
Sesaat Ilana terlihat terkejut karena Kenzo mengarahkan pistolnya kearah pengawal itu. Namun sesaat kemudian senyumnya kembali merekah diwajahnya
"Kenzo, aku kesini karena ingin melihatmu latihan menembak. Karena itu aku meminta penjaga ini untuk mengantarku menemuimu. Tolong jangan marah padanya" Ilana mendekati Kenzo dengan sangat hati-hati dan lemah lembut. Dia tetap tidak memperhatikan ekspresi wajah Kenzo yang sangat dingin dan menyeramkan
Dor
"Aaah!"
"Ah"
Ilana berteriak ketika Kenzo menembak ke tanah tepat dibawah kaki pengawal tadi.
"Berapa lama kamu kerja disini?" Kenzo mengabaikan Lana dan bertanya kepada pengawal
"Maaf tuan muda. Saya sudah 3 tahun bekerja disini" Jawab pengawal dengan kepala tertunduk
"3 tahun dan kamu masih tidak tahu apa yang seharusnya kamu lakukan?! Panggilkan Kenzie dan Risha kemari!" Kenzo melewati Lana dan duduk di kursi yang ada disana dan kebetulan Kenzie juga Risha turun untuk ikut berlatih menembak dengan Kenzo
"Zo, ada apa ribut-ribut?" Tanya Kenzie dengan sikap tenang sambil mempersiapkan pistol ditanganya diikuti Risha dibelakangnya. Mereka mengenakan pakaian casual yang cocok untuk menembak agar mereka merasa nyaman.
"Kalian yang membawa anak ini kemari?" Tanya Kenzo sambil menunjuk Ilana dengan dagunya
"Ilana? Apa yang kamu lakukan disini? Dan … bagaimana kamu tahu tempat tinggal kami?" Kenzie menoleh pada Ilana dan bertanya dengan tatapan heran
"Itu, aku … tadi kebetulan lewat sini dan melihat mobil kalian masuk kesini. Karena itu aku berinisiatif masuk kemari" Ilana menjawab dengan senyum canggung
"Apa? Kebetulan? Kami tidak percaya dengan yang namanya kebetulan. Apa kamu sengaja datang kemari?" Kenzo bertanya dengan sikap dingin sambil memegang gelas jus ditangannya
"Jadi kamu mengikuti kami?" Tanya Risha heran
"Aku hanya …"
"Panggil penjaga gerbang yang membiarkan dia masuk?" Kenzo kini menyela Lana dan memberi perintah pada pengawal yang sejak tadi hanya menundukkan kepala karena merasa bersalah
__ADS_1
"Baik, tuan muda" Penjaga itu langsung menghubungi pintu gerbang dengan earphone yang terpasang ditelinganya
"Bagaimana ini? Aku tidak tahu kalau reaksi mereka akan seperti ini" Lana mulai panik dan takut pada sikap Kenzo dan Kenzie
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari kami? Kamu selalu mengikuti kami berdua disekolah. Sekarang kamu bahkan mengikuti kami sampai kerumah. Apa yang kamu inginkan?!" Kenzie bertanya dengan sikap yang dingin
Tak berselang lama penjaga gerbang datang dan menghampiri mereka.
"Anda memanggil saya?" Penjaga gerbang akhirnya datang dan mendekati mereka.
Kenzie langsung menoleh kearah penjaga itu
"Kamu yang membiarkan dia masuk?!" Tanya Kenzie dengan sikap yang dingin. Penjaga itu melihat kearah Lana
"Iya tuan muda. Katanya dia teman anda dan nona Risha"
Dor
"Ah!" Sebuah tembakan mengarah ke kaki penjaga itu dan membuatnya langsung terjatuh ke tanah. Meskipun hanya tergores, tetap saja mengeluarkan cukup banyak darah.
"Bagaimana jika dia seorang penipu yang mengaku sebagai teman kami? Bagaimana kalau dia memiliki niat jahat dirumah ini? Bagaimana bisa kamu sangat ceroboh?!" Kenzie berteriak kesal pada penjaga gerbang
"Maafkan saya tuan muda. Saya melakukan kesalahan" Pinta penjaga sambil merintih kesakitan dan memegangi kakinya yang berlumuran darah
"Dan kamu! Cepat jawab! Apa yang kamu inginkan dari kami?!" Tidak ada lagi senyum ramah atau nada bicara yang lembut yang keluar dari mulut Kenzie. Tatapan matanya saat ini bahkan membuat Risha terkejut
"Zie, tenanglah" Risha memegang tangan Kenzie berusaha menenangkannya namun itu tidak berhasil dan perlahan Kenzie semakin mendekati Ilana. Sedangkan Kenzo tetap tenang dengan senyum dibibirnya
"Zo, tenangkan saudaramu!" Risha berusaha membujuk Kenzo agar dia menenangkan Kenzie
"Biarkan saja. Toh salah dia sendiri berani masuk kemari. Kamu tidak memperingatkan dia untuk tidak datang kerumah ini? Ditambah lagi kamu tidak memberitahunya kalau aku paling tidak suka diganggu" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan senyum tipis dibibirnya sambil memainkan pistol ditangannya
"Kamu! Bawa penjaga ini dan biarkan kakinya diobati" Pinta Kenzo pada pengawal yang sedari tadi berdiri disana
__ADS_1
"Terimakasih tuan muda" Pengawal itupun membawa penjaga gerbang untuk diobati kakinya.
