Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kondisi Safira Drop


__ADS_3

Safira sedang beristirahat sambil menunggu dokter yang akan memeriksanya datang.


"Ra, apa kamu lelah? Sejak kemarin kamu belum beristirahat denan benar. Lebih baik sekarang kamu pergi istirahat dulu saja" Safira bicara pada Tiara dengan suara yang terdengar lemah sambil berbaring ditempat tidurnya. Meskipun baru beberapa hari dirawat dirumah sakit, berat badan safira terlihat turun drastis. Wajahnya sagat pucat dengan pipi yang semakin tirus.


"Aku tidak papa. Kak Safira tidak perlu khawatir padaku. Cukup perhatikan kesehatan kak Safira saja" Tiara bicara dengan nada yang lembut sambil menyelimuti tubuh Safira.


"Terimakasih karena kamu mau merawatku. Jika tidak ada kamu, mungkin aku akan sendirian disini" Safira menunjukkan senyum yang manis dengan wajahnya yang pucat


"Tidak perlu bicara seperti itu. Aku merasa aneh mendengarnya" Tiara bicara dengan sedikit acuh tak acuh


"Kak Safira, apa kamu tidak memberitahu kak Zo kalau besok kamu akan operasi?" Tiara duduk disamping Safira dan menunggu jawabannya dengan raut wajah penasaran.


Safira menggelengkan kepala pelan dengan senyum ketir dibibirnya


"Dia sedang sibuk karena baru mengambil alih perusahaan ayahnya. Jika aku memberitahu dia, sudah pasti dia akan langsung datang kesini. Aku tidak mau itu"


"Tapi ... bukannya kak Kenzo bilang kalau dia akan datang saat kak Fira operasi?" Tiara sedikit ragu saat bicara pada Safira tapi dia takut jika nanti Kenzo akan marah jika tidak memberitahu tanggal operasi Safira


"Tidak perlu beritahu dia. Nanti saja beritahu dia saat aku sudah sembuh. Aku ingin memberikan kejutan padanya dengan menemuinya saat aku pulih" Safira menceritakan apa yang dia bayangkan sambil tersenyum dan mata seakan membayangkan saat itu terjadi.


Cukup lama Tiara terdiam sambil menatap wajah Safira yang tersenyum


"Baiklah, aku tidak akan memberitahu kak Kenzo. Tapi kak Safira harus janji, kalau kakak akan pulih dan aku bisa jadi asisten kakak lagi. Aku sangat rindu melihat kak Safira berakting lagi. Semua penggemar kak Fira juga pasti sangat merindukan kak Safira. Sebenarnya aku ingin memceritakan kondisi kak Fira pada fans, tapi kak Fira juga melarangku"


Raut wajah Tiara terlihat sedih. Dia menundukkan kepala berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh dan membuat Safira sedih


"Tiara, aku senang banyak orang yang mendukungku. Aku suka saat mereka berteriak memanggil namaku. Aku senang saat mereka menangis ketika melihat drama yang kumainkan. Tapi aku hanya ingin mereka tersenyum mengingatku. Aku tidak ingin mereka bersedih dan menangis karena aku. Aku tidak suka itu"


Meskipun Safira tersenyum, tapi dia juga meneteskan air mata saat bicara pada Tiara. Tiara yang sejak tadi berusaha menahan air mata pun, kini tidak bisa lagi menahan air mata yang telah menggenang dikedua pelupuk matanya. Dia pun ikut menangis sambil memeluk Safira.


"Kak Safira pasti sembuh. Kakak harus sembuh! Kakak bilang akan mengajakku keliling dunia saat kakak honeymoon. Aku sudah bilang kalau aku akan mengikuti kakak kemanapun kakak pergi. Kakak tidak boleh mati, karena aku masih tidak ingin mati sekarang ..hiks... hiks... hiks... Aku mohon... kakak harus bertahan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kakak tidak ada lagi disampingku... hiks… hiks… hiks…"


Tiara terus bicara disela isak tangisnya. Dengan wajah yang dibenamkan di pelukan Safira, Tiara mengutarakan semua keluh kesahnya. Dia sudah lama ikut Safira. Dia sudah menganggap Safira sebagai kakaknya sendiri.


"Bodoh, bagaimana bisa kamu menghiburku dengan kata-kata seperti itu? Aku tidak pernah bilang kalau aku akan mengajakmu saat honeymoon. Kenzo bisa marah jika kamu menggangu waktu honeymoon kami"

__ADS_1


Safira mengusap lembut kepala Tiara yang kini berada dipelukannya. Dia bicara dengan lembut disertai senyum ketir diwajahnya yang pucat.


"Dan tentu saja kamu tidak boleh mati. Bagaimana dengan ibumu nanti. Meskipun kamu ingin jauh dariku, tetap saja kamu juga harus perhatikan ibumu. Kamu harus bisa membahagiakan beliau. Kamu satu-satunya harapan beliau untuk bertahan hidup. Jadi kamu tidak boleh bicara sembarangan lagi. Lagipula siapa yang mau mati? Aku sedang berusaha untuk bertahan sekarang. Kamu mengerti kan?!"


