Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Perusahaan Lain Tidak Bisa Dibandingkan Dengan Perusahaan Milik Keluarga Kusuma


__ADS_3

Cheva bicara dengan nada yang tenang namun sorot matanya tajam, kemudian dia mulai mencibir Astria. Membuatnya terbawa emosi


"Seenaknya saja kamu bilang harta keluarga Surendra sebagai uang receh. Kami ini pemilik dari rumah produksi yang besar dan cukup berpengaruh. Jadi kamu tidak bisa seenaknya pada keluarga kami" Astria tidak ingin kalah dan mulai menyombongkan kekayaan keluarganya


"Tapi tidak lebih besar dari perusahaan Sanjaya milik keluarga kami, kan? Tetap saja perusahaan manapun tidak bisa dibandingkan dengan perusahaan milik anggota keluarga Kusuma. Termasuk perusahaan milik keluargamu yang bisa dengan mudah kami lenyapkan! Jadi tidak perlu sombong dengan hasil curianmu!"


Astria terdiam mendengar ucapan Cheva. Wajahnya terlihat mengeras, tentu dia kesal karena disebut pencuri. Itu sangat terlihat jelas diwajahnya yang sudah memiliki garis-garis halus disekitar matanya


"Hasil curian?! Jelas itu milik keluarga Surendra, milikku dan kakakku, Galen dan Rey tidak memiliki hak apapun di dalamnya, karena mereka hanya anak pungut. Jadi yang mencuri itu bukan kami, melainkan mereka berdua!" Astria meninggikan suara karena kesal, kini orang-orang dirumah sakit mulai berkumpul melihat perdebatan diantara mereka berdua


"Apa kamu lupa kalau mereka berdua yang sudah bekerja keras membesarkan nama perusahaan Surendra? Kedua anak pungut itu yang bekerja siang dan malam menjadikan perusahaan Surendra dikenal banyak orang. Kamu dan kakakmu itu bisa apa? Kalian hanya bisa menghabiskan uang saja" Cheva tetap terlihat tenang dengan nada bicara yang dingin. Dia terus menekan Astria hingga semua yang mendengar perkataannya ikut menatap Astria dengan tatapan mencibir


"Kamu tahu kan kalau perusahaan yang kamu bilang milik keluarga Surendra itu sekarang sedang diambang kehancuran? Kita lihat berapa lama perusahaan itu akan bertahan dibawah kendali kakakmu yang bodoh itu!" Sambung Cheva dengan senyum sinis kemudian beranjak pergi meninggalkan Astria yang terlihat sangat kesal


"Dasar kurang ajar! Berani dia mempermalukanku di depan banyak orang. Rasanya ingin ku cakar wajahnya yang seperti iblis itu!" Gumam Astria sambil mengepal tangannya dengan keras


***


Kenzie dan Risha kini sedang istirahat dan makan di kantin sekolah, mereka juga bersama dengan Ilana


"Kenapa kamu terus menatap wajahku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku? Sha ada apa dipipiku?" Kenzie terlihat bingung karena Ilana terus menatap wajahnya. Bahkan dia bertanya pada Risha untuk mendapatkan jawaban, namun Risha hanya menggelengkan kepala, dia juga bingung dengan Ilana yang terus menatap Kenzie


"Kamu benar-benar mirip dengannya ya?" Ujar Ilana tanpa memalingkan wajah dari Kenzie. Risha dan Kenzie pun saling menatap bingung satu sama lain


"Maksudmu siapa? Kenzo?" Tanya Risha memastikan perkiraannya


"Iya, Kenzo dan Kenzie" Ilana menjawab disertai senyum


"Tentu saja kami mirip. Kami berdua ini saudara kembar" Kenzie pun membenarkan perkataan Ilana

__ADS_1


"Iya kembar wajahnya tapi bertolak belakang sifatnya" Risha menyindir Kenzie sambil memalingkan wajah ke arah lain


"Kamu kesal pada Zo, kenapa sinis padaku?" Tanya Kenzie dengan senyum manis dan nada yang ramah


"Karena melihat wajahmu yang sama dengannya jadi aku kesal. Tapi sikap anak itu selalu diluar dugaan, jadi aku tidak bisa benar-benar kesal padanya" Nada bicara Risha yang kesal perlahan berubah menjadi lembut


"Kamu tahu sendiri kan kalau Zo itu punya masalah dengan yang namanya bersosialisasi? Dia tidak bisa bersikap ramah ataupun semacamnya"


"Ya, aku tahu itu. Tapi meskipun sikapnya begitu, dia tidak pernah mengabaikan kita sebagai saudaranya"


