Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kebingungan Panji


__ADS_3

Semua terkejut ketika melihat Kenzie yang berdiri diambang pintu


"Katakan? Siapa yang akan berangkat dan berangkat kemana?" Kenzie bertanya dengan raut wajah sedih sekaligus kesal


"Begini, Zie. Aku sudah memutuskan akan pindah kuliah ke negara F. Memang identitas kita tidak pernah diumumkan ke publik, tapi setidaknya orang-orang disini tahu kalau aku anak orang kaya. Sedangkan disana tidak ada yang mengenaliku sama sekali" Kenzo merendahkan suaranya dan bicara pada Kenzie dengan hati-hati. Dia tidak ingin Kenzie merasa tidak dianggap sebagai saudara kembarnya


"Kapan kamu memutuskannya? Bukannya sebelumnya kamu sudah bilang kalau akan tetap dirumah ini meskipun tidak sekolah bersama atau kampus yang sama? Kenapa sekarang kamu malah bilang akan pindah ke negara F? Tidak bisa, aku akan ikut kesana denganmu!" Kenzie yang biasanya ramah dan ceria saat ini terlihat sangat marah


"Ikut denganku? Zie, jika kamu ikut denganku, maka kamu juga harus bisa hidup sederhana. Aku tidak ingin semuanya terbongkar gara-gara kamu!" Zo berkata dengan sikap yang tenang


"Sepertinya aku memang tidak pernah hidup mewah?" Zie seakan bertanya pada dirinya sendiri


"Ya, memang tidak mewah. Hanya menggunakan mobil Ferrari, jam tangan merk Rolex, pakaian merk Cartier, Gucci dan banyak lagi" Kenzo bicara dengan sikap dingin dan nada menyindir, membuat Kenzie memalingkan wajah canggung mendengar ucapan Kenzo


"Sudah-sudah jangan bedebat lagi. Kalian kan masih bisa bertemu. Toh Kenzo tidak pergi untuk selamanya" Cheva menenangkan Kenzie dan berusaha menjadi penengah diantara kedua putranya


"Mih, tapi aku tidak akan sering pulang kemari. Aku hanya akan sesekali saja pulang kerumah"


"Eh, maksudmu … mami juga tidak bisa bertemu denganmu kapanpun mami mau?" Cheva berusaha memastikan apa yang dimaksud Kenzo


"Iya. Jika aku terlalu sering pulang kemari. Maka tujuanku untuk hidup mandiri tidak akan ada artinya. Aku ingin belajar mengembangkan diri sebagai orang biasa. Ya meskipun dari tampang dan sikapku tidak bisa mencerminkan kalau aku berasal dari kalangan biasa, tapi jika orang lain melihatku hidup sederhana… mungkin bisa sedikit meyakinkan. Aku ingin menemukan seseorang yang bisa menerimaku apa adanya" Kenzo menyombongkan dirinya sendiri dengan sangat tenang


"Terimakasih"


"Untuk apa?" Kenzo bertanya dengan sinis pada Kenzie


"Karena kamu bilang tampang dan sikapmu tidak mencerminkan orang biasa, itu artinya kamu juga memuji ketampanan dan sikapku yang elegan sebagai bangsawan"


"Cih, menyebalkan. Sudahlah. Pih, mih, aku pergi ke kamarku dulu. Badanku rasanya sudah sangat lengket setelah dari kampus" Kenzo berkata dengan sikapnya yang acuh tak acuh kemudian beranjak pergi dari hadapan orang tuanya dan Kenzie


"Hmn, baiklah" Lian menanggapi Kenzo yang hendak pergi dari kamarnya


"Zo, tunggu. Kita belum selesai bicara. Kamu tidak bisa menunggalkanku begitu saja"


"Eh, Zo, mami juga belum selesai bicara. Kamu juga tidak bisa membatasi mami untuk bertemu denganmu" Cheva pun ikut panik mendengar kalau dia tidak bisa sering bertemu Kenzo


"Terserah. Aku malas meladenimu dan mami" Kenzie yang masih tak terima kalau Kenzo memutuskan pindah ke negara F berjalan mengikutinya dari belakang sambil terus bicara meskipun Kenzo mengabaikannya


***


Ditempat lain seorang gadis sedang berbincang dengan kedua orang tuanya

__ADS_1


"Bagaimana hubunganmu dengan Panji? Papa sudah lama tidak melihat dia datang menemuimu?" Tanya sang ayah dengan sikap yang tenang


"Aku sedang marah padanya pah. Dia selalu saja sibuk mengajar. Bahkan saat sedang libur dan harusnya menghabiskan waktu denganku, dia selalu saja membahas siswanya. Terkadang hari liburnya dihabiskan dengan menyiapkan makalah untuk bahan mengajar" Gadis itu bercerita dengan nada yang manja


