Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Mulainya Mimpi Buruk Arumi


__ADS_3

Kenzie, Risha dan Rendra saling menatap bingung melihat Kenzo yang tersenyum sendiri sambil membaca pesan singkat yang dia terima


"Ren, bukannya selama ini kamu ikut dengan Kenzo? Apa terjadi sesuatu padanya di negara F yang tidak kami ketahui?" Kenzie berusaha mencari jawaban atas perubahan sikap Kenzo pada Rendra


"Kami sudah lama tidak bertemu secara langsung. Kami baru bertemu lagi sebelum kesini, jadi aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padanya. Lagipula, si pangeran kutub ini tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi padanya pada orang lain. Dia hanya akan menyimpannya untuk dirinya sendiri" Jawab Rendra yang memang sudah mengerti mengenai Kenzo


"Kamu benar juga. Semoga saja kutub es bener-benar mencair" Ujar Risha yang ikut berbicara dengan Kenzie dan Rendra


***


"Kak Fira. kakak baik-baik saja?" Tanya Tiara yang khawatir karena Safira tersenyum sendiri sambil membaca pesan diponselnya


"Aku baik-baik saja" Safira menjawab tanpa menoleh pada Tiara. Tiara yang tidak percaya berjalan mengendap mendekati Safira untuk melihat apa yang sedang dia lakukan


"Siapa itu Kenzo?" Tanya Tiara setelah sedikit melihat percakapan Safira dan Kenzo


"Hanya teman. Dulu dia yang membantu mengembalikan dompetku saat tertinggal di minimarket. Kamu ingat kan?" Jawab Safira sambil terus menatap ponselnya


"Ah, iya. Pemuda yang kata kak Safira sangat tampan. Sekarang aku jadi penasaran dengan wajahnya. Apa dia benar-benar tampan?" Tiara bertanya dengan mata penuh harap menunggu jawaban dari Safira


"Tentu saja dia sangat tampan. Aku yakin jika kamu bertemu dengannya, maka kamu tidak akan bisa memalingkan wajahmu darinya" Ujar Safira degan senyum yang sangat bangga


"Kenapa kak Safira jadi sangat membanggakan dia ya?"Goda Tiara pada Safira. Safira hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya saja


***


Ditempat lain, Panji datang kerumah Arumi setelah dia menjenguk Risha dirumah sakit. Dia duduk di kursi depan rumahnya karena Arumi belum pulang


Tak berselang lama, Arumi tiba dengan menggunakan mobil baru yang dia beli sebelumnya


"Panji?! Aku senang melihatmu disini" Arumi terlihat sangat gembira saat dia melihat panji. Dia mendekati Panji dengan sedikit berlari kemudian bertanya dengan nada yang manja dan ceria


"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Bukankah kamu biang tidk ingin datang lagi kemari? Apa kamu berubah pikiran dan akan kembali melanjutkan pertunangan kira?" Tanya Arumi yang masih terus bicara meskipun Panji diam saja dengan wajah kesal


"Arumi, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur"Panji terlihat sangat serius meskipun Arumi terlihat gembira saat ini

__ADS_1


"Ada apa? Katakan saja!" Panji memberanikan diri bertanya meskipun dia agak ragu karena tidak memiiki bukti untuk membuat Arumi mengakuinya


"Apa kamu yang menabrak Risha dan Kanzie?" Tanya Panji dengan sorot mata yang tajam.


Arumi terlihat terkejut mendengar pertanyaan Panji hingga matanya membelalak


"Hah, bagaimana Panji bisa tahu? Padahal waktu itu aku berhasil melarikkan diri dari kejaran mahasiswanya. Aku juga yakin kalau tidak ada yang tahu karena mobilnya sudah aku jual" PIkir Arumi dengan sikap yang salah tingkah. Kemudian dia berusaha kembali bersikap tenang


"A-apa maksudmu? Kenapa kau menuduhku yang menabraknya? Memangnya kamu punya bukti?! Lagipula aku tidak tahu kalau mahasiswamu mengalami kecelakaan. Tapi baguslah, dia memang pantas mendapatkan itu karena sudah merusak hubungan kita berdua" Ujar Arumi yang berusaha membela diri meskipun jelas terlihat kalau dia sedang panik. Lalu dia kembali bersikap sombong


"Sebaiknya kamu katakan saja dengan jujur. Kita temui keluarga Risha dan minta maaf padanya, Kamu juga harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan padanya"


"Tidak mau! Memangnya apa yang aku lakukan? Aku sama sekali tidak tahu mengenai kecelakaan itu!" Arumi bersikeras kalau bukan dia yang menabrak Risha


"Kamu sudah dewasa, harusnya kamu bisa berpikir dengan matang mengenai apa yang kamu lakukan!" Panji yang kesal pun mulai berteriak pada Arumi


