Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kekesalan Risha pada Kenzo


__ADS_3

Risha juga telah membaca postingan yang sedang ramai mengenai Kenzo. Dia langsung menghubungi Kenzo untuk menanyakan kebenarannya.


“Zo, kamu membuka identitasmu pada semua orang?” Tanya Risha dengan nada tak percaya.


“Kenapa? Kamu ingin aku menjelaskan pada siapa lagi?” Kenzo menanggapi dengan sikap dingin dan acuh tak acuhnya.


“Apa maksudmu?” tanya Risha sambil mengernyitkan dahi karena tak mengerti dengan apa yang dikatakan Kenzo.


“Tadi Kenzie menghubungiku dan memintaku menjelaskan pada ayahnya Meisya kalau kami ini benar-benar saudara kembar dan juga merupakan putra dari mami dan papi. Sekarang kamu juga menghubungiku. Memangnya ada lagi  yang tidak percaya kalau aku ini memang keturunan dari keluarga Anggara?” Kenzo menjelaskan alasan dia menanyakan hal itu pada Risha dengan nada yang kesal.


“Aku menghubungimu bukan karena ingin meminta hal itu. Aku hanya ingin bertanya kenapa kamu mengungkapkan identitasmu secepat ini? Apa ada yang membuat masalah denganmu?” Risha bertanya dengan sikap yang tenang.


 “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya Kenzo dengan senyum manis dibibirnya karena Risha bisa menebak alasannya melakukan hal itu.


“Zo, aku tahu kalau kamu itu selalu penuh pertimbangan. Tidak mungkin kamu melakukan sesuatu dengan gegabah. Apalagi mengenai identitas yang selama ini selalu kamu sembunyikan dengan rapat” ujar Risha dengan senyum tipis dan nada bicara yang lembut.


“Ternyata kamu bisa menebak apa yang aku lakukan” Kenzo pun tersenyum menanggapi Risha.


“Ya, kemarin ada beberapa preman yang membuat kekacauan diperusahaan Anggara. Dia menggunakan kekuasaan untuk menekanku. Jadi ya … mau bagaimana lagi? Tentu saja aku menyambutnya dengan identitas asli yang aku miliki. Kamu sudah tahu sendiri kan kalau aku tidak suka diprovokasi? Jadi dengan mengungkapkan identitas ini, tidak akan ada yang berani mengusik kita lagi. Meskipun pada akhirnya akan ada banyak orang yang mendekati kita dengan mengenakan topeng baik, tapi kurasa itu tidak akan terlalu jadi masalah” Kenzo menjelaskan dengan sikap tenang dan acuh tak acuhnya lagi


“Apa kamu terluka? Yang namanya preman jika membuat keributan, tidak mungkin jika tidak melukai orang" ujar Risha dengan suara yang terdengar khawatir.


"Jadi sekarang kamu mengkhawatirkan aku?" Kenzo menanggapi dengan senyum yang menggoda Risha.


"Aku serius, Zo" ujar Risha dengan nada serius.


"Aku tidak papa, hanya saja asistenku yang terluka cukup parah. Tapi mereka sudah membayar harga yang pantas karena membuat keributan dikantorku" Kenzo kembali menanggapi dengan sikap yang tenang dan penuh kebanggan.


"Apa yang kamu lakukan pada mereka?" tanya Risha yang terdengar penasaran.

__ADS_1


"Mereka aku jebloskan ke penjara, tapi sebelum itu … aku sudah menembak kedua kaki dari pemimpin mereka. Itu bayaran setimpal karena dia membuatku mengalami kerugian dan juga bermain sok berkuasa denganku" Kenzo bercerita dengan sikap yang tenang. Sesekali terdengar kalau dia mendengus kesal saat bercerita pada Risha.


"Apa?! Kamu menembak kakinya dihadapan banyak orang?!" Risha terdengar sangat terkejut saat dia bertanya kemudian dia berusaha menahan tawa.


"Tentu saja. Tidak mungkin aku melakukannya dengan sembunyi-sembunyi"


"Hahaha... Apa ada yang pingsan? Atau ada yang kencing dicelana?" Risha terbahak saat membayangkan wajah karyawan Kenzo yang ada disana.


"Jangan berlebihan. Tidak ada yang seperti itu. Mereka hanya berteriak saja dan membuat suasana kantor jadi sangat berisik " Kenzo pun kembali menanggapi dengan sikap dinginnya.


"Benarkah? Ku kira kamu membuat orang pingsan atau terkena serangan jantung. Tapi, baguslah jika tidak ada masalah serius" Risha pun kembali bicara dengan nada yang ceria dan juga manjanya


"Apa kamu juga akan mengungkapkan identitasmu? Setelah aku mengungkapkan identitasku, Kenzie juga pasti akan dikenali banyak orang, tapi tidak dengan kamu karena hanya sedikit orang yang tahu hubungan kita" Kini Kenzo suara Kenzo terdengar lebih rendah namun, sikapnya tetap saja tenang.


"Entahlah. Untuk saat ini ... aku akan menikmati keadaan ini saja dan membiarkan papi yang mengatakannya nanti. Tapi jika memang mendesak, tentu saja aku juga akan mengungkapkan identitasku sendiri" Risha mengangkat kedua bahunya disertai senyum yang manis saat dia menanggapi pertanyaan Kenzo.


