
Saat ini pak Rudi sedang berbicara dengan Ilana untuk membahas apa yang diinginkan Kenzo
"Apa yang papa katakan?! Aku tidak gila! Untuk apa aku melakukan pemeriksaan ke psikiater?" Ilana berteriak saat pak Rudi memintanya untuk pergi ke psikiater dan melakukan pemeriksaan agar pabrik tas miliknya bisa mengajukan pinjaman ke bank untuk tambahan biaya operasional pabrik yang saat ini sangat mereka butuhkan
"Ilana, sayang. Papa tahu itu. Papa hanya meminta kamu melakukan pemeriksaan saja. Itu adalah syarat yang diminta kedua pemuda itu untuk penyetujuan pinjaman kita. Itu hanya formalitas saja jadi tidak akan ada apa-apa. Papa janji padamu" Pak Rudi menenangkan Ilana dan meyakinkannya sambil memegang kedua bahu Ilana.
"Tapi pah. Aku tidak ingin menemui psikiater. Aku sama sekali tidak gila!" Dengan mata berkaca-kaca, Ilana berusaha meyakinkan sang ayah kalau dia tidak gila
"Papa tahu. Tentu papa tahu, tapi ini menyangkut masa depan pabrik kita yang disini. Jika kamu tidak mau melakukan ini, maka pabrik kita tidak mungkin bisa tertolong" Ujar pak Rudi yang terus berusaha meyakinkan Ilana
"Tapi pah ..." Ilana merengek manja agar ayahnya tidak membawanya ke psikiater
"Memangnya siapa sih pria kurang ajar yang mengatakan aku gila? Awas saja kalau aku sampai bertemu dengannya! Aku akan membuatnya menyesal!" Kini Ilana berteriak kesal karena syarat yang diminta untuk penyetujuan pinjaman sang ayah itu. Dia terus mengumpat orang yang mengajukan syarat pada ayahnya
"Papa tidak kenal. Tapi mereka bernama Kenzo dan Rendra" Pak Rudi menjawab Ilana dengan sikap yang tenang sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Apa pah? Kenzo?!" Awalnya Ilana cukup terkejut, namun sesaat kemudian dia tersenyum mendengar kalau orang itu adalah Kenzo
"Iya, Kenzo. Kamu mengenalnya? Memangnya kamu buat masalah apa dengan dia? Sepertinya dia bukan orang sembarangan karena bisa mempengaruhi keputusan bank ternama?" Pak Rudi terlihat bingung saat membicarakan mengenai Kenzo
"Sepertinya juga begitu pah. Saat aku masih SMP aku satu sekolah dengan saudara kembarnya dan aku pernah datang kerumah mereka. Rumahnya sangat besar seperti istana pah. Banyak pengawal yang berjaga disana, tapi aku tidak tahu dia itu keluarga siapa dan sekarang, Kenzo kuliah disini dengan bantuan beasiswa. Sepertinya itu semua palsu kan pah? Tidak mungkin mahasiswa biasa yang menggunakan beasiswa bisa dapat dukungan dari bank, iya kan pah? Lagipula dengan rumah mewah yang dulu dia tempati itu, mana mungkin dia bangkrut, tentu hartanya pasti sangat banyak" Ilana terlihat sangat ceria saat dia mengutarakan apa pendapatnya mengenai Kenzo
"Benar. Tidak mungkin seorang mahasiswa yang melanjutkan sekolah dengan beasiswa saja bisa mempengaruhi keputusan bank. Apa lagi bank besar. Pasti ada identitas lain dibalik namanya" Pak Rudi pun ikut menduga-duga mengenai identitas Kenzo
"Pokoknya kamu harus melakukan pemeriksaan dulu sampai papi mendapat persetujuan pinjaman dari bank. Nanti kita pikirkan lagi apa yang kita lakukan setelahnya. Kamu tidak perlu khawatir karena papa tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padamu"
__ADS_1
"Baik aku setuju, tapi ini hanya pemeriksaan saja. Aku tidak mau sampai harus tinggal dengan orang-orang yang tidak waras itu!" Ilana menyetujui apa yang dikatakan sang ayah
"Bagus. Kamu memang putri papa yang bisa diandalkan. Papa akan mengatur jadwalnya dan kamu tinggal pergi kesana. Setelah laporan pemeriksaan itu keluar, dan pinjaman pada bank telah disetujui, papa akan buat perhitungan dengan pemuda itu karena membuatmu pergi kerumah sakit jiwa! Papa tidak akan melepaskan mereka begitu saja!" Pak Rudi bicara dengan penuh tekad dan keseriusan dalam sorot matanya
