Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Aku Akan Menyiksamu Perlahan Dengan Berada Disampingku


__ADS_3

Sejak kecil Meisya tidak terlalu dekat dengan sang ayah, dia meninggalkan rumah bersama dengan sang ibu yang bercerai dengan pak Arseno. Saat Meisya menginjak remaja sang ibu meninggal, dan pak Arseno memintanya kembali kerumah, namun Meisya tidak melakukannya. Dia hanya sesekali pulang ke rumah pak Arseno.  Meskipun begitu, pak Arseno selalu memenuhi semua kebutuhan Meisya


"Aku tidak terlalu dekat dengan papa. Ya Meskipun begitu, dia selalu mengirimkan semua keperluanku. Bahkan saat aku dan mama meninggalkan rumah, papa mengirimkan kebutuhanku hingga rumah mama yang tidak terlalu besar hampir penuh dengan barang pemberian papa untukku. Jadi aku tidak tahu kalau memang papa memiliki pemikiran takut jika aku lebih dekat pada kak Zie dan mengabaikannya" Meisya menjelaskan mengenai kedekatannya dengan pak Arseno


"Mungkin dia ingin membangun hubungan yang lebih baik denganmu?" Kenzie menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah


"Entahlah, aku tidak pernah memiliki pemikiran kesana karena menurutku … hubunganku dan papa juga tidak terlalu buruk" Kenzie hanya tersenyum dengan anggukan kepala berkali-kali menanggapi Meisya yang bercerita dengan senyum yang lembut.


"Emn ... kapan kamu bisa keluar dari rumah sakit?" Kenzie mengalihkan pembicaraannya dengan Meisya


"Entahlah, ada apa?" Meisya menggelengkan kepala saat dia menanggapi Kenzie


"Minggu ini Kenzo akan menikah aku ingin kamu ikut denganku kesana untuk mengikuti makan malam keluarga"


"Kak Zo menikah? Dengan kak Safira? Bukankah kak Safira sedang sakit?" Meisya tidak terlalu terkejut namun dia terlihat bingung memikirkan kondisi Safira


"Safira kehilangan ingatannya setelah operasi. Dia tidak mengingat apapun bahkan tentang dirinya sendiri.


"Apa?! Hilang ingatan?!" Meisya menyela Kenzie karena dia cukup terkejut


"Ya, itu sudah diprediksi sebelum Safira mengambil tindakan operasi. Aku tida tahu apa yang dipikirkan Zo, tapi aku yakin kalau dia pasti sudah memeprtimbangkan semuanya dengan matang" Zie bicara dengan senyum yang lembut pada Meisya


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka. Dari yang aku tahu, kak Kenzo tidak mungkin mengambil keputusan dengan gegabah" Kenzie menganggukkan kepala menyetujui apa yang diatakan oleh Meisya


"Kalau begitu nanti kita akan temui dokter untuk menanyakan lagi kondisimu" Meisya hanya mengangguk dengan senyum manis dibibirnya


Drrt drrt drrt


"Sebentar, aku terima telepon dulu. Halo" Kenzie menerima telepon dari Noey setelah dia menadapat anggukkan kepala dari Meisya. Diapun berjalan sedikit menjauh dari Meisya


"Halo pak Kenzie, sampai kapan anda akan menyiksa saya dengan menggantikan semua pekerjaan anda?' Noey langsung bicara dengan sikap yang acuh tak acuh


Dahi Kenzie berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu mendengar keluhan Noey


"Kamu itu asistenku, Noey. Tentu kamu harus siap disegala situasi" Kenzie menanggapi Noey dengan senyum dibibirnya dan sikap yang tenang


"Karena aku yang mengerjakan semuanya, kenapa tidak sekalian kamu serahkan saja jabatanmu sebagai direktur padaku?" Ujar Noey dengan sikap yang sinis

__ADS_1


"Kamu itu diminta Zo untuk jadi asistenku, jadi lakukan saja apa yang jadi tugasmu!" Kenzie bicara dengan nada yang sedikit sinis


"Cih, ada ya atasan seenaknya sepertimu?" Noey berdecil kesal pada Kenzie


"Ada juga asisten kurang ajar sepertimu. Jika kamu bekerja pada orang lain, sudah pasti kamu akan dipecat pada hari pertama" Kenzie sama sekali tidak ingin kalah berdebat dengan Noey


"Itu yang aku harapkan. Kenapa kamu tidak memecatku saja?!" Bukannya takut dipecat, Noey justru semakin menantang Kenzie


"Tidak akan pernah. Aku akan menyiksamu perlahan dengan berada disampingku. Hahaha"


"Kau tertawa seperti iblis!" Ujar Noey yang merasa kesal


"Sudahlah, katakan ada perlu apa kamu menghubungiku?"Kenzie pun berusaha keras menghentikan tawanya dan bertanya dengan nada yang kembali tenang


"Deby mengatur konferensi video dengan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan kita. Konferensinya akan dimulai dam waktu 30 menit. Aku akan kirimkan laporannya padamu dan kamu harus mempelajarinya sebelum kenferensi dimulai" Noey bicara dengan sikap yang dingin


