Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sikap Aneh Safira


__ADS_3

"Aku sudah mendapatkan hasil pemeriksaan Ilana. Mereka bilang Ilana baik-baik saja dan tidak perlu dirawat disana, hanya perlu konsultasi secara rutin saja" Pak Rudi sedang menghubungi Rendra untuk memberitahu kalau Ilana sudah melakukan konsultasi dan dia ingin agar pengajuan pinjamannya ke bank segera dikabulkan


"Baik. Aku akan segera urus pinjaman kalian ke bank. Tidak butuh waktu lama. Mungkin besok akan langsung dapat kabar baik dari bank" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang


"Terimakasih. Saya menunggu kabar baiknya" Pak Rudi tersenyum lega setelah mendapat kabar dari Rendra


"Ya" Mereka langsung mengakhiri panggilan telepon setelah selesai bicara.


Setelah itu pak Rudi kembaliĀ  mendial nomor di layar ponselnnya dan menghubungi orang lain


"Aku punya pekerjaan untuk kalian. Aku ingin kamu menyingkirkan pemuda bernama Kenzo dan Rendra. Jangan sampai meninggalkan jejak apapun!" Ujar Pak Rudi memberikan perintah. Setelah bicara dia langsung menutup kembali panggilan teleponnya


"Kenzo, Rendra, aku tidak punya urusan dengan kalian, tapi kalian membuat putriku harus melakukan pemeriksaan di psikiater, bahkan kalian ingin agar Ilana dirawat dirumah sakit jiwa. Aku tidak akan membiarkan kalian begitu saja. Lagipula kalian berdua terlalu bahaya untukku karena bisa mengancam bisnisku kapan saja" Gumam pak Rudi dengan sorot mata yang tajam dan senyum tipis dibibirnya


***


"Bagaimana Ren? Apa kamu sudah mengurusnya?" Kenzo sedang menghubungi Rendra karena saat ini dia sedang kuliah


"Tentu, katanya dia sudah melakukan pemeriksaan dan mereka memintaku untuk mengurus masalah pinjaman bank itu" Rendra menjelaskan dengan sikap yang tenang sambil menikmati secangkir kopi di balkon rumah Kenzo


"Kalau begitu kamu sudah harus berhati-hati. Mungkin pak Rudi akan mengirim hadiah perpisahan pada kita" Rendra langsung membelalakkan mata terkejut mendengar peringatan Kenzo yang terdengar dingin itu


"Nada bicaramu terdengar sangat menyeramkan. Bisa tidak kamu bicara dengan bahasa manusia normal?" Rendra bertanya dengan nada mengejek dan sinis


"Memang apa yang salah? Kan bisa saja jadi hadiah perpisahan dari pak Rudi sebelum dia masuk penjara? Kamu pikir perpisahan apa? Kematian? Gila kamu?!" Kenzo tetap menanggapinya dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh


"Aku tahu. Tapi, kata 'hadiah perpisahan' itu selalu diartikan dengan ucapan selamat tinggal menuju kematian. Kamu bicara terkesan mendoakan aku agar mati" Rendra kembali menanggapi ucapan Kenzo dengan serius

__ADS_1


"Ah sudahlah, aku harus segera ke restoran. Kamu juga harus cari kerja, jangan hanya jadi benalu dengan numpang hidup padaku saja!" Ujar Kenzo dengan nada sinis


"Kamu ya! Tut tut tut. Zo, Zo! Haah dia selalu saja begitu. Aku belum selesai bicara langsung dimatikan saja!" Rendra menggerutu karena Kenzo mematikan teleponnya begitu saja padahal dia belum selesai bicara


***


Ditempat lain Safira sedang bersama dengan Tiara


"Kak Safira, ada apa denganmu? Aku lihat selama hampir seminggu ini kamu selalu murung, apa kamu sakit? Atau kamu punya masalah?" Tiara bertanya pada Safira yang tidak banyak bicara dan tidak ***** makan. Dia hanya memainkan makanan di hadapannya.


