
"Ada apa?" Meisya bertanya pada Kenzie setelah dia menutup telepon dari Risha
"Kita pulang kerumahku sekarang. Kamu mau kan pergi kerumahku?" Zie bertanya dengan sangat tenang tanpa memikirkan bagaimana tanggapan Meisya
"Apa? Kerumahmu? Aku belum siap!" Meisya terlihat panik dan gugup saat menjawab pertanyaan Kenzie
"Hah? Belum siap?" Kenzie pun bingung dengan apa yang dimaksud Meisya
"Iya, meskipun aku sudah bertemu dengan ibumu, tapi untuk bertemu dengan keluargamu yang lain ... rasanya aku ..." Meisya terlihat sedikit ragu saat Kenzie mengajaknya mengunjungi kediaman utama Kusuma
"Disana akan ada Rendra dan Risha juga. Aku juga akan menghubungi Noey agar dia datang kesana" Zie bicara dengan senyum tipis dibibirnya. Dia terus fokus pada jalanan tapi sesekali menoleh pada Meisya
"Oh jadi maksudmu ...?"
"Apa? Kamu pikir aku akan dengan resmi memperkenalkanmu pada orang tuaku sekarang?" Kenzie tersenyum sambil menggelengkan kepala berkali-kali
"Ya ... ku pikir begitu, makanya aku bilang belum siap" Meisya menjawab dengan kepala tertunduk karena malu
"Aku memang ingin memperkenalkanmu secara resmi. Tapi kurasa dengan kamu tahu mengenai keluargaku ... untuk saat ini itu cukup" Kenzie mengusap lembut kepala Meisya yang kini menatapnya dengan senyum lembut dibibirnya
"Aku akan hubungi Noey dulu" Kenzie pun langsung menghubungi Noey setelah Meisya menganggukan kepala
Tuut tuut tuut
Cukup lama Kenzie menunggu sampai Noey menerima telepon darinya
"Halo"
"Akhirnya kamu menerima telepon dariku juga" Ujar Kenzie begitu mendengar suara Noey
"Ada perlu apa menghubungiku malam-malam begini? Apa ada sesuatu yang harus aku kerjakan?" Noey bertanya dengan sikap yang dingin
"Tenang dulu. Aku hanya ingin mengundangmu kerumahku. Rendra akan datang kerumah, apa kamu tidak ingin menghabiskan akhir pekan bersama kami?" Kenzie bicara dengan sikap yang ramah pada Noey
"Apa Zo sudah kembali? Setahuku dia masih dinegara L"
"Apa? Dinegara L? Untuk apa Zo kesana?" Zie terkejut mendengar kalau Zo pergi ke negara L sedangkan dia tidak tahu itu sama sekali.
"Kamu tidak tahu? Bukannya dia kesana menemui pacarnya?" Noey pun ragu saat memberiahu Zie
"Ya sudah, aku akan hubungi Zo. Kamu harus datang kerumah kami. Aku menunggumu" Zie langsung menutup teleponnya dengan Noey dan menepikan mobilnya karena ingin menghubungi Kenzo
"Ada apa kak?" Meisya terlihat penasaran dengan raut wajah khawatir ketika Zie menepikan mobilnya dipinggir jalan dan berhenti untuk menghubungi Kenzo
"Aku harus menghubungi Zo dulu. Noey bilang dia pergi ke negara L, tapi kenapa tidak memberitahuku atau Risha? Pasti terjadi sesuatu yang darurat sampai dia pergi kesana" Zie menjelaskan pada Meisya sambil mencoba menghubungi Kenzo dengan melakukan video call
Tuut tuut tuut
"Kenapa dia tidak menjawab telepon dariku?" Zie mulai khawatir karena Zo tdak juga menerima telepon darinya setelah berkali-kali dicoba.
