Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kerjasama Kenzo Dengan Perusahaan Nugros


__ADS_3

"Selamat siang Pak Steve Bagaimana kabar anda?" Kenzo menyambut Steve yang baru saja tiba diruangannya untuk membahas kerjasama mereka yang tertunda sebelumnya


"Selamat siang Pak Kenzo. Tentu kabar saya baik. Bagaimana dengan liburan anda? Bukannya anda baru masuk kerja lagi setelah mengambil cuti selama beberapa hari?" Steve bicara dengan sikap yang tenang disertai senyum tipis dibibirnya


"Ya, itu liburan singkat yang menyenangkan untuk saya. Silahkan duduk!"


"Terimakasih"  Steve menanggapi dengan tenang sambil duduk disalah satu sofa yang ada diruangan Kenzo


"Nah kalau begitu sekarang kita bisa langsung membahas masalah kerjasama antar perusahaan kita" Kenzo dan Steve duduk dengan saling berhadapan disofa yang berbeda. Mereka sama-sama didampingi asisten yang setia berdiri disamping mereka.


"Tentu, saya ingin kerjasama kita langsung dimulai sekarang. Saya yakin kalau ini akan sangat menguntungkan untuk kedua belah pihak"


Kenzo dan Steve mulai membahas kerjasama mereka dengan segala rinciannya. Mereka sama-sama bersikap serius saat membahas pekerjaan. Meeting mereka berlangsung cukup lama hingga menemukan kesepakatan yang menguntungkan bagi keduanya.


"Baiklah saya setuju. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik kedepannya" Kenzo mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat dengan Steve


"Ya semoga kerjasama kita ini bisa berjalan dengan lancar" Steve menyambut uluran tangan Kenzo. Kini mereka saling berjabat tangan sebagai tanda terbentuknya kerjasama diantara mereka


"Aku memang senang bekerjasama denganmu, tapi aku tetap tidak suka kalau ada yang menyaingiku dan bersikap sombong padaku" Steve mencibir Kenzo dalam hati dan menatapnya dengan tatapan sinis dan tajam


"Karena kita sudah sepakat, bagaimana kalau kita merayakannya?" Steve bicara dengan sikap yang tenang saat dia mulai melepaskan tangan Zo


"Maaf, hari ini tidak bisa. Aku sudah memiliki janji lain" Kenzo menanggapi dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin. Dia tetap berwibawa dan gagah saat berdiri dihadapan Steve


"Oh sangat disayangkan. Tapi baiklah aku tidak akan memaksa pak Kenzo lagi" Steve tersenyum saat mengiyakan apa yang dikatakan Kenzo


"Saya tidak akan menyita waktu anda lebih banyak lagi. Kalau begitu saya permisi. Saya harap kita bisa memulai kerjasama kita secepatnya"


"Ya saya juga berharap seperti itu" Steve dan asistennya akhirnya pergi dari ruangan Kenzo


"Ish menyebalkan! Dari tatapannya padaku, aku yakin kalau dia sudah merencanakan sesuatu" Gumam Kenzo saat Steve sudah keluar dari ruangannya. Dia masih menatap pintu dengan sorot mata yang tajam


"Apa yang akan kita lakukan pak?" Tanya Zack yang ingin membantu Kenzo


'Tidak perlu melakukan apa-apa dulu. Biarkan saja mereka memulai duluan, kita hanya perlu menyelesaikannya saja"


***


"Apa kamu sudah mendapatkan lokasi syutingnya?" Steve bertanya pada asistennya setelah dia meninggalkan kantor Kenzo


"Ya pak. Saya sudah mendapatkan alamatnya dan saya juga sudah membuat janji dengan asistennya. Kita bisa pergi kesana sekarang" Asisten Steve menjawab dengan penuh sopan santun


"Kalau begitu jangan buang waktu. Aku ingin segera bertemu dengan wanita cantik itu" Steve tersenyum ceria dengan seringai tipis diujung bibirnya membayangkan Safira

__ADS_1


Steve dan asistennya pun berkendara menuju lokasi pemotretan Safira. Hari ini dia sedang melakukan photoshoot di sebuah taman nasional untuk cover sebuah majalah.


