
"Max, panggilkan Manda kemari!" ujar Kenzo dengan sikap yang tenang setelah dia kembali keruangannya.
"Baik, Pak" Max langsung berbalik dan keluar dari ruangan Kenzo untuk memanggil Manda keruangannya.
"Zack, apa kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" Kenzo bertanya pada Zack setelah Max keluar.
"Sudah, Pak. Semua aset milik pak Hardi telah disita. Bisa dipastikan kalau mereka kini telah hidup dijalanan setelah tahu kalau semua harta benda mereka tidak ada yang tersisa". Zack menjelaskan dengan tenang mengenai apa yang sudah dia lakukan.
"Terimakasih, ternyata sekarang kamu sudah banyak belajar. Apalagi tentang postingan itu" Kenzo memuji Zack sambil tersenyum manis.
"Saya hanya memanfaatkan koneksi anda. Saya menghubungi editor majalah online dan menggunakan nama anda untuk membuatnya setuju menaikan ratingnya. Nama anda sudah cukup dikenal dalam bidang ini. Mereka takut jika anda akan membajak akun mereka kalau berani menolak". Zack pun tak tahan menahan senyum untuk mengatai Kenzo.
"Kamu juga sudah berani menggodaku ya?" Kenzo menyela dengan sikap tenang
"Maaf, Pak. Tapi itu memag kenyataan"
Kedatangan Max dan Manda membuat Kenzo dan Zack mengalihkan pembicaraan mereka.
"Permisi, Pak. Saya sudah membawa Manda kemari". Max berjalan masuk keruangan Kenzo diikuti Manda dibelakangnya.
"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Manda dengan sedikit gugup.
"Ya, aku ingin kamu terima surat pemecatanmu dan tidak muncul lagi dihadapanku" ujar Kenzo sambil memberikan surat pemecatan Manda.
"Dipecat, Pak? Apa salah saya?" tanya Manda dengan raut wajah bingung dan juga sedih.
"Apa salahmu? Kamu berani menjebakku disebuah hotel dengan wanita yang tidak jelas, dan sekarang masih bertanya apa salahmu?! Lucu sekali". Kenzo terdengar kesal namun sikapnya tetap sangat tenang dengan senyum mencibir dibibirnya.
"Maafkan saya, Pak. Bu Oliv bilang kalau dia adalah teman dekat anda dan karena itu dia ingin membuat kejutan untuk anda dihotel. Saya tidak tahu kalau itu semua bohong" Manda terus membela diri disertai derai air mata yang jatuh dipipinya.
"Kamu sangat mudah percaya pada orang lain. Seharusnya kamu bertanya terlebih dahulu, apa aku kenal dengannya atau tidak. Kamu bisa tanya pada Zack mengenai kedekatanku dengan orang lain. Karena kecerobohan kamu itu, aku hampir terjebak olehnya dan merusak reputasiku".
Kenzo bicara dengan sikap yang dingin dan nada bicara yang sinis, dia mengetukan salah satu jarinya diatas meja.
"Berikan saya satu kali kesempata lagi, Pak. Saya janji tidak akan melakukan hal yang sama. Saya akan memperbaiki sikap saya pada anda". Manda terus memohon pada Kenzo untuk tidak memecatnya.
"Aku tidak pernah memberi kesempatan kedua ketiga ataupun yang lainnya. Setiap orang yang berani melakukan kesalahan, maka dia juga harus berani menerima konsekuensinya" ujar Kenzo dengan sikap yang dingin tanpa ingin ada bantahan lagi dari Manda
__ADS_1
"Max, antarkan Manda keluar sebelum aku membuat surat black list untuknya. Dengan surat itu kamu tidak akan bisa lagi bekerja diperusahaan manapun dinegara ini"
Manda tersentak setelah mendengar ucapan Kenzo. Diapun mau tidak mau meninggakan ruangan kenzo dengan kepala tertunduk penuh sesal.
"Katakanlah apa yang ingin kamu tanyakan, Max!" Kenzo bicara pada Max setelah sejak tadi asisten barunya itu menatapnya dengan tatapan heran.
"Ah, saya ..." Max terlihat ragu-ragu ketika Kenzo menyadari raut wajahnya yang penuh tanya tentang apa yang Kenzo perbuat.
"Saya hanya penasaran saja, bagaimana bisa anda melakukan hal seperti tadi?" tanya Max dengan ragu-ragu setelah cukup lama dia terdiam.
"Aku tidak akan menjelaskan apapun dengan panjang lebar. Kamu lihat sendiri bagaimana situasinya. Ini belum seberapa, masih banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi. Karena itu aku bertanya padamu sebelumnya apa kamu memang benar-benar siap jadi asistenku? Aku bukan orang baik yang akan membuatmu nyaman berada disisiku, karena bagaimanapun sebagai seorang asisten, tentu kamu akan melakukan hal seperti Zack. Jika kamu merasa tidak sanggup, maka kamu bisa mundur dari sekarang".
Kenzo bicara dengan sikap yang dingin dan tegas. Tidak ada keramahan yang terlihat disorot matanya. Dia terlihat sangat serius saat ini. Zack pun menunggu jawaban Max dengan raut wajah yang tenang.
"Saya tidak akan berhenti. Anda melakukan itu karena mereka yang salah, jadi saya rasa ... ini masih dalam batas wajar. Mereka yang membuat kesalahan dan mereka juga yang harus menerima konsekuensinya. Kenapa malah anda yang merasa tidak enak?".