"Mungkin kak Zo sedang sibuk. Makanya tidak menjawab telepon kak Zie" Meisya berusaha menenangkan Zie agar tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Ya, mungkin saja. Aku akan coba telepon lagi"
Tuut tuut tuut
"Ada apa Zie?" Akhirnya Kenzo menerima telepon dari saudara kembarnya itu
"Zo, ada apa dengan kepalamu? Kenapa bisa sampai terluka?" Zie terlihat panik saat melihat kepala Kenzo yang diikat dengan perban
"Tenanglah. Ini hanya luka kecil. Aku mengalami kecelakaan kecil saat akan menyusul Safira ke negara L, tapi ini sudah tidak papa. Besok perbannya akan dilepas" Zo menjelaskan dengan sikapnya yang dingin namun ada sedikit senyum tipis terlihat dibibirnya
__ADS_1
"Benarkah? Kamu yakin kalau itu tidak serius? Tidak ada luka dalam kan?" Zie benar-benar khawatir setelah melihat keadaan Zo
"Iya. Ini benar-benar sudah lebih baik sekarang. Besok aku akan menemui dokter untuk melepas perbannya" Zo bicara dengan sikapnya yang tenang
"Apa kamu menghubungiku hanya untuk menanyakan hal ini saja?" Kenzo bertanya dengan nada bicara yang terdengar mencibir
"Tidak. Aku baru tahu dari Noey kalau kamu pergi ke negara L. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Kenzie menunggu jawaban Zo dengan raut wajah yang serius. Dia terlihat sangat khawatir pada saudara kembarnya itu
"Tidak ada apa-apa. Aku datang kesini karena Safira menerima pengobatan disini. Mungkin beberapa hari lagi kami akan kembali ke negara F" Zo menjelaskan tujuannya datang ke nagara L. Dia bicara pada Kenzie sambil bersandar pada sofa dikamar rawat Safira
"Bagaimana keadaan Safira sekarang? Apa operasinya berjalan lancar?"
"Ya, semua berjalan lancar. Hanya saja karena operasi itu dikepala … Safira harus kehilangan ingatannya. Tapi sel kankernya sudah tidak ada lagi"
Kenzo menjelaskan dengan raut wajah yang sedih namun tetap menunjukkan senyum yang terlihat ketir. Kenzie tidak dapat berkomentar apapun tentang itu, dia hanya diam dan mendengarkan cerita Kenzo
"Lalu, apa. yang akan kamu lakukan sekarang? Safira tidak mengingatmu lagi. Apa dia menerima kehadiranmu disisinya?"
"Ya, untungnya perasaannya padaku tidak ikut hilang seperti ingatannya. Jadi aku akan mengisi kembali semua ingatannya yang hilang dengan kebahagiaan kami berdua. Dan untuk itu aku berencana … menikah dengan Safira begitu kami kembali ke negara F"
"Apa?! Menikah?!"
Kenzie sangat terkejut sampai kedua matanya membelalak tajam menatap Kenzo
"Ya, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Safira. Oh, aku belum memberitahu mami ataupun yang lainnya, jadi kamu jangan sebarkan ini dulu, biar aku yang memberitahu mereka. Jika sampai tersebar, awas aja kamu!" Zo bicara dengan nada mengancam dan sorot mata yang tajam
"Iya iya. Aku mengerti. Kalau begitu sampai jumpa. Aku harus pulang karena Risha, Rendra dan Noey akan datang kerumah"
"Ya baiklah" Mereka pun mengakhiri panggilan teleponnya
"Ayo kita jalan lagi. Mungkin Risha dan Rendra sudah sampai dirumah"
Kenzie pun kembali menjalankan mobilnya menuji kediaman utama Kusuma
Seperti yang sudah diperkirakan, Risha dan Rendra sudah tiba lebih dulu
"Zie dan Meisya sedang diperjalanan. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai. Duduklah dulu. Aku akan ganti baju" Risha bicara pada Rendra dengan sikap yang tenang. Dia membimbing Rendra dan Billy menuju teras belakang kemudian beranjak pergi ke kamarnya untuk ganti pakaian.
"Pak Rendra, kita berada di istana atau rumah? Kenapa ini sangat luas sekali?" Billy sangat terpesona dengan keindahan dan kemegahan kediaman Kusuma
"Ini rumah utama dimana tuan Yudha dan nyonya Gina tinggal. Anak-anaknya memiliki rumah lain, tapi cucu mereka tinggal disini bersama tuan Yudha. Dan membiarkan rumah mereka yang diluar hanya sebagai vila atau tempat singgah sementara" Rendra menjelaskan dengan sikapnya yang tenang
"Tuan siapa?" Dengan raut wajah terkejut, Billy berusaha memastikan apa yang dia dengar
"Tuan Yudha Arya Kusuma. Risha adalah putri dari om Diaz" Rendra kembali menjelaskan pada Billy agar dia mengerti
"Hah?"
