Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kejutan Untuk Risha


__ADS_3

Kenzo dan Safira langsung kembali setelah melihat Catherin dan Najim di gelandang ke kantor polisi.


"Apa kamu tidak papa?" Kenzo bertanya pada Safira dengan raut wajah khawatir


"Iya, aku baik-baik saja. Tapi Zo, kenapa kamu masih ada disana? Aku pikir kamu sudah kembali" Safira menjawab dengan senyum yang lembut disertai anggukan kepala, kemudian dia bertanya dengan raut wajah bingung.


"Awalnya aku akan kembali, tapi setelah aku melihat temanmu itu … aku jadi khawatir, karena itu aku menunggu disana. Dan ternyata kekhawatiranku itu terbukti, tidak lama aku melihat kamu dibawa masuk ke dalam mobilnya" Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuhnya sambil mulai berkendara meninggalkan hotel.


"Sekarang ... apa yang akan kamu lakukan? Apa kita akan pulang atau kembali ke lokasi pemotretan?" Kenzo menatap Safira dengan lembut saat dia menunggu jawaban dari sang istri


"Ehm ... sebaiknya kita kembali ke lokasi saja. Tidak enak kalau aku pergi tanpa izin dari mereka, dan aku juga harus profesional, kan? Lagipula mereka sudah ditangkap polisi, kurasa kamu sudah tidak perlu khawatir lagi" Safira tersenyum lembut dengan nada bicara yang manja saat dia berusaha membujuk Kenzo untuk kembali ke lokasi pemotretannya.


"Tidak, kita belum menangkap 1 tikus lagi yang masih berkeliaran dengan bebas diluar sana" ujar Kenzo sambil menggelengkan kenapa dengan nada bicara yang dingin.


"Ya, aku tahu tapi aku benar-benar harus melakukan pemotretan hari ini" Safira menanggapi dengan wajah memohon agar sang suami mengizinkannya pergi.


"Baiklah, aku akan menemanimu hari ini. Tapi aku ingin kamu tidak mengambil jadwal diluar kota selama Tiara masih belum pulih, Aku tidak mau hal seperti ini sampai terulang lagi saat tidak ada yang menemanimu melakukan photoshoot" Kali ini Kenzo terlihat sangat serius saat dia meminta Safira untuk tidak mengambil jadwal dilokasi yang terlalu jauh.


"Ya, aku mengerti" Kenzo pun mengantar Safira ke lokasi untuk melanjutkan pemotretannya.


***


Sementara itu di kantor perusahaan Sanjaya, Risha sedang gelisah. Sudah sejak kembali dari negara F Rendra sangat sibuk sampai mereka tidak sempat saling telepon. Rendra hanya sesekali mengirim pesan padanya.


"Ada apa dengan laporan ini? Bukannya film itu akan segera rilis? Kenapa bisa tertunda lagi?" Risha terlihat kesal setelah melihat laporan dari sekertarisnya, ditambah lagi moodnya yang tidak bagus.


"Anu bu, katanya ada skandal dengan pemain filmnya, jadi akan lebih baik kita menunda perilisannya sampai gosipnya mereda". Risha mengernyitkan dahinya heran mendengar alasan ditundanya perilisan film baru mereka.


"Skandal? Skandal apa?" tanya Risha yang semakin heran.


"Pemeran utama wanita dikatakan melakukan perselingkuhan. Pacarnya terus saja bicara kesana kemari dan menjelekkan artis kita. Itu membuat reputasinya saat ini menjadi buruk" ujar sang sekertaris menjelaskan.


