
Hari ini Hasna dan Johan sepakat untuk bertemu. Johan menjemput Hasna seperti yang telah disepakati sebelumnya
"Hai. Apa kamu sudah lama menunggu?" Johan yang baru saja tiba bertanya pada Hasna yang menunggunya di depan rumahnya
"Tidak papa. Lagipula ini didepan rumah ku, jadi tidak masalah. Kita berangkat sekarang?" Hasna menjawab dengan senyum yang lembut
"Tentu" Johan pun membantu Hasna membuka pintu mobil untuknya dan mulai berkendara ke kampus hasna. Dari dalam rumah Sani melihat putrinya diantar oleh seorang pemuda
"Rama, apa kamu tahu kakakmu sedang dekat dengan siapa? Barusan mama lihat dia dijemput seorang pemuda" Sani bertanya pada Rama, mungkin saja dia tahu dengan siapa kakaknya pergi
"Aku tidak tahu. Lagipula kak Hasna sudah dewasa untuk apa mama peduli padanya? Bukannya selama ini mama dan papa sangat sibuk dengan harta warisan yang ditinggalkan kakek?" Rama menjawab dengan sikap acuh tak acuh
"Rama, kenapa kamu bicara seperti itu? Selama ini papa dan tante Astria memang sibuk dengan harta itu, tapi kamu kan tahu sendiri kalau mama tidak pernah ikut campur. Dan mama ingat selama ini mama selalu mencurahkan perhatian mama pada kalian berdua" Sani menjawab dengan nada yang sedih. Dia tidak tahu mana dari sikapnya yang salah saat mendidik kedua anaknya
"Aku tidak ingin berdebat dengan mama. Aku harus kekampus, ini sudah sangat terlambat. Sampai jumpa mah" Rama pun beranjak perg meninggalkan ibunya yang memasang wajah sedih
***
DItempat lain Hasna baru saja tiba di kampus. Selama perjalanannya, dia dan Johan terus saja berbincang mengenai banyak hal
"Na, aku jemput lagi saat pulang ya? Aku ingin mengajakmu makan diluar" Johan bertanya dengan sangat lembut pada Hasna
"Baiklah, nanti aku akan hubungi kamu saat aku sudah pulang. Hati-hati berkendara" Hasna dengan senyum lembut dan wajah tersipu menerima ajakan Johan
"Ya sudah … kamu masuk sana, nanti terlambat!"
"Ya, aku masuk dulu. Sampai jumpa" Hasna pun beralik dan pergi ke dalam kampusnya, sedangkan Johan masih menatapnya hingga menjauh
"Hai cantik? baru pulang kuliah?"
"Iya. Permisi" Johan menggoda seorang gadis yang melintas di depannya
"Mau aku antar? Aku baru saja mengantar saudaraku yang kuliah disini. Bagaimana kalau aku memberikan tupangan padamu?"
"Tapi ..."
"Tidak perlu takut. Aku tidak bermaksud jahat padamu"
__ADS_1
"Baiklah, tapi cukup sampai didepan itu saja ya!"
"Iya, tidak papa" Akhrnya Johan pergi dari kampus Hasna dengan gadis lain bersamanya. Dan akan kembali kesana saat menjemput Hasna nanti
***
"Kapan kamu akan menyelesaikan pekerjaanmu? Aku tidak ingin lama-lama. Aku ingin kamu segera menyelesaikannya dan membuat Hasna patah hati. Jangan menunggu terlalu lama" Radit sedang menghubungi Johan untuk memastikan perkembangan tugas yang diperintahkannya
"Tenang saja pak. Aku sudah berhasil mendekatinya dan tidak lama lagi dia akan jatuh kepelukanku" Johan menjawab dengan sangat yakin
"Bagus. Jangan sampai membuat kesalahan. Aku membayarmu mahal bukan untuk gagal"
"Baik pak. Saya mengerti" Radit dan Johan pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka
"Dit, kamu yakin akan melakukan itu? Aku merasa tidak tega jika harus melukai orang yang tidak bersalah" Candra bertanya pada Radit begitu melihat dia selesai dengen teleponnya
"Kalau begitu, apa kesalahan kakakku? Berapa lama kamu kenal aku juga keluargaku? Menurutmu jika aku melepaskannya apa keluargaku akan melepaskannya?" Radit bertanya dengan sorot mata yang tajam
"Ya, aku tahu kalau keluargamu memang selalu melakukan itu. Tapi apa kamu juga harus melakukan hal yang sama? Maksudku, kamu tidak harus hidup dengan sikap kejam keluargamu" Dengan ragu-ragu Candra bertanya pada Radit
