Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Masalah Keluarga Wiguna


__ADS_3

"Pak Berly! Pak Berly!"


Asisten Berly berteriak setelah melihat banyak wartawan yang berdiri didepan rumahnya


"Kenapa kamu berteriak seperti itu?!" Berly yang tidak tahu apa-apa bertanya pada asistennya dengan raut wajah kesal karena merasa terganggu


"Gawat pak. Banyak wartawan yang berkumpul didepan gerbang. Mereka terus menanyakan kebenaran tentang kabar nona Marina yang masuk rumah sakit jiwa" Asisten Berly menjelaskan dengan panik dan tergesa-gesa


"Apa?!! Darimana mereka tahu kalau Marina masuk rumah sakit jiwa?" Berly nampak terkejut, panik dan juga bingung setelah mendengar perkataan sang asisten


"Anu pak … itu … ada sebuah postingan anonim yang mengatakan kalau putri dari pengusaha tambang dibawa kerumah sakit jiwa. Dan dalam postingan itu juga ada … foto nona Marina saat dibawa oleh perawat rumah sakit"


Asisten Berly terlihat ragu saat mengatakan postingan itu. Dia tahu betul kalau atasannya pasti akan marah


"Apa?! Bagaimana bisa foto itu sampai bocor keluar?! Aku harus tanya Arseno. Dia yang mengadakan pesta waktu itu!" Berly langsung meraih ponsel disakunya untuk menghubungi ayah Meisya


Tuut tuut tuut


"Halo pak Berly. Apa kabar?" Terdengar dari ujung telepon suara pak Arseno yang tenang dan berwibawa


"Halo pak Arseno. Kabar saya Baik. Terimakasih" Berly menjawab dengan sopan dan tenang


"Ada apa pak Berly menghubungi saya? Tumben sekali" Pak Arseno bertanya dengan senyum tipis dibibirnya


"Saya ingin menanyakan perihal pesta anda saat itu"


Dahi pak Arseno berkerut mendengar ucapan pak Berly


"Ya, apa yang ingin anda tanyakan?" Sahut pak Arseno menanggapi


"Apa saat itu anda mengundang wartawan?" Tanya pak Berly dengan nada serius


"Tidak. Anda tahu sendiri kalau saya tidak pernah mengundang wartawan saat pesta" Pak Arseno menjawab dengan sikap yang tegas


"Benarkah? Lalu dari mana foto itu berasal?" Gumam pak Berly yang sedang kebingungan


"Entahlah. Mungkin ada tamu yang mengambil foto saat Marina dibawa oleh perawat rumah sakit. Saat itu kan sedang pesta, jadi banyak orang yang menyaksikan itu" Pak Arseno menjelaskan dengan sikap yang tenang


"Anda benar. Mungkin ada seseorang yang menyebarkan foto itu" Berly terdengar murung dan sedih ketika memikirkan kemungkinan itu


"Pak Berly, apa anda baik-baik saja?" Tanya pak Arseno khawatir


"Ya saya baik-baik saja. Hanya saja saya tidak tahu bagaimana masalah ini bisa terjadi"


"Saya mengerti. Mungkin seharusnya sejak awal anda membawa Marina kerumah sakit. Jika sejak awal anda melakukan itu, Marina tidak akan membuat keributan dihadapan banyak orang sampai membuat anda malu" Pak Arseno berusaha mengingatkan agar Berly menyadari kesalahannya dan bukan menyalahkan orang lain


"Marina baik-baik saja. Dia memang tertekan karena kuliahnya. Tapi saya yakin kalau putri saya tidak gila. Tidak mungkin putri seorang Berly Wiguna mengalami gangguan kejiwaan" Berly bersikeras kalau putrinya tidak gila


"Tapi pak Berly …"

__ADS_1


"Pak Arseno, terimakasih sudah perhatian pada putri saya, tapi saya mengenal dia. Saya tidak mungkin salah tentang putri saya sendiri. Tidak mungkin saya membiarkan nama baik keluarga saya tercemar dengan membiarkan putri saya dirumah sakit jiwa. Sampai jumpa" Berly yang kesal langsung menyela pak Arseno sebelum dia selesai bicara, setelah itu dia menutup teleponnya begitu saja


"Pak Berly harus anda mengkhawatirkan putri anda. Bukan Reputasi anda" Gumam Pak Arseno setelah menutup telepon Berly


***


Hari ini Kenzo dan Safira kembali ke negara F setelah Safira dinyataan sembuh, namun dia masih harus menjalani pemeriksaan setiap 1 bulan sekali untuk memastikan pemulihannya berhasil.


