara anda untuk kembali menstabilkan harga saham kita?" Salah satu anggota rapat mempertanyakan cara penyelesaian yang dimiliki Fredi
"Itu ... aku ..."Fredi terlihat sangat kebingungan dan salah tingkah. Dia terus menoleh pada Alan seakan dia meminta bantuan darinya. Alan hanya diam dan berpura-pura tidak mengerti dengan maksud Fredi menatapnya.
Kini satu ruangan sangat gaduh dan semua saling membicarakan kinerja Fredi yang buruk. Fredi semakin bingung dan panik menghadapi situasi saat ini. Keringat dingin seakan mengalir deras dari dahinya. Dia terus menghentakkan kakinya dilantai karena panik.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ingin kehilangan posisi yang sudah aku tunggu selama ini"
Ceklek
Semua menatap kearah pintu yang tiba-tiba terbuka ditengah rapat
"Maaf mengganggu jalannya rapat kalian" Kenzo berjalan masuk dengan penuh kharisma dan gagah. Langkahnya tenang dan berirama. Dia mengenakan setelan jas rapih berwana biru. Rambutnya ditata dengan rapih, kulitnya yang putih bersih terlihat lebih bersinar. Hidungnya mancung dengan bibir kecil yang membentuk sebuah senyuman layaknya bulan sabit.
"Siapa yang membiarkan dia masuk dan menggangu jalannya rapat?!" Fredi lagsung berteriak dan berdiri berusaha menghentikan Kenzo.
"Memang siapa yang bisa melarangku?" Kenzo menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil tersenyum tipis kepada Fredi.
"Sebenarnya0a siapa kamu? Untuk apa kamu mengganggu rapat ini?" Salah satu anggota rapat mulai mengeluarkan suara dan bertanya mengenai identotas Kenzo.
"Aku, Kenzo Osterin. Aku memang tidak punya urusan langsung dengan perusahaan ini, tapi aku memiliki urusan dengan pemilik perusahaan ini" Nada bicara Kenzo brubah menjadi dingin dan sorot matanya tajam menatap Fredi
"Apa maksudmu?" Tanya anggota lain yang penasaran
"Alan, bagikan semua dokumen yang aku berikan padamu!"
"Baik pak" Semua orang disana nampak terkejut karena Alan, yang notabennya sekertaris direktur, justru malah mengikuti perintah dari orang luar yang entah siapa.
"Alan! Kenapa kamu mengikuti perintahnya? Kamu itu sekertarisku!" Fredi berteriak karena kesal pada Alan yang malah mengikuti perintah Kenzo
"Maaf pak, saya hanya mengikuti perintah atasan saya" Alan menjawab dengan sopan
"Siapa atasan kamu?! Atasan kamu itu aku!" Fredi terus saja membuat keributan dengan berteriak sendiri
"Siapa bilang kamu itu atasannya? Atasannya disini jelas adalah aku"
__ADS_1
Semua orang kembali menoleh kearah pintu yang kali ini terdengar suara Rendra. Dia pun masuk menggunakan kursi roda yang dodorong oleh Risha dan berhenti di samping Kenzo yang berdiri dengan gagah dan tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Rendra? Jadi kamu sudah keluar dari rumah sakit?" Fredi bertanya dengan wajah panik dan senyum yang canggung
"Kenapa panik begitu? Kamu tidak senang jika aku sembuh? Atau kamu kecewa karena aku masih hidup?" Rendra bertanya dengan sikap yang tenang dan senyum tipis penuh kesombongan
"Aku tidak panik. Mana mungkin aku tidak senang jika saudaraku sembuh dan selamat dari maut" Fredi menjawab dengan canggung
"Aku ikut senang karena sekarang kamu sudah sembuh Ren" Bastian bicara pasa Rendra dengan senyum tipis dibibirnya.
"Tidak usah banyak basa-basi. Kita lanjutkan rapatnya" Kenzo menyela dan mengabaikan Bastian
"Dari lembar kertas yang aku bagikan, disana tertera jelas apa kelemahan dari cara kerja Fredi. Mengabaikan vendor penting, bermain-main saat jam kerja dan hanya dalam 3 hari perusahaan ini sudah kehilangan beberapa vendor. Apa itu masuk akal?"
Kenzo bertanya dnegan sorot mata tajamnya menyapu ke semua anggota rapat. Cara bicara yang tegas dan berwibawa dengan aura menintimidasii yang kuat membuat suasana ruangan menjadi sunyi, tidak ada yang berani bersuara.
"Kalian ingin pemimpin seperti dia? Tidak punya pengalaman daam bisnis, tidak bisa bekerja dan hanya suka hura-hura dan juga balapan liar dijalanan. Apa begitu?"
Semua saling menatap satu sama lain kemudian menjawab dengan serempak
"Tidak mau!" Setelah itu saah satu kembali menambahkan "Kami ingin pemimpin yang bisa memajukan perusahaan ini. Yang mempunyai visi dan misi untuk masa depan bersama"
"Kalau begitu tentu kalian sudah tahu pemimpin seperti apa yang kalian inginkan dan siapa yang pantas menduduki kursi pemimpin disini?" Mata Kenzo kembali menyapu anggota rapat untuk menuntut sebuah jawaban
Kenzo tersenyum menatap Rendra. Rendra pun tersenyum puas karena semua orang percaya padanya, termasuk Bastian. Namun berbeda dengan yang lain, Fredi mengepal tangannya dengan kencang. Dia mengeratkan giginya karena kesal. Sorot matanya tajam penuh kebencian.