Kenzo dan Zack tersenyum mendengar jawaban Max.
"Perlu kamu ingat, saat kamu memutuskan untuk berada disisiku, maka kamu harus setia padaku. Kamu tidak akan bisa lepas dariku dengan mudah"
"Baik, Pak. Akan saya lakukan". Max terlihat sangat yakin saat Kenzo memintanya untuk setia padanya.
***
Sudah beberapa hari Meisya tidak berkomunikasi dengan Kenzie. Sesuai dengan kesepakatan mereka, Meisya akan mogok makan dan hanya mengurung diri dikamar.
Tok tok tok
"Mei, buka pintunya Mei. Biarkan papa masuk dan menemanimu". Pak Arseno berteriak dari luar kamar Meisya. Dia mengkhawatirkan putri semata wayangnya yang saat ini tengah bersedih karena putus cinta.
"Tidak, Pah. Biarkan aku sendiri ... hiks ... hiks ... hiks ..." Meisya menanggapi sang ayah dengan suara yang parau karena dia tengah menangis.
"Tapi, Mei. Kamu belum makan apa-apa selama 2 hari ini. Papa bawakan kamu makanan, kamu tetap harus pikirkan kesehatanmu". Pak Arseno kembali bicara dan berusaha membujuk Meisya untuk makan sesuatu.
"Tidak, Pah. Aku tidak nafsu makan". Meisya kembali menanggapi sang ayah dengan nada suara yang sedih.
Pak Arseno pun tidak dapat mengatakan apa-apa. Dia meninggalkan kamar Meisya dengan kepala tertunduk sedih sambil membawa kembali makanan yang dia bawa untuk Meisya
__ADS_1
"Apa non Meisya masih tidak mau makan, Tuan?". Har bertanya pada pak Arseno yang baru kembali dari kamar Meisya dengan nampan berisi sepiring makanan dan juga segelas susu.
"Tidak, sepertinya dia masih bersedih dan terus saja menangis. Dia tetap tidak membiarkan aku masuk". Pak Arseno menanggapi dengan raut wajah sedih sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Boleh saya coba antarkan makanannya? Mungkin nona mau makan jika saya yang antarkan. Kebetulan, saya juga membawa barang pesanan nona" ujar Har berusaha meyakinkan Arseno sambil menunjukkan sebuah dus kecil dalam kantong plastik yang ada ditangannya.
Sesaat pak Arseno terdiam memikirkan tawaran Har, lalu dia mengangguk dan memberikan nampan itu pada Har.
"Baiklah. Kamu bisa bawakan makanan ini padanya" ujar pak Arseno dengan raut wajah penuh harap.
"Baik, Tuan" Har pun beranjak pergi menuju kamar Meisya dengan nampan makanan ditangannya
Tok tok tok
"Non, Nona Meisya. Ini saya Har. Tolong buka pintunya". Meisya langsung membuka pintu kamarnya setelah mendengar suara Har yang ada diluar kamarnya.
"Pak Har, ayo cepat masuk!" Har pun masuk kedalam kamar Meisya setelah mendapatkan izin darinya
"Pak Har bawa apa?" Meisya sedikit mengintip pada nampan yang baru saja dibawa Har.
"Ini makanan yang disiapkan oleh tuan. Nona bisa memakannya sedikit saja agar tuan tidak curiga. Dan ini, saya bawakan spageti dan juga minuman kemasan. Nona bisa memakan ini" Har menunjukkan makanan yang ada dinampan kemudian menunjuk pada dus kecil yang dia bawa.
"Terimakasih Pak Har. Pak Har memang lebih mengerti aku dibandingkan papa"
"Sssst ... nona jangan berisik. Kita bisa ketahuan". Pak Har mengingatkan Meisya ketika dia terlalu antusias sampai menimbulkan suara yang kencang.
"Apa yang nona lakukan? Tuan bilang, nona sedang menangis" Har cukup penasaran dengan apa yang dilakukan Meisya karena pak Arseno mendengar dia menangis sebelumnya.
"Aku sedang menonton film yang sedih, dan kebetulan tadi papa kesini, jadi dia mendengar aku sedang menangis". Meisya menjelaskan dengan senyum ceria diwajahnya.
"Nona memang sangat nakal. Selalu saja membuat tuan kewalahan". Har bicara sambil menggelengkan kepala disertai senyum tipis dibibirnya.11
"Papa yang mulai duluan. Jadi aku tidak punya cara lain. Pak Har, terimakasih karena Pak Har selalu membantuku sejak aku kembali kerumah ini. Pak Har tidak pernah memaksaku untuk mengikuti apa yang dikatakan papa"
"Sama-sama. Saya tahu kalau Nona gadis yang baik. Nona sudah cukup menderita saat berada diluar rumah ini. Saya hanya ingin nona bahagia. Nona juga harus tahu kalau tuan sagat menyayangi Nona, hanya saja tuan terlalu mengkhawatirkan banyak hal" Har bicara dengan sangat lembut pada Meisya sambil mengusap lembut kkepalanya. Dia sudah lama ikut dengan ayah Meisya jadi sudah mengenal dengan jelas bagaimana keluarga ini.
"Aku tahu, karena itu aku berusaha meruntuhkan benteng kepercayaan papa agar bisa mendapatkan kebahagiaanku" ujar Meisya dengan senyum lembut.
__ADS_1
"Saya akan selalu membantu Nona"
"Terimakasih banyak Pak Har"