
Panji masih berada dirumah sakit sampai sore hari tiba. Dia tetap ingin menemani Risha disana, meskipun Rendra sudah memintanya pulang. Saat iniĀ mereka sedang jalan-jalan ditaman rumah sakit mnggunakan kursi roda. Meskipun begitu Rendra sama sekali tidak membiarkan mereka pergi berdua. Dia tetap megikutinya dari belakang dan mengawasinya dari kejauhan
"Sha, kenapa dia selalu mengawasi kita? Ini seperti aku akan membawamu kabur jika dia lengah sedikit saja" Ujar Panji dengan sedikit berbisik pada Risha sambil mendorongnya yang duduk diatas kursi roda
"Dia diminta kenzo untuk menjagaku, mungkin jika dia lengah sedikit saja lehernya bisa digantung oleh si pangeran kutub itu. Jadi pak Panji abaikan saja dia" Jawab Risha dengan berbisik dan tersenyum tipis pada Panji
"Pangeran kutub? Memang saudaramu itu sangat menyeramkan seperti itu ya? Sepertinya dia tidak seperti itu? Oh kulihat temannya itu masih sangat muda, kenapa bisa menuruti ucapan Kenzo?" Tanya Panji yang heran melihat Rendra sangat patuh pada Kenzo, dia pun sedikit melirik kearah Rendra
"Sikap Kenzo itu sangat dingin. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu menyebalkan. Jadi kami selalu memanggilnya pangeran kutub. Aku juga tidak tahu kenapa Rendra sangat patuh pada Kenzo. Mungkin saja Kenzo telah melakukan sesuatu padanya, jadi mau tidak mau Rendra harus menuruti perkataannya?" Jawab Risha dengan senyum yang manis
"Yang aku tahu Kenzo sangat menyeramkan. Meskipun dia terlihat tenang dan sangat jarang bicara, tapi dia memiliki banyak ide di kepalanya yang kecil itu. Sungguh pemikirannya tidak dapat ditebak" Lanjut Risha yang mengeluh dengan sikap acuh tak acuh
"Maksudnya menyeramkan?" Panji tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Risha padanya
"Maksudku, dia itu selalu punya pemikiran lebih jauh ke depan dan tidak bisa diduga-duga. Contohnya saja, dia memilih pergi ke negara F untuk kuliah tanpa membicarakannya terlebih dahulu pada kami. Bukannya itu menyeraman? Dia bisa melakukan apa saja yang dia mau tanpa minta persetujuan kami" Risha mengeluh dengan nada bicaranya yang manja
Panji tersenyum mendengar keluhan Risha, dia benar-benar berpikir kalau Kenzo hanya menyeramkan sebatas itu saja. Dia tidak berpikir lebih mengenai apa yang dikatakan Risha
"Zo, Zie! Kalian sudah kembali?!" Risha tersenyum ceria saat melihat Kenzo dan Kenzie Berjalan mendekat kearahnya
"Ini sudah sore, kenapa kamu masih ada diluar?" Kenzie balik bertanya dengan nada bicaranya yang lembut pada Risha
"Aku bosan hanya duduk di dalam kamar dan kebetulan Pak Panji datang, jadi aku memintanya mengantarku jalan-jalan" Jawab Risha dengan senyum ceria
Kenzo langsung menatap tajam pada Rendra
"Jangan menatapku seperti itu. Aku sudah mengikuti dia sejak kalian pergi" Ujar Rendra menanggapi tatapan dari Kenzo
"Ya sudah. Ayo kembali ke kamarmu! Ini sudah sore, pak Panji juga pasti harus pulang untuk istirahat atau mungkin mengunjungi Arumi di balik sel tahanan" Kenzie bicara dengan senyum tipis namun matanya terdengar menyindir
"Dibalik sel tahanan?" Panji terkejut mendengar ucapan Kenzie
__ADS_1
"Benar. Kami sudah melaporkan kasus tabrakan yang dialami Risha. Dan tentu saja tersangka utamanya adalah Arumi. Jika kamu tidak percaya, silahkan cek sendiri ke kantor polisi" Kenzie menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum tipis pada Panji
"Jadi benar Arumi pelakunya? Sha, maafkan aku. Ini semua terjadi gara-gara aku" Panji meminta maaf pada Risha dengan wajah tertunduk malu
"Ini bukan salah bapak. Lagipula Arumi sudah mendapatkan hukumannya. Kuharap dia sudah menyadari kesalahan yang dia perbuat" Risha bicara dengan lembut sambil menenangkan Panji
"Karena saudaramu sudah datang, sebaiknya aku pulang dulu. Lain kali aku akan datang lagi menemuimu"
"Baik pak. Terimakasih" Panji pun berbalik dan pergi meninggalkan Risha yang masih menatap kearahnya
"Biar aku yang mendorongmu kembali ke kamar" Ujar Kenzo sambil meraih pegangan kursi roda
"Euh" Risha menganggukkan kepala menanggapi ucapan Kenzo
"Sha, aku dan Rendra harus kembali ke negara F. Sudah beberapa hari aku cuti kuliah. Pekerjaanku disana juga sudah cukup lama ditinggalkan. Kamu tahu kan kalau aku hanya seorang waitress saja?" Kenzo bicara sambil mendorong kursi roda Risha
"Apa kalian akan pulang bersama dengan kakek dan nenek?" Tanya Risha sambil mendongak menatap wajah Kenzo
"Kamu benar. Kamu bisa langsung jadi trending topik majalah besar jika ada diantara kakek dan nenek" Ujar Risha menanggapi Kenzo dengan nada bercanda
"Ya, begitulah kira-kira. Apalagi dengan wajahku ini yang tidak mungkin bisa disembunyikan" Risha tersenyum mencibir apa yang baru saja dikatakan Kenzo
"Apa tidak bisa kamu kurangi narsismu itu?" Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya bersamaan meskipun Risha tidak melihatnya
***
Keluarga Kusuma sedang berkumpul di kediaman utama, Kenzo dan Rendra pun berkumpul disana. Kenzie yang dibiarkan menemani Risha dirumah sakit, setelah malam sebelumnya Tania dan Diaz yang menemaninya.
