Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 119


__ADS_3

"Permisi, saya ingin bertemu dengan bu Delima. Apa beliau ada?" Safira bertanya dengan sopan pada resepsionis kantor istri Gustian


"Tolong tunggu sebentar, akan saya tanyakan terlebih dahulu" Jawab resepsionis itu dengan sopan dan ramah yang dibalas anggukan oleh Safira. Resepsionis itu pun menghubungi Istri Gustian melalui sambungan telepon


Tuut tuut


"Ya"


"Maaf bu, ada yang ingin bertemu dengan anda" Ujar resepsionis tersebut


"Siapa?" Tanya Istri Gustian dengan sikap yang dingin


"Nona Safira, beliau menunggu di lobby" Sesaat bu Delima terdiam mendengar nama Safira, setelah beberapa lama barulah dia menanggapi


"Biarkan dia masuk" Ujar bu Delima dengan sikap yang dingin


"Baik bu. Nona Safira, silahkan masuk! Ruangan bu Delima ada di lantai 2" Resepsionis mempersilakan Safira masuk setelah dia meminta izin pada Delima


"Baik. Terimakasih" Safira pun langsung beranjak pergi ke lantai 2 untuk segera keruang Delima


Tok tok tok


"Masuk!" Safira pun melangkah masuk keruang bu Delima setelah mendapatkan izin darinya


"Rupanya artis besar kita memiliki waktu untuk datang kemari. Apa anda sedang tidak sibuk? Atau ... artis kita kehilangan pekerjaan karena skandal?" Bu Delima bicara dengan nada mengejek dan senyum mencibir. Safira menanggapinya dengan tenang dan senyum yang manis


"Anda yakin skandal itu dibuat oleh saya? Sepertinya suami anda yang dengan sengaja membuat skandal tentang saya" Ujar Safira dengan sikap yang  tenang. Diapun duduk di sofa meskipun bu Delima belum memberikan izin padanya untuk duduk


"Apa maksudmu?" Tanya bu Delima dengan nada yang sinis


"Lihatlah kontrak kerjasama ini? Menurut anda siapa yang diuntungkan jika saya bekerja sama ataupun membatalkan kontrak?" Safira menunjukkan kontrak kerjasamanya dengan pak Gustian yang mengajukan denda hingga berkali-kali lipat jika kontrak batal


"Ini ...?"

__ADS_1


"Ini kerjasama yang suami anda tawarkan. Dan video yang beredar saat ini mengenai suami anda adalah video asli. Dia mengedit video ini sebelumnya dan menggantinya dengan wajah saya" Safira terlihat serius saat ini


"Bagaimana kamu menunjukkan kalau video suami saya asli dan punyamu palsu, sedangkan itu adalah video yang sama?" Bu Delima menyandarkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di dada


"Mudah saja, sekarang ada aplikasi untuk mengecek keaslian sebuah video, dan tanpa itu pun kita bisa mengetahui keasliannya langsung" Safira tersenyum tipis kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi pak Gustian


"Tolong jangan mengeluarkan suara apapun" Ujar Safira yang meletakkan ponselnya agar dekat meja dan membuka loadspreaker


Tuut tuut tuut


Cukup lama Safira menunggu teleponnya diangkat oleh pak Gustian, dan bu Delima juga tampak menunggu dengan gugup.


"Halo, Safira. Ternyata kamu menghubungiku juga. Ada apa? Apa kamu mengaku kalah karena drama terbarumu telah diblokir oleh istriku?" Ujar pak Gustian dengan nada mengejek


"Anda tidak malu karena masih menggunakan kekuasaan yang dimiliki istri anda?" Jawab Safira dengan nada mencibir


"Aku tidak memintanya. tapi bukankah memang sudah seharusnya seperti itu? Istriku memiliki kekuasaan itu, apa salahnya jika aku sedikit menikmatinya juga?" Ujar pak Gustian dengan sangat yakin. Mata bu Delima membelalak mendengar ucapan suaminya


"Menurut anda … apa bu Delima masih akan membiarkan anda menikmati kekuasaannya jika tahu video yang saya sebarkan itu asli?" Tanya Safira dengan senyum menatap bu Delima


"Kalau begitu kita lihat saja nanti. Siapa yang akan tersenyum nantinya!" Safira tersenyum yakin kemudian menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari pak Gustian


"Anda sudah mendengar sendiri kan? Video itu asli dan suami anda memang berhubungan dengan Yulita" Ujar Safira yang kembali bersikap tenang


