
"Ternyata dia pandai juga membuat proposal. Tidak salah kalau aku mengirim salinannya pada laptop milikku" Daniel sedang membaca dokumen yang dia salin dari disc milik Risha. Dia tersenyum sambil mengingat saat dia sedang saat pagi hari.
Flash back on
"Kamu sudah melihat-lihat dan kamu juga sudah tahu ruang kerjaku, sekarang waktunya kamu pergi. Kamu harus segera menemui Meisya. Aku juga masih harus menyelesaikan proposal yang akan aku serahkan pada Rendra secepatnya. Aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan bicara hal yang tidak masuk akal denganmu. Kita juga akan bertemu lagi setelah pulang kerja, jadi kita bahas nanti saja! Sekarang waktunya kamu pulang! " Risha bicara sambil mendorong Kenzie menjauh dari ruangannya. Dia tidak sadar kalau saat ini ada seseorang yang sedang mengawasinya
"Ho ho bertemu lagi setelah pulang kerja? Ini kesempatan untukku!" Daniel memeperhatikan Risha dan Kenzie yang kembali meninggalkan ruangan Risha dan berjalan semakian menjauh. Disaat itu Daniel menyelinap kedalam ruang kerja Risha dan mulai mencari disc yang pasti Risha miliki untuk menyimpan datanya. Dia menggeledah di setiap laci kerjanya namun tidak ada. Diapun mencari didalam tas Risha yang diletakan diatas meja
"Ketemu!" Daniel tersenyum ketika menemukan sebuah disc didalam tas Risha, dia pun membuka laptop miliknya yang dia bawa sendiri dan memang dalam posisi menyala. Daniel memasukan discnya sambil mengawasi dengan wajah panik. Dia terus menatap kearah pintu masuk karena khawatir Risha kembali dengan cepat
"Ayo cepatlah!" Gumam Daniel dengan panik menunggu loading komputernya dengan mata terus menatap ke arah pintu masuk
"Ini dia dokumennya" Daniel membaca nama filenya satu persatu dan membuka isi file yang namanya sesuai. Setelah dia yakin itu file yang dia cari, Daniel langusung menyalinnya ke komputer miliknya
"Selesai!" Daniel melepaskan disc dari laptopnya dan menaruhnya kembali didalam tas Risha. Dia pun langsung keluar dengan membawa laptop miliknya.
"Gawat! Dia sudah kembali!" Daniel langsung panik ketika melihat Risha berjalan kembali dari kejauhan. Diapun langsung pergi tanpa menutup rapat pintu kantor Risha
Flash back off
"Aku yakin Risha tidak akan tahu kalau aku menyalin filenya ke laptopku. Risha, aku tidak akan pernah kalah dari ****** sepertimu. Kamu pikir kamu itu siapa berani seenaknya padaku? Akan aku buat kamu malu dengan kekalahan ini. Aku pastikan kalau kamu akan bertekuk lutut di hadapanku! Hahaha" Daniel bicara sendiri disertai tawa jahat dibibirnya dan sorot mata yang terlihat licik
***
"Bagaimana dengan proposalku? Apa ada bagian yang harus direvisi lagi?" Risha sedang menghubungi Rendra setelah dia pulang kerja untuk menanyakan proposal yang sebelumnya dia kirim
"Ada beberapa bagian yang harus kamu revisi. Aku sudah berikan tanda dibagian yang harus direvisi. Akan aku kirimkan ke emailmu. Setelah selesai kamu revisi, kamu buat beberapa salinan. Aku akan datang berama Alan ke kantormu dan juga beberapa orang lainnya untuk mendengarkan presentasimu" Rendra menjelaskan dengan tenang mengenai apa saja yang harus dilakukan oleh Risha nanti.
__ADS_1
"Aahhh ... terimakaih. Aku beruntung sekali punya pacar seorang pebisnis yang cerdas sepertimu. Kamu bahkan sampai membantuku untuk menyusun proposalnya. Rendra, aku makin cinta sama kamu. Muach muach" Risha bicara dengan nada yang menggoda dan manja pada Rendra
"Cih, kamu mengatakan cinta hanya karena aku telah membantumu. Itu terdengar sangat tidak tulus" Rendra bicara dengan sikap yang datar dan sedikit mencibir. Namun ada senyum tipis setelahnya.
