
Safira ikut terkejut ketika melihat postingan mengenai dirinya
Artis muda berbakat dengan segudang prestasi. Mulai dari penghargaan sebagai pendatang baru terpopuler, pemeran pendamping terbaik, pemeran utama terbaik, artis paing populer dan banyak iklan yang dibawakan olehnya menjadi produk laris dipasaran
"Apa kak Mona yang melakukan ini? Kenapa semalam dia tidak mengatakan apapun padaku mengenai ini?" Safira yang bingung bertanya pada Tiara
"Aku juga tidak tahu. Kak Mona juga tidak mengatakan apapun padaku" Tiara menjawab sambil menggelengkan kepala dengan kedua bahu diangkat bersamaan dan wajah terlihat bingung juga
"Biarkan saja kak. Yang penting gosip tidak penting itu sudah hilang dan sekarang kakak bisa kembali berjalan dengan kepala terangkat" Ujar Tiara dengan senyum ceria
"Kamu benar. Siapapun itu, aku sangat berterimakasih padanya" Safira pun kembali tersenyum ceria
"Aaahhhh … aku bisa syuting dengan tenang lagi sekarang" Ujar Safira sambil memakan sarapan miliknya
Setelah selesai sarapan, Safira langsung kembali ke kamarnya dan bersiap.
"Kak Safira cepat! Kita harus bergegas pergi! Kak Mona sudah menunggu di tempat acara. Pak Lukman juga sudah menunggu di depan!" Tiara memanggil Safira yang sedang bersiap untuk pergi ke acara mereka hari ini
"Iya iya aku sudah siap" Safira keluar mengenakan dress selutut dengan motif bunga dipadukan dengan sepatu boot hitam hak tinggi dan rambut panjangnya di curly
"Wow kak Safira cantik sekali" Tiara memuji Safira ketika melihat dia keluar dari kamarnya
"Aku sudah tahu itu. Aku memang paling cantik" Safira pun mengiyakan dengan senyum ceria
"Iuh, aku menyesal mengatakannya. Lebih baik kita berangkat sekarang!" Tiara memalingkan wajahnya dari Safira dan berjalan lebih dulu meninggalkannya
"Eeh enak saja ditarik lagi. Awas kamu ya, nanti tidak akan aku beri bonus kamu" Ancam Safira dengan nada manja
"Eh... ampun, ampun. Kak Safira cantik, kak Safira baik. Pokoknya tidak ada yang lebih cantik dan lebih baik dari kak Safira di dunia ini" Ujar Tiara merayu Safira sambil memegang tangannya agar dia tetap memberikan bonus padanya
"Huh, dasar! Ayo cepat kita jalan!" Safira menanggapi dengan senyum kemudian mereka bergegas berangkat untuk menghadiri acara launching produk kecantikan yang dibintangi Safira
***
__ADS_1
Ditempat lain, Arumi kembali datang ke kampus untuk bertemu dengan Panji. Dia menuggu di dalam mobilnya sampai melihat Panji melintas masuk ke kampus menggunakan motor miliknya.
"Itu dia!" Ujarnya begitu melihat motor Panji masuk. Diapun segera turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Panji
"Panji, tunggu! Kita masih perlu bicara"
Panji menatap Arumi dengan tatapan malas "Bicara apalagi? Sepertinya semua sudah selesai?" Jawab Panji dengan sikap yang dingin
"Tidak, aku tidak mau semua selesai begitu saja. Kita mesti bicarakan ini lagi dengan baik-baik. Aku tidak setuju jika pertunangan kita berakhir sampai disini!" Ujar Arumi dengan sikap keras kepalanya
"Lalu apa lagi maumu? Kamu ingin aku berhenti jadi dosen dan hanya menemanimu shoping, jalan-jalan dan entah apapun itu?" Panji pun menjawab dengan sikap sinis
"Sudahlah Rumi, aku lelah dengan hubungan yang dipaksakan ini. Sudahi saja semuanya!" Panji pun berbalik dan berjalan masuk ke kampus
"Panji! Itu karena dia kan?! Aku tidak akan membiarkan gadis itu begitu saja! Aku akan buat dia menyesal telah merebutmu dariku! Dan akan ku pastikan kalau kamu kembali padaku!" Teriak Arumi yang membuat Panji semakin kesal. Dia pun menghela napas kasar dan terus melangkah masuk ke kampus meninggalkan Arumi yang menatapnya dengan penuh emosi.
Sangat kebetulan sekali karena Risha dan Kenzie baru saja tiba di kampus. Mereka turun dari mobil setelah Kenzie memarkirkan mobilnya.
