Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Ternyata Gunung Es Ini Raja Gombal


__ADS_3

Kenzo terus berjalan mendekati produser yang bernama Najim tersebut. Aura mengintimidasinya sunggu terasa. Sorot matanya sungguh tajam seperti elang yang siap memangsa dari kejauhan. Pak Najim dan Catherin pun saling menatap satu sama lain ketika Kenzo semakin mendekat padanya.


"Siapa sebenarnya kamu? Berani ikut campur urusan kami?!" Pak Najim masih bersikeras untuk berurusan dengan Kenzo dan menatapnya dengan sinis meskipun dia terus berjalan mundur saat Kenzo melangkah maju.


"Sudah ku bilang kalau aku pencabut nyawamu. Aku bisa menghabisi kamu saat ini juga jika kamu mengganggu wanitaku" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin dan tenang. Pak Najim terdiam tak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzo


"Zo, kamu sudah kembali? Kenapa kamu lama sekali?" Safira mendekati Kenzo dan bertanya dengan lembut. Sikapnya pun terlihat berbeda dengan sebelumnya. Safira yang tadi terlihat dingin dan sinis saat berbincang dengan Najim dan Catherin, kini terlihat ceria dan lembut saat menyapa Kenzo


"Maaf membuatmu menunggu lama. Apa mereka mengganggumu? Apa kamu terluka?" Ujar Kenzo dengan senyum lembut sambil membelai rambut Safira dan memperhatikan tubuhnya. Sorot matanya langsung berubah dalam hitungan detik saat dia melihat Safira kemudian menatap kembali pada Catherin.


"Tidak, hanya saling menyapa sebagai sesama public figur saja. Jika mereka berani menggangguku secara terang-terangan ... mungkin aku sudah membuat mereka  malu didepan umum sejak tadi" Safira menanggapi pertanyaan Kenzo dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut, matanya mendelik pada Catherin dan Najim seakan memperingatkan mereka berdua.


"Kalau begitu, kita pergi saja dari sini. Tidak penting meladeni sampah seperti mereka" Kenzo mendelik saat bicara pada Safira kemudian melingkarkan tangan dipinggangnya lalu melangkah pergi dari ballroom hotel untuk kembali ke kamar mereka.


Catherin dan Najim masih terus menatap punggung Safira dan Kenzo yang semakin menjauh


"Dia gadis yang cantik dan juga menarik. Sikapnya yang menolakku secara terang-terangan membuatku merasa semakin tertantang untuk mendapatkannya. Jadi aku ingin kamu berusaha mendapatkan dia untukku. Jika kamu berhasil, maka aku akan memberikan tempat sebagai pemeran utama dalam film yang aku produseri padamu" Najim bicara dengan senyum licik dibibirnya. Dia mendelik saat meminta Catherin mendekatkannya dengan Safira


"Benarkah? Anda serius dengan apa yang anda katakan pak?" Wajah Catherin langsung berbinar dan dia bertanya dengan begitu antusias saat Najim mengatakan kalau dia akan memberikan posisi sebagai pemeran utama.


"Aku serius. Asalkan kamu bisa membawa Safira padaku"


"Tentu saja. Itu bukan masalah besar untukku. Aku akan secepatnya membawa dia pada anda" Catherin pun langsung menyanggupi apa yang diminta Najim.


***


Beberapa saat kemudian Kenzo dan Safira baru saja tiba dikamar mereka, Safira terus saja mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan apa yang sebelumnya terjadi dipesta.


"Honey, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa mereka berdua itu? Apa kamu mengenal mereka?" Kenzo bertanya pada Safira setelah mereka berganti pakaian dan berbincang diatas tempat tidur.


"Yang perempuan itu namanya Catherin. Kak Mona bilang dia temannya Yulita dan hubungan kami memang tidak terlalu baik, tapi aku sama sekali tidak mengingatnya. Hanya saja sebelumnya aku pernah bertemu, itu tidak lama setelah aku melakukan konferensi pers. Kalau yang laki-laki ... tadi Catherin bilang kalau dia adalah seorang produser. Katanya aku juga pernah bekerja sama dengannya, tapi aku juga tidak tahu. Nanti akan aku tanya pada kak Mona"

__ADS_1


Safira menjelaskan dengan raut wajah murung dan sedih. Dia juga bingung dengan apa yang mereka katakan. Entah semua yang dikatakan itu benar atau bohong dia tidak mengetahuinya karena dia sama sekali tidak mengingat apapun


"Kenapa kamu termenung begitu?" Kenzo bertanya pada Safira yang ada dipelukannya


"Aku hanya penasaran dan bingung saja, apa yang mereka katakan padaku itu benar atau tidak. Aku sama sekali tidak bisa mengetahuinya karena aku tidak bisa mengingat apapun"


