
Kenzo meninggalkan rumah sakit setelah Cheva dan Lian tiba disana untuk menggantikannya menemani Safira. Dia pulang untuk mengganti pakaianya dan mengambil laptopnya. Dia juga membawa beberapa setel pakaian ganti untuk dia kenakan nanti.
Kenzo bergegas pergi kebandara menggunakan mobil yang sebelumnya di pakai Cheva. Supir akan kembali menjemput Cheva dan Lian setelah mengantarkan Kenzo ke bandara.
Kenzo berangkat dari negara F pada malam hari. Kemungkinan dia akan tiba di bandara negara A pada dini hari menjelang subuh. Dia langsung pergi ke kota dimana Rendra tinggal. Butuh waktu hampir 2 jam untuk Kenzo sampai kerumah sakit dari bandara.
Kenzo baru tiba sekitar pukul 7 pagi. Rumah sakit sudah ramai pengunjung yang menjenguk. Kenzo melenggang dengan langkah yang elegan. Dia mengenakan turtle neck berlapis jacket dan mengenakan celana panjang. Dia menggunakan sebelah tangan untuk memakai back pack miliknya.
Kenzo berjalan dengan tenang ke arah suster dibagian informasi yang sedang merapikan meja kerjanya
"Permisi"
"Iya"
"Diruang mana pasien bernama Rendra dirawat?"
Suara Kenzo terdengar tenang dan berwibawa. Suster itu ternganga melihat wajah tampan Kenzo yang
"Halo …" Kenzo memanggil suster itu sambil melambaikan sebelah tangannya di depan mata suster agar dia tersadar dari lamunannya
"Ah maafkan saya. Tolong tunggu sebentar. Saya akan cari datanya" Suster itu terlihat gugup setelah tersadar. Kemudian dia dengan cepat mencari data mengenai Rendra
"Maaf pak. Pasien bernama Rendra dirawat di lantai 4 ruang VVIP kamar Teratai"
"Terimakasih" Kenzo langsung berbalik pergi dan melangkah menuju lift
"Aah dia tampan sekali"
"Tapi bukannya kemarin dia sudah datang dan bertanya kamar pasien ya? Apa dia sengaja bertanya lagi untuk mencari perhatian?"
"Benarkah? Aku tidak tahu karena kemarin libur" Para suster sedang membicarakan Kenzo yang baru saja masuk ke dalam lift
Tak lama Kenzo tiba dilantai 4. Dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan mencari kamar Rendra. Dari kejauhan, dia mulai melihat Bastian yang duduk di kursi tunggu dengan menyandarkan kepalanya, sepertinya dia tengah tidur.
Kenzo yang sebelumnya tenang kini menatap kearah Bastian dengan sorot mata tajam. Dia berjalan dengan berwibawa.
"Oh, jadi kamu masih bisa tidur setelah apa yang terjadi pada Rendra?"
Bastian langsung membuka mata mendengar suara Kenzo yang dingin.
"Ken-zo?" Dia gemetar melihat Kenzo yang berdiri dihadapannya.
__ADS_1
Alan yang sebelumnya duduk tidak jauh dari Bastian, kini berdiri mendekati Kenzo
"Pak Kenzo" Kenzo menoleh pada Alan
"Kamu Alan? Bagaimana kondisi Rendra?"
Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang. Sebelah tangannya memegangi tas yang disangkutkan dipundak. Dia berdiri dengan gagahnya.
Alan menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Kenzo
"Benar, saya Alan, sekertaris pribadi pak Rendra. Saat ini kondisi pak Rendra masih kritis. Kita belum tahu bagaimana kondisinya karena dokter belum memeriksanya lagi. Sebentar lagi dokter akan kemari untuk memeriksa lebih lanjut kondisi pak Rendra, anda bisa bertanya langsung nanti"
Alan menjelaskan dengan sikap yang tenang. Terlihat kalau dia cukup cekatan dan bisa dipercaya dalam menyelesaikan pekerjaan
"Alan, sekarang kamu bisa kembali ke kantor. Untuk sementara kamu handel pekerjaan Rendra sampai dia pulih. atau … kamu yang akan mengambil alih pekerjaannya?" Kenzo menoleh pada Bastian dan bertanya padanya mengenai pekerjaan Rendra setelah dia bicara pada Alan.
"Tidak, tidak, semenjak Rendra memegang kendali Dirga Electronik, aku tidak tahu apapun mengenai perusahaan. Lagipula aku cukup sibuk dengan memegang kendali Dirga Motors. Jadi akan lebih baik kalau Alan yang mengerjakan pekerjaan Rendra sementara namun setiap keputusan diambil atas persetujuan dariku, bagaimana?"
Bastian menatap Kenzo dengan gugup. Meskipun sebelumnya dia cukup takut karena Kenzo pasti marah padanya namun kini dia memberanikan diri bicara karena perusahaan itu milik keluarga mereka. Dia juga tidak bisa langsung mengambil alih perusahaan, karena sudah pasti Kenzo akan mencurigainya sebagai penyebab kecelakaan Rendra.
Kenzo tidak bereaksi, kemudian dia kembali menatap Alan
"Alan, aku percaya padamu. Aku yakin kalau kamu tidak akan mengecewakan Rendra seperti tikus got yang bersembunyi dalam rumah kan?"
