Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Upaya Rendra Mendapatkan Maaf Risha


__ADS_3

"Permisi, ada kiriman untuk bu Risha dari bagian keuangan. Saya harus meletakkannya dimana ya?" Seorang kurir dari toko bunga datang dengan membawa karangan bunga cantik yang ditujukan untuk Risha


"Taruh disini saja pak. Nanti kami akan berikan itu pada bu Risha" Salah satu resepsionis menanggapi dengan sikap yang sopan


"Baiklah, tolong sampaikan ini juga. Terimakasih" Kurir itu pun langsung pergi setelah staf resepsionis itu menganggukkan kepala dan menerima barang Risha


"Wah beruntng sekali bu Risha. Pacarnya pasti sangat mencitainya. Dia begitu perhatian sampai mengirimkan bunga dan juga hadiah" Kedua staf resepsinois itu membicarakan Risha karena iri dengannya. Lalu salah satu dari mereka menghubungi Risha melalui sambungan telepon


Tring tring


"Ya, halo" Risha menjawab telepon tersebut dengan tenang


"Bu Risha, ada kiriman di resepsionis yang ditujukan untuk anda" Ujar salah satu staf resepsionis


"Kiriman? Untukku?" Tanya Risha lagi memastikan


"Benar bu. Sebuah bucket bunga dan juga kado" Ujarnya kembali menjelaskan pada Risha


"Baiklah, akan aku ambil kesana sekarang. Terimakasih"


"Sama-sama"


Risha pun langsung beranjak dari duduknya setelah menutup telepon untuk pergi ke resepsionis dan mengambil barang miliknya


"Bunga dan kado dari siapa ya? Rasanya aku tidak dekat dengan siapapun" Risha berpikir keras sambil berjalan menuju meja resepsionis dan kebetulan sekali disana ada Bastian juga yang baru saja tiba


"Hai Sha" Sapa Bastian begitu melihat Risha


"Kamu mau kemana?" Tanya Bastian pada Risha yang bersikap dingin padanya


"Mengambil sesuatu. Permisi, Tadi katanya ada kiriman untukku?" Risha menanggapi Bastian dengan sikap yang dingin, kemudian dia beralih pada resepsionis dengan nada yang lembut


"Ini bu. Ada kartu juga dalam bunga itu tapi kami tidak membacanya" Salah satu penjaga resepsionis menjelaskan pada Risha


"Ya, terimakasih" Risha meraih bunga dan kado berbetuk kotak yang dihias dengan pita berwarna pink muda itu lalu kembali ke ruangannya


"Kenapa kamu selalu mengabaikanku? Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apapun padamu?" Bastian memicingkan mata dan bertanya dengan nada yang bingung


"Tidak ada alasan untukku mengabaikanmu"


"Itu benar"


Bastian langsung menyela ucapan Risha dengan senyum manisnya sebelum Risha selesai bicara

__ADS_1


"Tapi tidak ada alasan juga untukku berbuat baik padamu. Kamu bukan siapa-siapa bagiku" Risha bicara dengan sikap dingin dan sorot mata yang tajam lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruanganya dan meninggalkan Bastian sendiri


"Kamu selalu saja mengabaikanku. Sikapmu sangat dingin. Membuatku penasaran saja" Gumam Bastian yang tidak lagi mengikuti Risha dan hanya memandang punggungnya yang semakin menjauh


"Bunga dari siapa ini ya?" Risha memperhatikan bunga itu selama dalam perjalanan dan setelah tiba diruangannya dia membuka kartu ucapan yang ada dalam bunga itu


"Aku melakukan kesalah padamu dengan mulutku, karena mengucapkan kara-kata kasar padamu.


Aku melakukan kesalahan padamu dengan sikapku, karena aku tidak tahu cara bersikap baik pada seorang gadis.


Aku melakukan kesalahan padamu karena tidak memahami perasaanmu


Dan kesalahan terbesarku adalah karena aku tidak bisa memahami perasaanku sendiri.


Aku tidak tahu kalau ternyata ... aku menyukaimu.


Bukan perasaan sebagai sahabat dari sepupumu ataupun perasaan sebagai atasanmu. Melainkan perasaan layaknya seorang pria pada seorang wanita.


Aku ingin memilikimu, menikmati hari indah denganmu. melewati setiap menit denganmu. Aku tidak ingin melewatkan satu detikpun tanpamu. Kumohon maafkan aku dan berikan aku kesempatan untuk bisa mewujudkan semua itu. Aku ingin merasakan kebahagiaan denganmu"


Risha tersenyum sendiri membaca surat yang ada di bucket bunga itu. Wajahnya merona dan tersenyum lembut karenanya


"Sejak kapan dia jadi pandai merangkai kata? Aku tidak tahu kalau dia bisa menulis kata-kata seperti ini?" Pkir Risha samil terus menatap kartu itu disertai senyum manisnya


"Eh apa benar dia yang menulis kata-kata ini sendiri? Bukan Alan yang melakukannya kan? Aku harus tanyakan padanya nanti" Pikir Risha berusaha menebak yang menulis kata-kata itu. Diapun membuka kado berbentuk kotak yang satunya dan didalamnya berisi sekotak coklat berbentuk hati yang tersusun rapih


