Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kompaknya Kenzo Dan Risha Menindas Kenzie


__ADS_3

Kenzie pulang kerumah dengan tergesa-gesa mengingat hari ini Risha mengalami keccelakaan


"Sha! Risha! Zo!" Dia terus berteriak ketika masuk kedalam rumah


"Dimana Risha dan Kenzo?" Tanya Kenzie pada salah seorang pelayan yang berada disana


"Mereka ada di balkon lantai 2 tuan muda" Jawab pelayan itu dengan sopan


"Baik. Terimakasih" Kenzie pun langsung bergegas naik ke lantai 2 dan pergi kebalkon


"Sha!" Kenzo dan Risha langsung menoleh begitu mendengar teriakan Kenzie


"Kenapa kamu berteriak seperti itu? Seperti sedang berada di hutan saja" Kenzo menjawab Kenzie dengan sikap yang sinis


"Tidak peduli. Bagaimana lukamu Sha? Apa lukanya serius?" Kenzie mengabaikan ucapan Kenzo dan langsung mendekati Risha. Dia memegang dahinya yang sedikit di perban


"Aku tidak papa. Jadi... kamu khawatir padaku yah? Tadi kamu tidak seperti ini. Kamu bersikap acuh tak acuh padaku dan hanya menggodaku saja dengan menanyakan mobilku. Sekarang kamu sok perhatian padaku, aku jadi sedikit curiga dengan ketulusanmu" Risha bicara dengan sikap yang tenang kemudian dia bersikap acuh tak acuh pada Kenzie


"Kapan aku mengabaikanmu? Aku kan selalu sayang dan perhatian pada saudaraku ini. Jadi kamu tidak perlu mencurigaiku seperti itu. Oke oke?" Kenzie bicara pada Risha dengan senyum tipis dibibirnya sambil mencubit kedua pipinya


"Lepaskan aku! Zo, lihat saudara kembarmu ini. Dia malah menyakitiku padahal aku ini sedang terluka" Risha merengek manja pada Kenzo dan mengadukan Kenzie


"Ayolah Sha, jangan marah lagi. Percayalah kalau aku ini sangat sayang dan perhatian padamu" Kenzie berusaha meyakinkan Risha yang sedang marah padanya


"Baik, aku akan percaya padamu. Tapi dengan satu syarat" Risha menunjukkan senyum yang mencurigakan pada Kenzie sambil mengangkat satu jarinya. Kenzo yang sedang membaca buku hanya sedikit tersenyum melihat Kenzie dan Risha


Kenzie menoleh pada Kenzo terlebih dulu sebelum dia bertanya pada Risha


"Apa itu?"


"Seminggu ini kamu harus selalu menemaniku dan melakukan apapun yang aku minta" Kenzie yang sebelumnya tersenyum ramah kini menekuk wajahnya kesal


"Maksudmu ... aku harus menjadi pembantumu selama seminggu ini?" Tanya Kenzie berusaha memastikan maksud Risha


"Betul sekali. Kamu harus melakukan apa yang aku minta. Tidak ada bantahan maupun alasan apapun" Risha berkata dengan sikap yang tegas dan senyum tipis sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan. Kenzo yang mendengar percakapan Kenzie dan Risha hanya tersenyum ketika saudara kembarnya dikerjai Risha

__ADS_1


"Zo, kenapa kamu terus saja tersenyum melihat Risha menindasku? Katakan padanya kalau tadi siang itu aku tidak bermaksud menggodanya. Kamu tidak ingin membelaku? " Kenzie berusaha meminta dukungan dari Kenzo agar terhindar dari syarat yang diajukan Risha


"Sayangnya aku setuju dengan syarat yang diberikan Risha. Lagipula dia sedang terluka, kamu tidak ingin membantunya sampai dia sembuh? Tega sekali" Kenzo berkata dengan sikap yang tenang sambil memegang buku ditangannya. Dia duduk dengan bersandar pada sofa dan kaki disilang. Terlihat sangat elegan


Kenzie menatap sinis pada Kenzo dan Risha


"Dalam hal ini kalian selalu kompak ya? Sepertinya kalian sengaja ingin menindasku?" Ujar Kenzie dengan kedua tangan diletakkan dipinggang. Kenzo dan Risha menanggapinya dengan sikap acuh tak acuh sambil mengangkat kedua bahu bersamaan


***


Ditempat lain seorang pemuda baru saja turun dari motornya dengan setelan kemeja rapih dilengkapi long coat simpel dan memegang tas laptop di salah satu tangannya. Dia berjalan dengan gagahnya memasuki area kampus. Dan langsung bergegas ke ruang rektor .