"Bagus Safira. Sekarang ganti lagi dengan pakaian selanjutnya ya. Aku ingin kamu menunjukkan wajah sinis tapi tetap terlihat anggun dengan gaun yang kamu pakai" Photografer sedang mengarahkan gaya yang harus Safira tunjukan pada kamera


"Baik, aku mengerti" Safira menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum tipis.


Disalah satu sudut taman terlihat Catherin sedang memperhatikan Safira. Dia juga sedang melakukan permotretan untuk majalah yang sama dengan Safira, namun mereka tidak berada dalam set yang sama. Kali ini Safira yang menjadi cover majalahnya sedangkan dia hanya sebagai model biasa.


"Cih, menyebalkan! Lihatlah senyum sombongnya itu! Mentang-mentang dia menjadi cover majalah ini, dia jadi berpikir kalau derajatnya lebih tinggi dari yang lain" Catherin mencibir Safira dengan sorot mata yang tajam dan sinis. Dia tidak takut saat bicara meskipun ada model lain bersamanya


"Cath sebaiknya kamu hati-hati saat bicara. Safira bisa saja mendengarmu bicara seperti itu tentangnya" Ujar salah satu moedel lainnya mengingatkan Catherin


"Biarkan saja. Kamu pikir aku takut padanya? Cuih sama sekali tidak" Catherin bicara dengan sinis sambil mendelik pada Safira yang sudah kembali bersiap dengan busana model lain


"Kamu tidak ingat bagaimana nasib Yulita setelah berurusan dengan Safira?" Teman Catherin berusaha mengingatkannya karena saat itu dia juga tahu kalau Yulita berselisih dengan Safira


"Tidak mungkin Safira yang melakukan itu. Apalagi sekarang dia tidak mengingat apapun. Dia pasti tidak akan mengingat apa yang pernah dia lakukan pada Yulita dulu. Jadi dia sama sekali tidak akan memiliki keberanian untuk melawanku yang notabennya memiliki lebih banyak pengalaman daripada dirinya" Catherin bersikeras dengan apa yang menjadi keyakinannya terlebih lagi dia memiliki keinginan untuk menjatuhkan Safira agar bisa mendapatkan peran utama yang telah dijanjikan untuknya


"Terserah padamu saja. Yang jelas aku sudah memperingatkanmu jadi jangan sampai nanti kamu menyesal setelah memilih jalan yang salah"


"Apa pedulimu? Memangnya kamu yakin kalau Safira bisa melakukan sesuatu padaku, hah?!"


Gadis itu bicara sambil berlalu pergi meninggalkan Catherin yang terus saja tak terima dan meggerutu karena apa yang dia katakan


Sementara itu Safira telah selesai dengan photoshootnya, disaat yang sama Steve dan asistennya baru saja tiba dilokasi pemotretan Safira


"Benar pak. Asisten Safira sendiri yang mengatakan kalau lokasinya ada disini dan mereka meminta kita bertemu dikafe sekitar sini" Asisten Steve menjelaskan dengan sikap yang tenang mengenai janji yang dia buat dengan Tiara


"Baiklah, kalau begitu kita akan menunggu disana. Kamu coba hubungi mereka apakah mereka masih lama atau tidak" Steve bicara dengan sikap yang tenang dan sombong


"Baik pak. Saya akan tanyakan lagi padanya" Asisten Steve pun kembali menghubungi Tiara untuk mengkonfirmasi lokasi janji temu mereka


Tuut tuut tuut


"Halo. Saya asisten pak Steve, yang sebelumnya memiliki janji temu dengan nona Safira"


Asisten Steve memperkenalkan dirinya terlebih dahulu


"Oh iya, maaf karena saya tidak menyimpan nomor anda. Kami baru saja selesai melakukan pemotretan dan akan meninggalkan lokasi. Anda sekarang dimana ya?" Tiara bicara pada Steve dengan lembut dan sopan


