Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Ancaman Kenzo Pada Rendra


__ADS_3

Hari ini Kenzo kembali keperusahaan JB Company setelah kemarin dia langsung pergi begitu saja karena masalah yang terjadi diperusahaan Anggara.


Kenzo menoleh kesana kemari menyadari tatapan semua orang yang tertuju padanya, namun setiap kali dia menoleh, maka orang yang dia lihat pasti langsung membuang muka,


“Cih, hanya berani  bicara dibelakang saja” gumam Kenzo dengan ujung bibirnya sedikit


melengkung keatas membentuk seringai tipis.


“Selamat pagi Pak Kenzo” sapa salah seorang pria yang selama ini selalu bersikap sinis padanya.


“Selamat pagi, Pak Hardi. Apa hari ini anda salah makan sesuatu?” tanya Kenzo dengan sikap yang dingin


“Tidak. Tentu saja tidak. Mana mungkin saya salah makan? Saya selalu makan-makanan sehat setiap hari” Pak Hardi menanggapi dengan senyum yang terlihat canggung.


“Baguslah kalau begitu. Ku kira anda salah makan sesuatu” timpal Kenzo sambil berlalu meninggalkan Hardi.


“Dasar pemuda kurang ajar. Jika bukan karena kamu cucu bu Jingga, aku tidak akan pernah bersikap baik padamu” gerutu pak Hardi sambil menatap punggung Kenzo yang semakin menjauh.


***


Diruangannya, Kenzo sedang mulai mencari orang untuk dijadikan sebagai asistennya di perusahaan JB Company. Dia tidak mungkin


menjadikan Zack asistennya di perusahaan ini juga. Terlebih lagi Zack saat ini sedang sakit, jadi Kenzo membatasi setiap pekerjaan yang diberikan pada Zack.


“Bagaimana aku bisa menemukan asisten yang bisa dipercaya? Tidak mungkin aku menghubungi Noey dan juga Rendra. Tapi tunggu, mungkin Rendra bisa membantuku mendapatkan asisten baru dari kenalannya” Kenzo sedang mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan asisten baru. Akhirnya dia menghubungi Rendra.


Tuut tuut tuut


Cukup lama Kenzo menunggu sampai Rendra menerima telepon darinya


“Halo, Zo” terdengar suara Rendra yang menyapa dari seberang telepon

__ADS_1


“Halo. Ren, apa kamu sedang sibuk?” Kenzo langsung bertanya untuk sekedar basa basi saja pada Rendra


“Ada apa? Tidak mungkin kamu merindukanku kan?” Rendra bertanya dengan nada mengejek dan senyum tipis pada Kenzo


“Bagaimana menurutmu? Apa aku terdengar seperti merindukanmu?” ujar Kenzo yang menanggapi dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuhnya.


“Zo, apa kata-katamu itu tidak terlalu jahat? Rasanya hatiku akan hancur karena mendengar kata-kata darimu itu” Rendra menanggapi Kenzo dengan sikap yang berlebihan seakan dia sedang benar-benar sakit hati.


“Sepertinya aku sudah terbiasa dengan ini. Apa sekarang kamu  mudah terbawa suasana?” Kenzo kembali mengolok Rendra dengan sikapnya yang dingin.


“Sudah. Sudah. Apa yang kamu inginkan dariku?” Akhirnya Rendra pun langsung bertanya mengenai tujuan Kenzo menghubunginya.


“Ternyata kamu lebih cepat mengerti. Aku sedang mencari seorang asisten. Bisakah kamu mencarikannya untukku?” ujar Kenzo dengan sikap yang tenang.


“Asisten baru? Memangnya kemana Zack?” tanya Rendra dengan dahi berkerut karena heran.


“Dia sedang sakit, jadi aku tidak bisa memberikan dia banyak pekerjaan. Aku butuh asisten untuk membantuku di JB Company, tapi dia harus orang yang bisa dipercaya dan juga cekatan, aku tidak suka orang yang lambat. Asistenku juga harus laki-laki, aku tidak ingin berhubungan dengan wanita yang tidak


“Kamu ini sedang mencari asisten atau pasangan? Kenapa banyak sekali syaratnya?" Rendra menanggapi Kenzo dengan nada mencibir.


"Aku ini mencari asisten direktur, kamu pikir apa? Bahkan mencari pembantu rumah tangga saja tidak boleh sembarangan" Kenzo menimpali dengan nada bicaranya yang dingin.