"Aku tidak percaya ini. Bisa-bisanya suamiku …" Bu Delima tidak melanjutkan kalimatnya, dia menangis dengan kedua tangan menutupi wajahnya


"Saya mengerti dengan apa yang anda rasakan, tapi … bukanya lebih baik anda mengetahuinya sendiri daripada anda terus saja dibohongi?" Tanya Safira dengan tatapan iba, dia pun memberikan tisu pada bu Delima


"Kamu benar, lebih baik aku tahu kenyataannya meskipun menyakitkan" Ujar bu Delima dengan senyum ketir dibibirnya


"Safira, maafkan aku karena sudah merepotkanmu. Aku terlalu percaya pada suamiku. Aku akan menghubungi bagian produksi agar dramamu segera ditayangkan" Bu Delima tersenyum manis pada Safira sambil menghapus sisa air mata di pipinya


"Tidak masalah. Aku senang jika anda percaya pada saya" Safira pun tersenyum lembut menanggapi bu Delima

__ADS_1


"Aku harus buat perhitungan dengan suamiku dan juga wanita simpanannya itu" Terlihat kilatan kemarahan dari sorot mata bu Delima


"Bagaimana jika anda mengungkapkan hubungan Yulita dengan pak Gustian di depan umum? Anda juga bisa memutus semua akses yang selama ini menguntungkan pak Gustian" Safira menyarankan dengan senyum menyeringai


"Maksudmu …?" Bu Delima memicingkan mata menunggu penjelasan dari Safira


"Selama ini pak Gustian menggunakan kekuasaan anda untuk dia nikmati sendiri. Bahkan dia semena-mena menggunakan kekuasaan anda. Anda lihat sendiri dari kontrak kerja yang dia buat dengan saya. Bukankah reputasi anda yang akan jatuh jika terus seperti itu?" Bu Delima terdiam memikirkan ucapan Safira


"Kamu benar. Aku harus mulai mengambil kembali semua hak yang dia miliki dari perusahaan ini. Dia tidak pantas jadi pemimpin perusahaan" Ujar bu Delima penuh kemarahan


"Sepertinya urusan kita telah selesai. O iya, saya akan mengirimkan percakapan saya dengan pak Gustian tadi ke ponsel anda. Saya merekam semuanya, anda bisa menggunakannya untuk menyudutkan pak Gustian" Ujar Safira sambil mengirimkan rekaman percakapannya dengan Gustian


"Sekali lagi terimakasih, Safira. Jika kamu membutuhkan bantuanku, katakan saja. Aku pasti akan membantumu" Bu Delima dan Safira pun saling berjabat tangan sebelum dia pergi


"Ya, terimakasih kembali. Permisi" Safira pun kembali mengenakan masker dan kacamatanya sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan bu Delima dengan wajah berbinar bahagia.


Diluar gedung, Kenzo masih setia menunggu Safira. Dia tersenyum tipis begitu melihat Safira berjalan mendekat padanya


"Bagaimana hasilnya? Apa sudah selesai?" Tanya Kenzo dengan sikapnya yang dingin


"Tentu saja aku menyelesaikannya dengan baik. Bahkan sekarang bu Delima berpihak padaku" Jawab Safira dengan senyum bangga


"Benarkah? Bagaimana caranya membuktikannya?" Kenzo terus bertanya dengan helm yang menopang kedua tangannya


"Mudah saja. aku menghubungi pak Gustian dan membuatnya mengaku kalau video itu asli. Aku tidak perlu menggunakan aplikasi yang kamu berikan padaku. Lagipula kamu bilang aplikasinya itu masih dalam pengajuan untuk penerbitannya" Safira menjelaskan dengan ceria dan sesekali bersikap seakan manja


"Pandai kan aku?" Timpalnya lagi menunggu Kenzo memujinya


"Ya, pandai. Sangat pandai, kukira kamu akan butuh bantuanku. Ternyata kamu tidak membutuhkan bantuanku sama sekali" Kenzo kembali tersenyum tipis dengan dengan sesekali mengangguk perlahan


"Bantuanmu itu adalah senjata terakhirku. Seperti waktu itu, jika aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri, maka aku akan minta bantuan mahasiswa IT yang super cerdas ini" Ujar Safira bangga


"Sudahlah, ayo pergi!"

__ADS_1


"Ya, ayo!"


__ADS_2