Safira menjelaskan dengan wajah sedih


"Kenapa itu harus membuatmu sedih? Kamu cukup waspada pada setiap orang yang bilang kalau kalian dekat. Terlepas dari benar atau tidaknya, kita tidak tahu apa niat mereka. Jika memang dia teman baikmu sebelumnya, maka dia sendiri akan mengerti dengan keadaanmu" Kenzo memberitahu Safira dengan sikap yang tenang dan lembut. Safira pun mengangguk mengerti disertai senyum lembut dibibirnya


"Zo, terimakasih ya. Sekarang aku sudah tenang. Jika tidak ada kamu, aku pasti akan sangat kebingungan"


"Tidak perlu berterimakasih. Aku ini kan suamimu"


"O iya Zo. Apa aku boleh minta bantuanmu?" Safira yang bersandar pada Kenzo langsung mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo


"Tergantung bantuannya. Memangnya apa yang kamu inginkan?" Kenzo bersikap tenang dan menunggu apa yang diinginkan Safira


"Bisakah kamu mencarikan informasi tentang Catherin dan pak Najim?" Safira bertanya dengan sorot mata penuh harap


"Hmn … ini sesuatu yang rumit" Kenzo terlihat bingung saat Safira mengatakan apa yang dia inginkan


"Rumit? Rumit bagaimana?" Safira pun mengernyitkan dahi bingung dengan tanggapan Kenzo


"Iya karena informasi itu tidak mudah, jadi kamu harus membayar untuk mendapatkan informasi itu" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang tanpa membuat Safira curiga


"Membayar? Berapa banyak uang yang harus aku keluarkan?" Safira memicingkan mata dan bertanya pada Kenzo


"Hmn … ini lebih mahal dari yang kamu bayangkan. Karena ini tidak bisa dibayar dengan uang" Safira semakin penasaran dengan apa bayaran yang dimaksud Kenzo


"Hah? Katakan saja apa bayarannya?" Ujar Safira yang semakin penasaran

__ADS_1


Kenzo mendekatkan bibirnya ke telinga Safira


"Kamu harus membayarnya dengan menghabiskan sisa hidupmu denganku. Maka aku akan melakukan semuanya untukmu"


Wajah Safira berubah merah dan tersipu malu mendengar apa yang Kenzo bisikan ditelinganya


"Penipu! Suka cari kesempatan!" Safira bicara dengan sinis dan matanya mendelik menatap Kenzo


"Bukan cari kesempatan. Aku hanya meminta imbalan yang setimpal dengan apa yang aku berikan" Kenzo bicara sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan


"Ya sudah nanti carikan iformasi yang aku butuhkan" Ujar Safira yang kesal


"Tidak perlu nanti, aku bisa mendapatkannya sekarang"


Kenzo bangkit dari tempat tidur dan beranjak mengambil laptop miliknya. Kenzo mulai menunjukan kemampuannya dalam mencari data. Safira memperhatikan tangan Kenzo yang menari dengan lincahnya diatas tuts keyboard laptop. Matanya tetap fokus pada laptop dan membaca data yang muncul disana. Tak perlu menunggu lama, informasi yang dibutuhkan tentang Najim pun muncul dilayar laptopnya.


"Ini informasi yang kamu butuhkan tentang Najim" Ujar Kenzo dengan senyum dibibirnya


Safira menatap tajam pada Kenzo. Dia mendelik kesal dan curiga


"Kamu menipuku? Kamu bilang ini masalah yang rumit dan tidak mudah dilakukan?" Tanya Safira dengan tatapan sinis


"Aku tidak menipumu. Ini memang rumit. Aku harus mengolah data dan mencari sandi yang cocok untuk bisa mengumpulkan data yang kamu inginkan. Kamu pikir ini mudah? Aku harus mengasah otakku dan juga menggerakkan jari tanganku dengan lincah agar semuanya bisa didapatkan dengan cepat"


Kenzo masih terus mencari alasan dengan apa yang dia katakan mengenai sulitnya mencari sebuah informasi


"Ya ya ya... aku percaya, percaya kalau kamu selalu memiliki seribu alasan untuk membenarkan apa yang kamu pikirkan" Safira menanggapi Kenzo dengan malas


"Itu namanya aku cerdik"


"Salah. Itu namanya kamu suka ngeles dan pandai bersilat lidah"

__ADS_1


"Ya jika tidak begitu, maka aku tidak bisa mendapatkan perhatianmu"


"Ternyata gunung es ini raja gombal!" Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya menanggapi Safira"


__ADS_2