"Waah, Risha bunganya cantik sekali. Sampai dikasih coklat juga. Apa ini dari pak Rendra?" Tanya salah satu rekan kerjanya yang melihat bunga diataa meja Risha


"Pak Rendra?" Tanya Risha dengan raut wajah bingung karena selama ini dia tidak menunjukkan kedekatan mereka


"Bukannya kamu memang dekat dengan pak Rendra? Pernah ada yang melihat kalian berdua makan siang bersama" Jawab rekannya lagi menjelaskan


"Owh, jadi begitu" Risha hanya tersenyum menanggapinya. Rekannya pun kembali ke meja kerjanya


***


Tok tok tok


"Masuk!"


Bastian langsung masuk setelah mendapatkan izin dari Rendra


Bastian berjalan mendekati meja kerja Rendra. Dia melihat tumpukan dokumen diatasnya dan bertanya pada Rendra

__ADS_1


"Apa kamu sangat sibuk?"


Rendra yang mulai membaca dokumennya meskipun masih tidak semangat, mengalihkan pandangannya dan mengangkat kepala untuk menatap Bastian


"Apa kamu sangat senggang? Kenapa akhir-akhir ini sering sekali datang kemari?" Tanya Rendra dengan sikap yang dingin


"Hanya ingin berkunjung saja" Bastian duduk disofa dan menjawab sambil tersenyum


"Aneh, padahal aku yakin kalau kantormu juga sibuk" Rendra kembali menanggapi dengan sikap acuh tak acuh


"Ren, kamu dekat dengan Risha kan?" Rendra berhenti membaca dokumen dan menatap Bastian dengan tatapan penuh tanya


"Untuk apa kamu menanyakan tentang dia?" Rendra menatap Bastian dengan tajam dan bertanya dengan sikap sinis


"Tidak ada hanya saja … apa dia punya pacar, atau mungkin dia sedang dekat dengan seseorang?" Bastian bertanya dengan senyum ceria diwajahnya


Rendra menggenggam balpoinnya dengan erat setelah mendengar pertanyaan Bastian


"Jangan dekati dia" Ujarnya dengan sikap dingin


"Kenapa? Apa dia punya pacar?"Bastian semakin penasaran dengan cerita Risha


"Euh"


Rendra hanya menganggukkan kepala menanggapi Bastian


"Waah, sayang sekali. Padahal aku sangat menyukainya. Aku belum pernah melihat gadis seperti dia. Pendiriannya tinggi, dia juga sangat cerdas" Bastian terus memuji Risha dengan tatapan jauh seakan dia sedang membayangkannya


"Jika kamu kemari hanya untuk menanyakan itu, sebaiknya kamu pergi. Kamu lihat sendiri kan kalau aku sedang sibuk?" Rendra bersikap dingin dan bicara tanpa menatap kearah Bastian


"Aku ingin makan siang denganmu" Kata Bastian lagi berusaha mendekati Rendra


"Aku tidak bisa. Banyak yang harus aku selesaikan. Aku akan makan nanti, maaf" Rendra langsung menolak tawaran Bastian tanpa pikir panjang


"Ren, Kumohon … jangan membangun tembok tinggi diantara kita. Jangan sampai ada yang membatasi hubungan kita. Aku ingin kamu menghancurkan itu dan biarkan kita menjadi kakak dan adik pada umumnya" Bastian bicara dengan raut wajah sedih karena sikap dingin yang ditunjukkan Rendra padanya


"Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku juga butuh waktu. Ini terlalu sulit untuk melupakan masa lalu dan membuatnya seakan tidak pernah terjadi. Aku tidak bisa menunjukkan kalau aku baik-baik saja. Rasanya dadaku sesak jika mengingat semua itu"


Rendra menjawab dengan kepala tertunduk dan raut wajah sedih. Dia memutar-mutar bolpoinna seakan itu cara untuknya menenangkan diri


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi kuharap kamu bisa membuka hatimu lagi" Bastian pun berdiri dan hendak pergi, lalu ia kembali berbalik dan menatap Rendra


"Minggu ini akan ada pesta dirumah Om Rian. Kuharap kamu juga bisa hadir disana. Aku akan senang jika bisa melihatmu berkumpul dengan keluarga kita" Bastian langsung berbalik dan pergi tanpa menunggu tanggapan dari Rendra

__ADS_1


"Pesta? Om Rian? Apa benar mereka menginginkan kedatanganku?" Gumam Rendra sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi


"Kira-kira … Risha sudah menerima hadiahnya atau belum ya? Apa dia suka dengan hadiah yang aku berikan? Apa kata-kata yang ku tuliskan sudah benar? Apa benar aku menyukainya? Risha … kenapa seorang gadis bisa membuatku begitu kesulitan? Kehadiranmu bagaikan ombak yang dengan mudah meluluh lantahkan hidupku. Tapi … aku juga tidak bisa membiarkanmu pergi karena kamu sudah terlanjur masuk dalam hidupku"


__ADS_2