Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kegilaan Fredi


__ADS_3

Cheva terus memandangi Safira yang sedang duduk sambil memainkan ponsel melihat agenda yang akan dia kerjakan beberapa hari kedepan.


"Ehm ... tante, kenapa tante terus menatapku seperti itu ya?" Safira menyadarii kalau Cheva terus memperhatikannya dalam waktu yang lama. Diapun bertanya dengan canggung.


"Apa kamu baik-baik saja? Apa tidak sebaiknya kita ikuti saran dokter dan melakukan pengobatan?" Cheva terlihat sangat khawatir dengan kondisi Safira


"Aku tidak papa tante" Safira pun menjawab dengan senyum tipis dibibirnya


"Om, tante, apa aku boleh minta tolong sesuatu?" Safira terlihat sedikiit ragu-ragu saat dia ingin mengutarakan permintaannya pada Lian dan Cheva


"Apa itu?" Cheva dan Lian menunggu dengan raut wajah penasaran.


"Tolong jangan katakan apapun pada Kenzo. Aku tidak ingin dia khawatir. Aku akan mengatakannya sendiri pada Kenzo saat waktunya tiba" Pinta Safira dengan mata berkaca-kaca dan senyum tipis.


"Tapi sayang, kamu harus segera mendapatkan perawatan sebelum terlambat. Dokter bilang masih ada peluang untuk kamu sembuh."Cheva meraih tangan Safira dan bicara dengan penuh keyakinan


"Tente, tante tahu kan berapa persen peluang yang aku miliki untuk sembuh itu? Hanya ada peluang sebanyak 10%. Aku tidak ingin membuang waktuku dengan bermimpi mendapatkan 10% itu. Aku hanya ingin menikmati waktuku yang sedikit dengan Kenzo saja"


Safira kembali tersenyum meskipun senyumnya terlihat ketir. Tak lama air matanya pun mengalir dan Safira hanya bisa menundukkan kepala dengan derai air matanya


Cheva yang tidak sanggup melihat kesedihan Safira langsung memeluknya erat


"Tante akan carikan dokter terbaik di dunia ini untukmu. Kamu pasti bisa sembuh, tidak ada yang tidak mungkin. Kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa sembuh" Cheva terus menenangkan Safira yang menangis sesenggukan. Diapun tak kuasa menahan air matanya.


"Tidak tante, aku mohon. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku denga Kenzo. Jika aku melakukan pengobatan yang panjang itu, maka aku akan kehilangan waktu berhargaku bersamanya dan juga kakek nenek saya. Aku tidak ingin membuang waktu" Safira menatap Cheva dengan tatapan memohon dan air mata yang tak henti mengalir.


"Baiklah, tante tidak akan mengatakan apapun pada Kenzo. Tapi kamu harus tetap melakukan pemeriksaan rutin dan meminum obatmu"


Safira megangguk dengan senyum dibibirnya menanggapi ucapan Cheva


"Baik tante. Terimakasih"


***


Fredi pergi ke kantor Rendra setelah Bastian pulang kerumahnya. Dengan gayanya yang arogan dia mencari ruangan Rendra


"Dimana ruang pak Rendra?" Fredi bertanya pada resepsionis. Dia terlihat sombong dengan setelan jas rapi yang dia kenakan


"Ada … dilantai atas. Apa anda sudah buat janji? Saat ini pak Rendra sedang tidak ada di tempat" Resepsionis bertanya dengan sopan pada Fredi sebagai tamu kantor


"Aku tahu kalau dia sedang dirumah sakit. Aku yang akan menggantikan posisinya untuk sementara waktu" Fredi bicara dengan sangat percaya diri. Senyum bahagia terus terpancar dari wajahnya


"Maaf? Anda jangan main-main, saya bisa memanggil keamanan untuk membawa anda keluar dari sini" Resepsionis kini terlihat tegas mengancam Fredi

__ADS_1


"Kamu tidak kenal siapa aku? Aku ini Fredi Kuswoyo, saudara sepupu Bastian. Dia yang memintaku menggantikan Rendra sampai dia pulih dan bekerja seperti biada!" Fredi yang kesal berteriak pada resepsionis


"Kalau begitu anda bisa tunggu sebentar. Saya akan menghubungi sekretaris pribadi pak Rendra" Resepsionis itu kembali bersikap tenang dan menghubungi Alan


"Ya, ada apa?" Terdengar suara Alan dari ujung telepon


"Pak Alan. Maaf pak, disini ada pak Fredi Kuswoyo, beliau mengaku sebagai sepupu pak Bastian" Resepsionis menjelaskan dengan sikap tenang


"Ada perlu apa dia kemari? Apa kamu sudah bilang kalau pak Rendra sedang tidak ada di tempat?" Alan mengerutkan keningnya, merasa heran dengan maksud kedatangan Fredi


"Saya sudah bilang pak. Katanya beliau kemari untuk menggantikan pak Rendra sementara dia tidak ada"


"Apa katamu?!" Alan sangat terkejut mendengar tujuan Fredi. Dia tidak habis pikir dengan itu. Bagaimana bisa Bastian meminta saudara sepupunya untuk menggantikan Rendra meskipun hanya sementara waktu


"Lalu … bagaimana pak?" Resepsionis itu kembali bertanya mengenai apa yang harus dia lakukan pada Fredi


"Ehm ... biarkan saja dia naik. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan disini" Alan menjawab dengan sikap yang dingin


