
Pak Arseno kembali kerumahnya dengan raut wajah sedih karena tidak berhasil membujuk Kenzie. Dia langsung pergi ke kamar Meisya begitu tiba dirumah untuk melihat putrinya itu.
Tok tok tok
“Mei, apa Papa boleh masuk?” tanya pak Arseno sambil mengetuk pintu kamar Meisya
Ceklek
Meisya langsung membukakan pintu untuk sang ayah.
“Masuklah, Pah. Ada apa?”.
Meisya mempersilahkan sang ayah masuk ke kamarnya dengan nada bicara yang datar. Dia tidak terlihat seperti Meisya yang dulu. Memang ada senyum yang terukir di wajahnya yang cantik, namun siapapun yang melihat senyum itu, mereka pasti tahu betul kalau itu bukanlah senyum bahagia. Itu hanya senyum yang ditunjukkannya untuk menutupi hatinya yang terluka.
“Papa ingin minta maaf padamu. Papa sadar kalau papa telah melakukan kesalahan dengan melarang hubunganmu dan Kenzie, tapi sekarang papa menyesal. Papa sudah berusaha membujuk Kenzie untuk kembali padamu, tapi papa tidak berhasil. Maafkan Papa”.
Pak Arseno bicara dengan sangat lembut sambil memandang Meisya dengan mata berkaca-kaca penuh penyesalan.
“Sudahlah, Pah. Itu sudah berlalu, jadi tidak perlu dibahas lagi. Lagipula hubunganku dan Kak Zie sudah berakhir. Kami berdua telah sepakat untuk itu”. Meisya menanggapi sang ayah dengan sikap yang dingin sambil duduk disampingnya, namun senyum tipis itu tak hilang dari wajahnya.
“Papa benar-benar minta maaf. Mengenai rencanamu ... apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu belajar diluar negeri?” Pak Arseno menatap Meisya dengan tatapan yang lembut menunggu kepastian dari putrinya.
“Iya, Pah. Aku sudah memikirkannya dengan baik dan aku sudah yakin dengan keputusan yang aku ambil. Aku akan tetap pergi".
Meisya menanggapi dengan sikap tenang dan penuh keyakinan. Tidak ada keraguan yanh terpancar dari sorot matanya yang bening.
“Tidak bisakah kamu memikirkannya lagi? Atau mungkin … Papa bisa ikut denganmu keluar negeri?”
Meisya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang ayah
“Aku hanya belajar saja Papa. Aku pasti akan pulang saat libur kuliah nanti. Dan Papa punya pekerjaan disini. Bagaimana Papa akan mengelola bisnis Papa jika nanti malah ikut pergi denganku?” ujar Meisya dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis.
__ADS_1
“Tapi Mei, Papa …”
“Aku tidak papa, Pah. Jadi Papa tidak perlu khawatir. Aku akan menyelesaikan kuliahku secepat mungkin agar aku bisa membantu mengurus perusahaan papa. Aku janji” Meisya pun membujuk sang ayah dengan bersandar dipundaknya.
“Baiklah. Sepertinya Papa sudah tidak akan bisa menahanmu lagi”. Pak Arseno pun menghela napas pasrah dengan apa yang jadi keputusan putrinya. Sepertinya dia sudah tidak bisa lagi menahan putri kesayangannya itu agar tetap berada disisinya.
“Terimakasih Pah, karena Papa sudah mau mengerti keinginanku” Pak Arseno pun mengangguk dan menarik Meisya dalam pelukannya
***
Sementara itu Kenzie masih duduk terdiam setelah kepergian pak Arseno. Dia berpikir keras mengenai apa yang baru saja dibicarakan pak Arseno
“Apa yang kamu lamunkan? Memangnya apa yang sudah dikatakan pak Arseno sampai kamu berpikir keras seperti itu?” Noey yang datang keruang Kenzie merasa penasaran dengan Kenzie yang terus saja melamun disofa dengan tubuh bersandar dan menatap langit-langit dikantornya.
“Dia ingin aku kembali berhubungan dengan Meisya” Kenzie menjawab dengan sikap yang datar.
“Lalu? Bukankah itu bagus? Kamu jadi bisa kembali bersama dengan gadis yang kamu cintai itu” Noey terlihat bingung dengan dahi yang berkerut .
bisa menerima hubunganku dengan murni. Bisa jadi kalau keluargaku mendengar apa yang dia minta, mereka juga akan bersikap dingin pada Meisya. Jadi sebaiknya diakhiri saja, demi kebaikan semuanya”.
Kenzie menjelaskan pada Noey mengenai segala pertimbangannya antara hubungannya dengan Meisya.
“Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Semua keputusan ada ditanganmu. Kamu pasti lebih tahu mana yang baik dan tidak untuk hidupmu sendiri. Tapi kuharap kamu tidak membuat keputusan yang bisa membuatmu menyesal dikemudian hari”
Kenzie tersenyum tipis mendengar perkataan Noey
“Sejak kapan kamu bersikap dewasa seperti itu? Benar-benar terdengar sangat aneh”
“Terserah kamu saja. Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan” Noey yang kesal langsung pergi meninggalan Kenzie sendiri
“Cih. Dia marah” Kenzie tersenyum tipis sambil berdecih kecil.
__ADS_1
***
Dinegara F, Kenzo dan Safira sedang membahas kepergian mereka ke negara A untuk menghadiri penikahan Risha dan Rendra.
“Sayang. Bukannya sebentar lagi Risha dan Rendra akan menikah? Apa kita akan pergi kesana bersama? Atau kita gunakan penerbangan yang berbeda?”. Safira bertanya pada Kenzo yang sedang sibuk dengan laptopnya sendiri
Kenzo menarik Safira dalam pelukannya dan membiarkan istri tercintanya itu bersandar di dadanya yang bidang.
“Untuk apa kita pergi dengan penerbangan terpisah? Ada Jet pribadi yang bisa kita gunakan, kenapa harus repot? Kita akan pergi bersama. Aku sudah mengungkapkan identitasku, jadi tidak masalah kalau sekarang terbongkar masalah pernikahan kita”
“Benarkah? Apa kamu yakin untuk membongkar hubungan kita sekarang? Ku kira kamu akan membiarkannya terbongkar sendiri tanpa perlu kamu ungkapkan”. Safira mengerucutkan bibirnya saat bicara, nadanya sedikit mengejek dan matanya menatap Kenzo penuh tanya karena menunggu jawaban darinya.
“Tentu saja aku yakin. Tidak akan ada masalah lagi jika aku ungkapkan hubungan kita. Justru itu lebih baik untuk menghalangi para lalat mendekatiku. Kecuali ... kamu memang tidak ingin hubungan kita diketahui oleh banyak orang karena popularitasmu sedang naik sekarang ini"
Safira tersenyum mencibir Kenzo yang berbalik menggodanya
“Tidak mungkin kalau aku tidak ingin hubungan kita diketahui hanya karena popularitasku sedang meroket. Bukankah polpularitasmu juga sedang naik setelah membuka identitasmu itu? Tapi yang jadi pertanyaanku disini ... kenapa lalat? Bagaimana bisa kamu menyamakan para gadis itu dengan lalat?” Safira bertanya dengan kepala menggeleng perlahan dan sedikit senyum mencibir.
“Tentu saja mereka seperti lalat yang akan dengan mudah berkerumun dan aku sangat tidak suka dengan hal itu” Kenzo sampai bergidik saat dia bicara, tentu saja itu membuat senyum Safira semakin lebar karena sang suami sangat tidak suka didekati oleh sembarangan wanita.
“Muach … sepertinya aku punya kekuatan sendiri sampai bisa membuat kamu yang tidak suka didekati oleh para gadis cantik menjadi sangat tergila-gila padaku” Safira mengecup sebelah pipi Kenzo sambil memuji dirinya sendiri.
“Ya … mungkin Karena kamu cantik?” Kenzo sedikit menggoda Safira saat dia sangat percaya diri dengan apa yang dikatakannya. Alhasil, Safira mengerucutkan bibirnya kesal pada Kenzo.
“Menyebalkan! Bukankah ada lebih banyak gadis yang lebih cantik diluaran sana?” Safira hendak memukul dada Kenzo, namun dengan cepat Kenzo meraih tangannya.
“Sayang. Mau secantik apapun para gadis itu ataupun kelebihan apapun yang mereka miliki, aku sudah jadi milikmu dan itu tidak akan merubah apapun karena janji suci pernikahan itu hanya satu kali. Kita sudah terikat oleh ikatan itu dan kita tidak aka bisa mengakhirnya dengan mudah. Apalagi jika kamu berniat ingin mengakhirinya. Jangan pikir kamu bisa melakukan itu”. Kenzo memegang dagu Safira dan bicara dengan raut wajah yang lembut.
“Aku akan pegang ucapanmu karena aku tidak mungkin melepaskan pria sepertimu begitu saja. Meskipun aku tak ingat bagaimana kita menghabiskan masa lalu. Tapi aku akan selalu mengingat masa depanku denganmu” Safira menyentuh lembut ujung hidung Kenzo dengan jemarinya disertai senyum lembut dibibirnya
“Tentu. Aku pastikan kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk melupakan masa depanmu denganku. Karena hanya ada aku yang ada dimasa depanmu”
__ADS_1