
Dokter dan suster berlarian menuju kamar Safira setelah Tiara memanggil mereka dan mengatakan kalau Safira menggerakkan tangannya. Mereka mulai memeriksa kondisi Safira lagi dengan sangat teliti.
"Dokter, bagaimana keadaannya? Tadi tangannya sudah bergerak, tapi kenapa dia masih belum sadar?" Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang dan wajah yang terlihat khawatir.
"Ya, ini menandakan kalau perkembangannya sudah membaik dan pasien sudah melewati masa kritis. Sekarang kami akan memindahkan pasien ke kamar rawat dan kalian juga sudah bisa menamaninya disana" Dokter menjelaskan dengan rinci mengenai perkembangan Safira.
"Lalu kapan dia akan sadar dok?" Kenzo masih terlihat sangat penasaran dan wajahnya menunjukkan kalau dia masih khawatir dengan keadaan Safira.
"Mungkin secepatnya. Entah hari ini atau besok, tapi pasien akan segera sadar" Setelah mendengar penjelasan dokter, barulah Kenzo tersenyum lega
"Fyuuhh.... Syukurlah. Terimakasih banyak dokter"
Kenzo menghela napas lega dan bicara dengan senyum tipis yang jadi ciri khasnya
Dokter menganggukan kepala menanggapi ucapan terimakasih Kenzo
" Ya. Tolong beritahu kami jika pasien sudah sadarkan diri. Kami akan kembali melakukan pemeriksaan pasca operasi"
"Baik dok"
"Kalau begitu kami permisi"
"Ya, silahkan" Dokter dan suster pun kembali meninggalkan ruang ICU. Sedangkan Kenzo dan Tiara terus menatap wajah Safira yang sedang dipersiapkan oleh suster untuk dipindahkan keruang rawat
"Kak Zo, aku tidak bermimpi kan? Dokter bilang kak Fira akan sembuh seperti sebelumnya kan?" Tiara masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter mengenai perkembangan Safira. Dia terus tersenyum sambil menatap Safira
"Kamu tidak salah dengar. Dokter bilang dia sudah semakin baik dan kita hanya perlu menunggunya sampai sadar saja" Kenzo pun menanggapi Tiara dengan sikap yang tenang dan dingin
Tak lama kemudian Safira di pindahkan keruang rawat. Kenzo dan Tiara mengikutinya dari belakang.
Luka dikepala Kenzo masih belum pulih seutuhnya, ada rasa sakit yang tiba-tiba dia rasakan dari luka dikepalanya. Kenzo pun meringis sambil mengikuti Safira
"Ehm ... ssshhh ... kenapa tiba-tiba kepalaku terasa sakit ya? Ah, apa karena aku tidak meminum obatnya?" Kenzo bicara pada dirinya sendiri sambil memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.
"Kak Zo, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" Tiara terlihat khawatir saat melihat Kenzo yang sedang memegangi kepalanya
"Tidak papa. Hanya merasa sedikit sakit saja" Kenzo menjawab dengan sikap yang dingin dan berusaha tenang meskipun dari wajahnya terlihat kalau dia kesakitan.
"Kalau begitu sebaiknya kakak periksakan dulu luka kakak pada dokter. Jangan sampai lukanya infekasi dan makin parah. Aku tidak ingin mengurusi dua pasien sekaligus" Tiara bicara dengan senyum di bibirnya. Dia terlihat sangat tenang sekarang
"Ya, aku akan menemui dokter sekarang. Tolong jaga Safira dulu sampai aku kembali"
"Siap bos!"
Setelah mendapat tanggapan dari Tiara, Kenzo berbalik dan pergi untuk menemui dokter dan memeriksa keadaan luka dikepalanya
__ADS_1
***
"Bagaimana dokter? Apa ada yang serius dengan luka dikepala saya? Kenapa tiba-tiba terasa sakit ya?" Kenzo bertanya pada dokter dengan sikapanya yang tenang dan dingin
"Ada sedikit infeksi pada lukanya. Anda tidak perlu khawatir, saya akan resepkan obat untuk anda. Tapi kali ini anda harus meminum obatnya tepat waktu. Jika tidak, infeksinya bisa lebih serius" Dokter menjelaskan dengan tenang mengenai kondisi Kenzo
"Baik dok. Saya mengerti" Kenzo menganggukan kepala setelah mendengarkan penjelasan dokter. Setelah diperiksa, perban dikepala Kenzo kembali dipasang untuk menghindari lukanya terkena kotoran.