"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya dengan apa yang baru saja aku katakan?" Risha pun bertanya degan putus asa setelah Rendra tidak mempercayai apa yang dia katakan
"Aku punya cara yang paling ampuh untuk kamu lakukan agar bisa mempertanggung jawabkan apa yang kamu katakan. Dengan begitu aku bisa peracya dengan apa yang kamu katakan" Rendra bicara sambil tersenyum menyeringai dan
"Apa itu? Katakan padaku apa yang harus aku lakukan padamu?" Risha pun menanggapi apa yang diucapkan Rendra dengan serius
Sudut bibir Rendra sedikit terangkat ketika mendengar tanggapan yang Risha tunjukan atas pertanyaannya
"Kamu harus selalu berada disampingku sampai kapanpun. Kamu tidak diizinkan meninggalkanku meskipun hanya sesaat. Itu berlaku untuk seumur hidup, karena aku bukan orang yang akan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan orang lain" Rendra bicara dengan sikap yang sangat tenang, seakan itu memang syarat yang dia ajukan secara khusus
"Modus! Kamu hanya ingin gombal padaku kan?" Risha bertanya dengan sikap yang sinis
"Tidak sama sekali. Dalam hal ini aku berterimakasih karena kamu punya kepribadian sama seperti Zo"
"Kenpaa jadi bawa-bawa dia?" Rendra kesal karena sekarang Risha justru secara tidak langsung malah memuji Kenzo
"Karena kalian berteman, cara kalian memperlakukan gadis yang kalian suka pun hampir sama" Risha tersenyum ceria saat dia mengatakannya
"jangan samakan aku dengannya! Aku sama sekali tidak sama dengan gunung es itu" Rendra pun menanggapi dengan sikap yang sinis
"Ya ya ya, aku tidak akan menyamakan kalian lagi. Aku hanya akan membandingkan kalian berdua saja. Hahaha" Risha terbahak karena berhasil menggoda Rendra
"Haah ... sudahlah. Ingat kalau aku akan ke perusahaanmu dalam beberapa hari. Aku ingin masalah investasi ini selesai sebelum kita pergi ke negara F agar kita bisa tenang saat berada disana" Rendra kembali pada sikapnya yang tenang dan dingin
__ADS_1
"Baik. Kamu tenang saja. Kita akan menyelesaikan masalah investasi ini sebelum pergi, jadi aku juga tenang sebagai pemenangnya" Terdengar suara tawa Rendra mendengar ucapan Rusha
"Hahaha.. Pemenang? Apa kamu yakin kalau kamu akan jadi pemenangnya? Bukannya kita masih belum tahu siapa yang akan menang? Selalu ada kemungkinan terburuk dalam bisnis. Selalu ada celah untuk kegagalan yang mungkin terjadi" Rendra mengingatkan Risha untuk selalu waspada sebelum menangani sebuah proyek besar
"Maksudhmu ... aku harus tetap waspada?" Risha bertanya dengan ragu-ragu
"Ya, aku yakin kamu tidak akan curang, tapi kita tetap harus mengantisipasi hal buruk sebelum lawan melakukannya" Risha semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Rendra
"Maksudmu menyiapkan langkah antisipasi begitu?" Rusha kembali bertanya untuk memastikan apa maksud ucapan Rendra
"Haah ... sayang, bukannya kamu juga mengkuti pelatihan seperti militer? Kenapa kamu tidak mengerti strategi sebelum berperang? Apa kamu selalu bolos saat Kenzie dan Kenzo latihan militer?" Kini Rendra terdengar sinis dan juga mencibir Risha
"Tentu saja tidak. Aku tidak pernah melewatkan sesi latihan apapun. Hanya saja aku tidak pernah memikirkan hal itu. Ku pikir hanya dengan bekerja sendiri semua akan baik-baik saja" Risha bicara dengan sedikit ragu
"Tidak begitu. Dalam bisnis itu kita tidak bisa mempercayai siapapun. Baik itu teman apalagi lawan. Kamu bisa saja terperangkap jika mempercayai orang dengan mudah" Rendra memperingatkan Risha mengenai semua kemungkinan yang bisa saja terjadi
"Baiklah aku mengerti. Tunggu! Jika memang kemungkinan seperti itu ada ... apa aku juga harus waspada akan sesuatu?" Risha mengangguk mengerti kemudian teriangat pada pada kejadian saat Kenzie datang ke kantornya
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Rendra pun terlihat penasaran dengan apa yang mungkin sedang Risha alami
"Saat Kenzie mengantarkan aku kekantor, dan aku meninggalkan ruanganku bersamanya ... ada hal aneh, saat itu yang aku ingat aku menutup pintu kantor, tapi saat aku kembali pintu kantor itu sedikit terbuka. Apa itu bisa dijadikan sebuah kemungkinan?" Risha bertanya pada Rendra untuk memikirkan sebuah kemungkinan
"Itu bisa saja terjadi. Mungkin ada tikus yang menyelinap kekantormu" Rendra sedikit tersenyum saat dia bicara
"Aku mengerti, saat kamu kesini, kita pasti akan menanggapnya. Tapi, kenapa selalu melibatkan tikus? AKu geli mendengarnya" Setelah Risha bicara dengan sangat yakin, dia pun kembali dengan keluhan manjanya hanya karena masalah tikus
"Bukan apa-apa. Hanya tikus saja yang harus selalu dibersihkan"
__ADS_1