"Dimana dia sekarang? Aku harus bicara dengannya" Risha bicara dengan nada yang dingin dan sikap yang tenang


"Sudah beberapa hari ini dia tidak datang kemari. Mungkin dia sangat terpukul dengan gosip yang beredar tentangnya sampai tidak berani keluar rumah"


Risha terdiam sesaat memikirkan rencana yang harus dia ambil untuk menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


"Berikan aku alamatnya. Aku akan pergi kerumahnya sekarang" ujar Risha dengan sikap yang tegas


"Baik, bu. Saya akan tuliskan alamatnya sekarang" Sekertaris itu berbalik dan beranjak pergi dari ruangan Risha untuk menuliskan alamat artisnya yang sedang terkena masalah.


Sementara Risha sedang bingung dan kesal yang bercampur aduk, dilantai bawah kantornya semua orang sedang riuh karena kedatangan seorang pemuda tampan.


Seorang pemuda berjalan masuk kekantor Sanjaya dengan sebelah tangan dimasukan kedalam saku celana dan sebelah lagi membawa karangan bunga yang indah. Dia berjalan dengan santai dan elegan, setelan jas slim fit yang dia kenakan membuatnya terlihat gagah dan menawan. Pemuda itu bertubuh tinggi dengan kulit putih bersih, rambut ditata rapih, matanya jernih dengan sorot mata tajam, hidungnya kecil dan mancung, bibirnya kecil dengan warna sedikit gelap.


"Permisi, apa bu Risha ada diruangannya?" tanya pemuda itu pada resepsionis yang bertugas.


"Maaf, apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" Resepsionis kembali bertanya untuk memastikan.


"Belum. Saya ingin membuat kejutan untuknya. Bisakah anda membantu saya?"


"Rendra, kamu ...?" Belum sempat resepsinis itu menjawab, Diaz datang dan menyela perbincangan mereka. Dia terlihat sangat terkejut melihat Rendra yang kini sudah tidak menggunakan kursi roda lagi.


"Om Diaz" Rendra berjalan mendekati Diaz dengan sikap yang tenang.


"Apa kabar Om?" tanya Rendra dengan sikap yang tenang dan sopan


"Kabarku baik. Kamu ... kakimu sudah sembuh? Kamu sudah tidak menggunakan kursi roda lagi?". Diaz bertanya sambil memperhatikan kaki Rendra yang kini sudah sembuh dan bisa berjalan dengan normal.


"Apa kamu kemari untuk menemui Risha?" Diaz bertanya dengan sikap yang sinis setelah melihat buket bunga yang dibawa Rendra


"Ya, Om. Aku ingin memberikan kejutan padanya. Sejak kembali dari negara F aku sibuk terapi dan tidak bisa menghubungi Risha dengan leluasa. Sekarang aku sudah sembuh, aku ingin menghabiskan waktu dengannya. Boleh kan, Om?" ujar Rendra dengan sikap yang tenang dan ekspresi datar.


"Bagaimana jika aku melarangmu? Ini jam kerja dan dia memiliki banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan" Diaz menanggapi Rendra dengan sikap yang dingin dan tatapan yang sinis.


"Maaf Om, tapi Om tidak bisa melarang aku menemui Risha. Aku sudah jauh-jauh datang kemari, tentu saja aku tidak akan melepaskan kesempatan untuk bertemu dengannya begitu saja" Rendra menanggapi Diaz dengan senyum tipis dan sikap yang acuh tak acuh. Mereka sama sekali tidak merasa malu saat semua orang memperhatikan mereka.


"Bukannya itu pacarnya bu Risha yang waktu itu memakai kursi roda ya?"


"Benar. Itu pacarnya bu Risha. Duduk dikursi roda saja dia tampan, sekarang melihat dia berdiri jadi lebih ..."


"Kamu benar. Tidak heran kalau bu Risha mau jadi pacarnya. Dia tampan, muda, dan kaya. Bu Risha sangat beruntung"


"Eh, bukan hanya bu Risha saja yang beruntung, tapi pemuda ini juga. Kita kan tahu kalau bu Risha itu putrinya pak Diaz, dia juga cantik, dan pintar. Tentu saja yang mendapatkan bu Risha otomatis jadi bagian dari kelarga Kusuma, kan?"