"Kamu berani membentakku?!" Ujar Arumi yang terkejut setelah Panji sedikit berteriak padanya


"Ini demi kebaikanmu. Kamu harus belajar untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu! Bisa saja mereka nanti melapor pada polisi untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kecelakaan Risha. Terlebih lagi sepertinya mereka juga anak orang kaya. Kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa jika mereka sudah menemukan bukti yang akan memberatkanmu dipersidangan nantinya"


"Sudahlah. Aku tidak berbuat salah apapun, jadi aku tidak akan minta maaf pada siapapun. Jika kamu kesini hanya ingin mengatakan itu, sebaiknya pergi dari sini sekarang! Aku tidak ingin mendengar apapun mengenai gadis perusak hubungan orang itu" Arumi pun meninggalkan Panji diluar sendiri dan berjalan masuk kedalam rumahnya


"Aaaaaahh!!! Dasar perempuan sialan. Gara-gara dia Panji jadi berani membentakku. Kamu memang pantas mati!" Arumi yang kesal pada Panji berteriak di dalam kamarnya


Tok tok tok


"Siapa?" Tanya Arumi mendengar pintu kamarnya di ketuk


"Saya non, ada kiriman untuk non Rumi" Ujar pembantu Arumi yang sedikit gemetar karena takut Arumu marah padanya


Ceklek


Arumi membuka pintu karena penasaran dengan kiriman yang dimaksud pelayannya


"Kiriman apa dan dari siapa?" Tanya Arumi pada pelayan

__ADS_1


"Ini non, tidak ada nama pengirimnya. Disini hanya ditulis untuk non Rumi saja" Pembantu itu menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang pada Arumi


"Baiklah. Terimakasih"


"Iya non, permisi" Arumi pun kembali masuk kekamarku dengan kotak misterius itu


"Ini apa ya? Kenapa tidak ada nama pengirimnya?" Gumam AruMi memperhatikan kotak dihadapannya. Perlahan AruMi pun membuka kotak itu


"Aaah!" Arumi terkejut hingga dia melemparkan kotak berisi mobilan yang berlumuran darah serta ringsek dibagian depannya. Ada sebuah pesan juga yang tertulis di secarik kertas didalamnya


"Kamu akan mengalami hal serupa, seperti apa yang telah kamu lakukan sebelumnya. Bahkan itu bisa lebih buruk" Tulis pesan yang ada di kertas tersebut


"Apa maksudnya ini? Siapa yang melakukan ini padaku? Apa ini ulah Risha? Tidak mungkin. Tidak ada yang tahu kalau aku yang melakukan tabrak lari itu. Aku harus memeriksanya kerumah sakit. Ini sudah malam. besok aku harus pergi kesana dan melihat sendiri bagaimana kondisinya" Gumam Arumi yang masih panik dan terkejut melihat mobilan yang sama persis seperti miliknya berlumuran darah dan rusak dibagian depan


***


Tania sedang berada dirumah dirumah sakit menemani Risha. Tak lama Dia, Cheva dan Lian pun menyusul setelah mereka pulang kerja


"Bagaimana kondisimu, Sha?" Tanya Diaz pada Risha


"Sudah lebih baik pih. Kalian tidak perlu repot-repot kemari. Kondisiku sudah membaik, lagipula disini ada Kenzo dan Kenzie yang menemaniku. Kalian bisa fokus pada pekerjaan kalian" Ujar Risha pada orang tuanya dan juga Cheva dan Lian


"Apa kamu yakin? Kami tetap saja khawatir padamu" Ujar Tania dengan wajah khawatir


"Tidak papa mih. Aku sudah baik-baik saja. Dokter bilang hanya tinggal pemulihannya saja" Risha berusaha menenangkan Tania dan juga Diaz


"Apa kalian sudah menemukan pelakunya?" Tanya Lian dengan sikapnya yang datar


"Sudah pih. Kami sudah tahu siapa pelakunya" Kenzie menjawab dengan sikap yang tenang


"Kalian belum lapor polisi? Apa yang kalian rencanakan?" Cheva terlihat penasaran dengan apa yang akan dilakukan karena kedua putranya belum melapor pada polisi


"Hanya bermain sebentar. Aku ingin membuat dia sedikit ketakutan saja" Kali ini Kenzo yang menjawab pertanyaan Cheva


"Bermain seperti apa? Dia sudah mencelakai Risha. Ingat kan, tidak ada yang boleh menindas keluarga kita" Diaz menyela dengan nada bicara yang dingin

__ADS_1


"Tenang saja om, kami akan buat dia mengalami mimpi buruk sampai dia mengakui apa yang telah dia lakukan pada Risha"


__ADS_2