
"Selamat pagi ..." Risha menyapa Rendra dan yang lainnya yang sudah menunggu diruang makan untuk sarapan. Dia turun paling terakhir karena terlambat bangun setelah mereka berkumpul hampir sampai pagi
"Pagi. Kamu sangat terlambat Sha. Bukannya kita akan pergi pagi-pagi?" Kenzie bicara setelah Risha turun dan duduk di dekatnya
"Aku masih sagat ngantuk. Ini semua karena kamu yang semalam tidak ingin berhenti main kartu. Padahal sudah jelas kamu kalah" Risha menjawab Kenzie dengan nada yang sedikit mengantuk setelah dia bicara sinis
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya penasaran untuk mengalahkan Noey dalam pertandingan semalam. Tapi tetap saja aku tidak bisa melakukannya" Kenzie pun menjawab dengan nada bicara yang sedikit mengeluh
"Kamu bermain kartu saja kalah, malah sengaja menantangku untuk bermain game consol. Sudah jelas sekali kalau kamu tidak pernah main game sebelumnya" Noey menanggapi dengan sikap yang dingin
"Ini kan pertama kalinya kita berkumpul, untuk apa terlalu serius begitu?" Kenzie tetap tenang menanggapi Noey
"Kamu bicara seperti itu sekarang. Semalam kamu yang sangat bersemangat sampai tidak ingin berhenti bermain sebelum mengalahkan Noey" Risha pun mencibir Kenzie dengan mata mendelik tajam
"Itu karena aku hampir saja menang, tapi kalian terus saja mengganggu konsentrasiku"
"Cih. Kalau kalah ya tetap saja kalah"
"Sudah-sudah. Jika terus mendengarkan kalian berdebat, maka kita akan berada disini sampai malam" Rendra menyela perdebatan antara Risha, Kenzie dan Noey.
"Ekhem... kalau begitu kita mulai sarapan saja. Setelah ini kita pergi jalan-jalan ya Ren? Aku ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu sebelum kamu pulang"
"Hemn …"
Risha bicara dengan senyum ceria yang ditanggapi dengan anggukan kepala disertai senyum oleh Rendra
"Noey, kamu mau ikut dengan kami? Kami akan pergi ke bukit yang tidak jauh dari sini"
"Tidak. Terimakasih, tapi aku tidak mau jadi obat nyamuk. Aku masih memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan"
Kenzie mengajak Noey dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah, namun Noey menolak dengan sikap yang dingin dan gelengan kepala sambil tetap menikmati sarapannya.
"Ini akhir pekan tapi kamu masih saja bekerja" Kenzie mengeluh dengan bibir sedikit mengerucut karena penolakan Noey
"Aku tidak bisa menyelesaikan ini pada hari biasa karena harus bekerja sebagai asistenmu, jadi aku harus menyelesaikannya pada akhir pekan"
Kenzie tidak lagi menanggapi setelah mendengar ucapan Noey karena dia tidak dapat menyangkal apa yang baru saja dikatakan olehnya.
***
Di negara L, Kenzo baru saja kembali setelah melepaskan perban dikepalanya.
"Apa sudah baik-baik saja?" Safira bertanya dengan raut wajah khawatir
__ADS_1
"Ya, ini sudah tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir" Kenzo bicara dengan lembut sambil membelai pipi Safira
"Syukurlah kalau begitu" Safira pun menghela napas lega mendengar jawaban Kenzo
"Permisi, bukannya kamu Safira? Bolehkan kami berfoto denganmu dan minta tanda tanganmu?"