"Aku akan mengantarkan kalian ke rumahmu terlebih dahulu. Tiara, nanti kamu bisa buat konferensi pers untuk memberitahukan kondisi Safira. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak melakukan ini. Entahlah, masih ada yang ingin bekerja sama dengannya atau tidak. Setidaknya kita harus mengantisipasi isu kalau Safira bersikap sombong karena tidak mengenal siapapun"


Kenzo menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Tiara untuk membantu Safira. Dia khawatir karena sekarang Safira tidak mengenal siapun kecuali Tiara dan dirinya.


"Ya kak, aku mengerti. Aku akan lakukan apa yang kak Kenzo katakan. Aku juga akan menjelaskan pada kak Mona mengenai kondisi kak Safira. Aku belum menjelaskan semuanya karena menurutku akan lebih baik kalau kak Mona tahu secara langsung. Bukan melalui telepon" Tiara bicara sambil mengangguk setuju dengan apa yang telah diatur oleh Zo


"Baguslah. Setelah ini aku harus kekantor terlebih dulu. Besok kita akan mengunjungi kakek dan nenekmu untuk membicarakan pernikahan kita. Aku juga akan menghubungi orang tuaku agar mereka segera datang kemari" Zo bicara dengan lembut pada Safira


"Emn ... Zo, bagaimana kalau mereka tidak setuju? Sebaiknya kita tidak terlalu buru-buru. Lagipula aku harus beradaptasi dengan keadaan ini. Aku tidak tahu apapun, sebaiknya aku mempelajarinya terlebih dahulu agar aku tidak merasa canggung"


"Apa kamu masih ragu padaku?" Kenzo bertanya dengan senyum tipis dibibirnya


"Tidak ... aku ... hanya saja ..."Safira tampak ragu dengan kepala tertunduk sambil memainkan kedua tangannya sendiri.


"Dengarkan aku! Kamu memang tidak ingat padaku, tapi aku  tahu betul seperti apa kamu. Meskipun kamu tidak ingat, tapi kita pernah membahas ini sebelum kamu operasi dan aku akan mewujudkan itu. Akan kulakukan seperti apa yang telah kita sepakati sebelum kamu kehilangan ingatanmu"


Kenzo bicara dengan sikap yang tegas namun tetap terdengar lembut karena ada senyum tipis dibibirnya


"Bagus. Ayo pergi!"


Kenzo pun mengantarkan Safira dan Tiara ke rumah Safira. Dia berencana untuk langsung ke kantor karena masalah Sheila yang runyam dan tidak juga selesai


***


Beberapa saat kemudian di kantor Kenzo


"Kamu sudah kembali Zo? Kenapa tidak menghubungi om? Om bisa menjemputmu dibandara" Pram bicara dengan ekspresi terkejut saat melihat Kenzo yang kini berdiri didepan meja kerjanya


"Tidak perlu om. Lagipula aku harus mengantarkan pacarku lebih dulu sebelum kemari"


Kenzo menjawab dengan sikap acuh tak acuh sambil berlalu pergi menuju ruangannya. Pram mengikuti Kenzo dari belakang


"Bagaimana perkembangan kerjasama dengan perusahaan Wiguna?" Kenzo bertanya setelah dia berada diruangannya


"Tidak ada perkembangan sama sekali. Sheila Wiguna bersikeras menandatangani kerjasamanya setelah kamu kembali" Pram menjelaskan dengan raut wajah frustasi sambil menggelengkan kepala