"Cepat jawab, apa yang kamu inginkan dari kami?!" Kenzie masih terus mendesak Ilana agar dia menjawab. Namun Ilana tidak mengatakan apapun dan tetap menundukkan kepala
"Lambat!"
Dor
"Zo!"
"Aah!!" Ilana kembali berteriak dan kali ini dia sampai berjongkok ditanah dengan kedua tangan menutup telinganya
"Aish meleset, ah menyebalkan! Zie, Risha, kalian saja yang urus dia. Aku mau main game saja. Moodku. menembak sudah hilang. Kita lanjutkan permainan kita nanti. Permainan kita jadi gagal karena ada penyusup. Hei, jika aku melihatmu lagi, aku jamin pelurunya tidak akan meleset satu incipun dari kakimu. Peluruku akan tertanam tepat dibagian tubuhmu" Kenzo bersikap tenang saat dia menembakkan pistolnya 5 inci dari kaki Lana. Dia kembali bersikap acuh tak acuh dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Apa peringatan yang kami berikan masih belum cukup untukmu? Kami sudah bilangkan kalau kami tidak suka ada orang luar yang sembarangan masuk kerumah kami? Sekarang kamu lihat, karena kebodohanmu penjaga itu harus menerima hukumannya" Kenzie yang saat ini Ilana lihat sama sekali berbeda dari yang biasanya
"Aku tidak tahu kalau Kenzo dan Kenzie seperti binatang buas yang bisa menerkam kapan saja. Mereka bahkan bisa dengan mudah menembak orang" Pikir Ilana dengan wajah pucat
"Aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin tahu rumah kalian. Aku ingin dekat dengan kalian. Aku sama sekali tidak punya maksud lain" Lana menjawab dengan kepala tertunduk. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya dan tubuhnya juga gemetar karena takut dengan Kenzie yang sekarang
"Lebih baik kamu pergi sekarang. Jangan sampai kami benar-benar hilang kontrol padamu. Setelah kamu melihat apa yang sudah terjadi, apa kamu masih belum mengerti kalau kami bisa melakukan apa saja padamu?" Kini Risha mulai bicara dengan sikapnya yang tenang tanpa ada senyum diwajahnya. Lana pun kembali terkejut dengan sikap Risha dan mulai berdiri dari posisinya, lalu berlari pergi menuju taksi yang masih menunggu di depan
Tanpa mereka tahu Yudha memperhatikan dari dalam rumah melalui sela jendela. Dia tahu kalau Kenzo, Kenzie dan Risha tidak menyebarkan identitas asli mereka jadi dia tidak keluar rumah
"Kenzo, kenapa kamu masuk duluan? Bukannya itu juga temanmu?" Tanya Yudha saat melihat Kenzo masuk
"Aku? Berteman dengan gadis menyebalkan seperti dia? Tidak akan kek. Tidak sembarangan orang bisa berteman denganku" Kenzo menjawab dengan sikap acuh tak acuhnya
"Pantas saja kamu tidak punya teman. Lalu apa yang gadis itu lakukan sampai Kenzie marah seperti itu?" Yudha terlihat penasaran setelah melihat Kenzei yang sangat jarang seklai marah
"Gadis itu mengikuti Zie dan Risha dari sekolah. Dia juga berbohong pada penjaga gerbang dengan mengatakan kalau dia teman Zie dan sudah membuat janji sebelumnya untuk masuk kerumah ini. Bahkan dia lancang meminta pengawal untuk mengganggu latihanku. Sama sekali konyol jika dia mengatakan tidak memiliki niat apapun tapi sengaja berbohong untuk bisa masuk kemari" Kenzo bicara dengan senyum mencibir diwajahnya
"Ternyata kamu bisa menganalisis semuanya dengan sangat jauh. Kakek pikir kamu hanya bisa main game saja" Puji Yudha dengan senyum tipisnya
__ADS_1
"Kakek pikir game yang aku mainkan hanya untuk hiburan saja? Kakek salah, justru dengan main game aku bisa menganalisa sekelilingku agar tidak kalah. Dan aku juga harus bisa membuat strategi untuk kemenanganku"
"Ternyata bocah ini punya pemikiran yang jauh juga. Ku pikir dia hanya pandai main game saja"