"Zo, kamu belum memperkenalkan temanmu pada kami. Kami. lihat dia selalu bersama denganmu" Cheva bertanya pada Kenzo mengenai Rendra yang kini duduk disebelahnya
"Mami, Rendra sudah berhari-hari disini dan mami baru menanyakannya sekarang?"
__ADS_1
Kenzo bertanya dengan sikapnya yang acuh tak acuh
"Mami belum sempat bertanya dan kamu juga tidak berinisiatif mengenalkannya" Jawab Cheva yang tidak ingin kalah dengan Kenzo
Kenzo menoleh pada Rendra seakan meminta persetujuan darinya
"Dia Rendra Adelio Dirga, putra kedua dari keluarga Dirga" Ujar Kenzo memperkenalkan Rendra
"Salam kenal semuanya, maaf karena tidak sopan telah menginap disini tanpa izin kalian" Ujar Rendra dengan senyum tipis dan sikap yang tenang
"Kamu putra dari James Dirga? Salah satu pengusaha ternama yang bergerak dibidang otomotif? Berarti kamu adalah putra kedua yang selama ini selalu disembunyikan dari publik?" Diaz memperjelas mengenai identitas Rendra yang sebenarnya
"Sepertinya om tahu betul mengenai keluarga saya. Saya merasa terhormat karena kalian memperhatikan mengenai saya" Jawab Rendra dengan sikap yang tenang dan sopan
"Tapi kenapa kamu tidak membantu kakakmu mengelola perusahaan? Sepertinya Bastian cukup kewalahan dengan 2 perusahaan yang dia kelola" Ji bertanya dengan sikapnya yang tenang dan elegan
"Saya belum tertarik masuk ke dalam perusahaan keluarga. Mungkin kalau saya sudah merasa mampu, saya bisa bergabung dengan perusahaan keluarga" Rendra menanggapi setiap pertanyaan dengan sikap yang tenang. Kenzo tidak banyak bicara mengenai Rendra karena dia tahu bagaimana perasaannya
"O iya, Zo. Kapan kamu akan kembali ke negara F? Kalian bisa berangkat dengan kami besok" Ujar Bi yang merasa suasana tiba-tiba berubah canggung
"Tidak kek, kami sudah memesan tiket untuk penerbangan besok pagi. Jika aku pergi dengan kalian, maka semuanya tidak akan bisa dikendalikan" Jawab Kenzo dengan sikap tenang
"Bahkan saat kamu ingin kembali juga tidak mengatakan pada kami sebelumnya?" Tanya Yudha dengan nada bicaranya yang sedikit berat
"Maafkan aku kakek buyut, Kupikir Risha sudah baik-baik saja dan yang membuat dia celaka juga sudah dapat hukumannya, sekarang aku harus kembali kuliah dan bekerja" Kenzo menanggapi Yudha dengan sikap sopan
"Dimana kamu kuliah dan bekerja? Sesekali kita bisa bertemu dan makan bersama" Ed bertanya sambil mengesap teh hangat yang di sediakan untuknya
"Maaf kakek, aku tidak bisa memberitahumu. Ini privasi, aku tidak ingin identitasku terbongkar" Ujar Kenzo dengan sikap dingin
"Lihatlah, anak ini sama menyebalkannya denganmu Lian!" Ed mencibir Lian yang sama dinginnya dengan Kenzo
__ADS_1
"Dan dia juga cucu papi" Semua terbahak menertawakan Lian dan Ed yang masih selalu berdebat