"Ini resep obatnya, anda bisa mengambilnya dibagian obat-obatan"
"Terimakasih dokter. Kalau begitu saya permisi"
"Ya silahkan" Kenzo langsung berdri dan beranjak pergi dari ruangan dokter dan menuju bagian apotek untuk mengambil obatnya
Sementara itu diruangan Safira, suster baru saja memindahkannya dan kini hanya ada Tiara yang menunggunya karena Kenzo sedang memeriksa lukanya
"Kak Safira, aku senang karena dokter bilang kak Safira bisa sembuh seperti dulu lagi. Apa kak Fira tahu kalau kak Kenzo selalu berada disini dan menemani kakak? Dia bahkan mengalami kecelakaan hingga menyebabkan kepalanya terluka ketika dia dalam perjalanan menuju kemari" Tiara sedang menceritakan Keadaan Kenzo saat Safira tidak sadarkan diri
"Kakak juga tidak tahu kan bagaimana sedihnya aku melihat kak Fira terbaring diruang operasi? Saat itu aku sungguh takut. Aku takut kalau kak Fira akan meninggalkan aku. Aku sama sekali tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi" Tiara kembali meneteskan air mata saat dia sedang bercerita pada Safira yang masih belum sadar
"Apa yang sedang kamu bicarakan sampai menangis seperti itu?" Tiara langsung tersentak saat tiba-tiba Kenzo berdiri dibelakangnya
"Kak Kenzo mengagetkanku saja. Aku sedang bercerita dengan kak Fira. Aku yakin kalau dia dapat mendengar apa yang aku katakan" Tiara menjawab dengan senyum ceria. Dia terus menatap Safira dengan tatapan yang lembut
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Itu tidak baik untuknya" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin
Drrt drrt drrt
Ponsel Kenzo bordering, dilihatnya panggilan itu berasal dari Rendra. Kenzo pun segera menerimanya
"Halo"
"Halo Zo. Aku dengar kamu mengunjungi Safira, bagaimana kondisinya?" Rendra bertanya dengan sikap yang tenang
"Kamu tahu dari mana? Sepertinya aku belum memberitahu Kenzie dan Risha" Kenzo terlihat heran karena Rendra tahu kalau dia mengunjungi Safira
"Ah, Noey datang mengunjungiku dan dia yang memberitahu kalau kamu pergi kesana" Rendra menjelaskan sambil membaca dokumen ditangannya
"Oh... Fira sudah melewati masa kritis tapi kami masih menunggu dia sadar untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Karena itu operasi otak jadi kita belum tahu sebera besar kesuksesan operasinya" Kenzo menjelaskan dengan tenang sambil menatap Safira yang masih terbaring
"Jika ada sesuatu yang bisa ku bantu katakan saja. Aku pasti akan membantumu"
"Kalau begitu tolong kirim orang untuk mengawasi gadis bernama Sheila Wiguna. Aku membatalkan janji untuk bertemu dengannya karena harus kemari. Perusahaannya akan bekerja sama denganku aku harus tahu dulu seperti apa orangnya" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan berwibawa
"Jadi kamu akan mempersiapkan senjata terlebuh dahulu?" Rendra memicingkan mata dengan senyum dibibirnya
__ADS_1
"Bukannya itu memang harus? Kamu tahu sendiri kalau aku tidak suka hal yang merepotkan. Jika aku punya senjata maka aku bisa langsung menghabisinya saat dia membuat ulah" Kenzo menanggapi dengan sikap yang dingin
"Ya kamu memang benar. Lebih baik mengambil langkah pencegahan agar kerugian tidak terlalu besar. Baiklah aku akan mengawasinya dan memberikan laporannya padamu" Rendra pun menyetujui apa yang ditugaskan Kenzo padanya
"Terimakasih. Tut tut tut" Kenzo langsung menutup teleponnya setelah dia selesai bicara
"Langsung dimatikan lagi. Kapan tanganku bisa bergerak lebih cepat agar bisa lebih dulu menutup telepon darinya?" Gumam Rendra sambil menatap ponsel ditangannya
"Kak Zo! Kak Fira sudah sadar!" Kenzo langsung berlari mendekati Safira begitu Tiara berteriak memanggilnya
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga" Kenzo bicara dengan senyum lembut sambil membelai sebelah pipi Safira.
Safira yang baru saja membuka mata dan belum sepenuhnya sadar, menatap Kenzo dan Tiara secara bergantian, diapun menoleh ke sekelilingnya. Tatapannya terlihat seperti dia sedang bingung. Dahinya mengernyit seakan berada ditempat asing
"Kalian berdua siapa? Ini dimana?"
Kenzo dan Tiara saling menatap satu sama lain setelah mendengar pertanyaan Safira
"Ra, cepat panggil dokter!" Kenzo langsung meminta Tiara memanggil dokter
"Baik kak" Tiara pun bergegas pergi untuk memanggil dokter
"Sayang, kamu tidak mengingatku? Aku Kenzo, pacarmu"
Safira memicingkan mata menatap Kenzo
"Apa iya pria tampan sepertimu mau jadi pacarku? Itu agak sedikit... "
Kenzo hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Safira. Tak berselang lama Tiara kembali keruangan Safira bersama dokter dan suster dibelakangnya
"Silahkan dokter"
"Permisi" Dokter pun memeriksa kondisi Safira dan mengajukan beberapa pertanyaan pada Safira
"Apa kamu ingat namamu? Kamu tahu berapa usiamu?" Safira hanya menggelengkan kepala menanggapi setiap pertanyaan yang diajukan dokter padanya
"Dokter, kenapa dia tidak mengingat kami?" Kenzo bertanya dengan nada yang panik
"Seperti yang diperkirakan sebelumnya, operasi kemarin berakibat pada hilangnya ingatan pasien. Pengangkatan sel kankernya berdampak pada bagian otaknya" Dokter menjelaskan denga rinci dan mudah dipahami
Kenzo cukuo terkejut mendengar penjelasan dokter
"Apa, ingatannya bisa kembali pulih?" Tanya Kenzo yang masih penasaran
"Sangat kecil kemungkinan pasien bisa kembali mengingat masa lalunya"
__ADS_1
Kenzo menatap Safira dengan raut wajah sedih, kemudian dia mengingat apa yang pernah dia katakan pada Safira. 'Tidak masalah jika kamu melupakan semuanya, karena aku mengingat semuanya. Tidak masalah jika kamu kehilangan kenangan masa lalumu karena aku bisa membuat banyak kenangan di masa depanmu'
"Baiklah, kalau begitu aku akan melakukan apa yang pernah aku janjikan padamu" Gumam Kenzo sambil tersenyum menatap Safira.