
Risha dan Rendra kembali keruang konfrensi untuk menemui calon investor lain yang masih ada disana bersama dengan Diaz
"Kenapa lama sekali? Kami sudah lama menunggu kalian" Diaz langsung bertanya begitu melihat Risha dan Rendra memasuki ruangan
"Hanya sedikit membuat pertunjukan" Risha menjawab dengan sikap yang tenang
"Apa yang kamu lakukan? Apa hanya membuatnya berkeliling seperti badut sirkus?" Diaz bicara dengan sikap yang tenang dan senyum tipis dibibirnya
"Aku memecatnya. Dan sudah dapat dipastikan kalau dia tidak akan bisa mendapat pekerjaan dimanapun!" Risha terlihat sangat tenang saat bicara. Tidak ada rasa khawatir atau menyesal yang terlihat dari wajahnya
"Anda tidak memaafkannya? Dia hanya bergosip saja, kenapa anda memecatnya sampai membuat dia tidak bisa bekerja ditempat lain?" Salah satu calon investor memberanikan diri bertanya meskipun dengan ragu-ragu
"Bukan hanya bergosip saja. Dia berani menghalalkan segala cara untuk menang. Bahkan anda juga tahu kalau dia dengan tidak tahu malu mencuri porposal yang saya buat dan mempresentasikannya dihadapan anda semua dan satu lagi, saya sama sekali tidak melihat ada penyesalan diwajahnya. Jika saya memberikan kesempatan kedua ... tidak menutup kemungkinan kalau dia akan meminta kesempatan ketiga dan karyawan lain juga bisa melakukan hal yang sama karena melihatku masih memiliki belas kasihan. Bukankah itu akan menjadi racun untuk perusahaan ini? Manusia harus diberi contoh terlebih dahulu agar mereka bisa lebih baik. Mereka hanya akan mengikuti pendahulu mereka saja" Risha menjelaskan dengan sikap tenang dan elegan. Dia terlihat berwibawa dengan sikap dan kata-kata yang dia tunjukan sekarang. Meskipun sesaat terlihat kalau dia sedikit kesal saat membayangkan Daniel
"Ya, kamu benar. Kita tidak bisa memberikan celah pada orang lain untuk melakukan kesalahan. Akan lebih baik mereka melihat sesuatu yang mengerikan sebelum mereka mencoba melakukannya. Ternyata Putriku sudah dewasa" Diaz pun tersenyum mendengar tanggapan yang diberikan Risha atas pertanyaan calon investornya
"Apa kalian masih berminat untuk berinvestasi pada film ini?" Diaz kembali pada tujuan awal diadakannya pertemuan ini
"Setelah mendengar presentasi dari bu Risha, kami memutuskan akan tetap berinvetasi pada film ini. Kami tidak bisa melewatkan keuntungan begitu saja" Ujar salah satu calon investor setelah dia saling menatap dengan investor lain
"Tentu saja aku juga akan tetap melakukannya" Rendra pun menjawab dengan sangat yakin
"Kamu tidak perlu! Itu hanya akan jadi alasan untuk selalu menemui Risha!" Diaz menanggapi Rendra degan sinis
"Saya tidak memita pendapat anda. Saya adalah calon investor pertama, jadi anda tidak bisa menghalangi saya" Rendra dan Diaz kembali berdebat mengenai investasi
"Papi, Rendra. tolong berhenti. Saat ini kita sedag berada dikantor" Risha berusaha bersikap tenang meskipun saat ini kepalanya terasa sakit setelah melihat sikap Diaz dan Rendra.
Rapat mereka selesai tepat sebelum jam makan siang
"Sha, ayo kita makan siang bersama sebelum aku kembali ke kantorku" Ajak Rendra pada Risha yang sedang merapikan barangnya
"Tentu saja. Ayo!" Risha pun mengangguk setuju dengan senyum ceria
"Kalian mau kemana? Risha, bukannya kita harus makan saing bersama?" Diaz berusaha menghalangi saat Risha dan Rendra akan pergi
"Maaf pih, aku masih harus membahas masalah pernikahan Zo dan Safira dengan Rendra. Sampai jumpa" Risha menolak dengan tegas ajakan makan siang Diaz
__ADS_1
"Kenapa anakku lebih memilih Rendra daripada ayahnya sendiri?"
"Karena dia pacarnya" Asisten Diaz menjawab dengan acuh tak acuh
"Ron, sejak kapan kamu berani melawanku?"
"Hanya ada kita berdua disini, jadi aku bisa bicara dengan santai"
"Kamu ..."