"Kami sudah tiba di sekitar lokasi pemotretan nona Safira. Sekarang kami menunggu disalah satu kafe tidak jauh dari lokasi. Anda dan nona Safira bisa datang kemari" Asisten Steve bicara dengan penuh wibawa dan sopan


"Kalau begitu beritahu padaku nama kafe tempat anda menunggu. Saya akan langsung kesana" Ujar Tiara lagi menjelaskan

__ADS_1


"Baiklah. Saya akan kirim nama kafenya. Sampai jumpa" Asisten Steve dan Tiara mengakhiri panggilan telepon diantara mereka


"Siapa Ra?" Safira bertanya setelah melihat wajah Tiara yang terlihat tak senang


"Itu orang yang sebelumnya ingin bertemu dengan kak Safira. Katanya dia sudah ada dikafe dekat sini" Tiara menjelaskan dengan pada Safira dengan nada bicaranya yang manja


"Lalu kenapa?" Safira terlihat bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan Tiara


"Tidak tahu kenapa nada bicaranya itu terdengar kaku dan seperti tidak menyukai sesuatu" Tiara merasa sedikit tiduk suka pada asisten Steve


"Jangan berpikir aneh-aneh. Cukup temui mereka sebentar, lalu kita pergi dari sana" Safira bicara dengan sikal yang tenang dan senyum tipis untuk menenangkan Tiara


"Baik kak. Aku mengerti"


Tiara dan Safira pun akhirnya beranjak pergi dari lokasi dan bergegas menuju kafe untuk menemui Steve dan asistennya


Tak berapa lama mereka tiba dikafe tempat Steve menunggu


"Permisi nona, saya asisten pak Steve yang sebelumnya membuat janji dengan anda" Asisten Steve langsung menyapa begitu melihat Safira memasuki kafe


"Oh, saya Tiara dan ini kak Safira. Apa kita bisa langsung menemui pak Steve? Kami masih memiliki jadwal lain setelah ini" Tiara berusaha mempersingkat waktu bertemu Safira dan Steve


"Tentu. Mari ikuti saya" Asisten Steve pun memimpin jalan menuju Steve diikuti Safira dan Tiara dibelakangnya


"Permisi pak. Nona Safira dan nona Tiara sudah sampai disini " Ujar asisten Steve memberitahu kedatangan Safira dan Tiara


"Oh iya. Silahkan duduk nona-nona" Steve bicara dengan nada yang sopan dan senyum yang ramah


"Ternyata nona Safira jauh lebih cantik dari apa yang dilihat dilayar" Safira tersenyum lembut menanggapi pujian Steve padanya


"Terimakasih. Tapi, kenapa anda ingin bertemu dengan saya?" Safira memicingkan mata ketika dia bertanya pada Steve


"Apa seorang penggemar tidak boleh melihat idolanya secara langsung?"


"Anda tidak terlihat seperti seorang penggemar" Safira menanggapi Steve dengan sikap yang dingin


"Benarkah? Padahal aku sangat mengagumi kamu dan ingin lebih dekat denganmu" Safira dan Tiara saling menatap satu sama lain mendengar ucapan Steve


"Terimakasih karena sudah menjadi penggemar saya, dan karena kita sudah bertemu, saya rasa sekarang saya sudah bisa pergi. Maaf karena saya masih memiliki jadwal lain" Safira hendak berdiri setelah dia bicara pada Steve


"Saya rekan bisnis Kenzo" Safira tidak jadi berdiri ketika mendengar ucapan Steve. Steve yang merasa berhasil mempengaruhi Safira tersenyum setelah melihat Safira kembali duduk


"Kami baru saja menjalin kerjasama dan dia sendiri mengatakan tentang hubungan kalian"

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Safira bingung dan penasaran dengan tujuan Steve


"Pasti nona ingin kerjasama kami berjalan lancar kan? Saya memiliki syarat untuk nona"


__ADS_2