"Arumi, dia itu seorang dosen. Tentu dia harus memperhatikan siswa yang diajar olehnya. Jika saja ada mahasiswanya yang kurang baik dalam akademisnya, sudah pasti Panji akan membantunya. Masalah makalah, bukannya Panji memang suka menerjemahkan itu sejak lama?" Ayah Arumi menasehati putrinya dengan sangat hati-hati


"Tapi dia juga harusnya punya waktu untukku. Dia harus lebih memperhatikan aku dong pah" Arumi merengek manja pada sang ayah


"Sudah-sudah, nanti kamu bicarakan lagi saja dengan Panji. Kamu harus lebih perhatian dan mengerti dia" Sang ayah berusaha menasehati putrinya lalu pergi meninggalkan dia sendiri


Arumi adalah satu-satunya putri dari pak Tegar. Dia adalah seorang pemilik resort mewah dan juga beberapa restoran. Ibu Arumi sudah lama meninggal, jadi sang ayah memanjakannya dengan kemewahan karena mengira dengan itu dia bisa membuat putrinya bahagia.


Arumi yang kesal meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Panji


Tuut tuut tuut


Cukup lama dia menunggu Panji menerima telepon darinya, namun tetap tidak ada jawaban


Tuut tuut tuut


Arumi terus mencoba menghubungi Panji namun tetap tidak bisa


Prang!


Akhirnya Arumi yang kesal pun melemparkan ponselnya dengan sangat keras hingga semua berantakan.


"Selalu saja sibuk. Dia tidak pernah punya waktu untukku" Arumi mengeluh sendiri karena kesal


***


Sementara itu Panji sedang mengajar dikelasnya saat Arumi menghubunginya. Seketika wajahnya berubah murung saat melihat nama panggilan tak terjawab diponselnya. Panji terdiam sambil menatap lekat layar ponsel


"Haah" Dia menghela nafas sebelum kembali menghubungi Arumi


Tuut tuut


"Nomor yang anda tuju berada diluar jangkauan" Panji kembali melihat layar ponselnya dan mencoba menghubungi Arumi lagi


Tuut tuut


"Nomor yang anda tuju berada diluat jangkauan"

__ADS_1


"Haah" Panji kembali menghela nafas kemudian menghubungi nomor rumah Arumi


Tuut tuut tuut


"Halo, selamat siang" Terdengar suara wanita paruh baya yang menerima telepon Panji


"Halo bi, ini saya Panji. Apa Arumi ada dirumah?" Tanya Panji langsung pada intinya


"Oh den Panji. Ada den, non Arumi ada dikamarnya" Jawab pembantu Arumi yang bernama bi Lusi


"Apa dia tidak pergi ke resort?" Tanya Panji lagi memastikan


"Siapa bi?" Terdengar suara seorang pria dari belakang bi Lusi


"Ini telepon dari den Panji, tuan" Jawab bi Lusi dengan sopan


"Berikan padaku" Ujar pa Tegar sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih ponsel dari bi Lusi. Lusi pun langsung memberikan teleponnya dan bergegas kembali ke belakang


"Halo, Panji" Sapa pak Tegar pada Panji


"Maaf om, saya berusaha menghubungi Arumi tapi nomornya tidak bisa dihubungi. Apa dia dirumah?" Panji bertanya dengan sikap yang sopan namun tetap tenang


"Ya, dia ada dikamarnya. Apa kamu sedang sibuk?" Tanya Pak Tegar dengan senyum tipis dibibirnya


"Tadi saya sedang ada kelas. Dan saya juga harus membimbing mahasiswa saya untuk menyusun bahan skripsi mereka" Panji menjelaskan dengan sikap tenang


"Om mengerti, mungkin mood Arumi sedang buruk hari ini. Om harap kamu bisa mengerti dengan keadaan dia" Panji terdiam mendengar ucapan pak Tegar


"Sampai kapan saya harus mengerti, om? Dia selalu meminta saya untuk menikahinya. Tapi apa setelah menikah dia akan tetap seperti itu?" Panji terdengar sedih saat bicara dengan pak Tegar


"Om mengerti. Arumi juga bukan lagi anak kecil tapi om tidak bisa melihat dia sedih. Om hanya bisa berharap padamu agar bisa mengerti dia dan merubah sifatnya jadi lebih baik" Ujar Tegar penuh harap


"Mungkin untuk sekarang saya tidak bisa sering bertemu dengannya, om. Saya baru saja menerima tawaran mengajar di universitas lain. Jadi sekarang saya mengajar di 2 universitas" Panji menjelaskan dengan hati-hati


"Baiklah, om mengerti. Nanti om akan beri Arumi pengertian"


"Baik om, terimakasih. Sampai jumpa"


"Ya, sampai jumpa" Panji dan Tegar pun mengakhiri pembicaraan mereka


"Menyebalkan. Siapa juga yang mau menikah dengan gadis manja dan posesif seperti dia. Aku harus berpikir seribu kali sebelum setuju untuk menikah. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mencari cara untuk memutuskan perjodohan ini" Gumam Panji dengan kesal

__ADS_1


__ADS_2