"Sudah waktunya makan siang pak. Ayo kita pergi!" Roni menyela sebelum Diaz menggerutu padanya
"Haah ... aku ini atasanmu tapi kamu tidak menghormatiku"
"Aku ini juga seniormu saat dikampus, tapi kamu juga tidak pernah menghormatiku" Roni dan Diaz terus saja saling menyindir selama dalam perjalanan mereka
***
Hari ini Meisya sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kanzie terntu selalu menemaninya dan membiarkan Noey yang bertanggung jawab atas pekerjaannya
"Ya, aku sudah siap. Tumben sekali papa tidak datang kemari? Biasanya setiap hari selalu datang kemari" Meisya menoleh kearah pintu dan mencari keberadaan pak Areseno yang tidak kelihatan batang hidungnya hari ini
"Entahlah. Mungkin papamu sedang sibuk dan tidak bisa meninggalkan perkerjaannya hari ini. Apa kamu kecewa" Kenzie menatap Meisya dengan penuh tanya
"Tidak sama sekali. Kurasa itu bagus karena kalau ada papa disini sudah pasti dia akan menyulitkan kita berdua" Meisya tersenyum ceria saat dia bicara
"Sudahlah, Ayo pulang! Kamu mau pulang kemana? Kerumahmu, papamu atau mungkin ..."
"Atau mungkin apa? Memangnya ada rumah lain?" Meisya menatap dengan penuh tanya pada Kenzie
"Atau mungkin kamu mau pulang bersamaku?" Kenzie mengangkat kedua alisnya saat dia bertanya pada Meisya dengan nada yang menggoda
"Ja-jangan gila kamu! Ayo cepat kita pergi dari sini" Meisya yang merasa canggung langsung berbalik pergi dan meninggalkan Kenzie
"Bilang saja kalau kamu malu"
"Hei tunggu aku!" Kenzie pun mempercepat langkahnya dan mengejar Meisya
__ADS_1
Tak berapa lama mereka tiba dirumah Meisya yang letaknya tidak jauh dari kantor
"Apa-apaan ini?" Meisya dan Kenzie sangat terkejut melihat kondisi rumah Meisya. Mereka mematung diambang pintu sambil menatap kedalam rumah Meisya yang penuh dengan barang-barang yang entah darimana asalnya
"Apa selama aku dirumah sakit, rumah ku telah berubah jadi gudang?" Gumam Meisya yang masih membantu diambang pintu
"Lebih dari gudang. Sepertinya toko di mall pindah kemari. Mulai dari toko bunga, aksesoris serta pakaian" Kenzie menangapi Meisya dan melihat beberapa kantong yang berisi pakaian, sepatu dan tas
"Tapi darimana semua ini? Apa kak Zie yang mengirimkannya?" Meisya menatap curiga pada Kenzie setelah mengingat saat mereka pergi membeli pakaian pesta dan menawarinya membeli apa saja
"Eit, tidak. Aku tidak melakukan ini semua. Aku sudah menyiapkan kejutan lain untuk kita setelah menikah nanti"
"Apa?! Menikah?! Kamu ingin menikah tanpa bilang padaku lebih dulu?!" Kenzie dan Meisya sangat terkejut setelah mendengar suara pak Arseno
"Papa?! Kenapa papa bisa ada disini? Tidak. Bagaimana papa bisa tahu rumahku? Bahkan papa bisa masuk ke dalam rumahku. Apa selama ini papa memata-mataiku dan menduplikat kunci rumahku?" Meisya berteriak karena terkejut atas kedatangan sang ayah dirumahnya
"Papa yang bertanya lebih dulu, apa kalian berencana menikah tanpa memberitahu papa dulu?" Pak Arseno yang biasa tenang, kini terlihat panik setelah mendengar perkataan Kenzie mengenai pernikahan
"Tidak"
"Tadi dia bilang punya hadiah pernikahan" Pak Arseno kini menatap Kenzie dengan wajah penasaran dan menunggu penjelasan darinya
"Aku memang belum merencanakan pernikahanku dengan Meisya, karena minggu ini saudara kembarku yang akan menikah lebih dulu" Kenzie menjawab pak Arseno dengan senyum yang ramah
"Tapi aku sedang memikirkan waktu yang pas untuk kami melakukan pernikahan"
"Kamu sengaja ya?" Pak Arseno terlihat kesal mendengar Kenzie ingin menikahi Meisya
"Bukannya dulu om memang berniat menjodohkan Meisya? Jadi om pasti akan senang jika aku ingin menikahi Meisya secepatnya kan?" Kenzie mengangkat kedua alisnya saat dia bertanya pada ayah Meisya
"Itu tidak akan terjadi. Aku ingin menjodohkan Meisya agar dia bisa pulang kerumah. Jika kamu yang menikah dengan Meisya, sudah pasti kamu akan membawanya menjauh dariku kan?"
"Tentu saja om. Jika aku terus berada dirumah om setelah menikah, sudah pasti kalau om tidak akan membiarkan aku berduaan dengan Meisya"
Meisya hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan Kenzie dengan pak Arseno
"Haah ... sepertinya aku sudah harus terbiasa dengan pemandangan ini mulai dari sekarang"
__ADS_1