Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Keputusan Terbaik Kenzie


__ADS_3

"Tinggalkan Keluargamu"


"Apa?!"


Tidak hanya Kenzie yang terkejut, tapi Meisya juga terkejut dengan apa yang dikatakan sang ayah.


"Papa!" teriak Meisya pada pak Arseno


"Papa hanya mengatakan apa yang harus Kenzie lakukan jika dia memang ingin bersama denganmu" Pak Arseno menanggapi Meisya yang kesal dengan sikap yang dingin.


Kenzie hanya diam dengan kedua tangan mengepal dan raut wajah yang suram setelah mendengar permintaan pak Arseno


"Anda meminta saya meninggalkan keluarga saya? Kenapa?" Kenzie bertanya dengan sikap yang dingin dan sorot mata penuh selidik.


"Semua orang tahu kalau keluarga Kusuma adalah keluara terkaya dengan bisnis menggurita, sedangkan aku hanya pengusaha arsitektur saja, Meisya dan keluargamu benar-benar tidak cocok". Pak Arseno terlihat sangat tenang meskipun saat ini Meisya sudah gelisah dan menitikan air mata sambil menatap wajah Kenzie.


"Apa anda pernah bertemu dengan keluarga saya? Apa anda mengenal baik keluarga saya?" Pak Arseno menanggapi pertanyaan Kenzie dengan menggelengkan kepala perlahan


"Kalau anda tidak tahu, bagaimana anda bisa menilai keluarga saya seperti itu? Kami tidak pernah membeda-bedakan status siapapun. Meisya juga sudah mengenal keluarga saya dna tidak ada yang menentang hubungan kami, jadi apa yang harus anda khawatirkan lagi?".


Kenzie bicara dengan sikap yang dingin. Tidak ada keramahan sama sekali dari wajahnya. Terlihat jelas kalau dia sangat kesal dan marah pada pak Arseno yang menilai keluarganya seenaknya saja.


"Aku memang tidak mengenal langsung keluargamu. Dan saat ini mereka memang bersikap baik pada Meisya, tapi bagaimana kalau setelah kalian hidup bersama nanti, banyak ketidak cocokan yang kalian temukan?" ujar Pak Arseno dengan raut wajah khawatir.


"Papa, keluarga kak Zie sangat baik. Mereka tidak pernah menganggap aku lebih rendah dari mereka. Semuanya selalu baik padaku" Meisya pun ikut bicara untuk meyakinkan sang ayah mengenai keluarga Kusuma.


"Mei, Papa hanya ingin kebahagiaanmu. Papa tidak ingin kamu berada dalam lingkungan yang sangat keras dan penuh dengan tuntutan setiap harinya seperti keluarga Kusuma. Jika kamu berada dikeluarga itu, kamu harus selalu waspada pada setiap orang disekelilingmu. Banyak orang yang akan berusaha menjebakmu ataupun mendekatimu demi keuntungan mereka!". Pak Arseno bersikukuh dengan ketakutannya yang berlebihan terhadap Meisya.


"Jadi Kenzie, apa kamu mau melakukan apa yang aku  minta untuk bisa bersama dengan Meisya? Aku ingin Meisya bahagia bersama denganmu, tapi aku juga tidak ingin Meisya jadi bagian dari keluargamu"

__ADS_1


"Kak Zie ..." Meisya bergumam dengan suara yang lirih. Dia menatap kenzie dengan penuh kesedihan.


Kenzie terdiam mempertimbangkan perkataan pak Arseno dengan sorot mata yang tajam.


"Saya memang mencintai putri anda dan saya bisa melakukan apa saja untuknya. Tapi apa anda pernah mempertimbangkan dengan baik permintaan anda itu?" ujar Kenzie dengan sikap yang dingin. Tidak ada keramahan ataupun sikap yang hangat darinya saat ini


"Apa maksudmu?" Pak Arseno memicingkan mata tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh kenzie


"Jika saya  meninggalkan keluarga saya dan memaksakan keinginan saya untuk menikahi Meisya, apa anda pikir saya masih bisa bersikap baik padanya? Saya dan Meisya belum terlalu lama menjalin hubungan. Sikap kami pun bisa berubah kapan saja seiring berjalannya waktu. Lain halnya dengan keluarga saya, 27 tahun saya bersama dengan keluarga saya. Mereka yang merawat saya, mendukung saya dan menjadi sandaran untuk saya. Menurut anda, bagaimana perasaan saya? Apa saya masih bisa bahagia hidup dengan gadis yang membuat saya kehilangan keluarga saya? Saya terpaksa meninggalkan keluarga demi memilih gadis yang saya cintai. Tidakkah anda pikir kalau rasa cinta saya bisa berubah menjadi benci pada Meisya?" Kenzie terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya


"Lalu, bagaimana jika situasinya kita rubah? Saya meminta Meisya meninggalkan anda untuk hidup berdua dengan saya. Apa dia akan tetap bahagia? Lalu bagaimana dengan perasaan anda yang kehilangan seorang anak yang selama ini anda rawat dan anda jaga dengan penuh kasih sayang?" Kenzie terdiam mempelajari mimik wajah pak Arseno


"Hal yang anda pikirkan berlaku untuk keluarga saya jika saya memilih untuk meninggalkan mereka. Jadi jika anda tetap meminta saya untuk memilih antara orang yang saya cintai dan juga keluarga saya, maka saya sudah pasti memilih keluarga saya"


Zie menjawab dengan tegas permintaan pak Arseno. Tidak ada keraguan maupun penyesalan yang terlihat dari wajahnya.


