
"Ren, sampai kapan kamu akan terus mengabaikan aku? Ku kira kita sudah berbaikan, tapi nyatanya kamu tetap menutup diri padaku dan tetap tidak menganggap aku sebagai kakakmu" Bastian dan Rendra baru kembali dari makan bersama. Mereka kebetulan makan di dekat kantor Rendra, karena dia beralasan memiliki banyak pekerjaan
"Aku hanya belum terbiasa saja. Rasanya aneh berhubungan baik dengan kak Bastian setelah waktu yang lama" Rendra bicara dengan sikapnya yang dingin
"Aku mengerti. Aku akan tetap menunggu sampai kamu benar-benar menerimaku sebagai kakakmu" Rendra hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi pada sang kakak.
Ketika mereka hendak masuk ke mobil tiba-tiba mereka mendengar suara tembakan dari tempat yang tidak jauh dari mereka.
Dor!
"Apa itu?" Rendra dan Bastian sama-sama terkejut mendengar suara tembakan. Mereka saling menatap satu sama lain kemudian beranjak pergi untuk melihat apa yang terjadi
Rendra menyunggingkan senyumnya ketika melihat Risha dengan pistol ditangannya.
"Ternyata kamu sama saja ya dengan Kenzo? Apa dikeluarga kalian itu bukan masalah besar jika reputasi kalian jadi buruk karena kekerasan? Sekarang apa sudah selesai bermainnya?" Rendra bertanya dengan senyum tipis dibibirnya sambil berjalan mendekati Risha
Tiga pemuda itu sangat terkejut setelah Risha hampir saja menembak salah satu dari mereka. Bukan hanya 3 pemuda itu saja, bahkan Elisa, Kia dan Nura juga sangat terkejut melihat apa yang dilakukan Risha.
"Memangnya reputasi apa yang kami miliki? Kami hanya ingin hidup biasa saja tapi selalu ada saja orang yang merusak kenyamanan kami" Risha menjawab dengan sikap yang acuh tak acuh dengan kedua bahu diangkat bersamaan.
"Sampai kapan kalian akan terus memperhatikan disana? Masih ingin bermain dengan Risha?" Rendra bertanya pada Kia, Elisa dan Nura yang bersembunyi disalah satu sudut tembok. Dia melihatnya saat berjalan mendekati Risha
Risha pun menoleh saat Kia, Nura dan Elisa berjalan mendekati mereka
"Jadi kalian lagi? Aku sudah bosan bermain dengan kalian. Dan mainan yang kalian siapkan ini … sama sekali tidak menyenangkan. Harusnya kalian mempersiapkan lawan yang seimbang untukku. Kalian tidak tahu ya kalau aku dilatih dengan pelatihan militer sejak kecil? Ini sih bukan apa-apa" Risha bicara dengan nada yang sombong pada Kia, Nura dan Elisa
Rendra kembali tersenyum mendengar jawaban Risha
__ADS_1
"Kami bisa melaporkanmu karena memiliki senjata ilegal!" Ujar Nura yang terlihat gugup
"Siapa bilang ini senjata ilegal? Aku punya izin untuk kepemilikan senjata ini. Jika kamu tidak percaya periksa saja sendiri kepemilikan senjata atas nama Arisha Nedzara Kusuma!" Risha menjawab dengan sikap yang sombong
"Siapa? Arisha Nedzara Kusuma? Jadi dia bagian dari keluarga Kusuma?" Kia, Nura dan Elisa saling menatap satu sama lain karena terkejut
"Aku tidak tahu kalau kemampuan menembakmu itu sangat buruk. Bahkan kamu memiliki beberapa luka juga. Memang apa yang mereka lakukan sampai kamu marah?" Rendra bertanya dengan sikapnya yang tenang dan dingin. Sorot matanya menatap tajam pada ketiga pria itu.
"Mereka berusaha menggodaku. Tapi bisa dibilang mereka beruntung karena mereka berusaha menggangguku saat saudaraku tidak ada disini dan melihat lukaku. Jika mereka mengganggu saat ada Kenzo dan Kenzie, maka salah satu bagian tubuh mereka pasti sudah mencicipi peluru ini. Dan kali ini tembakanku meleset, kalau kekiri sedikit lagi saja. Pasti tepat di kakinya"
Risha bicara dengan nada yang manja, dia memang tidak berniat menembak mereka namun perkataannya barusan membuat ketiga pemuda itu terkejut dan panik.
"Apa? Mereka menggodamu? Apa mereka menyentuhmu?!" Tanya Rendra dengan sorot mata yang tajam
"Iya, kamu tidak lihat lukaku? Tentu saja mereka menyentuhku. Mereka juga berusaha merayuku. Tapi karena aku bukan wanita sembarangan jadi... Eh"
Dor dor dor
Ketiga pemuda itu berteriak karena kesakitan sedangkan Kia, Nura dan Elisa berteriak karena terkejut.
Bastian menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Rendra. Matanya membelalak karena tekejut.