"Zie, pulang dari kampus antar aku ke mall ya?Ada sesuatu yang ingin ku beli disana" Ujar Risha saat mereka baru saja turun dari mobil.
Plak!
Arumi melayangkan sebuah tamparan di pipi kanan Risha
"Hei apa yang kamu lakukan?!" Kenzie langsung berteriak pada Arumi, sedangkan Risha masih memegangi pipinya sambil menatap sinis pada Arumi
"Gara-gara kamu Panji memutuskan hubungan kami. Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku akan buat kamu menyesal karena telah merebut Panji dariku!" Arumi bicara dengan jari telunjuk mengarah pada Risha.
Risha masih diam dan menatap Arumi dengan sorot mata yang tajam, kemudian dia tersenyum sinis padanya
"Kamu gila ya? Bagaimana bisa kamu mengejar laki-laki sampai rela menjatuhkan harga dirimu sebagai seorang wanita? Lalu … kamu ingin membuatku menyesal karena apa? Karena merebut pak Panji? Aku tidak pernah merasa merebut pak Panji dari siapapun. Tapi jika kamu berpikir seperti itu … maka akan aku buat kamu benar-benar menyesal dan kehilangan pak Panji untuk selamanya. Aku akan benar-benar merebutnya dari tanganmu. Ingat namaku, Arisha Nedzara, aku akan membuatmu menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan padaku. Akan aku buat pak Panji mu itu jatuh cinta padaku" Risha bicara dengan sikap yang tenang dan snyum tipis penuh keyakinan.
Arumi terlihat semakin marah mendengar apa yang dikatakan Risha
__ADS_1
"Kamu!"
"Apa?! Kamu pikir aku akan diam saja dan membiarkanmu menamparku lagi?! Tidak akan aku biarkan kamu menyentuhku untuk yang kedua kalinya!" Risha menahan tangan Arumi yang hendak menamparnya lagi
"Sepertinya kamu lupa dengan apa yang aku katakan padamu sebelumnya? Aku sudah peringatkan padamu, jika kamu berani menyentuh Risha bahkan hanya sehelai rambutnya sekalipun, maka akan aku buat kamu menyesal" Kenzie berjalan mendekati Arumi dan bicara dengan nada yang dingin
"Kamu mengancamku?! Aku tidak takut padamu!" Bantah Arumi dengan sikap yang sombong
"Kita lihat saja, berapa lama kesombonganmu akan bertahan! Kita akan segera bertemu dan saat itu aku akan buat kamu bertekuk lutut dihadapan kami!" Ujar Kenzie dengan tegas
"Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul disini?" Semua orang menoleh dan melihat Panji juga Rektor kampus berjalan kearah mereka.
"Kenapa semua berkumpul disini?!" Tanya pak Rektor lagi dengan menatap ke semua mahasiswanya.
Panji menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Risha karena dia terus memegangi pipi kanannya. Akhirnya diapun mendekat pada Risha
"Apa yang terjadi dengan pipimu? Apa Arumi yang melakukan ini?!" Tanya Panji dengan sorot mata tajam
"Panji, itu … aku bisa jelaskan" Arumi menyela pembicaraan Panji dan Risha
"Aku tidak bertanya padamu, tapi aku bisa mengerti apa yang terjadi. Ini semua karena kamu kan? Kamu yang menyakiti Risha, kan?" Panji menatap Arumi sinis dan bertanya dengan sikap yang dingin
"Ayo Risha, sebaiknya kita ke UKS agar pipimu bisa diobati" Ujar Panji lembut pada Risha
"Tidak perlu. Aku bisa membawa Risha sendiri" Ujar Kenzie yang menghalangi Risha pergi lalu memegang tangannya
"Kenapa dia malah menghalangiku? Minggir! Awas! cepat awas!" Risha berusaha memberikan kode pada Kenzie melalui mata dan kepala namun itu tidak berhasil . Setelah cukup lama akhirnya Kenzie mengerti
"Baiklah, pak Panji aku titip Risha. Aku akan berada diperpustakaan dan mencari beberapa buku. Jika tejadi sesuatu pada Risha, kamu yang akan tanggung jawab" Kenzie bicara dengan waspada pada Panji
"Ya aku mengerti. Rumi sebaiknya kamu juga segera pergi dari sini! Tidak usah membuat keributan" Ujar Panji yang berjalan melewati Arumi sambil menggandeng Risha
"Tapi, Ji, Panji!" Sikap Panji yang sinis pada Arumi membuat Risha tersenyum bangga
__ADS_1
"Lihatlah, ini baru permulaan!" Pikir Risha dengan senyum bangga menatap Arumi