"Karena sekarang Rendra sudah keluar dari rumah sakit. Itu artinya perusahaan ini akan kembali diambil alih oleh Rendra. Tapi, akan lebih baik jika mulai sekarang Dirga Electronik dan Dirga Motors tidak memiliki hubungan apapun" Kenzo bicara dengan tegas
"Tidak mungkin! Kami ini bersaudara dan perusahaan kami juga cabang dan induk perusahaan. Mana mungkin bisa dipisahkan begitu saja!" Bastian memprotes dengan keras apa yang telah Kenzo sarankan
"Kenapa tidak mungkin? Kalian hanya saudara seayah tapi beda ibu. Dan ini bukan lagi cabang dan induk perusahaan, melainkan perusahaan yang diwariskan oleh mendiang pak Dirga. Rendra mewarisi Dirga Electronik dan kamu mewarisi Dirga Motors.
Pemisahan perusahaan juga mencegah salah satu pihak mengklaim kalau dia memiliki hak atas perusahaan lainnya. Seperti kejadian sekarang ini. Dengan sengaja mencelakai Rendra sampai dia masuk rumah sakit dan mengambil alih perusahaan untuk sementara waktu. Hasilnya apa? Itu malah merugikan semua orang kan?"
Kenzo bicara dengan sikap yang tenang. Semua orang tampak setuju dengan apa yang disarankan olehnya.
"Aku sama sekali tidak mencelakai Rendra! Itu semua bohong!" Bastian dengan tegas menyela kalau dia tidak mencelakai Rendra.
"Bukannya kamu sengaja membawanya ke pesta untuk mencelakainya? Fredi, bukankah kamu bekerja sama dengan Bastian untuk mencelakai Rendra agar mendapatkan posisi ini?" Kenzo bicara dengan nada yang dingin. Dari matanya terlintas jelas kalau dia mencurigai Fredi dan Bastian.
"A-aku …" Fredi terlihat gugup. Dia panik dan terus menatap Bastian
__ADS_1
"Dia memang yang menyuruhku melakukannya!"
Brak
"Bohong! Kamu jangan sembarangan bicara!" Bastian berteriak pada Fredi sambil memukul meja dengan keras. Saat ini ruang rapat menjadi riuh dengan bisikan dari para anggota dewan yang membicarakan Fredi dan Bastian.
"Kenzo, kamu sama sekali tidak punya hak untuk mempermalukanku seperti ini. Ini perusahaanku, dan ini adalah urusanku dengan Rendra!" Kini Bastian mengalihkan kebenciannya pada Kenzo
"Bukannya aku sudah bilang, aku akan melindungi Rendra sebagai sahabatku. Aku sudah memberikanmu satu kali kesempatan untuk hidup bersama Rendra sebagai kakak dan adik. Tapi karena kebodohanmu Rendra dicelakai oleh saudaramu sampai seperti itu. Aku tidak bisa terima. Jadi solusi terbaiknya adalah kalian tidak perlu memiliki hubungan apapun"
Kenzo bicara dengan sikap yang dingin kemudian berjalan mendekati Bastian dan berbisik padanya
"Aku hanya mengambil apa yang menjadi haknya saja. Jika kalian masih terus mengusiknya, aku akan mengambil semua milikmu sampai kamu jadi gelandangan" Bastian terdiam, dia menatap punggung Kenzo yang berjalan menjauh darinya
"Siapa dari kalian yang setuju atas pemisahan ini?" Mata Kenzo kembali menyapu semua aggota dewan yang hadir. Mereka saling menatap satu sama lain terlebih dahulu kemudian mengangkat sebelah tangan mereka
"Aku setuju"
"Aku juga"
"Aku juga"
Satu persatu mengangkat tangan sampai semuanya akhirnya setuju
"Alan, karena semua sudah setuju, kamu bisa urus ini ke notaris" Pinta Kenzo dengan tenang
"Baik pak"
"Kurasa semua masalah sudah selesai. Ren, kamu bisa kembali ke kursi milikmu. Dan kalian berdua sudah tidak memiliki urusan disini" Kenzo tersenyum sinis pada Bastian dan Fredi
"Ayo Fredi, kita pergi dari sini!" Bastian menatap Rendra dengan kecewa kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang rapat
"Awas saja Kenzo, kalian sudah mempermalukanku. Tidak akan ku biarkan kalian selamat!" Gumam Fredi dengan tatapannya yang seakan ingin membunuh
"Kamu biarkan dia pergi begitu saja Zo?" Risha bertanya dengan tatapan tak percaya
Kenzo tersenyum lembut sebelum dia menjawab
"Aku masih harus bermain dengannya malam ini, jika dia tidak bisa balapan denganku … itu tidak akan menyenangkan"
Rendra pun menjawab dengan nada mencibir
__ADS_1
"Aku mulai mengkhawatirkannya sekarang"