
Kenzo langsung bergegas pergi kerumah sakit setelah dia mendapatkan kabar dari Tiara kalau Safira pingsan dan dibawa kerumah sakit.
"Tiara! Dimana Safira? Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Kenzo begitu melihat Tiara berada diluar ruang rawat Safira.
"Kak Safira masih belum sadar. Dokter sedang memeriksa keadaannya didalam. Mungkin sebentar lagi mereka akan keluar" Tiara menjelaskan dengan sedikit panik pada Kenzo
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana Safira bisa pingsan?" Kenzo terlihat sangat khawatir dengan keadaan Safira
"Kak Safira tiba-tiba pingsan saat proses syuting sedang berlangsung. Mungkin dia kelelahan karena kami syuting dari malam hari" Tiara menjelaskan pada Kenzo dengan sikap yang mulai tenang
"Ra, siapa ini?" Tanya Mona yang sejak tadi duduk dan hanya memperhatikan percakapan Kenzo dengan Tiara
"O, ini kak Kenzo. Dia dan kak Safira ..." Tiara tidak melanjutkan kalimatnya karena Mona sudah mengetahui hubungan mereka
"Jadi kamu Kenzo? Saya Mona, manajernya Safira. Akhirnya aku bisa bertemu denganmu secara langsung. Rasanya berbeda dengan yang di televisi. Selama ini Safira tidak pernah mengizinkanku bertemu denganmu. Untungnya kamu masuk televisi sehingga aku bisa tahu seberapa tampannya kamu" Mona bicara dengan senyum ceria
"Iya, saya Kenzo" Kenzo menanggapi dengan senyum tipis dibibirnya.
Ceklek
Kenzo, Mona dan Tiara langsung menoleh begitu mendengar suara pintu yang terbuka. Mereka langsung berjalan mendekati dokter yang baru saja keluar
"Dokter, bagaimana keadaan Safira?" Tanya Kenzo dengan panik
"Dia baik-baik saja, tapi nanti kami akan melakukan pemeriksaan mendalam untuk memastikan penyebab dia pingsan. Kami khawatir jika ada penyebab fisiknya lemah" Dokter menjelaskan dengan rinci mengenai rencana yang akan dilakukan untuk kesembuhan Safira
"Baik dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuknya" Ujar Mona dengan tatapan penuh harap
"Tentu. Kami akan melakukan yang terbaik semampu kami. Kalau begitu saya permisi. Kalian sudah bisa masuk. Hanya saja Safira tetap butuh istirahat selama dia berada disini"
"Baik dokter. Kami mengerti. Terimakasih" Dokter pun menganggukkan kepala dan pergi meninggalkan mereka.
Mona, Kenzo dan Tiara langsung masuk untuk melihat keadaan Safira sekarang. Disana terlihat Safira sedang terbaring dengan mata terpejam. Dia seperti bidadari yang sangat cantik. Kenzo berdiri disampingnya dan terus menatapnya. Dia meraih sebelah tangan Safira dan memegangnya dengan lembut
"Ra, aku disini"
Drrt drrt drrt
__ADS_1
Baru saja Kenzo duduk disana, ponselnya berdering. Dilihatnya nama mami tertulis disana
"Halo, mami" Kenzo menerima telepon dari Cheva dengan ragu-ragu. Dia perlahan menjauh dari Safira dan berjalan keluar kamarnya karena takut mengganggu istirahat Safira
"Halo, Zo. Kenapa kamu tidak memberitahu mami? Lagi-lagi kamu tidak cerita pada mami? Sebenarnya berapa banyak rahasia yang kamu sembunyikan hah?" Cheva langsung menggerutu begitu mendengar suara Kenzo, bahkan Kenzo sampai menjauhkan ponselnya dari telinga
"Tunggu dulu. Sebenarnya apa yang mami bicarakan? Kenapa mami langsung marah-marah begitu? Aku bahkan tidak tahu apa masalahnya" Kenzo tetap bersikap tenang pada Cheva yang terus saja menggerutu kesal tanpa Kenzo tahu apa yang membuat sang ibu kesal padanya
"Katanya kamu sudah punya pacar? Kenapa tidak cerita pada mami? Kapan kamu akan memperkenalkan pacarmu pada mami?!"