"30 menit? Kamu ingin membunuhku?" Tanya Kenzie dengan sikap dingin


"Tidak. Aku akan menyiksamu selama kamu berada disisiku"


"Kamu... !!Tut tut tut" Noey langsung menutup teleponnya sebelum Kenzie mengatakan hal lain lagi


"Hahaha"


Dia langsung menoleh saat mendengar Meisya terbahak setelah dia menutup teleponnya. Sudah sejak awal Meisya berusaha keras menahan tawanya melihat percakapan Kenzie dan asistennya


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Kenzie bingung sambil berjalan mendekat padanya


"Rasanya ini pertama kalinya untukku melihat ada asisten dan atasannya selalu berdebat. Kalian itu seperti minyak dan air yang tidak bisa disatukan, seperti anjing dan kucing yang jika bertemu pasti selalu bertengkar. Bagaimana bisa melakukan pekerjaan dengan baik?" Meisya bicara dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Diapun menggelengkan kepala berkali-kali dengan ekspresi bingung.


"Entahlah. Mungkin karena dia terpaksa harus jadi asistenku makanya selalu melawan, tapi dia takut pada Zo jadi dia melakukan pekerjaannya dengan baik" Kenzie bicara dengan sikap yang tenang


"Rupanya begitu. Pantas saja dia bilang ingin dipecat, jika dia yang mengundurkan diri maka sudah pasti kak Zo akan marah padanya kan?" Meisya bicara sambil tersenyum lembut dan menganggukan kepala bersamaan


"Ya. Dokumennya sudah dia kirim. Aku harus mempelajarinya sebentar sebelum nanti dia marah-marah lagi padaku"


"Baiklah"

__ADS_1


Kenzie membuka emailnya dan membaca dokumen yang dikirimkan Noey padanya


***


Setelah melakukan konferensi pers sebelumnya, Safira menjadi trending topik di media sosial. Banyak orang yang menyatakan rasa simpati mereka pada Safira sekarang ini. Banyak postingan mengatakan kalau mereka turut bersedih dengan apa yang telah di alami oleh Safira. Mereka juga menunjukkan banyak dukungan untuknya.


"Aku sudah melihat konferensi persnya. Bagaimana perasaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" Kenzo sedang menghubungi Safira karena dia tidak sempat menemuinya dirumahnya


"Ya, aku merasa lebih baik sekarang. Aku fikir mereka akan mengatakan kalau aku melakukan kebohongan publik. Termyata itu sama sekali tidak terjadi dan mereka semua mendukungku" Safira bicara dengan senyum ceria diwajahnya


"Baguslah jika kamu lebih baik. Lalu apa yang dikatakan Mona untuk kedepannya?" Kenzo kembali bertanya dengan sikap yang dingin


"Kak Mona bilang ada beberapa tawaran untuk mengisi acara jadi mungkin aku akan menghadirinya. Ada juga tawaran untuk menjadi model dari beberapa brand" Safira menjelaskan dengan sikap yang tenang


"Tapi kamu jangan terlalu lelah. Kondisimu belum terlalu stabil. Aku tidak mau kalau terjadi sesuatu lagi padamu" Nada bicara Kenzo terdengar sangat lembut. Safira terdiam dan tersenyum tanpa menanggapi perkataan Zo


"Kenapa diam saja? Kamu tidak mendengarkan aku?" Tanya Kenzo lagi dengan nada yang dingin


"Aku hanya berpikir, apa kamu memang orang yang seperti ini?"


"Makaudnya?" Kenzo kini terlihat bingung dengan apa yang dikatakan Safira


"Kamu terlihat dingin dan kaku, tapi kamu juga selalu perhatian dan mengerti apa yang aku mau. Apa kamu memang seperti itu?" Safira menggoda Kenzo dengan nada bicara yang lembut


"Ini belum seberapa. Kamu akan lebih terpesona dan kagum lagi padaku setelah kita menikah. Aku adalah pria sempurna yang jadi idaman para gadis" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan penuh percaya diri


"Narsis! Bisa-bisanya kamu memuji diri sendiri dengan bangga begitu? Kamu tidak malu ya?" Safira bicara dengan nada mencibir


"Untuk apa aku malu kalau memang itu adalah kenyataannya?" Kenzo tetap menanggapi Safira dengan tenang dan percaya diri


"Ah sudahlah. Tidak akan ada habisnya jika membahas hal seperti ini denganmu!" Safira pun mengalah dengan nada yang malas


"Lalu kamu ingin membahas hal seperti apa denganku? Apakah membahas tentang … malam pertama?" Kini Kenzo mengalihkan pembicaraan dengan menggoda Safira


"Aah Zo. Apa yang kamu bicarakan?! Sebaiknya kamu kembali bekerja! Aku juga harus mempelajari jadwal pemotretanku. Sampai jumpa!"


Safira yang merasa malu langsung menutup telepon begitu saja. Kenzo hanya tersenyum setelah Safira menutup teleponnya

__ADS_1


"Lucu sekali. Aku yakin kalau sekarang kamu sedang menutup wajahmu yang merah seperti tomat itu" Gumam Kenzo menatap ponselnya


__ADS_2