"Kenapa kamu malah menembak mereka?!" Risha terkejut saat Rendra merebut pistol dari tangannya dan menembak kaki ketiga pemuda itu
"Karena tembakanmu meleset jadi aku yang melakukannya. Berani sekali mereka menggodamu?! Bahkan mereka juga membuatmu terluka. Sekarang ketiga wanita ini juga keberikan padamu. Selesaikan permainanmu sekarang juga! Kita harus obati lukamu secepatnya" Rendra bicara dengan sikap yang tenang namun menatap tajam pada tiga pemuda yang mengganggu Risha. Dia kembali bicara dengan tenang saat menatap Risha
Risha terpaku melihat sikap Rendra. Diapun menatapnya dengan tatapan tak percaya
__ADS_1
"Kenapa Rendra begitu perhatian padaku? Aku tahu kalau selama ini dia baik. Tapi aku baru sadar kalau dia sangat peduli padaku" Pikir Risha yang menatap Rendra tanpa berkedip
"Kenapa menatapku seperti itu? Bukannya kamu harus segera menyelesaikan permainanmu?" Tanya Rendra yang membuat Risha tersadar dari lamunannya
"Ah, jadi aku bisa melakukan apa saja pada mereka bertiga?" Tunjuk Risha pada Kia, Nura dan Elisa
"Ya, kamu bebas lakukan apa saja"
"Kalau begitu pecat mereka dan jangan berikan surat rekomendasi apapun. Mereka sudah dapat pekerjaan ditempat bagus tapi malah disia-siakan. Jadi … mereka tidak akan peduli mau bekerja dimanapun juga" Risha tersenyum dan bicara dengan ceria
"Tentu. Besok mereka akan menerima surat pemecatan"
"Maafkan kami pak. Jangan pecat kami. Kami tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, jadi tolong berikan kami kesempatan" Elisa, Kia dan Nura memohon pada Rendra agar tidak memecatnya. Mereka bertiga bekerja dibagian keuangan, jika mereka dipecat secara tidak hormat, tentu saja nama mereka juga akan tercoreng dan belum tentu bisa dipercaya lagi untuk bekerja di perusahaan besar lainnya.
Rendra mengabaikan mereka bertiga dan menghubungi kantor polisi
"Halo, kantor polisi? Saya Rendra Adelio Dirga, telah terjadi tindak kejahatan di dekat kantor saya. Ada tiga pemuda yang berusaha melecehkan karyawan saya. Tolong tangkap mereka, dan karena telah mereka melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata tajam, jadi saya terpaksa menembak kaki mereka. Jadi tolong bawa ambulance juga. Saya juga tidak bisa menunggu sampai polisi datang karena karyawan saya juga terluka secara fisik dan mental. Jadi kalian harus datang secepatnya dan jika butuh kesaksian saya, bisa hubungi kantor saya besok. Ya, terimakasih" Rendra menyelesaikan urusan Risha dengan sangat rapih
"Terluka fisik dan mental? Apa karena kamu kaki tangannya Kenzo, jadi kamu sangat handal menyelesaikan urusan seperti ini?" Risha bertanya dengan memicingkan mata dan senyum tipis mencibir
"Tentu saja aku sudah sangat terbiasa dalam urusan ini karena saudaramu. Ini bukan apa-apa lagi buatku. Ayo, aku antar kamu pulang. Aku tidak mau jika harus menyelesaikan masalah seperti ini sebanyak dua kali. Kakak, aku pergi duluan. Aku akan antar dia pulang" Rendra bicara pada Risha setelah itu dia berbalik dan bicara pada Bastian
"Baiklah. Hati-hati dijalan" Jawab Bastian dengan senyum lembut
"Apakah maksudnya... dia tidak ingin ada laki-laki yang menggodaku lagi saat perjalanan pulang? Kenapa dia tidak mengatakannya secara langsung saja?" Pikir Risha yang masih termenung dengan senyum dibibirnya memikirkan apa yang dikatakan Rendra
"Hei, Risha! Sampai kapan kamu akan berdiri disitu? Bukannya aku sudah bilang akan mengantarmu pulang?!" Teriak Rendra yang sudah berjalan lebih dulu ke mobil
__ADS_1
"Ah, iya. Maafkan aku" Risha yang tersadar dari lamunanya langsung berjalan dengan langkah cepat mengikuti Rendra. Dia mengabaikan Kia, Nura dan Elisa yang masih menangis dengan posisi terduduk ditanah. Dia juga mengabaikan Bastian yang sejak tadi berdiri disana dan menatapnya dengan tatapan terpesona
"Gadis yang unik. Bagaimana bisa ada gadis seperti dia? Tunggu! namanya … Arisha Nedzara Kusuma. Jadi dia saudaranya Kenzo?" Gumam Bastian dengan senyum lembut diwajahnya. Diapun berjalan pergi meninggalkan orang-orang disana yang sedang menangis dan juga merintih kesakitan