"Kamu sudah datang?" Billy dan Rendra langsung menoleh begitu mendengar suara seseorang menyapa mereka
"Selamat malam om" Rendra menyapa Diaz dengan sikap yang tenang
"Hmn. Apa kalian sudah makan? Mau makan malam bersama denganku?" Diaz bicara dengan sikap yang terlihat tegas
"Terimakasih om, kami sudah makan malam" Rendra kembali menanggapi dengan tenang. Sesekali dia menunjukkan senyum tipis dan anggukan kepala untuk menghormati Diaz
"Bagaimana dengan kondisi kakimu? Apakah ada kemajuan?" Kini Diaz duduk di kursi yang tidak jauh dari Rendra. Billy hanya bisa diam dan berdiri dibelakang Rendra
"Sudah jauh lebih baik om. Dokter bilang, jika aku melanjutkan terapi dengan rutin, ada kemungkinan kakiku lebih cepat pulih"
Diaz menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi ucapan Rendra
__ADS_1
"Apa kamu belajar menggunakan senjata? Meskipun kamu duduk dikursi roda tapi kamu tetap harus bisa menjaga dirikan. Tentu saja kamu juga harus bisa melindungi putriku" Diaz bicara dengan sikap yang sedikit sombong pada Rendra
"Kenzo pernah mengajariku sedikit tentang pistol dan panah, tapi aku masih belum mahir" Ujar Rendra dengan sikapnya yang tetap tenang
"Kalau begitu kita coba sekarang. Aku ingin bertanding denganmu"
"Baik om"
"Bagus" Diaz tersenyum puas kemudian melambaikan tangan pada salah satu pengawal
"Ada apa tuan Diaz?" Sapa pengawal itu
"Tolong siapkan perlengkapan memanah dan juga menembak. Aku akan bermain dengan Rendra"
"Baik"
Disaat itu Risha baru kembali setelah berganti pakaian
"Kenapa papi disini?" Tanya Risha dengan raut wajah heran
"Hanya menemani Rendra saja" Diaz menanggapi dengan senyum manis
Dahi Risha berkerut karena heran, diapun melihat pengawal menyiapkan peralatan latihan mereka
"Itu untuk apa?" Tanyanya memastikan
"Papi kan sudah bilang akan menemani Rendra"
"Papi! Apa-apaan ini?! Tidak boleh! Papi jangan macam-macam ya!" Risha mengancam dengan nada yang manja
"Papi hanya ingin melihat kemampuan Rendra saja" Diaz mengabaikan Risha dan mengambil pistol yang telah disediakan
"Ini sudah malam pih"
"Apa salahnya? Arahnya sudah jelas ke depan, tidak mungkin salah sasaran"
"Papi menyebalkan!" Risha pun berbalik ke dalam dan meninggalkan Diaz dan Rendra yang bersiap untuk latihan menembak
Tak lama Cheva datang menghampiri Diaz
"Ini sudah malam, apa yang kakak lakukan?" Tanya Cheva dengan wajah sinis
"Hanya latihan saja"
"Apa tidak ada hari esok?" Cheva bertanya dengan sikap yang sinis
"Sebentar saja Va"
"Mau latihan besok atau kakak sekarang latihan denganku? Sudah lama kita tidak sparing kan?" Cheva bertanya dengan senyum diwajahnya
"Sparing denganmu? Lian sudah melotot padaku"
"Kalau begitu hentikan! Kenzie dan Meisya sudah datang, mereka kemari untuk bersenang-senang dan melupakan masalah kantor. Bukan untuk menghabiskan tenaga"
"Aw aw aw sakit Va. Ah kamu malah menjatuhkan citraku didepan mereka. Lian beritahu istrimu agar lebih menghargai kakaknya!" Diaz meringis kesakitan kemudian menggerutu kesal karena Cheva bicara sambil mencubitnya, dia pun mengeluh pada Lian
"Aku tidak tahu berapa harus menghargaimu. Nanti aku tanya pada Tania dulu" Lian menanggapinya dengan sikap dingin dan acuh tak acuh
"Waah kalian berdua memang pasangan yang sempurna. Sama-sama menyebalkan. Aku menyesal telah menyetujui kalian bersama, seharusnya aku sudah memperkirakan dari dulu kalau ini akan terjadi. Adik sepupuku yang menyebalkan ditambah dengan sahabatku yang juga menyebalkan adalah kombinasi yang paling sempurna untuk membuatku kesal" Diaz pun beranjak masuk kembali kedalam rumah sambil menggerutu
"Yes. Berhasil!"
__ADS_1