"Oh, ya sudah. Jika kamu memang butuh bantuanku, katakan saja" ujar Kenzo dengan sikap yang tenang.


"Baguslah jika kamu mengerti bagaimana cara memanfaatkan sumber daya yang ada. Itu akan sangat memalukan untuk Rendra jika dia sampai tidak bisa menyelesaikan masalahmu setelah lama berteman denganku" ujar Kenzo sambil tersenyum kemudian melihat jam tangannya.


"Sudahlah. Aku sudah banyak kehilangan waktu bersama dengan Safira karena bicara dengan kalian berdua. Kuharap kalian tidak lagi mengganggu waktu berhargaku ketika sedang dirumah" Kenzo kembali bersikap dingin saat dia melihat kalau ini sudah cukup malam untuknya pulang menemui Safira. Sang istri sudah pasti menunggunya pulang sejak sore hari.


"Apa maksudmu? Jadi sekarang kamu sudah tidak punya waktu lagi untukku dan juga Kenzie?! Kamu hanya mementingkan istrimu saja?! Tut tut tut"


"Kenzo? Kenzo!!!" Risha berteriak kesal saat Kenzo menutup teleponnya begitu saja tanpa memberikan jawaban terlebih dahulu.


"Dasar ya! Selalu saja begitu. Dia selalu menutup teleponnya seenak jidatnya sendiri! Dia pikir dia itu siapa?! Menyebalkan! Jika saja bukan saudara sepupuku, maka sudah pasti dia aku buat hancur. Sayangnya dia sepupuuku dan lagi … aku tidak bisa mengalahkan dia" Risha menggerutu sendiri saat dia kesal pada Kenzo. Lalu dia kembali bersikap tenang saat memikirkan kalau dia tidak pernah menang sekalipun jika melawan Kenzo.


"Haah. Sudahlah. Kali ini aku maafkan saja dia. Toh kami ini bersaudara dan dia memang selalu bersikap seenaknya" ujar Risha yang menenangkan diri sendiri.

__ADS_1


***


Kenzie dan Meisya akhirnya makan malam bersama pak Arseno. Dia tidak bisa langsung pulang begitu saja setelah datang jauh-jauh.


"Apa ada yang salah denganku om?" Kenzie bertanya setelah dia merasa risih dengan tatapan pak Arseno yang terus menatapnya selagi mereka makan.


"Tidak. Saya hanya tidak percaya kalau kamu adalah putra Cheva dan Lian" Pak Arseno menanggapi dengan sikap yang tenang sambil menikmati makan malamnya.


"Uhuk uhuk" Kenzie langsung tersedak setelah mendengar ucapan pak Arseno, lalu dia membersihkan mulutnya.


"Apa yang membuat om berpikir seperti itu?" sambung Kenzie setelah membersihkan mulutnya.


"Kamu itu ceroboh, tidak punya pendirian, tidak terlihat berwibawa, tidak terlihat seperti seorang peminpin, dan yang lebih penting lagi, kamu tidak terlihat sebagai seorang keluarga Kusuma" Pak Arseno bicara dengan sikap yang tenang. Setiap ucapannya membuat Kenzie merasa tertusuk karena apa yang dikatakan pak Arseno memang benar.


"Meskipun om meragukan saya, tapi kenyataannya saya memang anggota keluarga Kusuma. Meskipun saya seorang Anggara" Kenzie pun bersikap tenang saat bicara pada pak Arseno.


"Ya, kamu benar. Karena itu aku semakin ragu untuk menjadikan kamu sebagai pendampingnya Meisya.


"Hah?" Kenzie sangat terkejut mendengar ucapan pak Arseno


"Disaat semua orang melakukan segala cara untuk menjadi pasanganku … Kenapa om malah tidak mau membiarkan Meisya jadi pendampingku?" tanya Kenzie yang penasaran


"Karena itulah aku tidak ingin Meisya menjadi pendampingmu. Jika itu terjadi, maka dia harus selalu berurusan dengan sesuatu yang mengancam keselamatannya. Meisya satu-satunya yang aku miliki. Aku tidak ingin melihatnya menderita" Pak Arseno menjelaskan pada Kenzie dengan raut wajah sedih dan kepala tertunduk.


"Om tidak perlu khawatir. Aku akan selalu berusaha melindungi Meisya dan membuat Meisya bahagia seumur hidupnya. Seperti dia yang jadi orang terpenting anda, Meisya juga adalah orang terpenting bagiku. Aku akan melakukan apapun untuknya"


"Aku pegang janjimu. jika kamu membuatnya menderita, maka aku akan menghabisimu. Aku tidak peduli sama sekali dengan identitasmu itu" pak Arseno bicara dengan sorot mata yang tajam..


"Ya, saya akan selalu berusaha membahagiakan Meisya agar bisa mempertahankan hidup saya dari anda"

__ADS_1


"Dasar anak ini!" Pak Arseno terlihat kesal pada Kenzie yang menanggapinya dengan candaan.


__ADS_2