"Baik pak"


Resepsionis pun mengizinkan Fredi naik keruang Rendra. Dia bertemu dengan Alan yang berada di luar ruangan Rendra


"Permisi pak" Alan menyapa dengan sopan pada Fredi


Alan terlihat kesal dengan ucapan Fredi namun dia berusaha menahan amarahnya


"Ada perlu apa anda disini?" Alan bertanya dengan sopan


"Aku kesini untuk membantu Rendra. Dia pasti punya banyak pekerjaan. Jadi selama dia tidak masuk, aku yang akan berbaik hari menggantikannya bekerja" Fredi bicara dengan sangat sombong dan yakin


"Maaf pak, saya bisa mengerjakan pekerjaan pak Rendra selama dia sakit. Lagipula prosedur untuk menggantikan posisinya tidaklah mudah. kita harus mengadakan rapat dewan direksi terlebih dulu"


"Apa susahnya? tinggal rapat saja kan? Sudahlah, jangan banyak bicara. Aku akan masuk dan mulai mempelajari pekerjaan Rendra" Fredi langsung masuk dna mengabaikan Alan


"Belum jadi atasan saja sudah menyebalkan. Bagaimana jika jadi pemimpin sungguhan? bisa-bisa perusahaan ini bangkrut dalm waktu 1 hari. Alan menggerutu kesal kemudian menghubungi Kenzo"


***


Disaat Kenzie, Meisya, Rendra dan Risha sedang berbincang, Kenzo sedang asyik dengan laptop dihadapannya.


"Zo, sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan? kamu hanya sibuk dengan laptopmu. Bahkan ketika ibumu dan Safira melakukan video call tadi"


Rendra sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Kenzo, namun dia tidak dapat mendekatinya

__ADS_1


"Mencari informasi mengenai Fredi dan Rian. Aku tidak sabar untuk segera bermain dengan mereka" Ada sebuah senyum yang terihat di bibir Kenzo. Sebuah senyum tipis dengan kilatan kebencian dari sorot matanya yang tajam


"Bagaimana kamu akan bermain dengan mereka?" Risha kini penasaran dengan apa yang akan dilakukan Kenzo pada Fredi


"Sepertinya aku akan menggunakan motor. Dia sangat suka motor kan? Ini akan jadi sebuah taruhan. Taruhan antara hidup dan mati, entah dia akan mati atau kehilangan anggota tubuhnya.


"Bolehkan aku ikut? Aku juga ingin bermain dengannya. Lagipula kita sudah lama tidak main balapan motor sama-sama" Risha membujuk Kenzo dengan nada bicara yang manja.


"Tidak, kamu disini saja temani Rendra. Biar aku yang urus, kamu tidak usah ikut mengotori tanganmu" Kenzo bersikap acuh tak acuh namun ada senyum tipis dibibirnya


"Kalau aku ikut boleh tidak?" Kenzie juga bersuara dengan nada bicara yang lembut


"Tidak usah. Kamu bisa pacaran saja dengan pacar barumu itu" Meisya terkejut mendengar ucapan Kenzo. Dia langsung menunduk dengan wajah yang berubah merah.


"Zo, apa kamu tidak keterlaluan? Kamu hanya ingin main sendiri kan?" Kenzie memicingkan mata dan menatap Kenzo dengan tatapan curiga


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin melihat pacarmu terkejut" Kenzo menjawab dengan senyum tipis dan sikap yang dingin. Matanya menatap Meisya


"Aku tidak papa" Meisya dengan reflek menjawab Kenzo dengan wajah tegang, dan itu membuat Risha, Rendra dan Kenzie tertawa


"Hahaha. Zo, kamu membuatnya ketakutan" Rendra tertawa mengejek Kenzo


"Aku tidak heran jika semua orang takut padamu. Hahaha" Risha pun ikut mengejek Kenzo


"Sudahlah, aku harus segera pergi"


Drrrt drrt drrrt


Baru saja Kenzo berdiri, ponselnya langsung berdering. Dilihatnya panggilan itu berasal dari Alan


"Ya, Alan. Ada apa?" Kenzo langsung bertanya maksud Alan Menghubunginya


"Maaf pak kenzo. Pak Fredi datang ke kantor dan mengatakan kalau dia akan menggantikan pak Rendra untuk sementara waktu sampai pak Rendra bisa kembali lagi bekerja seperti biasa" Alan yang sebelumnya memang diminta menghubungi Kenzo jika terjadi sesuatu langsung menjelaskan apa yang terjadi


"Apa katamu? Lucu sekali. Baru 2 hari Rendra masuk rumah sakit, sekarang dia ingin mengambil alih posisinya? Benar-benar tidak tahu malu" Kenzo mencibir sikap Fredi yang begitu berani dan terang-terangan ingin merebut posisi Rendra


"Lalu, apa yang harus saya lakukan pak? Sekarang dia sedang berada di dalam kantor pak Rendra. Saya tidak tahu apa yang sedang dia lakukan di dalam sana sejak tadi" Alan menjelaskan situasinya


"Biarkan saja dia mencicipi dulu kursi sebagai pemimpin perusahaan. Itu tidak akan lama karena aku akan menariknya langsung dari kursi itu" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang. Ada senyum licik yang melintas dari ucapannya


"Baik pak" Alan menutup teleponnya


"Ini semakin menarik. Aku akan buat dia malu sebelum menghabisinya"

__ADS_1


__ADS_2