Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 142 (Aku Hanya Akan Menggunakan Nama Kusuma Untuk Menjatuhkan Orang)


__ADS_3

Setelah kembali dari ruangan Rendra, Kia disibukkan dengan laporan yang harus dia susun untuk anggaran yang akan digunakan untuk produk terbaru Dirga Elektonik. Sampai sore harinya dia terus saja melakukan revisi atas kerangka yang akan dia buat sebagai laporan.


"Apa masih salah lagi bu? Anda masih harus melakukan revisi lagi?" Tanya Elisa dengan sopan melihat Kia terus saja melakukan revisi dan bolak balik ke ruang Rendra


"Ya, sepertinya dia sengaja menyulitkanku dengan laporan ini. Dia ingin aku sendiri yang mengerjakannya dan dia juga terus saja membuatku mengulang kerangka laporan ini" Kia menjawab dengan nada yang lemah karena lelah. Risha pun sedikit mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh Elisa dan juga Kia meskipun itu samar-samar, bahkan tidak terdengar karena jaraknya cukup jauh


"Apa Risha mengadu pada pak Rendra kalau  bu Kia menyulitkannya dengan sebuah laporan?" Tanya Elisa dengan wajah sedikit curiga dan mendelik pada Risha yang berada di mejanya


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Yang jelas aku harus menyelesaikan ini semua sekarang, karena besok dia menginginkan laoran ini selesai" Jawab Kia lagi dengan suara semakin lemah


"Aku harus kembali ke ruang pak Rendra untuk mengecek ini" Untuk kesekian Kalianya, Kia kembali kembali keruang Rendra. Entah sudah yang keberapa kalinya hari ini dia kesana, yang jelas Kia mulai kelelahan karena harus berjalan dengan cepat menggunakann high heels


"Ini yang kamu bilang sebagai laporan? Bukannya kamu seorang manajer? Masa membuat laporan anggaran saja tidak bisa?!" Rendra bicara dengan nada yang dingin


"Maafkan saya pak. Saya akan perbaiki lagi. Sebenarnya yang salah itu bagian mana ya pak? Jadi saya tahu bagian yang harus diperbaiki" Kia menjawab dengan air mata yang sudah menggenang dipelupuk matanya dan kapan saja itu bisa jatuh membasahi pipinya. Dia juga berusaha keras untuk bertanya pada Rendra


"Permisi" Kia dan Rendra langsung menoleh karena seseorang tiba-tiba masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu


"Ada apa kamu kemari Sha?" Tanya Rendra dengan sikap yang tenang


"Jika kamu melakukan ini untukku, sebaiknya hentikan! Dia sudah kelelahan dan sebentar lagi sudah waktunya pulang kerja" Risha berjalan mendekati Rendra dan Kia. Dia bicara dengan sikap yang tenang


"Kenapa kamu berpikir begitu?" Tanya Rendra lagi dengan sikap yang acuh tak acuh


"Ini memang perusahaanmu. Dan aku tidak bisa mengambil keputusan seenaknya, tapi aku bisa menjaga diriku sendiri. Dan apa yang dia lakukan ... Itu tidak membahayakanku. Itu juga bukan apa-apa. Sepertinya dia juga sudah merasakan bagaimana rasanya mengerjakan laporan yang melelahkan. Lagipula, kalau kamu terus ikut campur seperti ini, bagaimana aku bisa belajar untuk mandiri? Aku tidak bisa menunjukkan pada Kenzo kalau aku juga mampu jadi penerus" Risha tersenyum tipis dengan nada bicara sedikit mencibir


"Haah ... Sebaiknya kamu tidak mengatakan apapun pada Kenzo. Kemampuanmu masih terlalu jauh untuk jadi seorang penerus!" Rendra bicara dengan memejamkan mata, dan menghela napas


"Kalian berdua ... memang saling mengenal? Jadi rumor itu benar, kalau kalian berdua pacaran?" Mata Kia yang sebelumnya berkaca-kaca kini hilang. Dia menatap Rendra dan Risha dengan raut wajah penuh tanya akan hubungan mereka


"Kami? Pacaran?" Rendra dan Risha menjawab dengan serempak. Mereka pun saling menatap dengan raut wajah terkejut

__ADS_1


"Memang rumornya beredar seperti itu ya?" Risha balik bertanya pada Kia yang dibalas dengan anggukan olehnya


"Kami tidak sedang pacaran. Kami hanya ..."