Daripada menjelaskan, Cheva kembali melayangkan banyak pertanyaan pada Kenzo yang membuatnya hanya bisa menghela napas
"Haah... pasti Kenzie yang sudah cerita pada mami? Apa saja yang sudah dia katakan pada mami?" Tanya Kenzo dengan sikapnya yang tenang
"Dia bilang pacarmu itu seorang artis dan apa iya kakek dan nenekmu juga sudah kenal dengannya?" Tanya Cheva yang ingin memastikan ucapan Kenzie
"Itu benar. kakek dan nenek mengenal keluarganya karena mereka rekan bisnis" Kenzo hanya bisa mengakui semuanya sebelum Cheva semakin marah
"Kamu harus segera membawanya kemari! Mami juga ingin mengenalnya" Pinta Cheva dengan nada yang kesal
"Untuk sekarang tidak bisa mih. Dia sedang sakit dan dirawat dirumah sakit. Aku sedang menunggunya karena dia juga belum sadarkan diri. Setelah dia sembuh aku janji akan mengenalkannya pada mami" Kenzo menjawab dengan nada bicara yang sedih
"Dokter bilang dia hanya kelelahan karena kemarin syuting dari malam sampai siang hari, tapi dokter akan melakukan pemeriksaan lebih mendalam supaya bisa tahu apa penyakitnya"
Kenzo duduk dikursi tunggu dan menjelaskan dengan kepala tertunduk sedih
"Zo, apa kamu baik-baik saja?" Cheva bertanya dengan nada yang lemah lembut. Tidak seperti sebelumnya, kini Cheva merendahkan suaranya
"Aku tidak papa mih. Aku hanya khawatir saja pada Safira. Akhir-akhir ini kesehatannya kurang baik"
Ada kesedihan dan kekhawatiran dari nada bicara Kenzo. Suaranya yang selalu terdengar tenang, kini sedikit bergetar
"Sudah dulu ya mih. Nanti aku akan hubungi mami lagi jika Safira sudah sadar"
"Baiklah. Kamu juga jaga kesehatanmu. Jangan sampai kami ikut sakit" Cheva mengingatkan dengan suara yang lembut
"Sejak kapan mami menjadi orang yang lembut? Rasanya aneh mendengar mami yang seperti ini" Kenzo menggoda Cheva dengan nada bicara yang sedikit mencibir disertai senyum tipis dibibirnya
__ADS_1
"Kamu ya. Mami marah-marah salah, mami bersikap lembut juga salah. Lalu mami harus bersikap bagaimana? Sudahlah mami kesal bicara denganmu. Beritahu mami jika terjadi sesuatu. Daah!" Cheva yang kesal langsung menutup panggilan teleponnya dengan Kenzo
"Mamiku memang aneh" Gumam Kenzo sambil tersenyum tipis
***
Risha terlihat kesal saat sedang makan siang. Dia masih teringat perihal Ana yang membuat masalah sebelum mereka makan siang
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu? Memangnya apa yang Kenzie bicarakan ditelepon tadi?" Rendra terlihat penasaran dengan alasan Risha diam saja
"Kenzie hanya mengatakan kalau dia ketahuan dekat dengan seorang gadis di kantor. Jadi tante Cheva ingin bertemu dengan gadis itu"
Risha bercerita dengan wajah sedikit malas
"Lalu apa masalahnya sampai kamu terlihat kesal begitu?" Rendra masih penasaran karena belum tahu alasan yang membuat Risha kesal
"Ana, aku masih kesal dengan gadis itu. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu padaku. Dia pikir dia itu siapa? Untung saja dia tidak jadi atasanku disini. Kalau tidak, sudah pasti hari-hariku akan sama seperti saat Kia jadi atasanku" Risha bercerita dengan nada yang kesal
Rendra tersenyum melihat Risha bercerita
"Jadi karena itu? Aku kan sudah menyuruhnya pulang dan tidak menerimanya bekerja dikantorku, apa itu tidak cukup?" Tanya Rendra dengan senyum tipisnya
"Tidak cukup. Aku juga ingin mempermalukan dia seperti dia mempermalukan aku" Gerutu Risha dengan ekspresi yang menggemaskan
"Kamu sudah menamparnya tadi" Rendra mengingatkan Risha tentang apa yang sudah dia lakukan
"Benar juga ya? Ya sudahlah" Risha pun tersenyum dan mulai menikmati makan siangnya
"Kamu ini ya. Mudah sekali merubah moodmu" Rendra bicara sambil tersenyum dan menggelengkan kepala berkali-kali
"Tentu saja. Apalagi jika kamu ada di depanku. Aku bisa selalu ceria" Risha kembali menggoda Rendra sambil mengangkat kedua alisnya
"Ya ampun Risha. Kenapa kamu senanh sekali menggoda orang lain ya? Apa kamu memang selalu menggoda laki-laki dengan gombalanmu itu?" Rendra memicingkan mata curiga menatap Risha
"Maksudnya apa itu? Kamu pikir aku suka menggoda sembarangan pria? Memangnya tahu apa kamu? Jangan sembarangan menuduhku ya, huh! menyebalkan!" Risha yang kesal pun langsung berdiri dan meninggalkan Rendra
"Rasakan, akan aku buat kamu sadar dengan perasaanmu" Gumam Risha dengan senyum menyeringai
__ADS_1
"Eeh tunggu! Maksudku bukan begitu" Rendra yang panik berusaha menahan Risha yang marah dan meninggalkannya sendiri
"Kenapa aku berkata begitu? Apa dia tidak mengerti kalau aku sama sekali tidak bermaksud merendahkannya? Aku hanya gugup" Gumam Rendra yang merasa menyesal dengan ucapannya pada Risha