"Terimakasih pah"
***
Malam harinya Kenzo sedang melakukan video call dengan Kenzie dan Risha
"Sha, bagaimana keadaanmu?" Tanya Kenzo saat mereka baru mulai melakukan video call
"Aku sudah lebih baik sekarang. Kakiku juga sudah lebih baik. Sekarang aku bisa jalan dengan menggunakan tongkat" Risha menjawab dengan senyum ceria
"Benarkah? Baguslah kalau begitu" Kenzo pun menanggapi Risha dengan raut wajah bahagia
"Kuliah? Kamu yakin kalau kakimu sudah lebih baik untuk bisa pergi kuliah?" Kenzo bertanya dengan wajah khawatir dan sedikit ragu-ragu
"Tentu, aku sudah konsultasi dengan terapuli sebelumnya. Lagipula ada Kenzie yang akan menjagaku" Risha berusaha meyakinkan Kenzo kalau keadaannya sudah jauh lebih baik
"Hah, lupakan Kenzie. Dia tidak pernah becus menjagamu!" Kenzo bersikap acuh tak acuh mendengar dari Risha kalau dia mengandalkan Zie untuk menjaganya
"Zo, apa maksudmu itu? Memangnya selain aku, siapa lagi yang bisa menjaga Risha? Memang kamu pernah menjaganya? Seperti kamu selalu ada untuknya saja!" Kenzie tidak terima dengan ucapan Kenzo yang menyalahkannya, jadi dia menjawab dengan nada yang sinis
"Memang kamu yakin bisa menjaganya tanpa terluka lagi?" Tanya Kenzo dengan nada yang menantang
__ADS_1
"Tentu saja. Aku bisa menjaganya tanpa terluka" Zie menanggapinya dengan sorot mata yang penuh tekad
"Baik kalau begitu. Aku pegang ucapanmu!"
"Tentu saja! Kamu bisa mempercayakannya padaku. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan permainanmu dengan Ilana? Apa masih ingin main-main?" Tanya Kenzie dengan senyum menyeringai, mengingat kalau sebelumnya Kenzo bilang kalau dia akan membalas Ilana
"Tidak akan lama lagi. Aku meminta ayahnya untuk membawa Ilana ke rumah sakit jiwa dan diperiksa. Tapi ternyata ...." Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya tanpa melanjutkan kalimatnya
"Ternyata apa? Bicara yang jelas! Jangan setengah-setengah seperti itu!" Risha yang mendengarkan pun penasaran dan bertanya dengan sikap yang sinis
"Ternyata ayahnya tidak sebaik yang aku pikirkan. Awalnya kupikir akan memberinya keringanan karena ayahnya baik. Tapi setelah aku meninggalkan ruangan ayahnya, aku mendengar kalau dia memiliki niat yang licik padaku" Zo terlihat sangat serius saat menceritakan kejadian yang dialami saat bertemu pak Rudi
"Niat yang licik? Apa maksudmu?" Risha kembali dibuat penasaran dengan ucapan Kenzo
"Dia akan berusaha mencelakaiku setelah pengajuannya pada bank dinyatakan berhasil
"Kamu kata siapa? Lagipula, bagaimana dia bisa mencelakaimu?" Tanya Risha dengan memicingkan matanya
"Saat aku berada diruang pak Rudi , aku menempelkan penyadap disalah satu kursinya. Dan ketika aku dan Rendra meninggalkan kantornya ... Aku dengar mereka berniat melukaiku, bagaimana pun caranya" Kenzo bercerita dengan wajah tenang dan senyum tipis
"Lalu, apa yang akan kalian lakukan sekarang?!" Tanya Risha dengan raut wajah penasaran
"Tentu saja aku akan ikuti permainannya mereka. Dan pada akhirnya... Ilana memang benar-benar akan masuk rumah sakit jiwa" Kenzie tersenyum bahagia mendengarnya
"Kamu akan membiarkan dia mencelakaimu?!" Risha kini bertanya dengan raut wajahnya yang kesal dan nada bicara yang sinis
__ADS_1
"Tentu saja iya. Aku akan jadi umpan empuk yang membuat mereka berdua masuk lagi ke dalam masa yang suram. Ini hanya untuk sekedar umpan balik saja!. Aku ingin mendapatkannya setelah sekian lama membiarkan dia hidup bebas. Jadi biarkan saja mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Sebelum nantinya mereka hanya bisa menghabiskan waktu dipenjara seumur hidup mereka!"