Beberapa gadis muda datang mendekati Safira untuk meminta tanda tangan dan juga foto bersamanya. Sesaat dia ragu dan menoleh pada Kenzo seakan dia bertanya 'bagaimana ini?' Setelah Zo menganggukan kepala Safira pun setuju untuk berfoto dengan mereka
"Baiklah. Kemarikan kertas dan balpoinnya" Safira mengulurkan tangan untuk mengambil kertas dan balpoin untuk tanda tangan. Setelah itu mereka berfoto bersama
"Terimakasih. Semoga kamu cepat sembuh. Kami tidak sabar untuk melihat drama terbarumu lagi. Kami akan selalu mendukungmu" Ujar salah seorang penggemar Safira
"Terimakasih banyak atas dukungan yang kalian berikan padaku. Itu sungguh menjadi penyemangat untukku" Safira bicara dengan senyum lembut dibibirnya
Mereka pun pergi setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Kamu terlihat senang sekali?" Kenzo bertanya setelah melihat Safira yang terus tersenyum setelah bertemu dengan beberapa gadis yang kebetulan adalah penggemarnya
"Ya aku sangat senang. Ternyata seperti ini rasanya memiliki penggemar. Rasanya … aku ingin terus menjadi artis. Bagaimana menurutmu? Apa tidak masalah?" Pada awalnya Safira terlihat antusias kemudian dia terlihat ragu saat bertanya pada Kenzo
Kenzo terdiam lalu memegang pundak Safira dan saling berhadapan. Mereka saling bertatapan satu sama lain
"Sayang, aku pernah bilang padamu. Mau kamu menjadi artis ataupun meneruskan perusahaan kakekmu … itu tidak masalah untukku. Aku akan selalu mendukungmu dan berada disampingmu"
"Terimakasih Zo"
"Ya, kalau begitu kita bersiap untuk pulang?" Kenzo memicingkan mata dan bertanya dengan lembut
"Apa akan langsung pulang sekarang? Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan dulu?" Safira bertanya dengan tatapan berbinar seakan memohon
"Baiklah, kita akan mencari hotel disekitar sini untuk 2 hari. Setelah itu kita akan pulang" Kenzo pun mengalah setelah melihat raut wajah Safira yang menggemaskan
"Baik" Safira mengangguk dengan antusias
"Ayo kita kembali ke kamar sekarang"
Safira mengangguk setuju dan mereka berjalan menuju kamar rawat
***
Berly Wiguna sedang kebingungan memikirkan salah satu putrinya yang masih ditahan dirumah sakit jiwa
"Apa kamu masih belum bisa mengeluarkan putriku dari sana? Ini sudah terlalu lama untuknya berada disana! Bukankah kita sendiri tahu bagaimana kondisi Marina?! Kondisinya bisa semakin buruk karena tertekan!"
__ADS_1
"Saya sudah berusaha mengeluarkan nona Marina dari sana. Tapi karena nona Marina terus saja berteriak histeris selama disana, kami jadi tidak diberikan izin untuk membawa nona Marina keluar. Bahkan nona Marina tidak diizinkan mendapatkan kunjungan dari siapapun"
Sekertaris Berly menjelaskan upayanya untuk mengeluarkan Marina dari rumah sakit jiwa, namun tidak berhasil karena Marina dianggap membahayakan setelah berteriak histeris pada setiap perawat
"Lalu kalian harus terus mencobanya lagi sampai Marina benar-benar keluar darisana!"
"Baik pak"
Sekertaris Berly langsung pergi setelah mendapatkan perintah dari atasannya
"Tidak bisa begini. Jika ini terus dibiarkan maka sudah pasti akan berpengaruh pada nama baikku. Aku harus menghubungi Sheila untuk memintanya mengatasi ini" Berly langsung merogoh ponselnya untuk menghubungi Sheila
Tuut tuut tuuut
"Halo pah" Tak perlu menunggu lama untuk Berly mendengar suara putri sulungnya
"Sheila, bagaimana kabarmu?" Berly menanyakan kabarnya karena sudah lama tidak bertemu
"Aku baik pah. Papa bagaimana? Dan … apa ada masalah?" Terdengar suara Sheila yang tenang dan lembut
"Papa juga baik, tapi … adikmu … dia berada dirumah sakit jiwa"
"Apa? Rumah sakit jiwa?!" Sheila langsung berdiri dari duduknya karena terkejut setelah mendengar dari sang ayah kalau adiknya berada dirumah sakit jiwa
"Ya, seseorang melaporkan Marina pada salah satu rumah sakit jiwa. Dia juga sepertinya menggunakan pengaruh orang lain untuk menahan adikmu disana. Jika tidak … mana mungkin adikmu tidak bisa dikeluarkan dari sana" Berly mengeluh pada Sheila tentang apa yang terjadi pada Marina
"Papa tenang saja. Aku akan cari tahu dari sini apa yang terjadi pada Marina" Sheila bicara dengan sangat yakin untuk menenangkan sang ayah
"Ya, papa percaya kalau kamu bisa diandalkan. Kamu pasti bisa membantu papa" Berly pun tersenyum bangga setelah mendengar apa yang dikatakan Sheila padanya
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan minta seseorang menyelidiki tentang ini dulu. Sampai jumpa pah"
"Ya sampai jumpa" Sheila dan Berly pun menutup telepon mereka
Sheila kembali menghubungi seseorang setelah menutup telepon dari sang ayah
"Halo, tolong cari tahu mengenai apa yang terjadi pada adikku. Harus lengkap, jangan ada satupun informasi yang tertinggal" Sheila bicara dengan sikap yang terdengar tegas
"Baik. Akan aku melaporkan setiap perkembangannya pada anda" Ujar orang kepercayaan Sheila
"Terimakasih" Sheila pun menutup teleponnya
"Marina, kamu tenang saja, aku pasti akan segera mengeluarkanmu dan membuat orang yang jahat padamu membayar atas apa yang telah dia lakukan. Dia pasti merasakan bagaimana rasanya terkurung bersama orang-orang gila disana"
__ADS_1