Tok tok tok


"Selamat siang pak" Ujarnya karena pintunya tidak tertutup


"Oh pak Panji. Silahkan masuk!" Kata pak rektor yang memang mengundang Panji datang ke kampus


"Silahkan duduk pak"


"Bagaimana pak, apa anda sudah memikirkan tawaran saya? Saya sangat berharap anda bisa mengajar di kampus ini" Pak Rudi bicara dengan sikap yang tenang dan senyum tipis dibibirnya


"Ya, saya datang kemari untuk menerima tawaran dari anda pak. Saya senang bisa jadi salah satu bagian dari kampus terbaik di kota ini" Panji menjawab dengan sikap yang tenang


"Anda serius pak? Suatu kehormatan untuk saya karena pak Panji mau menerima tawaran saya sebagai salah satu pengajar disini" Panji hanya tersenyum menanggapi perkataan pak Rudi


"Kalau begitu, besok anda sudah bisa mulai mengajar kan?" Pak Rudi bertanya untuk memastikan Panji mulai mengajar


"Tentu pak. Tapi anda tahu kan kalau saya tidak hanya mengajar saja, jadi saya tidak bisa mengisi banyak mata kuliah" Ujar Panji dengan sikap yang tenang


"Tentu saja saya mengerti, seorang dokter muda seperti anda tentu memiliki banyak kesibukan. Saya juga tahu kalau anda sering diundang sebagai dosen tamu dan pembicara saat ada seminar"Pak Rudi memuji Panji yang selalu sibuk


"Anda terlalu berlebihan pak" Panji menanggapi dengan sikap tenang


"Kalau begitu selamat bergabung dengan kampus kami" Pak Rudi berdiri dari duduknya an mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Panji

__ADS_1


"Terimakasih. Kalau begitu, saya tidak akan menyita waktu anda lebih banyak lagi. Saya permisi" Ujar Panji sambil menyambut uluran tangan pak Rudi


"Ya, hati-hati dalam perjalanan anda" Panji menganggukkan kepala dan berbalik pergi meninggalkan kantor pak Rudi.


Banyak mata tertuju pada Panji ketika dia keluar dari kantor pak Rudi


"Siapa pria itu? Apa itu mahasiswa baru?"


"Tidak mungkin. Aku dengar akan ada dosen baru yang menggantikan dosen yang baru keluar sebelumnya. Mungkin itu dosen baru kita?"


"Jika dia memang dosen baru, aku pasti akan selalu hadir dikelasnya. Aku tidak akan pernah bolos kelas"


"Kamu benar. Aku pasti akan sangat semangat mengikuti kelasnya"


Meskipun Panji menyadari kalau banyak yang berbisik di belakangnya, namun dia tetap melangkahkan kaki dengan tenang dan mengabaikan semua orang yang membicarakannya


Drrt drrt drrt


Saat Panji hendak menggunakan helmnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Tertulis dilayar ponselnya nama "Mama"


"Halo" Panji menyapa dengan nada yang sopan


"Panji, kapan kamu akan pulang kerumah mengunjungi mama? Sudah cukup lama kamu tidak pulang kerumah" Terdengar suara sang ibu yang bertanya pada Panji mengenai kepulangannya


"Aku belum tahu mah. Nanti saat tidak ada jam mengajar dan jadwal seminar, aku akan pulang dan mengunjungi mama"


"Kamu selalu saja mengatakan itu, tapi sudah lama kamu tidak pulang kemari. Rasanya anak mama ini lebih sibuk dari seorang artis" Sang ibu bicara dengan nada menggoda


"Ma, aku memang sibuk. Nanti saat jadwalku senggang aku pasti akan pulang" Panji berusaha meyakinkan sang ibu kalau dia akan pulang


"Baguslah. O iya, temanmu yang bernama Luki itu beberapa hari yang lalu pulang kerumahnya. Dia membawa serta pacarnya, kamu sendiri kapan akan mengenalkan pacarmu?" Lagi-lagi ibu Panji bicara dengan nada menggoda


"Mah, aku pergi dulu ya. Aku harus pergi ke kampus lain untuk seminar. Sampai jumpa mah, nanti aku hubungi lagi"


"Eeh eh" Belum selesai Ibunya bicara, Panji langsung mematikan ponselnya

__ADS_1


"Haah, selalu saja pacar. Sungguh menyebalkan" Gumam Panji setelah menutup teleponnya


__ADS_2