"Aku baik-baik saja. Hanya sedang kurang semangat, itu saja" Jawab Safira dengan nada yang sedikit malas sambil terus mengaduk makanan dalam piringnya


"Rupanya begitu. Kak Fira, sebenarnya kenapa kita selalu datang kesini? Kamu selalu mengajak makan siang disini, tapi ***** makanmu bahkan tidak ada. Apa ada sesuatu dengan tempat ini?" Tiara sangat penasaran karena Safira selalu makan siang direstoran ini selama hampir satu minggu terakhir, namun dia hampir tidak memakan makanan yang dia pesan


Saat ini mereka sedang makan direstoran tempat Kenzo bekerja. Safira memesan ruangan yang selalu dia gunakan saat datang kemari. Dia terus menoleh ke arah pintu masuk setiap kali ada waitress yang datang untuk melayaninya. Safira selalu makan disini dan berharap bisa kembali melihat Kenzo berjalan masuk dari pintu itu. Dia tidak berani menghubungi Kenzo secara langsung karena malu


"Sepertinya dia masih belum masuk kerja? Apa keadaan saudaranya sangat parah ya sampai dia membutuhkan waktu lama untuk pulang dan menemaninya?" Safira terus berpikir sambil menatap kosong pada kaca jendela yang mengarah keluar. Sebelah tangan yang menyangga dagu dan raut wajah sedih juga tatapan mata yang kosong membuat Safita terlihat menyedihkan.


"Masuk!" Tiara memberikan izin masuk karena Safira sama sekali tidak merespon setelah mendengar suara ketukan pintu. Dia terus saja menatap ke luar jendela


"Permisi, apa masih ada yang anda butuhkan? Saya mengantarkan salad yang biasanya dipesan"


Safira langsung menoleh setelah mendengar suara yang terdengar familiar ditelinganya. Dia menatap tak percaya melihat pemuda yang berdiri didepannya itu. Kemudian secara perlahan kedua ujung bibirnya naik keatas membentuk senyuman yang sangat indah.


Disana berdiri Kenzo dengan seragam restoran dan nampan berisi salad buah yang selalu dipesan Safira. Senyum tipis tersungging diwajahnya yang tampan.


"Ya ampun, bagaimana bisa ada pemuda setampan ini?" Batin Tiara memuji setelah melihat Kenzo yang berdiri dihadapannya. Dia terus menatap Kenzo bahkan tanpa berkedip sekalipun

__ADS_1


"Hai, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Tanya Kenzo dengan sikap yang tenang


"Zo, kamu sudah kembali? Kapan kamu sampai disini?" Wajah Safira yang sebelumnya terlihat murung kini terlihat sangat cerah dengan senyum yang manis dibibirnya


"Ya, aku baru sampai kemarin" Jawab Kenzo singkat


"O iya, bagaimana keadaan saudaramu? Apa lukanya serius sampai kamu cukup lama berada disana?" Safira berusaha mengorek informasi mengenai Kenzo yang cukup lama pulang


"Sekarang dia sudah lebih baik. Kakinya sudah semakin pulih dan tidak perlu menggunakan kursi roda. Meskipun begitu dia masih harus menggunakan tongkat untuk sementara waktu" Safira menganggukkan kepala mendengar penjelasan Kenzo.


Tiara yang tidak mengerti apa-apa hanya diam dengan sesekali menatap Kenzo juga Safira secara bergantian dengan raut wajah bingung


"Oh Iya, ini Tiara, dia asistenku" Safira memperkenalkan Tiara setelah menyadari ekspresi wajah Tiara yang kebingungan


"Saya Kenzo, senang bertemu denganmu" Kenzo mengulurkan sebelah tangannya dan menyapa Tiara dengan senyum tipis dan nada bicara yang datar


"Sa-saya Tiara" Tiara menyambut uluran tangan Kenzo dengan sikap yang terlihat gugup


"Kalian lanjutkan saja dulu makan siangnya. Masih banyak pengunjung yang harus aku layani dibawah" Ujar Kenzo yang hendak kembali untuk melayani tamu lain


"Baiklah. Selamat bekerja" Safira menanggapi Kenzo dengan senyum manis disertai anggukan kepala. Dia terus tersenyum menatap Kenzo yang telah menghilang dibalik pintu.


"Kak Fira... Apa kamu baik-baik saja? Apa kita perlu pergi kerumah sakit?" Safira yang sebelumnya terus menatap pintu, langsung menoleh pada Tiara setelah mendengar ucapannya


"Kenapa? Aku tidak merasa sakit" Jawab Safira yang kini kembali ceria


"Kamu yakin? Padahal aku kira kamu mulai gila. Tadi kamu murung dan terlihat menyedihkan, sekarang kamu terus saja tersenyum meskipun hanya menatap pintu. Sikap kak Safira benar-benar aneh" Tiara bicara pada Safira dengan nada yang menggoda

__ADS_1


"Berhenti menggodaku! Cepat makan! Tidak enak jika makanannya sudah dingin" Safira mengalihkan pembicaraan sambil menyuap makanan kedalam mulutnya


"Sepertinya ini memang sudah dingin" Jawab Tiara yang juga mulai makan. Safira tidak menanggapi ucapan Tiara dan tetap makan sambil tersenyum sendiri


__ADS_2