Tring


Ujar Risha membela sikap Kenzo kemudian dia membuka pesan yang masuk ke ponselnya


"Aku tidak bisa traktir kalian makan hari ini. Ada pertandingan game yang tidak bisa aku lewatkan"


Brak


Kini Kenzie yang terlihat bingung. Akhirnya dia meraih ponsel Risha dan melihat pesan teks yang masih terlihat dilayarnya


"Ya mau bagaimana lagi kalau dia sudah berurusan dengan game dan komputer" Kenzie hanya tersenyum melihat pesan teksnya


"Apa Kenzo sangat suka bermain game?" Tanya Ilana yang tidak mengerti dengan percakapan Kenzie dan Risha


"Dia itu maniak game. Dia bisa mengabaikan semua hal jika sudah berhubungan dengan yang namanya game. Bahkan dia tidak pernah mempedulikan kami!" Risha kembali kesal saat membicarakan mengenai Kenzo


"Sudahlah, tidak perlu bahas Zo. Kamu seperti sedang makan api saja kalau membicarakannya. Padahal dia selalu membelamu saat kamu sedang butuh bantuan"


"Kamu benar. Berhenti membahas Kenzo" Mereka bertiga pun mulai mengganti topik pembicaraan dan membahas masalah lain. Saat mereka sedang asyik bercengkrama datanglah beberapa gadis menghampiri mereka

__ADS_1


"Risha, Kenzie aku kembali kekelas duluan ya. Aku ingin ke toilet dulu. Dadah" Ilana pun bergegas pergi meninggalkan Kenzie dan Risha


"Permisi, Kenzie aku ingin memberikan ini padamu. Aku kemarin pergi tamasya dan aku membelikan oleh-oleh untukmu" Salah satu gadis itu memberikan sebuah bingkisan yang terbungkus dengan sangat rapih pada Kenzie


"Terimakasih banyak. Tapi sepertinya aku tidak mengenalmu" Kenzie menerima bingkisan itu dengan senyum, namun nada bicaranya terdengar mencibir si gadis itu


"Oh iya, aku Lisa dari kelas 8b" Lisa memperkenalkan diri dengan malu-malu


"Lisa, sekali lagi terimakasih ya bingkisannya" Ujarnya ramah


"Iya kalau begitu sampai jumpa" Para gadis pun pergi meninggalkan Kenzie, Risha dan Ilana


"Cie cie... fans baru lagi. Jangan sampai aku bernasib sama seperti tante Cheva yang harus membereskan gadis-gadis disekitar papi" Risha menyindir Kenzie agar tidak menjadikannya tameng untuk menghalau para gadis yang ada di sekitarnya


"Risha sayang … tentu saja kamu harus melakukannya. Itulah fungsimu berada di sebelahku, anggap saja ini sebagai balas budi dari papimu kepada mamiku. Jadi kita impas kan?" Kenzie bicara dengan sangat lembut dan nada yang menggoda disertai senyum yang seolah mengharuskan Risha membantunya


"Disaat seperti ini aku lebih suka sikap Kenzo yang selalu terang-terangan jika tidak menyukai seseorang yang memang tidak dia suka. Berbeda denganmu yang selalu menunjukkan sikap ramah tanpa ingin menyinggung perasaan orang lain" Ujar Risha dengan sikap acuh tak acuh


"Disaat seperti inilah kamu terlihat berguna untukku. Tidak hanya menjadi ekor yang selalu mengikutiku kemana saja aku pergi" Risha terlihat semakin kesal karena Kenzie mengatainya dengan senyum lembut dan sebelah tangan menyangga dagunya


Plak


"Kurang ajar! Seenaknya saja kamu bilang aku seperti ekormu!"


"Aww!! Risha, sakit!" Teriak Kenzie sambil mengusap tangannya yang dipukul oleh Risha


"Rasakan itu! huh!"


***

__ADS_1


Ditoilet Ilana sedang membersihkan tangannya sambil menatap cermin dihadpannya


"Kenzie … dia ramah, lucu dan juga selalu membuat sekitarnya ceria. Aku juga bahagia berada disampingnya. Sedangkan Kenzo … dia diam, tidak banyak bicara, tapi saat aku melihatnya, dia itu sangat mempesona ketika membela Risha. Aku ingin keduanya. Kira-kira bagaimana kalau aku bisa menaklukkan sikembar itu ya? Aah aku malu sendiri membayangkan sikap mereka. Aku harus bisa mendekati mereka. Terutama Kenzo, dia membuatku penasaran"


__ADS_2