"Kamu bisa pulang dan istirahat dulu, setelah itu baru ke kantor. Jika ada sesuatu kamu bisa hubungi aku"
"Baik pak. Saya permisi" Alan melangkah pergi meninggalkan Kenzo dan Bastian
"Aku sudah disini. Katakan pada saudaramu untuk bersiap membayar hutang mereka" Kenzo tidak berbalik menatap Bastian. Dia hanya menoleh dan bicara dengan sikap yang dingin
"Jadi kalian sudah disini?" Risha, Kenzie dan Meisya langsung menoleh mendengar suara Kenzo yang berjalan mendekati tempat tidur Rendra
"Zo ..." Risha memanggil Kenzo dengan suara yang pilu dan air mata yang berlinang
"Semua akan baik-baik saja" Ujarnya mengusap lembut kepala Risha
Meisya terdiam menatap wajah Kenzo dan Kenzie yang berdiri sejajar. Dia menggelengkan kepala sambil berkata dalam hati "Benar-benar mirip"
Kenzo yang menyadari tatapan Meisya langsung menoleh padanya dengan tatapan curiga "Kamu ..."
Belum selesai dia bicara, Kenzie langsung memotong ucapannya "Dia Meisya. Dia datang kesini bersamaku"
__ADS_1
Sesaat Kenzo menoleh pada Kenzie, kemudian kembali menatap Meisya "Aku Kenzo. Akhirnya aku bertemu denganmu"
"Aku Meisya, senang bertemu denganmu"
Meisya hanya menunjukkan senyum tipis pada Kenzo. Ternyata benar apa yang dikatakan Kenzie. Meskipun mereka kembar, tapi kepribadian mereka jauh berbeda. Kenzie lebih ceria, ramah dan lembut. Sedangkan Kenzo sangat pendiam, cuek dan dingin. Benar-benar bertolak belakang.
"Zie, pergilah ke kantin. Bawa Risha untuk sarapan. Biar aku yang menunggu disini"
Kenzo bicara sambil meletakkan tasnya di sofa
"Tidak Zo, aku tidak ingin meninggalkan Rendra. Aku ingin menemaninya disini" Risha dengan tegas menolak apa yang diminta Kenzo
"Hanya sebentar untuk sarapan dan membersihkan diri. Setelah itu kamu boleh menunggunya lagi disini. Jika tidak, aku akan memaksamu keluar dan tidak akan membiarkanmu masuk lagi!"
Nada bicara Kenzo lebih tegas lagi, dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuhnya. Risha tahu betul kalau Kenzo bisa benar-benar melakukan apa yang dia katakan
"Baiklah, aku akan keluar untuk sarapan dan ganti pakaian. Tapi nanti aku akan kemari lagi dan menunggunya"
Rishapun akhirnya mengalah pada Kenzo daripada dia tidak bisa menemani Rendra lagi nantinya
"Zie " Kenzo memberikan isyarat pada Kenzie dengan menggerakkan kepalanya kearah luar agar membawa Risha
"Baiklah kami pergi dulu" Kenzie, Risha dan Meisya pun berjalan keluar meninggalkan Kenzo sendiri.
Tak lama Kenzo berjalan keluar dan menemui Bastian
"Kamu juga bisa pulang. Aku akan menemani Rendra disini. Tidak ada gunanya juga kamu disini" Kenzo langsung masuk ke dalam lagi setelah dia menyuruh Bastian pergi
Dengan berat hati, Bastian pun meninggalkan rumah sakit. Namun dia tidak pulang kerumah maupun ke kantor, melainkan pergi kerumah Rian
"Aku harus bertemu om Rian. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin kalau om Rian yang sengaja mencelakai Rendra kan?"
Bastian menaiki taksi menuju rumah Rian. Dia terus berpikir keras selama perjalanan. Jika benar-benar jatuhnya Rendra karena ulah omnya, maka habislah sudah. Bastian tahu betul bagaimana karakter Kenzo. Meskipun dia terlihat tidak peduli sama sekali, namun dia bisa melakukan apa saja. Bahkan tidak segan membuat lawannya kehilangan nyawa, tentu tanpa mengotori tangannya sendiri.
"Om Rian! Om!" Bastian berteriak memanggil Rian begitu dia tiba dirumah omnya tersebut. Dengan langkah cepat dan wajah panik, Bastian memanggil omnya
"Kenapa kamu berteriak pagi-pagi begini? Mengganggu sekali!" Fredi keluar dari kamarnya setelah mendengar teriakan Bastian. Dia mengusap matanya yang masih setengah terpejam
"Dimana ayahmu? Kenapa tidak ada?" Bastian mengabaikan pertanyaan Fredi dan balik bertanya menanyakan Rian
"Ada apa kamu berteriak disini? Kamu baru pulang dari rumah sakit? Bagaimana kondisi Rendra?" Rian menyadari kalau Bastian baru kembali dari rumah sakit setelah melihat pakaian yang dia kenakan masih sama seperti kemarin
__ADS_1
"Iya, aku baru pulang dari rumah sakit. Rendra masih belum sadar. Semalam dia kritis, tapi aku belum tahu bagaimana kondisinya sekarang" Bastian menundukkan kepala saat menjelaskan kondisi Rendra
"Haishh jadi dia masih tidak mati?"