Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Fredi Menggantikan Rendra Jadi Direktur Utama


__ADS_3

Kenzo menghubungi Bastian setelah dia menutup telepon dari Alan


Tuut tuut tuut


"Halo" Terdengar suara Bastian dari ujung telepon. Dari suaranya, Bastian terdengar ragu-ragu


"Apa kamu memang merencanakan ini dengan om dan juga sepupumu? Sungguh sangat berani, bahkan kamu belum tahu bagaimana kondisi Rendra saat ini" Kenzo duduk bersandar di sofa dengan kaki disilang, dia terlihat tenang dengan nada bicara yang dingin dan senyum menyeringai


"A-aku ... aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan" Bastian terdengar bingung dan panik mendengar suara Kenzo. Dia juga seakan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kenzo


"Fredi, dia datang ke kantor dan ingin menggantikan Rendra. Kalian sengaja mencelakai Rendra untuk posisi itu?" Kini sorot mata Kenzo terlihat dingin dan tajam. Dengan kilatan berbahaya seakan siap memangsa.


"Tidak. Tidak. Aku sama sekali tidak tahu dengan apa yang kamu katakan. Aku bahkan tdak tahu kalau Fredi datang ke kantor" Bastian semakin panik. Dia sangat gugup menjawab setiap pertanyaan dari Kenzo


"3 hari, aku beri waktu kalian selama 3 hari untuk bersantai dan menikmati apa yang kalian dapatkan hari ini. Setelah 3 hari aku akan kembali mengambil semuanya dan juga bunga yang harus kalian bayar" Kenzo menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Bastian. Dia terlihat sangat tenang, namun ada tatapannya sangat berbahaya.


"Kak, kenapa dia terlihat menyeramkan? Sejak tadi dia tersenyum tapi bulu kudukku rasanya merinding  melihat senyumnya"


Meisya menarik ujung baju Kenzie dan berbisik padanya karena melihat Kenzo dengan auranya yang luar biasa. Dia terlihat berwibawa, tenang dan sangat mengintimidasi.


"Itulah Kenzo. kami selalu memanggilnya gunung es. Dingin dan tak tersentuh, dia tidak banyak bicara, tapi kalau dia sudah bergerak ... ehm, habis sudah" Kenzie pun menjawab Meisya dengan berbisik


"Ekhem ekhem . Zo, Alan itu sekertarisku, tapi kenapa dia lebih patuh padamu ya? Dia juga melaporkan kondisi perusahaanku padamu. Kenapa tidak padaku?" Rendra menggerutu karena Alan malah menghubungi Kenzo dan bukan dirinya


"Ya, mau bagaimana lagi. Mungkin karena aku lebih cocok jadi pemimpin ketimbang kamu" Kenzo menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil memainkan ponselnya. Itu membuat Risha, Kenzie dan Meisya menahan senyum, sementara Rendra sendiri cemberut karena kesal dengan sikap Kenzo.


"Tapi Zo, tadi aku dengar kamu akan memberikan mereka waktu 3 hari. Untuk apa?" Kenzie kini terlihat penasaran dengan apa yang direncanakan Kenzo.


"Sekarang dia berusaha menggantikan posisi Rendra sebagai direktur utama Dirga Electronik, jadi aku ingin dewan direksi menilai sendiri pekerjaan sibodoh Fredi. Aku akan mengumpulkan bukti ketidak layakan Fredi menduduki posisi pemimpin, dan membuatnya malu"


"Hanya itu saja? Tidak seru!" Risha menyela dengan nada mencibir


"Tentu saja tidak. Dia membuat Rendra tidak bisa jalan, jadi aku akan melakukan balapan dengannya. Kita lihat saja, kalau dia jatuh dari motor, apakah bisa sampai lumpuh atau malah nyawanya yang melayang" Kenzo tersenyum dengan kedua alis diangkat bersamaan pada Risha dan Kenzie