"Kak Lea meninggal, keponakanku jadi yatim piatu saat dia masih bayi, dan ibuku tidak mau bicara sejak kak Lea meninggal. Jika kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan? Membiarkan mereka hanya ditangkap polisi dan di penjara dengan hukuman beberapa tahun, lalu bebas dan menikmati apa yang sudah mereka rebut? Aku tidak bisa begitu. Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan, bahkan itu tidak cukup. Mereka harus lebih menderita daripada keluargaku!" Sorot mata Radit sangat tajam penuh dengan kebencian. Rahangnya mengeras menunjukkan kalau dia berusaha keras untuk menahan amarahnya saat membicarakan keluarga Surendra
"Ya, aku mengerti. Maaf karena aku tidak berpikir sampai kesana. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan selalu membantumu. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri" Candra menepuk pundak Radit mengatakan keputusannya
"Aku tidak peduli meskipun kamu meninggalkanku. Aku masih bisa mendapatkan bantuan dari orang lain selain kamu" Radit menjawab dengan sikapnya yang dingin
"Orang ini ya, sama sekali tidak berterimakasih karena aku memutuskan setia padamu" Ujar Candra kesal dengan sikap Radit
"Kalau begitu terimakasih. sekarang kembalilah ke tempat kerjamu! Aku masih punya banyak kerjaan" Radit kembali dengan pekerjaannya tanpa menghiraukan Candra yang masih berdiri disana
"Ya ya ya, baiklah" Candra pun kembali ke tempat kerjanya
***
Johan sudah menunggu Hasna setelah dia mendapatkan pesan singkat darinya
"Hai, sudah lama nunggu? Maaf karena tadi ada teman sekelompok yang mengajak diskusi mendadak" Hasna bicara pada Johan dengan senyum yang lembut
__ADS_1
"Tidak masalah. Berapa lama pun aku pasti akan menunggumu" Johan menggoda Hasna sambil mencium punggung tangannya
"Kamu bisa saja" Hasna tersipu malu mendengar gombalan Johan
"Ayo peegi sekarang! Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"
"Kemana?" Hasna terlihat bingung mendengar ajakan Johan
"Ikut saja. Kamu pasti suka" Dengan lembut, Johan menarik tangan Hasna dan membawanya naik mobil
"Sebenarnya kita mau kemana?" Tanya Hasna lagi sambil memperhatikan sekeliling jalan
"Kamu akan tahu nanti" Johan hanya tersenyum menjawab pertanyaan Hasna
Tak berapa lama mereka tiba di resort dengan pemandangan yang sangat indah
"Waah indah sekali pemandangannya. Kamu suka menginap disini?" Hasna sangat terpesona dengan indahnya pemandangan sekitar resort
"Ya, aku memiliki satu kamar pribadi disini. Ini masih milik keluargaku. Ayo kita masuk!" Johan pun menuntun Hasna ke satu kamar yang di luarnya telah disiapkan meja makan beserta hidangannya
"Waah, kamu menyiapkan semua ini?" Hasna kembali terpesona dengan meja makan yang ditata sedemikian rupa dengan setangkai mawar di atasnya
"Aku menyiapkan semua ini untukmu. Apa kamu suka?" Tanya Johan setelah melihat reaksi Hasna hang terlihat terpesona
"Ya, aku suka. Terimakasih. Muach"
"Ah, maaf. Aku tidak sengaja melakukannya" Hasna yang sangat tersentuh langsung mencium sebelah pipi Johan. Sampai akhirnya dia tersadar sendiri
"Tidak papa. Justru aku suka" Hasna semakin tersipu dengan kata-kata Johan
"Hasna, meskipun aku baru beberapa hari mengenalmu, tapi hatiku merasa yakin kalau kamu adalah takdirku. Aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama. Maukah kamu menerima cintaku?" Johan melanjutkan kata-katanya dengan setangkai bunga mawar merah ditangannya
"Ya, aku mau" Hasna meraih bunga itu dan memeluk Johan
Johan menunjukkan senyum licik dibelakang Hasna
"Ternyata ini tidak terlalu sulit. Aku akan membahagiakanmu dan juga menjatuhkanmu disaat yang sama. Dengan begitu aku akan menerima bayaranku"
__ADS_1