"Hah dasar. Baiklah aku akan secepatnya menghubungimu jika sudah mendapatkan seseorang yang cocok untuk jadi asistenmu"


"3 hari. Kamu harus dapat asisten untukku dalam waktu 3 hari"


"Kamu ini gila ya?! Kamu bilang tidak boleh sembarangan, tapi kamu meminta bantuanku seakan asisten itu bisa didapatkan dipasar!" Rendra terdengar sangat kesal saat Kenzo hanya memberinya waktu 3 hari untuk mencarikan asisten untuknya.


"Aku punya banyak pekerjaan, jadi aku butuh asisten secepatnya. Kamu tahu sendiri kan sebagai seorang direktur, kita butuh seseorang untuk membantu pekerjaan kita" Kenzo bicara dengan senyum tipis dibibirnya saat dia meyakinkan Rendra.


"Berikan aku waktu setidaknya 1 minggu untuk mendapatkan asisten untukmu" Rendra bicara dengan nada yang tenang agar Kenzo bisa memberikan tambahan waktu padanya.

__ADS_1


"Itu terlalu lama. Kalau begitu ... 2 hari" Kenzo menanggapi dengan tenang.


"Kamu gila?! Bukannya bertambah malah berkurang!" Rendra terlihat sangat kesal dengan sahabatnya itu.


"Sudah kubilang tadi kalau aku butuh asisten secepatnya. Kamu harus temukan asisten untukku dalam 3 hari. Jika tidak, jangan harap hubunganmu dan Risha berjalan baik. Tut tut tut" Kenzo mengancam Rendra dengan sikap yang dingin kemudian menutup teleponnya begitu saja


"Zo? Zo?! Kenzo!! Ya ampun. Bagaimana bisa aku punya sahabat yang menyebalkan seperti dia? Bahkan kami sudah lama berteman. Selama ini... Bagaimana cara aku bertahan dengan orang menyebalkan seperti dia ya?" Rendra terus saja menggerutu setelah Kenzo menutup teleponnya begitu saja


"Lagipula … dia kan yang meminta bantuanku, kenapa dia malah mengancamku menggunakan Risha? Apa dia tidak takut kalau aku malah mengerjainya? Jangan-jangan … kedepannya, dia akan selalu menggunakan cara ini untuk menekanku? Haah" Rendra menghela napas panjang setelah memikirkan masa depannya setelah menjadi bagian dari keluarga Kusuma


***


Hari ini Mariana datang keperusahaan karena ada pemotretan distudio. Dan dia juga menemui Risha untuk berterimakasih karena telah membantunya lepas dari kekasihnya yang gila.


Tok tok tok


"Masuk!" Risha yang sedang bekerja diruangannya menanggapi ketika mendengar suara ketukan pintu


"Permisi, Bu Risha". Risha yang sedang mempelajari dokumen ditangannya langsung mengalihkan pandangannya dan menatap Mariana.


"Eh, Mariana. Ada apa? Duduklah dulu" tanya Risha pada Mariana yang berjalan mendekat kearahnya. Diapun beranjak dari kursinya dan mendekati Mariana sambil mempersilahkan dia duduk disofa.


"Maaf mengganggu Bu Risha. Saya hanya ingin berterimakasih lagi karena anda sudah membantu saya" Mariana bicara dengan sopan pada Risha


"Kenapa formal begitu? Tidak perlu terlalu kaku padaku. Kuharap kedepannya kamu bisa lebih selektif dalam menjalin hubungan" Risha bicara dengan senyum yang ramah dibibirnya.


"Terimakasih, Bu. Untuk saat ini saya tidak ingin menjalin hubungan dulu. Saya masih takut. Jadi, saya hanya akan fokus pada pekerjaan saja" Mariana menanggapi Risha dengan senyun yang ramah.


"Jangan seperti itu. Setiap orang itu punya sifat yang berbeda. Kamu tidak bisa mengatakan kalau semua orang itu baik atau jahat. Ini hanya masalah jalan hidup yang harus dilalui saja. Mungkin setelah ini akan ada laki-laki yang sangat baik padamu melebihi mantan pacarmu itu? Hanya saja kamu memang belum menemukan dia" Risha bicara dengan sikap tenang disertai senyum manis diwajahnya


"Iya, Bu. Saya mengerti dengan maksud dari yang ibu sampaikan tadi. Seseorang yang cocok dengan saya dan mencintai saya pasti ada disuatu tempat. Cepat atau lambat, saya akan bertemu dengannya" Mariana pun tersenyum menanggapi Risha

__ADS_1


"Tentu saja"


__ADS_2