Kenzie dan Risha menggelengkan kepala mendengar rencana Kenzo


"Benar-benar sadis" Kata Risha mencibir


"Tak punya perasaan" Kenzie menimpali


"Menakutkan" Rendra ikut bicara

__ADS_1


"Terimakasih, aku tidak butuh kekaguman dan rasa terimakasih kalian" Kenzo menanggapi dengan sikap yang angkuh


"Cih dasar!" Rendra, Kenzie dan Risha mencibir sikap Kenzo yang bukannya marah atau merasa bersalah atas apa yang mereka katakan, tapi dia malah terkesan bangga dan menganggapnya sebagai pujian.


"Tunggu! Tadi kamu bilang Rendra tidak bisa jalan? Apa maksudnya?" Risha baru menyadari apa yang dikatakan Kenzo. diapun bertanya dengan dahi berkerut dan menunggu jawaban dengan menoleh pada Kenzo dan Rendra secara bergantian


"Itu …" Rendra berusaha bicara namun suaranya seakan tak ingin keluar


"Itu apa? Kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku ya?!" Risha yang semakin penasaran kini benar-benar menuntut penjelasan dari Kenzo dan Rendra


"Tidak. Kenapa kami karus menyembunyikan sesuatu darimu? Memangnya apa yang harusnya kami sembunyikan darimu?" Rendra terlihat salah tingkah meskipun dia berusaha bersikap tenang


"Kalau begitu katakan. Ada apa dengan kakimu?" Risha terus menuntut penjelasan dari Rendra dan Kenzo


"Haah … dokter mengatakan kalau untuk sementara waktu, Rendra tidak akan bisa berjalan. Dia harus menggunakan kursi roda. Tapi dengan mengikuti terapi, suatu hari nanti dia akan berjalan kembali seperti semula"


Kenzo menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia menjelaskan bagaimana kondisi kaki Rendra.


"Apa? Ren... " Risha terlihat sangat terkejut, lalu dia menoleh pada Rendra dengan linangan air mata yang tertahan dipelupuk matanya


"Aku tidak papa. Ini hanya sementara. Hanya saja … apa kamu bisa menerima aku yang seperti ini? Kita tidak tahu sampai kapan, entah aku bisa kembali berjalan dalam waktu dekat atau mungkin memakan waktu yang lama" Rendra tersenyum ketir, mengatakan kemungkinan yang terjadi pada kakinya


"Aku tidak peduli. Lagipula dokter bilang hanya sementara kan? Jadi kamu pasti bisa berjalan lagi. Aku akan mengantarmu terapi, bila perlu aku juga akan membantumu melakukan terapi" Risha begitu antusias dengan air mata yang terus mengalir kemudian dia memeluk Rendra dan menumpahkan kesedihannya


***


"Halo pah. Ternyata ini tidak sesulit apa yang dikatakan Bastian. Tidak ada keributan yang terjadi dan aku sudah meminta seketaris Rendra untuk mengadakan rapat darurat dengan dewan direksi. Aku yakin kalau semua akan berjalan sesuai dengan keinginan kita"


Saat ini Fredi sedang menghubungi sang ayah. Dia tengah duduk dengan tubuh bersandar dan kedua kaki yang disilangkan diatas meja. Sungguh sangat tidak enak dipandang dan sama sekali tidak pantas untuk dohormati. Dia terlihat seperti  bos gangster yang menduduki sebuah perusahaan dengan paksa.


"Benarkah semudah itu? Bagus kalau begitu. Mulai sekarang kamu adalah pemimpin utama Dirga Electronik. Tapi apa Bastian belum datang kesana?" Rian tersenyum bangga mendengar cerita dari putranya, kemudian dia menanyakan Bastian dengan ekspresi datar.