__ADS_1


Para karyawan yang sedang berada di lobby saling berbisik membicarajan Risha dan Rendra. Disaat yang bersamaan Risha yang hendak pergi  ke rumah salah satu artisnya turun dan melihat keributan yang sedang terjadi diantara karyawannya.


"Ada apa ini?" tanya Risha dengan nada bicara yang dingin dan sikap yang tenang.


"Eh, maaf bu" Para kartawan wanita itu terlihat panik karena Risha tiba-tiba berdiri dibelakang mereka. Dia masih belum menyadari kehadiran Rendra yang sedang berdebat dengan sang ayah di depan meja resepsionis.


"Apa yang kalian lakukan disini? Ini jam kerja, kenapa kalian malah bergosip disini?". Para gadis itu saling menatap satu sama lain ketika Risha bertanya kepada mereka


"Anu Bu, itu ..." ujar salah satu dari gadis itu yang tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya menunjuk pada Rendra dan Diaz.  Pandangan Risha mengikuti arah tangan gadis itu. Dia terdiam dengan linangan air mata dan kedua tangan yang menutup mulutnya


"Rendra?" gumam Risha yang perlahan mulai melangkah kearah Rendra yang masih berdebat dengan Diaz


"Aku akan tetap menemui Risha. Om tidak bisa melarangku bertemu dengannya" Rendra bersikeras untuk menemui Risha meskipun Diaz melarangnya.


"Rendra? Benarkah itu kamu?" Diaz dan Rendra langsung menoleh serempak begitu mendengar suara Risha.


"Ya, ini aku" Rendra perlahan mendekati Risha yang menatapnya tak percaya dengan linangan air mata.


"Kamu tidak senang melihatku bisa berjalan lagi?" Rendra bertanya dengan senyum dibibirnya sambil mengusap air mata Risha


"Mana mungkin aku tidak senang? Aku sangat senang sekali" ujar Risha yang langsung berhambur ke pelukan Rendra dan menangis dalam dekapannya.


"Jika kamu senang, kenapa kamu malah menangis? Lihat, kecantikanmu jadi kalah dari bunga ini karena kamu menangis" Rendra kembali menggodanya sambil mendekap lembut sang kekasih disertai senyum manis yang terlihat dibibirnya saat dia bicara.


Risha melepaskan pelukan Rendra, lalu menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca


"Tentu saja karena aku bahagia karena melihat pacarku yang tampan bisa berjalan lagi" ujar Risha dengan nada yang manja


"Kalau begitu … bagaimana kalau kita melarikan diri hari ini? Papimu sama sekali tidak mengizinkan aku bertemu denganmu" Rendra menoleh pada Diaz kemudian berbisik pada Risha dengan nada mengeluh.


Risha pun menoleh pada Diaz kemudian kembali menoleh pada Rendra sambil tersenyum ceria


"Ayo!" Risha pun menarik Rendra pergi meninggalkan perusahaan Sanjaya


"Hei! Kalian mau kemana?! Ini masih jam kerja?!" Teriak Diaz yang melihat putrinya menarik Rendra dihadapannya


"Maaf Pih, hari ini aku mau bolos kerja!" Risha pun ikut berteriak menanggapi sang papi. Rendra pun berbalik melihat Diaz sambil melambaikan bunga yang masih dia pegang disertai senyum penuh kemenangan

__ADS_1


"Anak ini. Masih pacaran saja sudah berani merebut putriku, apalagi kalau sudah menikah. Dia pasti tidak akan membiarkan aku bertemu Risha" keluh Diaz menatap punggung Rendra dan Risha yang semakin menjauh


"Tunggu. Kalau sampai itu terjadi …" Diaz menggelengkan kepala berkali-kali sambil bergumam sendiri saat membayangkan ketika Risha dan Rendra menikah. Diapun terus menggerutu sambil beranjak pergi kembali keruangannya


__ADS_2