"Iya, aku mengerti. Aku tidak akan sembarangan bicara lagi" Tiara tersenyum dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Setelah itu dia menghapus sisa air matanya dan beranjak untuk mengambilkan buah untuk Safira


"Berhenti bersedih, apa kakak mau makan buah?


Yah, pisangnya habis... Aku akan keluar sebentar untuk membeli buah. Apa ada yang kakak inginkan lagi?"


Safira menggelengkan kepala perlahan sebelum menjawab Tiara


"Aku tidak ingin apa-apa. Beli juga makanan untukmu. Aku tidak ingin kamu mati kelaparan saat menemaniku"


"Ha ha ha … itu sama sekali tidak lucu. Aku pergi dulu ya kak. Aku akan meminta suster kemari untuk menemuimu"


Tiara menunjukkan senyum terpaksa saat Safira menggodanya. Diapun perlahan beranjak pergi meninggalkan kamar Safira meskipun dengan berat hati.


Setelah Tiara meninggalkan kamarnya, tiba-tiba kepala Safira terasa sakit seperti dihantam benda keras. Dia meringis dengan kedua tangan memegangi kepalanya


Tak berselang lama suster yang dimintai tolong oleh Tiara pun datang kekemar Safira.


"Nona Safira!" Suster itu berteriak karena terkejut setelah melihat Safira tak sadarkan diri. Diapun menekan bel yang terletak diatas kepala Safira yang tadi hendak diraih olehnya untuk meminta bantuan.


Tak lama setelah itu dokter dan suster berlarian menuju kamar Safira. Mereka mulai memeriksa keadaannya.


"Bagaimana keadaan pasien?"


"Tekanan darah rendah dok, detak jantung juga lambat. Denyut nadinya juga melemah dok"


Sustet dan dokter terlihat panik saat memeriksa Safira


"Tidak bisa ditunda lagi. Kita harus melakukan operasinya sekarang! Beritahu wali pasien kalau kita akan mengambil tindakan sekarang juga. Ini harus segera dilakukan sebelum terlambat!"


"Baik dokter" Salah satu suster pun beranjak pergi untuk menghubungi Tiara yang sedang pergi keluar rumah sakit

__ADS_1


Tuut tuut tuut


"Nomor rumah sakit, ada pa ya? Apa jangan-jangan …" Tiara terkejut ketika menerima telepon dari rumah sakit. Dia langsung mengangkat teleponnya tajut terjadi sesuatu pada Safira


"Ya, halo" Suara Tiara terdengar ragu-ragu saat menerima telepon


"Nona Tiara anda harus segera kembali kerumah sakit. Keadaan nona Safira drop"


"Apa?! Kak Safira drop?! Saya akan kembali sekarang" Tiara sangat terkejut sampai dia langsung berlari kembali kerumah sakit meninggalkan buah yang sedang di timbang oleh penjualnya


"Kak Safira ku mohon bertahanlah … Jangan tinggalkan aku …" Tiara berlari sambil menangis dan batinnya terus saja memohon agar Safira bisa bertahan dan sembuh seperti sebelumnya


"Suster! Dimana kak Safira? Bagaimana bisa dia drop lagi?" Tiara langsung bertanya pada suster yang berjaga di dekat ruangan Safira


"Dokter akan mengambil tindakan operasi sekarang. Ini tidak bisa ditunda lagi. Kami juga Butuh persetujuan dari anda, karena anda pun tahu berapa persen kemungkinan operasi ini berhasil" Suster menjelaskan terlebih dulu mengenai kondisi Safira


"Saya mengerti suster. Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan kak Safira" Tiara memohon dengan derai air mata yang tak henti mengalir


"Baik. Kalau begitu kami akan mempersiapkan operasinya sekarang juga"


Suster meninggalkan Tiara setelah dia menganggukkan kepala tanda setuju


"Bagaimana ini … apa yang harus aku lakukan … kak Safira katakan padaku, apa yang harus aku lakukan … aku tidak ingin kehilanganmu … Kak Kenzo! Maaf kak Fira aku tidak bisa menepati janjiku kali ini" Disela isak tangisnya Tiara pun menghubungi Kenzo


Tuut tuut tuut


"Kak Zo …ayo cepat angkat teleponnya. Kenapa tidak diangkat juga" Tiara yang panik menghubungi Kenzo sambil berjalan kesana kemari


"Halo Ra" Tak lama terdengar suara dingin Kenzo


"Kak Kenzo... kak Safira …"


"Ada apa dengan Safira?" Belum selesai Tiara bicara, Kenzo langsung memotong kalimatnya


"Kak Safira … dia … Kondisinya drop" Tiara menjelaskan disela isak tangisnya

__ADS_1


"Aku akan bersikap kesana sekarang juga"


__ADS_2