"Belum pah. Aku yakin kalau dia akan segera kemari. Tidak akan sulit mengatasi dia. Semenjak ibunya meninggal, dia kan selalu nendegarkan apa yang papa katakan. Jadi dia juga tidak akan bisa menolak posisi ini untuk diisi olehku"


Fredi tersenyum tipis sambil mengetukan salah satu jari tangannya pada pegangan kursi


"Tentu saja dia tidak akan menolak. Papa adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki" Rian pun menanggapi sang putra dengan sikapnya yang sombong


Tok tok tok


"Pah, aku tutup dulu. Ada seseorang yang mengetuk pintu kantorku"

__ADS_1


"Baiklah. Sampai jumpa"


Dengan cepat Fredi menurunkan kakinya dan duduk bersandar dengan elegan


"Masuk!"


Setelah mendapatkan izin, Alan berjalan masuk ke ruangan dan mendekati Fredi


"Rapat dewan direksi sudah siap. Semua sudah menunggu anda disana"


Alan melaporkan dengan sopan dan tenang


"Baiklah, ayo kita kesana" Fredi langsung berdiri dan mengancingkan jasnya, lalu berjalan meninggalkan ruangan untuk pergi keruang rapat. Alan mengikutinya dari belakang dengan tatapan seakan mencibir


Ruang rapat sangat riuh. Dewan direksi tidak mengerti alasan kenapa diadakan rapat dadakan seperti sekarang ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa harus ada rapat dadakan sekarang? Sepertinya tidak ada masalah?"


"Aku juga tidak tahu. Saham kita normal, semua pekerjaan juga lancar, lalu apa yang akan dibahas?"


Semua saling bertanya dengan raut wajah bingung dengan apa yang terjadi sekarang. Mereka benar-benar tidak bisa memikirkan alasan Alan mengadakan rapat darurat ini


"Maaf, saya terlambat" Semua menoleh serempak pada sumber suara dimana Alan mengukutinya dari belakang.


"Selamat siang semuanya. Maaf karena saya mengumpulkan anda semua secara mendadak. Tujuan diadakannya rapat ini karena saya ingin memberitahukan kalau pak Fredi Kuswoyo, akan menggantikan posisi pak Rendra untuk sementara waktu sampai beliau kembali ke perusahaan ini"


Semua sangat terkejut dan daling berbisik dengan orang yang duduk disebelah mereka setelah mendengar apa yang dikatakan Alan.


"Pak Alan, sebenarnya apa yang terjadi dengan pak Rendra sampai posisinya harus digantikan untuk sementara waktu?" Salah satu anggota dewan berusaha menghilangkan rasa penasaran mereka


"Pak Rendra sedang dirawat dirumah sakit karena sebuah insiden, dan pak Bastian meminta pak Fredi untuk mengisi posisinya sementara waktu" Alan menjelaskan dengan tenang. Semua tahu kalau semenjak Rendra masuk ke perusahaan ini, Alanlah yang jadi orang kepercayaannya.


"Seberapa parah kondisinya sampai harus digantikan? Bukankah selama ini pak Alan yang selalu menghandel pekerjaan pak Rendra?"


"Dengar semuanya, dia ini hanyalah sekertaris saja. Dia tidak memiliki kuasa penuh atas semua keputusan yang harus diambil. Lain denganku, aku adalah sepupu dari Bastian, pewaris utama perusahaan Dirga karena itu aku lebih memiliki wewenang daripada dia"


Fredi yang sejak tadi kesal karena dewan direksi lebih mempercayai Alan daripada dirinya, mulai mengeluarkan suara dan berusaha meyakinkan anggota dewan direksi kalau dia yang kebih berkuasa daripada Alan. Hasilnya, para anggota dewan menatap Fredi dengan tatapan mencibir tanpa mengatakan apapun lagi.


"Jika kalian ingin memberontak, maka lakukan saja. Aku pasti akan mengeluarkan kalian dari anggota dewan direksi" Fredi akhirnya mengancam para anggota dewan agar mereka mengikuti ucapannya.


"Sepetinya semua sudah mengerti, jadi rapat kita akhiri disini"

__ADS_1


__ADS_2