"Atasan dan bawahan saja" Rendra langsung mendekati Risha dan bicara dengan suara pelan


"Kamu ingin mengatakan siapa kamu sebenarnya? Aku yakin jika dia tahu siapa kamu, dia tidak akan berani macam-macam lagi padamu. Bahkan dia bisa bersujud dikakimu. Tapi apa kamu yakin melakukan itu?" Rendra kembali bicara dengan sikap acuh tak acuh


"Tentu saja tidak. Jika dia tahu, pasti sudah bersikap berlebihan dan tidak menutup kemungkinan orang lain akan tahu siapa aku. Jadi, lebih baik kita akhiri disini saja"


Risha tersenyum tipis mencibir saran Rendra kemudian dia menoleh pada Kia


"Dan untuk anda bu Kia. Saya menghormati anda karena anda atasan saya. Jika saya mau, saya bisa minta Rendra memecat anda dan saya juga bisa membuat anda tidak mendapatkan pekerjaan dimana pun. Saya harap kesalah pahaman kita cukup sampai disini saja" Ujar Risha dengan senyum sinis dan nada bicara yang dingin


"Sombong! Kamu pikir dengan kamu membelaku di hadapan pak Rendra, aku akan berterimakasih padamu? Ini semua terjadi karenamu. Jika saja kamu tidak masuk ke perusahaan ini maka aku tidak akan dapat perlakuan memalukan seperti ini dari pak Rendra. Aku juga tidak akan dipermalukan dihadapan rekan kerjaku. Aku harus membuatmu menyesal karena telah masuk keperusahaan ini" Pikir Kia yang menatap Risha dengan tatapan penuh kebencian.


Risha pun menatap Kia dengan sorot mata yang dingin


"Baiklah, kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian"


"Baik pak. Kalau begitu kami permisi" Risha pun melangkah keluar diikuti Kia dibelakangnya


"Risha! Jangan kamu pikir aku akan menyerah begitu saja!"


***


Kenzo langsung mengendarai motornya menuju lokasi pemotretan Safira setelah dia selesai bekerja. Kenzo melepaskan helmnya dan meraih ponsel dari saku jaketnya


"Apa kamu sudah selesai? Aku menunggumu di depan" Tulis kenzo dalam pesan singkatnya


"Masih ada 2 kali pemotretan lagi dengan baju lain" Balas safira setelah membiarkan terlebih dahulu kenzo menunggu balasannya

__ADS_1


"Aku akan menunggumu" Balas Kenzo lagi namun Safira tidak lagi membalas pesannya


"Ra, kenapa kamu biarkan dia menunggu? Meskipun hanya dua set pakaian, tapi tetap saja akan memakan waktu cukup lama" Tiara bertanya dengan raut wajah bingung


"Biarkan saja. Aku ingin membuat dia menunggu" Safira menjawab Tiara dengan nada sinis


"Aku ingin tahu, sampai kapan dia akan bertahan menunggu disana" Ujar Safira lagi dengan wajah yang kesal


"Kalian sudah lama kenal tapi kamu tidak pernah membiarkan aku berkenalan dengannya. Bahkan dalam festival film sebelumnya, kamu tidak memperkenalkan kami secara langsung. Aku ingin sekali bisa mengenalnya" Tiara bicara dengan nada yang merajuk manja


"Katakan saja kalau kau penasaran dengan wajah tampan yang dimiliki Kenzo!" Safira bicara dengan nada mencibir namun ada senyum manis dibibirnya


"Kamu pintar sekali. Bahkan saat kak Mona bertanya padaku, aku tidak bisa mengatakan apapun tentang Kenzo karena aku juga tidak tahu tentangnya" Tiara mengeluh dengan nada yang manja


"Ya sudah, nanti akan aku kenalkan kamu padanya. Itu juga kalau dia bertahan sampai tengah malam nanti" Safira menjawab dengan senyum kemudian kembali melakukan photo shoot.


Safira baru menyelesaikan pemotretannya pada malam hari sekitar jam 9 malam. Dan Kenzo sudah menunggunya diluar kira-kira 3 jam


"Apa kamu mau makan dulu?" Tanya Tiara pada Safira yang terlihat kelelahan


"Tidak. Aku sangat lelah. Lebih baik kita langsung pulang saja" Safira menjawab dengan suara yang lemah


"Fira!" Safira langsung menoleh setelah mendengar suara seorang pemuda yang memanggil namanya


"Zo? Kamu masih disini?" Tanya Safira dengan wajah terkejut karena melihat Zo masih menuggu dia dari sore hari


"Tentu saja aku masih disini" Jawab Kenzo dengan nada yang tenang


"kenapa? Ini sudah hampir 3 jam sejak kamu menghubungiku tadi" Safira bertanya dengan dahi berkerut


"Karena itu kamu. Aku akan menunggu berapa lama pun kamu memintaku menunggu!"

__ADS_1


__ADS_2