"Sebenarnya apa yang dia inginkan sampai terobsesi padaku? Benar-benar aneh. Rasanya aku tidak mengenalnya sama sekali" Kenzo menggerutu kesal karena tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Sheila


"Entahlah, om juga tidak tahu kenapa dia seperti itu. Dia bersikeras tidak membahas kerjasama sampai kamu kembali" Pram pun menanggapi dengan gelengan kepala dan kedua bahu diangkat bersamaan


"Baiklah. Sekarang om bisa beritahu dia kalau aku sudah kembali. Kita lihat apa yang dia inginkan"

__ADS_1


"Baik"


Pram beranjak pergi meninggalkan ruangan Kenzo. Sedangkan Kenzo, dia langsung menghubungi Noey begitu Pram keluar dari ruangannya


Tuut tuut tuut


Cukup lama Kenzo menunggu sampai Noey menerima telepon darinya


"Halo"


"Halo Noey. Apa kamu sudah mendapatkan sesuatu dari Sheila Wiguna?" Kenzo langsung bertanya begitu dia mendengar suara Noey dari seberang telepon


"Aku belum mendapatkan informasi penting tapi ada sesuatu yang perlu kamu tahu"


"Hmn... apa itu?" Kenzo terdengar penasaran dengan apa yang akan dikatakan Noey padanya


"Keluarga Wiguna juga sedang bermasalah dengan saudara kembarmu" Noey bicara dengan senyum tipis dan nada yang terdengar sangat tenang


"Kenzie? Ada apa dengannya?"


"Adik Sheila Wiguna membuat masalah dengan Kenzie, jadi dia memasukkannya ke rumah sakit jiwa dan tidak membiarkannya keluar dari sana tanpa izin dari Zie"


"Sepertinya Zie sangat kesal sampai berbuat begitu" Kenzo tersenyum mendengar ucapan Noey, mengingat kalau Kenzie hanya akan mengambil tindakan jika dia sudah sangat marah


"Sepetinya begitu. Ku dengar gadis bernama Marina itu tidak hanya membuat keributan saat pesta, tapi juga menyinggung Kenzie dan pacarnya saat berada di sebuah butik" Noey menjelaskan informasi yang dia dengar sebelumnya pada Kenzo


"Hemn ... apa kamu sudah mengambil tindakan?" Kenzo kini terdengar serius bertanya pada Noey


"Aku hanya membuat postingan anonim untuk memancing mereka saja. Tapi sejauh ini mereka belum melakukan apapun" Noey menanggapi dengan sikap yang tenang


"Oh biarkan saja. Kita tinggal tunggu saja apa yang akan mereka lakukan selanjutnya" Kenzo kembali menanggapi dengan sikap yang dingin


"Apa kamu sudah kembali ke negara F?" Kini Noey mengalihkan pembicaraan mereka


"Ya, aku baru saja kembali. Apa kamu merasa nyaman bekerja dengan Zie?" Kenzo bertanya dengan sikap acuh tak acuh


"Hmn … entahlah. Yang jelas aku hanya melakukan apa yang kamu minta"


"Tidak punya pendirian. Tapi … baguslah jika kamu masih setia padaku" Kenzo kembali menanggapi dengan sikap dingin


"Harusnya kamu berterimakasih padaku karena aku masih setia padamu meskipun kamu selalu mengabaikanku" Noey kini terdengar kesal karena sikap Kenzo padanya


"Harusnya kamu yang berterimakasih padaku karena aku masih menggunakanmu sebagai orang kepercayaanku" Zo menanggapi dengan sikap dingin


"Kamu …! Tut tut tut"


"Zo …! Zo …! Dasar gunung es kurang ajar! Bisa-bisanya dia langsung menutup teleponnya begitu saja! Awas saja. Aku tidak akan membantumu lagi!"


Kenzo menutup telepon Noey begitu saja sebelum dia selesai bicara. Akibatnya Noey terus menggerutu kesal pada Zo

__ADS_1


__ADS_2