"Kamu yakin kalau kamu tidak berani meninggalkan keluargamu hanya karena kasih sayang mereka? Bukan karena kamu takut kehilangan kemewahan yang selama ini kamu miliki?" Pak Arseno memicingkan mata saat dia bertanya lagi pada Kenzie.


"Maksud anda, saya takut jika meninggalkan keluarga Kusuma, saya akan hidup susah?" Kenzie bertanya dengan senyum mencibir dibibirnya


"Pak Arseno, apa anda tahu dari usia berapa saya mulai belajar bisnis? saya mulai belajar bisnis dari saya kecil, saat berusia 10 tahun. Disaat anak lain masih menikmati belajar dan bermain, kami sudah mulai mempelajari strategi bisnis. Anda pikir kenapa saya dan saudara saya menutupi identitas kami sampai sekarang?"


"Karena kami harus membuktikan kemampuan kami sebelum kami layak menjadi penerus perusahaan. Sekarang saya sudah mendapat pengakuan sebagai penerus perusahaan, apa anda pikir saya tidak akan mampu berdiri sendiri?" sambung Kenzie yang bicara dengan sikap yang dingin.


"Jadi ... apa kamu berani meninggalkan keluarga Kusuma dan masuk keperusahaanku sebagai penerus keluarga Wilandra nantinya?" tanya Pak Arseno lagi yang masih mencari jawaban pasti dari Kenzie.


Kenzie terdiam sesaat sambil memandangi Meisya dengan senyum yang sinis.


"Tidak, Karena sepertinya ... Meisya tidak layak menjadi pendamping saya. Saya sudah bilang kalau keluarga adalah hal yang paling penting lebih dari apapun. Jadi saya akan menyerah atas putri anda yang berharga itu" ujar Kenzie yang bicara dengan sikap yang dingin. Dia pun menatap Meisya yang kini telah berderai air mata karena jawaban yang dia berikan.

__ADS_1


"Kamu yakin?" tanya pak Arseno memastikan pada Kenzie mengenai pilihannya, namun Zie sama sekali tidak menanggapinya.


"Sya, maafkan aku. Aku memang mencintaimu, tapi aku tidak ingin mengorbankan keluargaku untuk masa depan yang belum pasti diantara kita" Kenzie menggelengkan kepala dengan suara rendah ketika bicara pada Meisya. Seketika tangis Meisya pecah dan air matanya sudah tak bisa dibendung lagi


"Hiks ... hiks ... hiks ... Kak Zie ... aku tidak ingin berpisah denganmu" Meisya bicara disela isak tangisnya, namun Kenzie sudah tidak bisa lagi menatap matanya.


"Karena sudah tidak ada hal yang harus dibicarakan lagi disini. Maka saya akan pamit undur diri"


"Baiklah. Setelah ini, kalian tidak perlu lagi saling bertemu" ujar Pak Arseno yang keras kepala tanpa mempertimbangkan perasaan Meisya.


"Permisi". Kenzie tidak menanggapi dan mulai beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar dari rumah pak Arseno


"Kak Zie ...!"


"Tidak perlu kamu kejar. Dia tidak benar-benar mencintaimu. Dia sama sekali tidak ingin berkorban untuk bisa berada disampingmu" ujar pak Arseno dengan sikap yang dingin sambil memandang Kenzie yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Papa jahat! Kak Zie. Tunggu aku... hiks ... hiks..." meisya berteriak pada sang ayah kemudian berlari mengerjar Kenzie


"Mei! Meisya!" teriak pak Arseno yang sama sekali tidak didengar oleh Meisya.


"Kak Zie ... hiks ... hiks.. hiks..." Meisya berlari mengerjar Kenzie dan memeluk pria yang dicintainya itu dari belakang


"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa lagi jauh darimu! Aku mencintaimu".


Meisya terus bicara disela isak tangisnya sambil memeluk Kenzie yang hanya diam dengan air mata yang mulai menetes.


Kenzie pun berbalik dan menatap Meisya yang berderai air mata.


"Sya, aku menyerah bukan karena aku tidak mencintaimu, kamu tahu itu kan? Tapi aku juga tidak bisa memperjuangkanmu untuk hidup bersama denganku. Dia adalah ayahmu, meskipun aku bisa tetap membawamu pergi dan jadi bagian dari keluargaku tapi itu tidak akan menjamin kebahagiaan kita karena ayahmu akan membenciku"

__ADS_1


"Tapi jika aku menerima tawaran ayahmu dan meninggalkan keluargaku, itu juga tidak akan membuatku bahagia. Aku hanya akan melihatmu sebagai penyebab aku kehilangan keluargaku. Jadi... Kita akhiri saja sampai disini. Ini akan percuma saja kalaupun kita teruskan".


__ADS_2